Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 31-Tawaran Mr. Sinclair


__ADS_3

“Perkenalkan nama saya Mr. Sinclair,” ucap sosok asing bermata biru itu.


Aksara masih termangu. Cukup lama ia membiarkan tangan pria bernama Sinclair tersebut mengambang di udara. Hingga sekian detik kemudian, ia baru menyudahi keterpanaannya. Aksara lantas menjabat tangan Sinclair dengan sikap ramah sekaligus hormat.


“Anda Pak Aksara dari divisi regional, bukan?” tanya Sinclair.


Aksara mengangguk dengan penuh ragu. “Benar,” jawabnya.


“Hmm ... tampaknya Anda adalah orang yang tidak suka menentang kebijakan perusahaan ya?”


“Itu, entah. Saya hanya bersikap profesional.”


“Tapi, apakah Anda tidak penasaran tentang siapa saya?”


“Jika rasa penasaran diizinkan, maka saya akan merasakannya sekaligus ingin bertanya tentang siapa Anda? Juga, bagaimana Anda mengenal nama saya?”


“Menarik!”


Sinclair berjalan-jalan ke sana kemari. Namun alih-alih gelisah, ia justru tersenyum. Sementara pria yang hendak usik itu tidak banyak bicara. Cukup tenang untuk ukuran karyawan biasa ketika menghadapi orang dengan penampilan seperti atasan. Sepertinya kabar yang ia dengar mengenai kekasaran Aksara pada istrinya ada kebenaran. Terlebih, pada saat ini saja Aksara telah bertindak sedikit aneh.


Sinclair menghentikan gerak kakinya tepat di hadapan Aksara. Ia tersenyum, tetapi kali ini terkesan meremehkan. Pasalnya, Aksara tidak cukup untuk memenangkan segala kuasanya, sekaligus wanita yang ia puja. Boleh saja saat ini Aksara telah menjadi suami sah dari wanita itu, melainkan Kintan Afsheen, tetap saja Sinclair alias David Edward Sinclair berambisi untuk mengalahkan pria itu.


“Saya akan menjadi direktur di divisi Anda, Pak Aksara,” ucap David. Kemudian, ia tersenyum. “Sepertinya hal yang cukup bagus untuk merekrut Anda sebagai orang kepercayaan saya, sekretaris mungkin?”


“Tidak perlu, Mr. Sinclair,” tandas Aksara. “Saya sudah cukup nyaman dengan pekerjaan saya sekarang.”


”Why? Anda hanya karyawan biasa. Gajinya saja cuma UMR. Kenapa menolak tawaran saya? Saya akan menaikkan gaji Anda dua kali lipat.”


Aksara tersenyum. “Terima kasih, Mr. Sinclair. Saya sangat tersanjung atas penawaran Anda. Mungkin saya akan mempertimbangkannya.”


David terdiam. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana Aksara bersikap. Harga diri Aksara mungkin bisa dibilang cukup tinggi sebagai seorang karyawan biasa. Dari cara bicara dan tatapan selidiknya, Aksara merupakan orang yang teliti. Mungkin ia tengah waspada pada sosok asing yang tiba-tiba saja menyebut namanya, sekaligus memberikan tawaran padanya. Sehingga David semakin yakin bahwa kabar yang beredar mengenai sikap kasar Aksara pada Kintan adalah kebenaran.


Sesaat setelah menghela napas, David kembali menatap Aksara. Ia mencoba mengulas senyuman seramah mungkin, meski hanya sebagai topeng atas kebenciannya. Sementara Aksara masih terpaku diam di tempatnya, nyaris tidak mengubah sikap sama sekali. Meski sebenarnya ia ingin pergi, tetapi terpaksa menahan keinginan itu lantaran David tampak masih ingin mengatakan sesuatu.


“Apa Anda selalu bersikap seperti ini, Pak?” tanya David.

__ADS_1


Aksara mengerutkan dahinya. “Sepertinya begitu,” jawabnya.


“Selalu merasa nyaman dengan sesuatu yang sudah lama. Pekerjaan dan ruangan lama, benar begitu?”


“Saya rasa begitu, Mr. Sinclair.”


David tersenyum sinis. “Berarti,” ucapnya kemudian mengambil jeda untuk melangkahkan satu kaki ke depan. “Dalam hal wanita pun seperti itu? Setia pada yang pertama, dan menyianyiakan berlian baru? Ah ... maksud saya jika ada satu wanita baru di hidup Anda,” sindirnya.


Pada kalimat terakhir yang terkesan sebagai sindiran itu, Aksara tercengang. Entah bagaimana bisa pria yang ia tahu bernama Mr. Sinclair itu mengarahkan perihal pekerjaan pada masalah wanita. Padahal tidak demikian. Aksara hanya hati-hati lantaran kedatangan sosok asing itu cukup mencurigakan.


Bukan karena ingin angkuh atau sok jual mahal, hanya saja sedikit waspada. Perihal naik jabatan, siapa pun pasti bersedia, begitu pun pada Aksara. Namun jika yang menawarkan adalah orang asing yang bahkan belum ada perkenalan resmi dari perusahaan, Aksara wajib menahan diri.


“Pikirkan saja. Jangan khawatir nanti ada perkenalan resmi. Tak perlu curiga,” celetuk David tiba-tiba.


Aksara menelan saliva. “Baik, Mr. Sinclair. Terima kasih,” jawabnya tak mau banyak bicara.


David hanya tersenyum. Kemudian, ia berangsur memasuki kotak elevator di hadapannya tersebut. Sampai pintu tertutup ia masih menatap nanar ke arah Aksara yang justru menunduk.


