Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 35-Obsesi!


__ADS_3

Semalam, Mergi memang terus saja dihantui bayang-bayang Kintan, sekaligus suara wanita itu yang kerap mendengung di telinganya. Di dalam kamarnya, Mergi kesulitan untuk tidur hingga jam tiga dini hari. Ia berjalan ke sana kemari, menggigit jari, serta gelisah sendirian. Semua perasaan buruk bersatu di hatinya. Dan kenyataan yang ada sekarang justru tak sesuai dengan harapan.


Rasa suka yang telah terpendam sejak lama, sudah tidak dapat Mergi tahan lagi. Perasaan itu meluap ibarat air laut yang pasang dan membentuk ombak besar siap menghempas daratan kebaikan. Baginya, saat ini adalah titik di mana kejenuhan mulai muncul. Ia tidak bisa diam saja, ia harus mendapatkan Aksara! Membuat Aksara menjadi miliknya, memisahkan pria itu dari istri barunya. Harus!


“Aku enggak bisa menyerah hanya karena sikap Aksara. Aku paham siapa Aksara, kalau bukan karena wanita itu, Aksara enggak akan bersikap kasar! Aku yang berhak memilikinya,” gumam Mergi yang kini memisahkan diri di dalam salah satu bilik kamar mandi.


Selepas Aksara membuangnya entah sebagai kawan atau wanita berkesempatan, Mergi enggan untuk masuk ke dalam ruang kerja. Gemetar hebat yang menyerang tubuhnya membuatnya sempat tak berdaya. Namun dengan segala upaya, Mergi mencoba bangkit. Ia tidak mau kalah dari Kintan. Kintan memang kaya, tetapi ia jauh lebih pantas mendapatkan Aksara.


“Aku ... enggak peduli sama sekali jika ini dikatakan sebagai obsesi. Toh, tujuanku adalah hal mulia. Aku sangat yakin akan penilaianku tentang Kintan,” gumam Mergi sembari memasang muka seram, mata merah berair, emosi yang masih ia kendalikan agar tidak meledak.


Tak lama setelah itu, Mergi keluar dari toilet tersebut. Ia membersihkan wajahnya di depan cermin besar. Mengusapkan saput bedak di wajahnya, kemudian lipstik merah maroon pada bibirnya. Setelah ini, ia berencana untuk kembali menjadi Mergi layaknya biasa. Namun dalam konteks kasat mata, sementara segala rencana terus ia susun di dalam benaknya.


***


Seorang pria bernama Erwin, tiba-tiba menghampiri meja Aksara. Ia mengetukkan jari di bilik kerja Aksara dengan maksud agar Aksara lantas menatapnya. Mendengar suara itu, Aksara lantas menoleh pada Erwin yang sudah berdiri di samping tempat kerjanya.


”Ada apa, Win?” tanya Aksara sembari mengerutkan dahi.


“Dipanggil Tuan Gupta,” jawab Erwin yang baru saja dititah CEO muda perusahaan itu.


Aksara semakin heran. “Aku?”


“Iya-lah, kalau bukan kamu ngapain aku datang ke sini?”


“Oh iya. Maaf, tak biasanya.”


“Mungkin karena kabar buruk tentangmu, Aksa.”


“Kabar buruk?"

__ADS_1


“Kamu berselingkuh, sampai membuat heboh satu divisi. Sampailah ke telinga CEO muda itu,” sindir Erwin. “By the way, istri barumu memang cantik sih. Maklum kalau kamu cepat move on dari yang sudah nggak ada. Cuma ya ... sedikit konyol saja.”


Aksara menelan saliva. Namun kendati merasa resah atas spekulasi Erwin yang tak benar, ia memilih diam ketimbang bertengkar.


“Baik-baik, Aksa. Kudengar CEO muda itu cukup tegas, dia enggak mau masalah pribadi sampai mengotori nama baik perusahaan. Dan ... aku beri sedikit saran. Jangan-lah dekati wanita lagi, misalnya Mergi. Bagi untuk kami yang bahkan belum menikah, jangan serakah!”


Erwin tergelak setelah menyudahi nasehat bernada sindiran itu. Detik berikutnya ia meninggalkan Aksara yang masih terdiam bersama luka baru di dadanya. Tampaknya namanya sudah terlanjur buruk di mata teman-temannya.


Memiliki istri baru, bahkan secantik Kintan agaknya seperti sebuah kesalahan. Terlebih, ketika Nila belum lama meninggal. Bukan hanya itu saja, obsesi Mergi terhadapnya lambat-laun justru terlihat. Tentang bagaimana wanita itu berubah seperti singa betina yang hendak menerkam. Aksara menduga Mergi tidak akan berhenti begitu saja, meski sudah ia perlakukan dengan sedikit kasar.


“Entahlah!” ucap Aksara kesal. Namun ia berusaha tak memikirkan segalanya. Detik ini ia harus segera menghadap Gupta. Mungkin sembari mempersiapkan diri untuk segala sesuatu yang bisa saja terjadi.


