
Aksara masih tidak percaya bagaimana bisa seorang Mr. Sinclair ingin menariknya sebagai asisten pribadi. Namun ketika wajah Kintan terbesit di benaknya, juga bagaimana istrinya itu selalu bersikap kritis serta teliti, Aksara mulai membuat spekulasi.
Seperti layaknya Kintan dalam berpikir, kini Aksara mencontoh sikap istri keduanya itu. Ia berpikir mulai dari pertemuan pertamanya dengan Mr. Sinclair. Bagaimana bule itu mengetahui namanya dan tiba-tiba saja menawarkan jabatan. Pun pada sindiran Mr. Sinclair terhitung dua kali sampai saat ini. Rasanya dugaan yang Aksara pikirkan mengenai keterlibatan Mr. Sinclair, Kintan, serta David merupakan kebenaran. Dan jika dugaan Aksara memang benar, ada kemungkinan Mr. Sinclair sengaja merekrutnya untuk sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan pribadinya bersama Kintan.
Tunggu! Tepat ketika satu dugaan lain muncul, mata Aksara membelalak. Tentang siapa Mr. Sinclair sebenarnya. Pria berparas barat itu mungkin saja bukan salah satu kerabat dari David, tetapi ... diri David sendiri. Namun, di satu sisi, bukankah David telah ditolak oleh Kintan? Jika Mr. Sinclair adalah David, lantas untuk apa ia mendatangi Aksara?
Aksara menelan saliva. Dengan segenap keberanian, ia mencoba mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Ia menatap wajah Mr. Sinclair dengan tajam.
“Mr. David?” Aksara mencoba memancing kebenaran. Ia tidak mau dibodohi oleh orang lain, sekalipun orang itu cukup berpengaruh pada dunia.
Untuk sesaat, entah Gupta atau David sama-sama terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain. Ternyata, Aksara tidak sebodoh yang mereka bayangkan. Entah bagaimana Aksara membuat analisa, tetapi tebakan itu tepat dan akurat.
“Kamu tahu nama panggilan saya?” tanya David tak berencana untuk bersembunyi lagi.
Sesak mendadak dirasakan oleh Aksara. Dugaannya benar! Berpikir se-detail Kintan, tampaknya cukup membantu sekaligus mengejutkan. Dan pria yang sekarang ada di hadapannya adalah mantan kekasih yang masih sangat dicintai oleh istrinya. Kini semua kebingungan yang dirasakan oleh Aksara perlahan terungkap. Namun, luka baru timbul menumpuk dan memperbesar luka lain yang sudah ada.
Gupta berdeham cukup keras. “Hahaha, mengapa suasana menjadi tegang seperti ini? Ayolah, kita bahas pekerjaan saja!” ucapnya ketar-ketir, khawatir jika ada perkelahian tak diinginkan.
“Memangnya kami membahas apa, selain pekerjaan, Gupta?” sahut David tanpa memalingkan wajah dari Aksara.
Aksara tetap tegak, terlihat tidak gentar sama sekali. “Benar, Tuan Muda. Bukankah kita sedang membahas pekerjaan?”
“O-oh, be-benar juga,” kata Gupta gelagapan. “La-lalu bagaimana kesepakatan di antara kalian?”
“Terser—” Ucapan David terhenti.
“Saya bersedia!” sahut Aksara cepat.
Jawaban tegas tanpa rasa takut itu, semakin memperjelas adanya pertikaian batin. Kendati baru saling mengenal, tampaknya Aksara dan David sudah membangun kewaspadaan di antara satu sama lain.
“Kenapa tiba-tiba menjadi sangat yakin dan tanpa ragu?” tanya David.
Aksara menghela napas. “Entah, tapi saya merasa tertantang untuk melakukannya,” jawabnya.
__ADS_1
“Apa tidak ada faktor lain yang membuat Anda tiba-tiba mengubah keputusan?”
“Yang terpenting adalah saya menerima tawaran Anda, perihal faktor lain merupakan kehidupan pribadi saya. Tampaknya, Anda cukup paham tentang hal itu.”
“Ya, tentu saja. Namun, Aksara, ... saya juga bisa ikut campur jika kehidupan pribadi Anda masih berkaitan dengan saya.”
“Dengan berat hati, saya tidak berencana untuk melibatkan Anda di dalam kehidupan pribadi saya selain pekerjaan. Mr. David pasti punya banyak masalah penting, daripada ikut campur urusan orang.”
Sombong sekali. David mulai melakukan penilaian terhadap Aksara yang begitu percaya diri. Namun sejujurnya, ia justru mengentengkan sikap suami dari mantan kekasihnya itu. Baginya, Aksara tetap pria rendahan yang tidak bisa menghargai seorang wanita. Suatu saat sudah pasti akan ia balas dengan batu besar berupa penyesalan.
“Baiklah,” kata David. “Mulai besok mungkin kita bisa bekerja sama.”
“Saya akan melakukan yang terbaik untuk pekerjaan itu,” jawab Aksara.
