Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 38-Diskusi


__ADS_3

Kintan mulai menceritakan tentang maksud kedatangan Diki beberapa saat yang lalu. Dari yang sebelumnya hanya bertanya tentang kabar, sampai merambah pada masalah bisnis beserta tuntunan pergantian jabatan teruntuk dirinya. Namun, alih-alih menanggapi setiap ucapan Kintan, fokus Aksara justru teralih pada hal lain meski masih ada pada diri istrinya itu.


Aksara kerap kali menelan saliva sembari menatap bibir Kintan yang terus saja berbicara. Dari setiap cara wanita bersikap kesal, menggerutu, ataupun geregetan terus saja Aksara amati. Alhasil segala ucapan Kintan menjadi tak dapat ia mengerti.


“Aku nggak mau dan enggak pernah mau,” ucap Kintan kemudian terkulai lemas. “Aku hanya seorang putri, bukan pewaris tahta. Aku nggak mau ....”


“Ya,” jawab Aksara singkat.


Kintan mengernyitkan dahinya. “Ya? Kok ya? Kamu enggak marah sama sekali? Aku bakalan jadi CEO lho, Mas! Otomatis Gibran enggak ada yang ngurus dan aku enggak bisa menjadi seperti Nila! Ya? Apa-apaan? Kamu enggak ada saran? Setidaknya marah sama aku gitu, bukan hanya kata ya!”


Aksara gelagapan. Kekesalan Kintan yang beralih padanya sukses membuatnya lantas sadar dari ketakjuban. Ia menggaruk kepalanya sembari memikirkan jawaban apa yang pantas untuk curahan hati istri cantiknya itu.


“Mas?!” ucap Kintan semakin jengkel, pasalnya Aksara sama sekali tidak membantu. Pria itu justru bersikap aneh dan tidak seperti biasanya. Kekhawatiran perihal kemungkinan suaminya marah besar tampaknya hanya menjadi kesia-siaan.


“Iyaaa!” Aksara mulai memfokuskan otaknya pada permasalahan Kintan. “Mm ... CEO?”


“Iya! Dengerin enggak sih?!”


Aksara bingung. “Aku enggak tahu.”


“Kok enggak tahu? Bukannya kamu harusnya marah besar? Aku terancam enggak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri dan tentu saja aku enggak bisa seperti Nila.”


“Aku sudah berjanji enggak bakal marah-marah dan meminta kamu menjadi seperti Nila, Kintan.”


Kintan mendesis. Ia menghela napas setelah itu. Kebingungan Aksara juga membuatnya turut tak tahu harus mengambil langkah seperti apa. Seharusnya ia senang lantaran Aksara tidak kecewa ataupun marah besar. Namun saat mendapatkan perlakuan tak biasa tersebut, rasa marah justru menyerang dirinya sendiri.


Dan lambat-laun seiring dengan datangnya kegelisahan pada diri Kintan, Aksara mulai memupuk keseriusan. Ia menurunkan kaki dari atas ranjang dan berakhir duduk di tepian tempat itu sekaligus bersebelahan dengan sang istri. Tangan Aksara nyaris bergerak untuk menarik diri Kintan ke dalam pelukannya. Namun rasa ragu sukses membuatnya mengurungkan niat itu.


“Kalau memang itu tuntutan yang perlu kamu penuhi, silakan saja, Kintan. Selama ini kamu sudah terlalu banyak berkorban untuk aku dan putraku, termasuk memenuhi amanat sahabatmu,” ucap Aksara.

__ADS_1


“Tapi, aku enggak mau. Itu sangat merepotkan dan bukan impianku,” jawab Kintan mengulangi perkataan yang merupakan sebuah penolakan.


Aksara menghela napas. “Apa kamu masih terbebani permintaanku agar kamu bisa menjadi pengganti Nila dan harus sama dengannya?”


“Enggak ....”


