
Kintan menahan lengan Sari ketika wanita paruh baya itu hendak keluar dari ruang kerja Chandra. Paras lesu Kintan pasang, lantaran masih merasa iba atas kesendirian Sari setelah Nila meninggal dunia.
“Kintan antar ya, Ma?” tawar Kintan pada ibu dari mendiang sahabatnya itu.
Namun, alih-alih senang dan setuju, Sari justru menggeleng memberikan penolakan atas niat baik itu. “Enggak, Nak, kamu masih ada tugas. Mama—”
“Sudah, jangan banyak bicara. Pergi saja sana,” potong Chandra begitu ketus.
Kintan terkejut, kemudian merasa kesal. “Papa jangan begitu, dong!” tegasnya.
Sementara Sari memilih tak menjawab. Ia memutar bola matanya sekaligus memalingkan wajahnya dari Chandra. Tak berselang lama, ia melepaskan tangan Kintan dari lengannya dan berbisik kalimat pamit. Detik berikutnya ia benar-benar pergi dari ruangan itu.
Sejenak, Kintan melepas kepergian Sari dengan sendu. Namun, meski ingin mengantarkan wanita itu, Kintan memilih untuk memahami permintaannya. Dan memang benar, ia masih memiliki tugas untuk meyakinkan Chandra agar tidak mendesaknya menceraikan Aksara.
Sembari berjalan menghampiri Chandra, Kintan berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Papa jahat ih jadi orang. Nanti kalau jatuh cinta beneran sama Mama Sari gimana?” tanyanya.
“Mana ada! Umur Papa sudah bukan umur anak muda, enggak ada namanya jatuh cinta. Lagian juga, apa yang dilihat dari wanita macam itu? Aneh-aneh saja kamu, Kintan!” sanggah Chandra.
“Memangnya ada apa dengan Mama Sari? Toh, beliau masih cantik tuh di usia yang enggak lagi muda. Mana ramping, sederhana, lemah lembut, baik, dan tentunya sayang sama Kintan. Sudah seperti ibu Kintan sendiri.”
“Itu karena kamu dekat dengan mendiang sahabat kamu, Sayang! Makanya dia baik sama kamu dan bisa jadi kamu enggak pelit sama mereka.”
“Ais! Papa sok tahu!”
“Biar saja, dan pasti ucapan Papa ada benarnya. Sudahlah! Malas Papa bahas dia, mending bahas perceraian kamu. Toh, Aksara masih belum membuka hati buat kamu. Apa yang kamu pertahanin, Kintan? Mumpung kamu masih muda, jangan sia-siakan waktu buat pria macam dia!”
“Karena Kintan seorang ibu, Papa. Dan selamanya akan menjadi ibunda dari Gibran!”
“Halah! Alasan klasik. Toh, kamu masih bisa jaga Gibran, tanpa harus mengorbankan masa depan. Sudah! Pokoknya lupakan soal rumah tangga dan seorang ibu, Papa punya tamu khusus buat kamu.”
Sementara Chandra yang sudah sibuk dengan ponselnya, mata Kintan justru melebar. Ia terkejut perihal tamu yang baru saja dikatakan oleh ayahnya itu. Siapa? Pertanyaan itu yang terlintas di benaknya. Ia tidak mau terjebak di situasi kurang nyaman. Apalagi jika tamu yang dimaksud adalah seorang pria dan merupakan calon yang hendak dijodohkan dengannya. Demi apa pun, Kintan menolak keras.
__ADS_1
Namun ketika hendak melarikan diri, tangan Kintan dicengkeram oleh Chandra. Pengusaha besar itu tidak mau sedikit pun memberi celah pada Kintan untuk kabur. Rontaan sang putri sama sekali tidak ia pedulikan. Dan saat Kintan bergerak, maka cengkeraman tangan Chandra semakin menguat. Oleh sebab itu, Kintan berhenti melawan lantaran merasakan perih di lengannya.
“Oke, oke! Kintan kalah, tapi lepasin, Pa. Sakit!” ucap Kintan menyerah.
Chandra tersenyum puas. “Bagus!” katanya.
Kintan mendengkus. Ia tidak menyangka Chandra akan sangat ketat terhadapnya saat ini. Setelah selesai mengantarkan Gibran ke sekolah TK, ia mendatangi gedung itu lantaran dipanggil oleh Chandra dengan alasan rindu. Namun, kenyataan justru jauh dari ekspetasinya. Ayahnya hendak mengenalkan seorang pria padanya, bukan untuk melepas rindu lantaran dua minggu tidak bertemu.
Kemudian, sekian menit berlalu bersama kebisuan pasangan ayah dan anak itu. Pintu besar terdengar diketuk beberapa kali dengan suara seorang wanita, melainkan sekretaris Chandra. Sesaat setelah pintu dibuka, tampak wanita itu diikuti oleh seorang pria blasteran yang sangat tampan.
Pancaran mata biru pria itu sukses membuat napas Kintan tersendat di tenggorokan. Tubuhnya pun turut kaku seketika itu juga. Bagaimana bisa pria itu ada di sini?
“Ini kejutan buat kamu, Sayang,” bisik Chandra tepat di samping telinga Kintan. Detik berikutnya, ia berjalan menghampiri sang tamu dan menjabat tangannya. “Nak David, maafkan kami. Beberapa saat yang lalu masih ada kendala, sehingga harus tertahan di ruang lain begitu lama.”
“Tak masalah, Om Chandra. Bukan perkara besar yang mempersulit saya.” Pria bernama David itu mengalihkan pandang pada Kintan. “Hai, Kintan. Lama tak jumpa.”
