
Aksara memasuki pintu rumahnya yang selalu tidak dikunci ketika waktu kepulangannya tiba. Sama seperti sebelumnya, tak ada sambutan sama sekali. Bahkan, batang hidung Kintan ataupun Gibran pun tidak tampak sedang bersama di ruang keluarga.
Aksara menghela napas. Kemudian, ia memilih duduk di salah satu kursi pada ruang tamu. Cangkir kosong yang tampak kotor membuat fokusnya teralih pada benda itu. Rasa heran juga menyeruak memasuki relung hatinya.
“Apa ada tamu?” gumam Aksara bertanya-tanya. “Atau Kintan habis minum teh, lalu lupa naruh cangkir kotornya?”
Namun pertanyaan kedua itu tampaknya tidak mungkin terjadi. Seingatnya, Kintan lebih menyukai kopi daripada teh. Sekalipun menyesap minuman di dalam cangkir itu, Kintan tidak mungkin meletakkannya di atas meja ruang tamu. Sudah dapat dipastikan apabila benar-benar ada tamu yang datang. Namun, siapa? David?
Aksara menelan saliva pasca dugaan beserta wajah tampan kebaratan milik David muncul di benaknya. Hatinya terasa sakit, sekaligus menjadi tidak tenang. Ia khawatir jika setelah memanggil dirinya ke ruang pimpinan, David datang ke rumah itu untuk menemui Kintan.
“Kalau benar begitu, apa saat ini Kintan sedang dibawa olehnya? Nggak, nggak mungkin!” Kegelisahan mulai Aksara rasakan. Bayangan mengenai pertemuan Kintan dan mantannya itupun kembali datang. Bahkan, ia sampai mengumpat saat dugaan kemesraan antara istrinya dan David memenuhi benaknya.
Tidak betah hanya duduk diam sembari menahan kecemasan, akhirnya Aksara bangkit. Ia mulai mengambil langkah untuk pergi mencari istrinya. Namun, ketika sudah sampai di ambang pintu yang terbuka lebar, Aksara menghentikan gerakan kaki.
“Di mana aku cari mereka?” Aksara menggigit bibir bagian dalamnya. “Aku harus hubungi Kintan dulu.” Kemudian, ia mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.
Namun, setelah ia melakukan panggilan pada ponsel milik Kintan, justru suara dering ponsel istrinya itu terdengar dari dalam kamar. Hal itu membuat Aksara semakin tidak karuan. Kintan tidak dapat dihubungi jika tidak membawa benda tersebut, dengan kata lain keberadaan istrinya saat ini akan sulit ia cari.
“Apa David menyeretnya secara paksa? Enggak mungkin Kintan bersedia ikut dengannya secara suka rela. Aku sangat yakin. Kintan tipikal orang yang keras kepala,” ucap Aksara dengan mata yang bergerak ke sana ke mari. Kakinya pun terus saja terayun bolak balik dari luar lalu ke dalam rumah.
Aksara mulai menggigit jarinya. “Aku enggak bisa membiarkan mereka bertemu. Terus aku harus cari mereka di ma—“
“Ayah!”
Seruan dari seorang anak kecil sukses mengejutkan diri Aksara. Dan secara reflek ia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Gibran tampak girang dengan langkahnya yang terayun lucu. Di belakang anak tampan itu, Kintan tampak kesulitan membawa dua kantong plastik entah apa isinya.
__ADS_1
Aksara menghela napas lega. Ternyata kekhawatirannya hanya sebatas khayalan buruk belaka. Kintan tidak sedang bersama David, melainkan putra mereka. Tampaknya pun, istrinya itu baru saja berbelanja dari minimarket. Aksara menyadari hal itu dari tulisan nama tempat tersebut yang ada di permukaan kantong plastik.
“Kenapa enggak tunggu aku pulang saja?” tanya Aksara sembari mengambil alih dua kantong yang sekiranya berat tersebut.
Kintan menggeleng. “Mumpung senggang, Mas, lagian aku juga jarang keluar rumah,” jawabnya.
“Benar juga. Maaf aku nggak pernah membawa kalian jalan-jalan.” Aksara sedikit merasa bersalah. Kemudian menunduk pasrah sembari berjalan lebih cepat.
Kintan menyusul suaminya itu sembari menggandeng Gibran. “Enggak apa-apa, aku tahu kamu sibuk.”
“Maaf, Tan. Lalu, kamu ke depan pakai apa?” tanya Aksara kemudian menghentikan laju kaki ketika sudah sampai di teras rumahnya.
“Ojek online tadi, Mas. Sekali-sekali naik motor.” Kintan tertawa kecil, lalu mengikuti sikap sang suami. “Kamu pasti tahu aku jarang naik motor. Mungkin selama hidupku, bisa dihitung dengan jari. Papa tak pernah mengizinkanku, katanya enggak aman. Belum lagi kalau pas panas ataupun hujan.”