Aksara berjalan dengan kecepatan sedang. Kegugupan meliputi dirinya pasca ia mulai menginjakkan kaki ke lantai elevator. Ia berharap tak ada masalah yang merugikan. Lagipula, masalah pribadi bukan hak Gupta untuk menghakimi. Kinerja yang dilakukan Aksara cukup bagus, tidak ada alasan signifikan untuk membuangnya dari perusahaan.


Ketika sampai di depan sebuah ruangan besar berpintu putih dengan ukiran bunga hitam yang elegan, Aksara menuju ke meja kerja seorang sekretaris di hadapan ruangan itu.


“Saya Aksara, barusan dapat panggilan dari Tuan Gupta, Nona,” ucap Aksara dengan santun.


“Mari,” ucap wanita itu.


Keduanya lantas berjalan menuju pintu besar yang mewah tersebut. Sang sekretaris mengetuk benda itu, kemudian membukakannya untuk Aksara.


Aksara mengucapkan terima kasih pada sekretaris tersebut. Sesaat setelah itu, ia memasuki pintu yang telah dibukakan untuknya. Sikap santun dan hormat ia tujukan pada seorang pria muda seusianya, tetapi dari kasta yang berbeda.


“Silakan masuk lebih ke dalam,” ucap Gupta mempersilakan Aksara.


Namun alih-alih bergerak dengan cepat untuk menuruti permintaan CEO muda tersebut, mata Aksara justru tertuju sosok bule yang pernah ia temui. Mr. Sinclair ada di sana. Duduk pada salah satu sofa milik Gupta. Pancaran mata biru itu terus saja mengamati keberadaan Aksara.


“Selamat siang Pak Aksara,” ucap Mr. Sinclair alias David. “Senang berjumpa dengan Anda lagi.”

__ADS_1


Aksara menyudahi ketertegunan. Ia merundukkan badannya, nyaris sembilan puluh derajat. “Selamat siang, Mr. Sinclair. Senang berjumpa dengan Anda,” jawab Aksara.


“Baiklah!” seru Gupta sembari bertepuk tangan satu kali kemudian berdiri. Ia berjalan menuju keberadaan tatanan sofa. Detik berikutnya ia menunjuk salah satu kursi empuk itu sambil menatap Aksara. “Silakan duduk, Saudara Aksara.”


Aksara tak punya pilihan. Dengan sedikit ragu, bahkan canggung ia duduk di tempat yang telah ditunjuk oleh CEO muda itu.


Situasi ini nyaris membuatnya sesak napas. Perihal keberadaan Mr. Sinclair yang ia duga ada kaitannya dengan Kintan dan David benar-benar mengejutkan. Belum usai keterkejutannya akan sikap Mergi, sindiran Erwin, kini ditambah lagi oleh Mr. Sinclair yang entah memiliki maksud apa.


David menyesap kopi hitamnya. Matanya masih enggan melepaskan pandangan ke arah Aksara. Ia bak meneliti setiap jengkal tubuh pria yang telah merebut wanitanya itu. Baginya, Aksara bukanlah pria kriteria Kintan. Aksara tidak terlalu tampan, tak juga kaya. Namun menurut kabar, pria itu telah mencampakkan hati Kintan di dalam pernikahan.


“Aksara,” ucap Gupta tiba-tiba dan sukses membuat Aksara tersentak.


“Y-ya?” sahut Aksara gelagapan.


“Santai saja,” ucap David kemudian tersenyum sinis. “Saya bukan monster, saya tidak sekejam seseorang,” sindirnya.


Aksara sedikit tersinggung. “Baik, Tuan,” katanya seadanya.


“Mr. Sinclair menginginkanmu, Aksara,” ungkap Gupta memulai maksud dari pemanggilan Aksara. Ia masih menutupi jati diri Mr. Sinclair yang sejatinya adalah David Edward Sinclair—mantan kekasih Kintan.


“Saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan muda.” Aksara menundukkan kepala, kemudian mengangkatnya lagi. “Menginginkan saya mengenai apa, Mr. Sinclair?” tanyanya sembari memandang David.


“Jadilah asisten pribadi saya untuk beberapa waktu ke depan.”


David memutuskan untuk tidak tarik-ulur lagi. Ia harus mendekati Aksara, supaya apa yang ia rencanakan dapat terlaksana. Aksara harus segera kena batunya. Sementara Kintan harus segera ia sadarkan. Mau bagaimanapun dan dengan alasan apa pun, kebahagiaan Kintan adalah yang utama. Kintan tidak berhak mendapatkan perlakuan semena-mena. Wanita itu harus bahagia dan bahagianya adalah bersamanya.


***


Nnti Up lagi kalau banyak yang komeeen ehhehe

__ADS_1


Jangan salpok dengan kata "Silakan"


itu enggak typo, sesuai kaidah KBBI tulisannya tanpa huruf "H", tetapi tetap dibaca Silahkan. (Hanya info)


__ADS_2