Kintan tersentak. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk saat ini. Pria itu—David—orang yang pernah mengisi hidupnya selama tiga tahun. David pula yang membuatnya terkekang oleh rasa trauma perihal hubungan, sampai menunda pernikahan sebelum bersama Aksara.
Kintan menghela napas panjang. Ia berusaha mengendalikan gejolak perasaannya. Detik berikutnya, ia memandang kedua pria di hadapannya secara bersamaan. “Benar, Papa. Halo, David!” ucapnya tegas.
David menelan saliva. Ia tersenyum, juga merasa tidak enak hati. Kintan yang cantik itu adalah wanita yang ia rindukan selama ini. Namun kesalahan di masa lalu, membuatnya harus berpisah dengan Kintan. Dan saat ini merupakan waktu yang paling ia nanti. Dengan sejumlah gelar dan kesuksesan, ia bisa menatap Kintan dengan percaya diri. Hanya saja, ... bagaimana dengan wanita itu?
Ya, pada akhirnya kenyataan tak sesuai ekspetasi David. Kintan begitu terkejut, bahkan seperti tidak nyaman atas kedatangannya. Mungkin lantaran sakit hati karena masa lalu, atau status Kintan yang sempat ia dengar dari Chandra. Mau bagaimanapun, Kintan merupakan seorang istri dari pria lain yang tidak akan berharap bertemu dengan mantan pacar. Namun sebagian diri David yang lain justru tidak peduli, ia tetap ingin kembali bersama wanita itu.
“Kintan ap—” Ucapan David terpotong oleh sebab Kintan menyahutnya.
“Mari bicara di luar, David!” ucap Kintan kemudian berjalan cepat untuk keluar dari ruangan ayahnya itu.
David tidak punya pilihan. Setelah pamit pada Chandra, ia berjalan menyusul Kintan dan mengikutinya dari belakang. Dan sampai di elevator pun, tidak ada pembicaraan antara mereka berdua.
Kafe perusahaan menjadi pilihan Kintan untuk bercengkerama penuh sensasi panas dengan mantan kekasihnya itu. Dengan ditemani secangkir kopi, ia menatap lekat pada paras David yang pada beberapa waktu masih ia rindu. Namun sayang, David datang di waktu yang tidak tepat.
__ADS_1
“Aku ... membenci keberadaanmu, tentu beserta kedatanganmu di depan mataku, David!" ucap Kintan tanpa basa-basi.
David tersenyum kecut. “Kamu enggak berubah, ya? Tegas dan galak. Maaf sebelumnya karena aku datang. Tapi, Kintan, aku ... aku masih merindukanmu,” jawabnya.
“Aku sudah menikah, rasa rindumu sudah tidak berguna bagiku. Aku berharap kamu tahu batasan dan mundur dari perjodohan ini, Dav.”
“Enggak!” David menggeleng cepat. “Aku sudah mendengar cerita pernikahanmu. Tentu, dengan fakta itu aku berniat untuk membebaskan kamu dan membahagiakan kamu, Kintan.”
Kintan tertawa kecil. “Bahagia katamu? Bukankah seharusnya sejak dulu kamu berikan kebahagiaan itu? Apa kamu sudah lupa gimana kamu mutusin aku? Dari aku yang sudah sangat mempercayai kamu, aku sangat mencintai kamu, Dav. Tapi ....”
“Maaf, aku enggak pernah mendua. Demi Tuhan! Setelah hari itupun dan sampai sekarang, aku masih sangat mencintai kamu, Kintan.”
“Kamu memang enggak mendua, tapi kamu enggak percaya sama aku, Dav. Bahkan ketika kamu pergi, aku masih mampu menunggumu selama ini. Kamu satu-satunya orang yang bikin aku tersenyum, kamu enggak minder, kamu bukan orang yang melihat dari segi materil keluargaku. Saat itu, aku pikir cinta kita benar-benar sempurna.”
Mata Kintan berkaca-kaca. Sementara David menghela napas. Dari sikap dan ekspresi wajahnya, tidak ada kebohongan sama sekali. Kintan tahu jika pria itu berkata jujur. Bagaimana David juga kesulitan menghadapi kenyataan perpisahan dengannya. Namun masa lalu tetap menjadi masa lalu yang sulit dikembalikan layaknya dulu.
David menggenggam tangan Kintan yang tergeletak di atas meja. Wajahnya blasterannya semakin sendu dan sungguh perlahan mampu menggoyahkan hati Kintan. Rasa rindu wanita itu juga menguar kembali, seperti aroma bunga mawar yang mekar. Namun tak berselang lama, aroma itu menjadi sebuah kepiluan.
“Aku ingin kembali sama kamu, Kintan,” ucap David dengan mantap.
“Kamu terlambat, Dav.” Kintan berangsur menarik tangannya dari genggaman pria itu. “Sudah empat tahun aku menunggu kamu. Empat tahun aku memilih sendiri karena yakin jika kamu akan kembali. Aku membuang waktu untuk harapan yang tak pasti. Dan ... kenyataannya sekarang, aku sudah menikah, aku seorang ibu.”
“Enggak, Tan. Kamu masih bisa bercerai, dan aku bakal nunggu kamu sampai waktu tepat untuk kita bersama. Aku ... aku bakal kasih izin kamu bertemu anak itu.”
Kintan menggeleng. “Aku tidak akan pernah bercerai, David. Selamanya!”
Kintan mendorong kursinya ke belakang. Detik berikutnya, ia berdiri. Dalam keadaan hati tidak karuan, ia berlalu meninggalkan David seorang diri. Keduanya didera rasa sedih yang menyesakkan dada. Rasanya sulit menghadapi pertemuan yang diharapkan, tetapi takdir tidak mengizinkan impian untuk bersama lagi.
***
Likenya yaaa.
__ADS_1