“Aku sudah enggak menuntutmu seperti Nila. Aku sudah mulai belajar menganggap kamu sebagai dirimu sendiri, Kintan. Lakukan saja jika sekiranya kamu ingin. Toh, kata kakakmu memang benar, perusahaan itu milik ayahmu dan harus di antara kalian yang menjaganya.”


Kintan terdiam seribu bahasa, mencerna setiap suku kata yang dilontarkan oleh Aksara. Sebuah amanat dan tuntutan yang selama ini ia jalankan pun tak lepas menjadi renungannya. Namun bukan karena itu, Kintan memang murni tidak mau menjadi pimpinan perusahaan. Ia yang merupakan anak kedua hanya bertugas sebagai pembantu bagi anak pertama. Tak lebih dari itu.


Hidup bahagia menjadi ibu rumah tangga yang setiap hari mengurus putra-putrinya. Tak pernah bersentuhan dengan kertas-kertas menjengkelkan, apalagi memikirkan strategi-strategi untuk promosi. Kedua hal tersebut merupakan keinginan Kintan sejak lama. Ia ingin menjalani hari layaknya wanita biasa, seperti Nila kala wanita itu masih hidup. Kintan selalu iri, lantaran Nila telah menjalani hidup seperti keinginannya. Sayangnya, umur memang tidak ada yang tahu.


“Aku benar-benar enggak mau, bukan karena amanat istri pertama kamu, Mas. Bukan pula karena tuntutanmu agar aku bisa menjadi pengganti Nila yang harus sama. Toh, semua juga sudah berlalu dan aku justru menikmatinya,” ungkap Kintan sembari menatap manik mata suaminya yang berwarna hitam legam.


Tanpa sadar, Aksara meraih jemari Kintan. “Kalau enggak mau kenapa kamu sekolah setinggi itu? Bahkan, menurut cerita Nila kamu masih melanjutkan kuliah pasca Nila lulus dari jenjang S1? Coba kamu bayangin perjuangan kamu saat itu, belajar, mencari ilmu, dan sampai di hari wisuda mendapat gelar tinggi. Kemungkinan besar kamu bisa menjadi pengusaha yang lebih baik daripada ayahmu,” ucapnya.


“Aku mencari ilmu untuk diriku sendiri. Lagipula, wanita sekolah bukan semata-mata untuk bekerja saja. Aku bakal punya anak, aku pembimbing sebagai seorang ibu. Meski enggak bermanfaat untuk pekerjaan, ilmuku bisa memberi manfaat bagi putra-putriku. Namanya ilmu, meski secuil saja enggak akan sia-sia selagi ada manfaatnya untuk orang lain, Mas. Apalagi untuk anak sendiri.”


“Aku mau Kak Diki dan Papa membatalkan kesepakatan bisnis dengan David. Lagian, David ‘kan pemilik perusahaan tambang, sementara perusahaan keluargaku manufaktur. Memangnya nyambung?” Kintan mulai naik pitam lagi.


“Nyambung saja, bisa jadi Mr. David sebagai investor terbesar atau pembeli saham. Dia mau memperluas usaha tak hanya dari satu bidang saja, tapi memulai dari bidang lain,” jawab Aksara.


“Hmm ....” Kintan meluruhkan amarahnya kembali. “Masuk akal sih. Tapi, ....” Ia menatap sang suami dengan heran. “Mr. David? Kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan itu? Memangnya pernah bertemu?”


Aksara menghela napas. “Pernah, belum lama ini. Dia datang memanggilku, dan tiba-tiba saja merekrutku menjadi asisten pribadinya. Jika dia adalah pengusaha sebesar itu, rasanya kedatangannya ke kantorku ada niat terselubung. Ah, aku malas membahasnya.”


“Apa?! Sampai kayak gitu? Dia menemui Gupta dan memanggilmu?!”


“Kamu kenal Gupta?”

__ADS_1


“Tentu saja, dia satu kampus denganku dan Nila, Mas. Kamu benar! Pasti ada maksud tertentu soal David.”