“Ya, aku percaya. Kamu memang anak sultan. Aku sangat paham akan hal itu.”
“Hmm ....”
Keluarga kecil itu lantas memasuki rumah mereka. Suasana kebersamaan itu terbilang lebih hangat dari biasanya. Pun pada Kintan ataupun Aksara sendiri yang sama-sama lebih lembut. Mereka sedang belajar menata diri untuk menjadi lebih baik bagi satu sama lain, terutama bagi putra mereka.
Sementara Kintan yang bergegas membawa Gibran menuju kamar mandi, Aksara masuk ke dalam kamarnya. Tentu saja, ia sudah membasuh wajah dan tangannya. Pada ranjang tidurnya yang tampak rapi, ia merebahkan diri. Helaan napas panjang ia ambil setelah itu. Lalu, tiba-tiba saja tawa kecil justru muncul dari bibir manisnya.
“Apa aku gila?” kata Aksara. “Kenapa aku sampai berpikir sejauh itu? Lagian, memangnya Mr. David mengetahui rumah ini? Ah, mungkin saja, dia bukan orang biasa. Tapi, kuharap dia nggak berbuat sejauh itu,” lanjutnya penuh harapan.
Aksara mengubah posisinya menjadi menghadap kiri. “Tapi, siapa tamu yang datang? Temannya Kintan? Ibu, ayah, Ningsih, atau Mama Sari? Sepertinya aku harus bertanya sama Kintan.”
__ADS_1
Aksara mengembalikan posisinya seperti semula. Senyuman tipis masih kerap muncul di bibirnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, yang pasti kehangatan menjalar dari hati hingga seluruh tubuhnya. Rasanya jauh lebih damai saja, meski masalah Mergi dan David datang secara bersamaan. Namun, ketika berada di rumah, menatap istri dan anaknya, perasaan gusar perlahan menjauhkan diri. Seingatnya, ia pernah merasakan kondisi seperti ini.
Aksara mulai menelusuri setiap memori yang tersimpan rapat di benaknya. Ia tengah mencari ingatan perihal suasana hatinya yang tampak tak asing. Hingga muncul rekaman sosok Nila, pasca pertama kali ia temui. Saat itu, entah bagaimana kehangatan juga menjalar pada tubuhnya secara perlahan. Apalagi jika Nila tengah berada di sampingnya, tersenyum, lalu mengajaknya bicara.
Aksara tercenung seketika itu juga. Ia menelan saliva, lalu berucap, “I-ini enggak mungkin.” Ia membangunkan diri. “Ha-ha-ha, aku? Pada Kintan? Enggak, enggak, enggak boleh, Nila belum lama meninggal! Akuh harus ingat tentang hal itu, istriku sayang pasti kesepian di sana. Masa’ aku sudah bahagia?”
Tepat ketika Aksara selesai berucap, pintu kamar itu terdengar telah dibuka oleh seseorang. Tak lama kemudian, Kintan muncul dari sana dengan rambut yang basah dan dengan tampilan kimono mandi. Sepertinya, ia sekalian membersihkan diri setelah mengurus Gibran. Melihat pemandangan tersebut, Aksara lantas menelan saliva. Ia terpaku pada sosok istrinya yang tampak mempesona.
Apa dia selalu secantik ini?
“Mas?” ucap Kintan dan sukses mengejutkan Aksara. “Kamu kenapa?”
Aksara berdeham. Sikapnya tampak sekali sedang salah tingkah. “En-enggak apa-apa,” jawabnya.
“Hmm ... ya sudah mandi dulu, aku mau siapin makan malam. Setelah itu, ada yang mau aku bicarakan.”
“Soal?” Aksara menoleh pada Kintan. “Kenapa tiba-tiba? Ada masalah penting? Sekarang saja.”
“Kamu masih capek dan masalah ini kurasa cukup mengejutkan.”
“Tapi, aku ingin tahu sekarang, Kintan. Sekaligus soal cangkir teh yang sudah kosong di ruang tamu, siapa yang sempat bertamu? Apa Ibu?”
“Ya, berkaitan dengan tamu itu dan sayang sekali, bukan Ibu atau kerabatmu yang lain.”
Rasa penasaran semakin besar di hati Aksara. Benarkah memang ada tamu yang bukan dari anggota keluarganya? Lalu, apakah tamu itu adalah David? Sebab, mimik wajah Kintan terbilang serius. Juga, bagaimana wanita itu bersikap yang seolah mendadak kehilangan semangat.
__ADS_1
Apa lagi ini? Masalah David dan Mbak Mergi saja baru datang, masa’ mau ada lagi? Aku dan Kintan baru berbaikan, Tuhan!
***