Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 33-Kintan yang Benci


__ADS_3

Aksara mendudukkan Kintan di sofa rumahnya. Setibanya di sana, ia memang sudah berencana untuk memarahi istrinya itu. Namun, ketika Kintan pernah memintanya untuk tidak kasar dan galak lagi, Aksara membatalkan rencana tersebut. Sesaat setelah menghela napas, ia duduk berjongkok tepat di hadapan sang istri.


“Itu mobilku, mobil pertamaku dan merupakan hadiah untuk Nila, Tan. Harusnya kamu nggak membuat keputusan secara sepihak,” ucap Aksara dengan lembut.


Kintan menelan saliva. Nila lagi, entah mengapa kali ini ia merasa sesak. Biasanya ia akan memahami bagaimana Aksara sulit untuk melupakan mendiang istri pertamanya itu. Namun tidak untuk saat ini.


“Bisa enggak kamu sekali saja memikirkanku, Mas? Aku Kintan, bukan Nila,” pinta Kintan sembari menatap manik mata suaminya.


“Bukannya kamu tahu betapa aku mencintainya?”


“Aku tahu.” Kintan mengembuskan napasnya secara perlahan. “Aku juga enggak pernah memintamu buat melupakan Nila. Tapi, aku juga ingin dianggap sebagai diriku sendiri. Setiap malam kamu selalu menyebut nama Nila sambil memegang lenganku, atau bahkan memelukku. Dan ketika dua malam itu terjadi, aku tahu di benakmu justru ada wajah Nila.”


Aksara menundukkan kepala. Rasa bersalah meliputi hatinya, membuatnya malu untuk menatap wajah Kintan yang kini tengah kecewa. Bahkan, Aksara sendiri sudah berusaha menghargai keberadaan wanita itu. Ternyata, malam-malam yang telah lalu serta keputusan meminta Kintan pindah kamar justru menimbulkan luka batin bagi istri keduanya itu.


Untuk meminta pengertian dari Kintan, perihal sulitnya melupakan mendiang Nila, Aksara sudah tidak enak hati. Namun di sisi lain, tiga bulan belum menjadi waktu yang cukup baginya untuk lekas move on dan menerima istri baru dengan lapang dada. Ia sudah berusaha sejauh ini. Menghargai, menganggap Kintan di hadapan teman dekatnya serta meresmikan pernikahan. Tetap saja segala upayanya justru terasa hambar. Aksara belum bahagia! Paras Nila terus saja menghantuinya setiap malam, sampai-sampai ia kerap tidak sadar bahwa Kintan bukanlah istri pertamanya itu.


“Maaf, Tan. Kalau aku seperti ini. Aku sendiri belum bisa mengendalikan diri, masih sering menggambarkan dirimu sebagai mendiang,” ucap Aksara cukup lirih.


Kintan mendongak sembari melipat kedua tangannya ke depan. “Aku hanya ingin dianggap sebagai Kintan, didengar sebagai Kintan. Aku nggak pernah memaksamu mencintaiku, Mas,” jawabnya.


“Maaf ....”


“Bahkan, aku sendiri sulit melupakan mantan kekasihku. Tapi, ... aku selalu berusaha yang terbaik untuk memenuhi amanat istri pertamamu. Menjagamu dan Gibran. Termasuk menjagamu dari wanita itu.”


“Tapi, tidak dengan menjual mobilku, 'kan? Lagipula Mbak Mergi belum tentu menyukaiku, Kintan.”


Kintan berdecak, kemudian menurunkan pandang pada wajah Aksara yang juga telah menatapnya. “Kamu ini bodoh apa memang enggak peka sih? Kelihatan banget lho dia tadi ingin menjebak kamu, Mas! Anaknya sakit itu cuma alasan! Sayangnya dia terlalu bodoh dengan membawa mobilmu, tanpa memikirkan kemungkinan aku mengantarkanmu.”


“Tapi, kami dekat sebagai teman semenjak Nila masih ....” Aksara menelan saliva.


Kintan jengkel. “Aku nggak tahu gimana kalian di masa lalu. Intinya yang ada sekarang adalah dia jahat! Titik!”

__ADS_1


“Kintan ...?”


“Aku rasa dia sudah terobsesi atas dirimu, Mas. Mungkin sudah menyukaimu semenjak Nila masih mm, ada. Pernikahanmu denganku terbilang cepat. Orang-orang akan berspekulasi dengan dugaan mereka masing-masing tentang apa yang terjadi di antara kita.”


“Itu—”


“Termasuk, pengagum rahasiamu itu. Jika obsesi telah melahap hatinya, maka ada kemungkinan dia berpikir kalau aku selingkuhanmu atau wanita yang menjebak kamu, Mas! Kalau saja hanya orang biasa yang enggak menginginkanmu aku bisa masa bodoh! Tapi, tidak dengan dia!”


Aksara tidak berdaya. Istrinya terlalu cerdas dan juga teliti dalam membuat analisa. Itu sebabnya ia memilih diam daripada memperpanjang perdebatan. Apalagi sekarang ia tidak memiliki senjata apa pun, sebab kata 'cerai' sudah ia singkirkan sejak lama. Namun dapat ia pastikan Kintan akan kembali berceracau.