“Dan itu berkaitan denganmu. Kayaknya memang belum move on darimu, Kintan. Apalagi kalau kamu pernah curhat padanya, soal sikap kasarku dua bulan berturut-turut.”


Kintan terkesiap. Ia menunduk seketika itu juga. Sindiran Aksara cukup membuatnya tersinggung, meski sebenarnya ia tidak pernah menceritakan segalanya pasca bertemu David. Hanya saja, sudah dapat ia pastikan jika David masih kepikiran kabar dari Chandra mengenai jalan cerita pernikahannya. Namun, benarkah David mendatangi Aksara karena dirinya? Bagaimana bisa David merekrut suaminya itu yang notabene merupakan karyawan dari perusahaan orang lain?


Terdengar helaan napas yang dilakukan Aksara sampai membuat Kintan lantas menyudahi lamunannya mengenai David. Ia memandang wajah suaminya itu dengan ragu-ragu. Rasa bersalah yang juga turut hadir di hatinya sedikit membuatnya tak nyaman dalam menghadapi Aksara. Pasalnya, ketika Aksara mulai bersikap lebih lembut, segala masalah yang berkaitan dengan masa lalu justru muncul dan nyaris mengacaukan semuanya.


“Aku minta maaf, Mas. Aku rasa ini karena Papa, kamu masih ingat, ‘kan, Papa pernah menjodohkanku dengannya beberapa saat yang lalu?” ucap Kintan.


“Ya, aku tahu. Dan David mendengar keadaan rumah tangga kita dari Papa, kemudian terpancing emosi lantaran menganggap kamu enggak bakal bahagia bersamaku, ‘kan? Ya, memang benar, pada kenyataannya aku tak bisa memberimu bahagia. Aku rasa ini karma untukku,” jawab Aksara dengan lemah.


“Jangan begitu.” Kintan membalik telapak tangan Aksara dan menggenggamnya. “Kita enggak boleh goyah sama permasalahan seperti ini, mereka hanya belum tahu kita sedang berjuang.”


“Aku rasa begitu, bahkan seperti katamu Mbak Mergi juga menganggap kamu telah menjebakku. Kamu juga pasti akan kesulitan olehnya, maaf, aku terlalu nggak peka. Dia tadi bersikap lebih agresif, aku sudah memberinya peringatan. Kuharap dia pun berhenti bersikap konyol.”


“Huu!” cibir Kintan. “Aku bilang juga apa! Dia itu enggak normal, kelihatan sekali. Ya sudah ... berarti kita memang impas sekarang, dari pihakmu pun dari pihakku sama-sama ada masalah enggak jelas.”


“Enggaklah! Impas apanya?! Dari pihakmu ada dua jenis masalah. Bahkan, jika hatimu masih mencintai Mr. David, aku bisa apa? Sosok itu masih ada dan nyata, kurasa kalau kalian bertemu lagi, hatimu masih bisa cenat-cenut. Apalah aku, Nila saja sudah enggak bisa aku tatap.”


“Dan kalau aku sudah dinikahi secara resmi olehmu, Mr. David bisa apa? Ada jalan yang bisa kamu tempuh untuk membuat hatiku enggak bakal cenat-cenut ketika bertemu dengannya.”


“Cara? Jangan konyol!”


“Benar-benar ada, Mas! Caranya kamu harus bisa membuatku jatuh cinta padamu dan kamu mencintaiku, sa-satu lagi ....” Kintan menelan saliva. “Kita harus punya anak kedua ....”


Saking terkejutnya, Aksara sampai tersedak ludahnya sendiri. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman Kintan. Pun pada Kintan yang cepat-cepat mengubah posisi. Enggan rasanya menatap Aksara setelah mengatakan dua cara mengejutkan itu. Apalagi dalam tampilan kimono mandi, yang tentu saja nyaris seperti wanita penggoda.


***

__ADS_1


Kira-kira Kintan perlu menerima jabatan itu atau enggak? jawab di kolom komentar ya, hehhe. jangan lupa LIKE nya  T-T


__ADS_2