David tak menimpali lagi. Ia memilih menyesap kopi yang sudah dingin. Terlepas dari rasa benci terhadap Aksara, ada rasa kagum tersendiri di hatinya. Pasalnya, baru kali ini ada orang biasa yang tidak canggung terhadapnya. Tidak menilai ataupun minder ketika bersamanya. Apa yang ia rasakan ini memang sama dengan perasaan Kintan, sehingga ia begitu menyukai Kintan berawal dari posisi yang sama. Tidak selamanya menjadi orang kaya bahagia.
“Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Aksara setelah akhirnya beranjak. Ia merundukkan badannya kembali, kemudian berjalan meninggalkan kedua pria dari kasta tinggi itu.
Hening pun tercipta. David masih asyik dengan dunianya sendiri, sementara Gupta tak berani sedikit pun bertutur kata. Pasalnya, David telah menyumbangkan banyak dana untuk perusahaannya. Mau tak mau Gupta tunduk untuk mencari keamanan dirinya sendiri.
***
“Sombong sekali kamu, Tan!" gerutu Diki sembari meletakkan cangkir pada tempatnya semula. “Sama sekali enggak berkunjung ke rumah. Apa enggak rindu pada keponakanmu?"
“Maaf, Kak. Kintan juga sudah jadi ibu, lagian Kintan juga kerap ke kantor Papa kok,” jawab Kintan.
“Tapi, Papa belum bilang sesuatu sama kamu?”
Dahi Kintan berkerut. “Sesuatu yang kayak apa? David?”
“Ada kaitannya. Tapi, ini bukan tentang hubungan kalian. Kudengar suamimu telah mendaftarkan pernikahan kalian secara sah?”
“Benar, Kak. Belum lama ini. Lalu soal apa yang Kakak maksud itu?”
__ADS_1
Diki menghela napas. Cukup berat baginya untuk mengungkapkan fakta yang ada. Memang tidak berkaitan dengan asmara milik Kintan, hanya saja tetap menjadi pantangan bagi adiknya itu. Sementara di sisi lain, ia sudah menyetujui serta menandatangani sebuah surat bisnis. Dengan kata lain, Diki tak bisa membatalkannya begitu saja. Istrinya pun sudah setuju akan keputusannya.
“Kak?” ucap Kintan mulai gelisah, lantaran Diki justru bergeming.
Diki kembali menghela napas, kemudian menyesap teh hangat yang disediakan oleh Kintan. Detik berikutnya, ia menatap wajah adiknya dengan serius.
“Kakak mau ke New Zealand. Ada pengembangan bisnis yang juga didukung oleh Mr. David," ungkap Diki.
Kintan tercekat. “Ke-kenapa tiba-tiba?”
“David sudah mengambil alih atas perusahaan ayahnya, Tan. Papa pikir kerja sama ini bisa menguntungkan. Mereka sudah membuat kesepakatan dan Kakak yang bertanggung jawab atas proyek itu.”
“Oke!” Kintan menunduk. “Tapi, kenapa harus Mr. David? Dia mantan aku, Kak. Kakak tahu aku segila apa padanya dulu? Gimana kalau dia meminta balasan atas kesepakatan ini?”
“Kamu berpikir terlalu jauh adikku sayang. Tak ada hal seperti itu. Tenang saja, lagipula jika pernikahanmu sudah sah, Mr. David bisa apa?”
Tetap saja Kintan merasa ada yang salah. Ia tidak bisa membiarkan kesepakatan kerja sama besar itu terjadi. Ia sudah bertekad untuk membuang nama David dari hidupnya. Namun bagaimana jika urusan pekerjaan akan mengantarkannya lagi pada pria itu? Kintan tidak bisa. Aksara sudah berjuang menerimanya. Suaminya itu sudah membulatkan tekad untuk mengikhlaskan mendiang Nila agar bisa hidup tenang bersamanya.
“Dan yang paling penting sampai membawa Kakak ke sini adalah pergantian posisi Papa,” celetuk Diki yang sukses mengejutkan Kintan. “Mau nggak mau kamu harus menjadi CEO dari perusahaan keluarga kita.”
“Aku nggak mau!” tolak Kintan tegas.
“Enggak ada pilihan menolak, Kintan. Papa sudah masuk usia pensiun. Jangan sampai perusahaan yang sudah Papa bangun dari nol diambil alih oleh orang lain. Kakak dan Kak Desi beserta Valerie akan menetap di New Zealand.”
“Tapi—”
“Kamu punya waktu satu bulan lagi untuk kembali ke kantor. Mempersiapkan diri sebagai CEO baru.”
Kintan bungkam seribu bahasa. Ia terlalu sulit untuk mengungkapkan perasaannya. Tak pernah ia bayangkan jabatan CEO akan ia warisi, sebab posisinya hanya sebagai seorang putri. Sementara Diki adalah putra mahkotanya. Semua orang juga tahu ia yang akan naik tahta tertinggi di kerajaan bisnis yang dibangun oleh Chandra. Perusahaan manufaktur yang sudah menginjak posisi sepuluh besar di Indonesia.
Apa Mas Aksara bakal setuju? Kami baru saja baikan. Hubungan kami mulai membaik. Aku enggak mau bertengkar lagi dengannya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yaaa.