Sepeninggalan David, beberapa pertanyaan muncul di benak Aksara. Juga pada hatinya yang justru dibuat bingung, sekaligus tersinggung. Tentang bagaimana David tiba-tiba datang ke perusahaan itu, mengetahui namanya, kemudian menawarkan pekerjaan padanya. Ia siapa? Mr. Sinclair? Rasanya tak pernah mendengar nama itu. Lantas, mengapa seorang Mr. Sinclair mengetahui nama dan rupa Aksara? Bahkan, sampai mengatakan kalimat yang berisi sindiran.


Meski aku sudah menghabiskan dua malam denganmu, tetap saja cintaku masih ada pada David, si bule tampan itu ....


Tepat ketika kalimat Kintan terngiang di telinganya, Aksara membelalakkan mata. David si bule tampan? Jangan-jangan Mr. Sinclair? Aksara menelan saliva setelah menduga hal tersebut. Seingatnya Kintan memang menyebut kata bule setelah nama David. Apakah Mr. Sinclair ada hubungannya dengan David? Jika salah satu kerabatnya, kabar mengenai pernikahan Kintan dan menjadi istri kedua, sudah diketahui oleh Mr. Sinclair. Dengan begitu cukup wajar jika sosok asing tersebut memberikan sindiran padanya.


Aksara menghela napas, mencoba menenangkan hatinya. Ia tidak mau diliputi kecemasan dalam waktu yang lama. Dan seandainya kedatangan Mr. Sinclair untuk menyerangnya, lantaran sosok David ditolak oleh Kintan, maka ia harus mempersiapkan diri. Namun untuk saat ini, ia masih perlu menyelesaikan pekerjaan di kantor. Belum ada waktu untuk memikirkan beberapa dugaan.


“Ya, aku harus kerja dulu,” ucap Aksara sembari melangkahkan kakinya. “Aku harus cari tahu setelah ini, tanpa menyebut nama pria itu di depan Kintan. Aku nggak mau dia goyah kembali. Sebab, aku masih membutuhkan wanita itu.”


Sampai di belokan ke arah kanan yang kemudian mengarah pada pintu transparan, Aksara masuk. Namun sebelum mendapatkan lima langkah, tiba-tiba saja Mergi menghentikan dirinya. Aksara tercengang, bahkan nyaris tersentak ke belakang.


“Mbak?” ucap Aksara bingung.


Tanpa rasa malu sedikit pun, Mergi mencengkeram tangan Aksara. “Aku butuh bantuan kamu, Aksa!” ucapnya tampak cemas.


“Bantuan?”

__ADS_1


“Putriku sakit. Ta-tadi ada kabar dari pengasuhnya, dia sakit.”


“Lalu? Mm, sudah di bawa ke rumah sakit?”


“Kamu tahu sendiri, Aksara, aku nggak punya mobil. Aku enggak mungkin bawa dia ke rumah sakit dengan motor, tolong, Aksa.”


“Aku harus bilang istri—”


“Aksara ini darurat. Aku sudah minta izin sama manajer Heru, bahkan namamu. Hanya kamu yang bisa antar aku sekarang.”


Aksara mulai curiga. “Memangnya, Pak Heru bisa kasih izin semudah itu? Saya sempat meminta izin, tapi diwawancara satu jam terlebih dahulu. Apa Mbak Mergi sudah pastikan? Nanti kalau saya ikut, kinerja saja menjadi buruk. Takutnya justru bolos.”


Mergi tercenung. Benar juga, ia justru akan menyulitkan Aksara, meski sebenarnya ia sudah berniat untuk tanggung jawab jika manajer dan direktur terkait marah besar. Tampaknya ia terlalu tergesa-gesa. Ambisi besarnya membuatnya mudah lupa sekaligus gelap mata.


“Baiklah," kata Mergi sembari melepas cengkeraman tangannya dari lengan Aksara. “Aku terlalu khawatir sampai membohongimu, Aksa. Tapi, ... apa selepas pulang dari sini kamu mau ke rumahku? Aku hanya membutuhkan seorang pria untuk membantuku, Aksa.”


“Mbak Mergi akan pulang dulu, 'kan, sekarang?” tanya Aksara.


“I-itu, ya, te-tentu saja. Aku akan pulang.”


“Baiklah. Saya akan datang.”


“Be-benarkah?”


“Tentu saja. Jadi, Mbak Mergi bisa pulang dulu. Nanti saya ke sana. Kasihan Naura kalau menunggu terlalu lama. Pakai taksi online dulu, atau mobilku, Mbak.”


“Boleh pakai mobilmu?”


Aksara mengangguk. Kemudian ia menyerahkan kunci mobilnya pada wanita itu. Ucapan terima kasih kembali Mergi katakan. Sementara Aksara tak pikir panjang. Namanya anak lebih penting. Mungkin jika Gibran berada di posisi Naura, ia juga akan kalang kabut.


Ketika Mergi sudah berlalu dari hadapannya, Aksara berangsur menuju meja kerjanya. Beberapa rekannya, masih menatapnya penuh curiga. Mereka masih tidak menyangka bahwa Aksara telah menikahi wanita yang sangat cantik. Dan barusan, ia justru tampak akrab dengan janda segar. Sampai ada beberapa rekan yang julid terhadapnya, se-begitu playboy-kah Aksara pasca istri pertamanya meninggal dunia.


“Kedatangan Kintan benar-benar mengubah hidupku,” gumam Aksara. Kemudian ia menunduk. “Okelah. Nanti dia juga harus datang lagi ke sini, jemput aku dan berangkat ke tempat Mbak Mergi. Dia bakal lebih jengkel kalau aku nggak mengajaknya ke rumah Mbak Mergi.”


***

__ADS_1


Like dan komennya yaaa..


__ADS_2