
Baru saja menginjakkan kaki di halaman rumahnya, Kintan sudah mendapatkan sambutan tak mengenakkan. Entah bagaimana gosip itu bisa beredar, sampai membuat para tetangganya menggunjingkan namanya. Mereka tampak berkumpul di samping depan gerbang rumah suaminya itu, seolah memang sengaja agar ia dapat mendengarkan dengan jelas.
“Gosipnya memang seperti itu, Bun. Katanya Mbak Nila meninggal ada kaitannya dengan istri baru itu,” ucap seorang ibu-ibu bertubuh gempal.
“Masa’ sih? Tapi, si istri baru itu orangnya ramah lho, Bun. Dengar-dengar dia justru anak konglomerat besar, tapi saya nggak tahu pengusaha yang mana,” sahut si ibu-ibu yang lebih kurus sembari melirik ke arah Kintan.
“Halah!” ucap satu orang lagi di antara mereka. Ia seorang ibu-ibu dengan rambut pendek cenderung mirip potongan rambut pria. “Palingan juga sugar daddy, bisa saja dia ada main sama om-om yang ngaku bapaknya sebelum menikah dengan suaminya Mbak Nila.”
Si ibu gembul langsung melirik Kintan, mencibir sedikit, kemudian berkata, “Oh mungkin saja, ya. Ck ck ck, miris sekali. Padahal cantik, ternyata di belakangnya kayak gitu. Murah!”
Kintan menghela napas, kemudian melipat kedua tangannya ke depan. Detik berikutnya, ia berjalan hendak menghampiri ibu-ibu tersebut. Namun sebelum dirinya sampai, mereka bertiga lantas bubar untuk menghindarinya. Hal itu menyebabkan kekesalan di hati Kintan semakin bertambah saja.
“Kenapa pada kabur sih?!” tanya Kintan dengan lantang sebelum mereka pergi lebih jauh. “Dibayar berapa sih sama si penebar gosip, uangnya lebih banyak dari saya, nggak! Dasar! Seenak jidat ngatain orang. Mau kalian saya tuntut atas dugaan pencemaran nama baik?!”
Ketiga ibu-ibu, tanpa aba-aba, kompak menghentikan langkah kaki. Mereka melirik Kintan sembari menelan saliva. Tampak dari mata mereka, Kintan tengah berdiri tegak, sementara kedua telapak tangannya mengepal kuat seolah sedang menahan amarah. Sepertinya wanita cantik itu tidak main-main dengan perkataannya. Hal itu membuat ketiga tukang gosip lantas ciut nyali dan berangsur pergi untuk bersembunyi.
Tak ada yang bisa Kintan lakukan selain menghela napas untuk menahan kegeraman. Mungkin sedikit heran lantaran setelah empat bulan tinggal bersama Aksara pasca Nila tiada, baru kali ini ada gosip semacam itu. Ataukah memang sudah ada sejak lama, tetapi ia baru mendengarnya? Bukankah pernikahannya dengan Aksara sudah menjadi rahasia umum jika terjadi atas amanat dari Nila? Seingatnya, yang menjelaskan fakta itu adalah ibu mertuanya demi menghalau kemungkinan adanya nyinyiran warga.
“Ada yang aneh,” gumam Kintan. “Kayaknya memang ada yang sengaja menyulut api. Entahlah! Kali ini aku terlalu lelah mengurus hal-hal semacam itu.”
Kintan mencoba tidak peduli lagi. Kemudian, ia beranjak untuk menuju teras yang akan berlanjut masuk ke dalam rumah suaminya tersebut. Ia merasa terlalu letih setelah hampir seharian penuh berada di kantor sang ayah untuk mempersiapkan kembalinya dirinya ke perusahaan tersebut.
Suara klakson berbunyi dari depan rumah itu sukses membuat Kintan terkejut. Ia sampai membatalkan rencana untuk membuka pintu. Ketika ia memutuskan untuk berbalik badan, tampak mobil Aksara sekaligus pemiliknya yang sudah turun untuk melebarkan gerbang. Tak berselang lama, Aksara membawa kendaraan pribadinya tersebut untuk masuk.
“Kamu baru pulang?” tanya Aksara ketika Kintan mendekatinya yang baru turun dari ruang kemudi mobilnya.
“Iya, Mas. Hari ini nggak berjalan lancar. Aku terpaksa menyanggupi permintaan Papa,” jawab Kintan tanpa basa-basi.
“Kita bicarakan di dalam saja.”
Entah sadar atau tidak, Aksara merampas jemari Kintan dan menggandengnya untuk masuk ke dalam rumah. Sikap sang suami yang sangat langka itu membuat Kintan didera rasa heran kembali. Pasalnya, belakangan ini Aksara kerap bersikap manis tanpa keinginan ataupun dorongan darinya. Lantas, sebenarnya apa rencana yang dipikirkan oleh Aksara saat ini, sampai-sampai bersikap tidak biasa?