Kemudian, Aksara memutuskan untuk bangkit lantaran kakinya terasa pegal. Ia duduk di samping Kintan yang masih sibuk memikirkan sesuatu. Aksara tidak berani mengganggunya sama sekali. Mungkin inilah yang namanya karma. Saat itu ia membuat Kintan terus berada di posisi serba salah, kini justru dirinya yang bingung harus berbuat apa.


“Mas, aku enggak peduli penilaian orang. Tugasku adalah menjagamu. Mungkin ini alasan Nila memintaku menikah denganmu. Dan jujur sangat berat bagiku, setiap aku berdebar karenamu rasa bersalahku tumbuh pada Nila,” ucap Kintan.


Dahi Aksara berkerut samar. “A-apa? Berdebar?” tanyanya.


“Eh? Aa ... itu, bersama maksudku!”


Kintan gelagapan. “Sambungin saja kenapa!”


”Iya, iya,” jawab Aksara kecut.


Kintan nyaris mengakui jika ia berdebar-debar ketika diperlakukan bak istri pada umumnya. Ia tidak mau kalah oleh Aksara, jika pria itu sampai mengangapnya jatuh cinta duluan. Ia takut ditertawakan saja. Atau mungkin direndahkan lagi seperti dua bulan berturut-turut pasca pernikahan terjadi.


Sesaat setelah mendapatkan kendali atas dirinya, Kintan mulai berani menghadap sang suami. “Untung saja yang sahabatnya Nila itu aku, bukan wanita itu!” ucapnya angkuh.


Aksara tertegun sebentar. “Memangnya kamu lebih baik darinya?” tanyanya.


“Tentu saja!” jawab Kintan cepat. “Setidaknya aku nggak menggunakan anak sebagai alat pencari perhatian.”


“Siapa tahu Naura benar-benar sakit, Tan. Jangan berpra—”

__ADS_1


“Mas! Masih mau nyangkal dan belain dia lagi?!”


“En-enggak, Tan. Cuma lebih baik enggak nuduh, 'kan?”


“Ck, justru kalau cewek itu aku bakal nuduh terus. Lagian, ibu mana yang bakal berias saat anak sakit? Yang benar saja! Macam orang gila saja.”


“Jangan begitu,” ucap Aksara lembut. “Kamu boleh begitu kalau memang ada rasa cemburu.”


“A-apa?! Waaah! Mana ada, enggaklah! Enak saja.”


Kendati menyangkalnya, Kintan terlihat sangat salah tingkah. Mau bergerak pun jadi serba salah. Dari yang awalnya meraih vas bunga, kemudian menggosok lengan sofa. Kintan juga merasa hawa panas menyeruak ke dalam tubuhnya. Padahal, malam ini suasana cukup dingin, tetapi buliran keringat justru muncul.


Aksara terdiam sembari menatap Kintan. Tidak ada senyum sama sekali di wajahnya. Matanya sayu, sementara hatinya ikut terluka. Ia masih merasa bersalah, meski Kintan sudah mengalihkan topik pembicaraan. Tak lama kemudian, ia meraih jemari Kintan yang masih gemetar di atas pangkuan.


“Maafin aku,” ucap Aksara. “Tapi, aku memang masih sangat butuh banyak waktu demi melupakan Nila,” lanjutnya tepat ketika Kintan menatapnya.


Kintan terenyuh. “Aku yang minta maaf, Mas. Bukan maksud aku nuntut kamu buat melupakan Nila,” jawabnya.


“Kamu terlalu banyak berkorban, Kintan. Aku tahu, seharusnya kamu sudah bahagia bersama pria itu. Tapi, gara-gara aku kamu harus terjebak di dalam pernikahan enggak bahagia.”


Kintan menunduk. “Bukan salahmu kok, Mas. Seharusnya aku bisa bersikeras meninggalkanmu dan Gibran, tapi aku memilih buat memenuhi permintaan terakhir dari Nila.”


“Terima kasih, Tan. Mungkin ...” Aksara menelan saliva. “... kita bisa belajar setelah ini. Belajar saling menerima dan mungkin saling menyayangi.”


Kintan terdiam. Saling menyayangi? Untuk Gibran hal itu sudah pasti. Namun untuk Aksara? Bahkan, ia merasa hambar atas perasaannya. Ia tidak pernah mengharapkan lebih dari kata terima atau demi amanat istri pertama suaminya. Lalu jika konteks menyayangi mengarah pada hal cinta, apakah ia bisa melakukannya?


Aksara semakin mengeratkan genggaman tangannya di jemari Kintan. “Aku akan berusaha mengikhlaskan kepergian Nila. Tak mau lagi menganggap kamu sebagai dia. Aku ingin mencoba memulai hidup baru yang lebih indah bersama kamu, Kintan, bukan karena Nila lagi,” ucapnya setelah meyakinkan dirinya sendiri.


Sementara Kintan yang masih terdiam, Aksara mengambil kesempatan. Pria itu meraih wajah Kintan dengan gerakan lebih lembut. Perlahan, keduanya mendekat. Dengan janji yang bahkan belum disetujui Kintan, Aksara merenggut bibir istrinya itu. Mereka melewati romantisme singkat pada saat Gibran belum dijemput dari rumah Sari, dan berakhir pada rasa canggung serta bingung.


***

__ADS_1


Like dan komennya yaaa.


__ADS_2