Dan rasa heran yang sudah ada di hati Kintan itu bertambah lagi. Pasca menutup daun pintu dan menguncinya rapat, setelah memasuki rumahnya itu, Aksara memeluk sang istri dari belakang. Aksara meletakkan dagunya di atas pundak Kintan. Selain rasa heran yang semakin menghebat, sejujurnya jantung Kintan mulai berdebar-debar. Napasnya saja seolah tersendat di tenggorokan, sulit sekali dihela ataupun diembuskan.
“Ka-kamu ngapain sih?” tanya Kintan dengan kaku.
Aksara mengembuskan napasnya. “Biarkan aku begini sebentar saja,” bisiknya.
“Ta-tapi, i-ini terlalu tiba-tiba. A-ada apa? Akhir-akhir ini sikapmu sangat aneh, Mas. A-aku belum terbiasa dengan hal semacam ini.”
“Aku hanya berangsur menyadari tentang sesuatu.”
“Sesuatu yang seperti apa? Lalu, gimana kerjaanmu hari ini? Apa David menyulitkanmu?”
“Nggak bisa-kah tanyanya satu per satu? Aku bingung harus jawab yang mana dulu.”
__ADS_1
“Ma-maaf, aku terlalu gugup.”
Aksara tergelak. Sepertinya ia memang terlalu tiba-tiba dalam bersikap sampai membuat Kintan gelagapan. Oleh sebab itu, ia segera melepas pelukannya dari tubuh istrinya. Namun, detik berikutnya ia kembali menggandeng Kintan untuk menuju ruang tamu dan berencana beristirahat sejenak di sana.
Dengan gerak kaku, Kintan menuruti. Bahkan ketika biasanya ia duduk berjauh-jauhan atau berbeda kursi, kali ini Aksara mengajaknya berselebahan dan saling menatap. Namun mata Kintan masih tidak kuat. Jantungnya yang semakin kencang dalam berdetak, membuat kepercayaandirinya lenyap.
“Mr. David menyadarkanku tentang sesuatu,” ungkap Aksara.
Kintan mulai mendapatkan dirinya lagi. “Maksud kamu?” tanyanya.
“Pekerjaan yang dia berikan nggak berkaitan dengan urusan kantor, terkesan seperti pembantu saja.”
“A-apa?! David begitu?”
“Bahkan, dia menyambutku dengan pigura besar bergambar dirimu.”
Kintan semakin terkejut. “Gimana bisa?!”
“Aku enggak tahu kapan dipasangnya. Nggak hanya itu, banyak sekali jam-jam mahal yang dia pajang di dalam almari kaca, seolah hendak memamerkan kekayaannya. Kami berdebat soal dirimu, dia menginginkanmu, Kintan. Memintaku menceraikanmu dengan balasan jabatan tinggi.”
Napas Kintan terasa sesak. “Lalu, kamu bilang apa? Kalian tahu aku ini manusia, ‘kan?!”
“Aku bilang aku nggak bakalan lepasin kamu, apalagi menukarmu dengan jabatan.”
Kintan menghela napas lega. Setidaknya, meski tidakmencintainya, Aksara masih menghargainya sebagai seorang manusia. Hanya saja, sedikit penyesalan tumbuh di hatinya mengenai sikap David yang sangat keterlaluan. Untuk alasan apa pun, mempertaruhkan manusia sebagai bahan pertukaran bisnis bukanlah sesuatu yang benar. David yang ia kenal seolah sudah hilang. Entah motivasi dari mana, yang membuat mantan kekasih yang sempat ia cintai itu berlaku sangat kejam.
“Terus gimana dia bisa mempercayai kamu, Mas? Sampai akhirnya kamu bisa pulang dengan selamat? Kupikir ada adu hantam karena diriku,” ucap Kintan mulai percaya diri kembali.
“Aku bilang aku mencintaimu,” jawab Aksara tanpa basa-basi.
Kintan reflek membelalakkan mata. “Ah ... haha, kamu benar, hanya pengakuan itu yang bisa melindungi pernikahan kita. Meskipun pada kenyataannya enggak sama sekali, ya? Hahaha.”
“Kata siapa?”
“Mm?”
“Itu bukan sebatas pengakuan untuk melindungi pernikahan kita saja, Tan.” Aksara meraih jemari Kintan kemudian menggenggamnya. “Aku bilang tadi kalau Mr. David menyadarkanku, setidaknya itu nilai positifnya.”
“A-apa maksud kamu, Mas? A-aku nggak ngerti sama sekali.”
“Mr. David yang memperlakukanku bak pembantu mengingatkanku pada diriku sendiri, selama ini aku kerap menyiksamu dengan cara seperti itu. Lelah, kesal, dan kamu menahannya selama ini. Maaf ....”
“A-aku menikmatinya, kok! Lagian kamu masih bertanggung jawab atas uang kebutuhan dan nggak memaksaku bekerja keras. Tugas-tugas itu juga wajar dikerjakan oleh seorang istri.”
Aksara menundukkan kepalanya. “Bukan hanya itu saja. Tapi, keinginan Mr. David atas dirimu yang sangat besar, membuatku sadar akan berharganya dirimu.”
__ADS_1
Kintan terkesiap atas pengakuan suaminya tersebut. Berharga? Benarkah ia sangat berharga bagi Aksara yang selama ini sulit melupakan Nila? Rasanya masih sulit ia percaya. Namun ketika mengingat perubahan sikap Aksara belakangan ini yang sukses membuatnya heran, rasa haru pun datang. Aksara tampaknya tidak main-main, tidak juga sedang menggodanya.
Dan lambat laun, posisi Aksara semakin mendekati Kintan. Wajah pria itu hanya berjarak beberapa centimeter saja dari wajah sang istri. Tak lama kemudian, Aksara menjatuhkan kepalanya di pundak Kintan dengan lemah. Tetesan air mata mengucur membasahi pipi sampai ke baju Kintan. Penyesalan atas sikapnya selama ini datang dan membuatnya kesulitan untuk menatap manik mata sang istri.
“Maafkan aku,” ucap Aksara dengan segenap hati. “Maafkan aku, tolong jangan pernah meninggalkanku dan putraku.”
Hati Kintan terenyuh. Sementara tangannya mulai mengusap lembut tengkuk belakang suaminya itu. “Aku sudah memaafkanmu sejak dulu, Mas,” jawabnya.
“Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu, Kintan. Aku takut, sangat takut jika kamu kembali pada orang itu. Sementara aku tak bisa menandingi dirinya yang lebih dari segalanya. Bahkan, jika kamu masih mencintainya, aku harus gimana?”
“Kamu ngomong apa sih?!” kata Kintan, kemudian mendorong pelan tubuh Aksara dan menatap wajah suaminya yang menunduk sejak tadi. “Kamu nangis? Ih! Apaan sih?!”
“Jangan melihatku! Aku sangat malu!”
“Ih!” Kintan tergelak, kemudian kembali merengkuh tubuh suaminya ke dalam pelukannya. “Hihi, ada-ada saja! Lagian kita sudah menikah secara resmi, mana bisa aku kembali padanya. Kok nangis sih, enggak cocok sama badan kamu yang kekar, Mas!”
“Pernikahan resmi sama cinta lebih kuat yang mana, toh cintamu masih ada padanya.” Aksara mengusap wajahnya dengan kasar saking malunya. “Aku nggak memiliki hatimu, sementara aku sudah kalah lantaran lebih dulu mencintaimu. Aku pikir aku bisa menyimpannya sampai bayangan Nila tak menggangguku lagi. tapi, kedatangan mantan kaya rayamu itu membuatku kesulitan bernapas!”
“Makanya jangan sombong, sekarang dapat karmanya, ‘kan? Jangan sok tahu juga. Meskipun aku istrimu, tetap saja hatiku milikku sendiri, kamu enggak tahu apa yang ada di dalamnya. Bahkan, ketika aku sudah menjatuhkan hatiku padamu, memangnya kamu tahu?!”
“A-apa?!”
“Jangan menyuruhku mengulangi. Aku sangat malu mengucapkan kalimat menggelikan seperti itu.”
Aksara menarik dirinya lagi. Dengan mata selebar daun jati, ia menatap Kintan dengan rasa penasaran yang luar biasa. Meski sudah mendengar dengan jelas, tetap saja ia takut jika pendengarannya tak sesuai dengan ucapan asli milik sang istri. Oleh sebab itu, Aksara masih tetap mendesak Kintan untuk mengulangi pengakuan dan jika tidak ia akan menghukumnya dengan jari-jarinya yang nakal.
“Kubilang, katakan lagi!” tegas Aksara.
Kintan tetap menggeleng. Sampai satu hukuman dijatuhkan lagi oleh Aksara padanya. Tak ada celah baginya untuk melarikan diri, sebab selain tangan, kaki Aksara mencengkeram dirinya.
“Mas!” seru Kintan kesal.
“Ulangi dulu.”
“Iya, iya, lepas dulu. Pinggangku sakit.”
“Hmm ... sudah. Lalu?”
Kintan menangkup wajahnya sendiri. “Aku ... sudah jatuh cinta padamu.” Ia menunduk menahan rasa malu.
Aksara terlonjak. Ia sampai kegirangan dengan pengakuan Kintan barusan. Bak seorang anak remaja yang baru menembak anak gadis, begitulah kiranya perasaan Aksara saat ini. Pertahanan yang ia bangun karena masih menghargai mendiang Nila akhirnya runtuh detik itu juga. Mungkin memang kurang wajar, tetapi tampaknya Tuhan sudah memberikan perasaan baru lebih cepat agar ia tidak terus-menerus terbelenggu akan diri mendiang istri pertamanya.
“Aku enggak masalah kamu masih belum bisa melupakan Nila. Dan aku bahkan akan sangat marah jika kamu atau bahkan aku tiba-tiba melupakan Nila. Perasaan kita mungkin saja pemberian darinya juga. Aku tetap akan menjaga amanat istri pertamamu dengan sebaik-baiknya,” ucap Kintan setulus hati.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennnya yaa, jangan pelit-pelit gaes. btw terima kasih yang sudah berkenan, apalagi mampir setiap hari.