
Aksara akan menghadapi pria berparas asing itu, melainkan David, dengan segenap keberaniaannya. Pun pada Kintan yang hendak menemui sang ayah untuk merundingkan perihal pergantian pengisi jabatan. Sementara Gibran, dengan terpaksa mereka titipkan pada Brugman dan Ismi yang memang sudah tidak bekerja, selain usaha warung di rumah sendiri.
Pagi ini, selepas mengantarkan Gibran ke sekolah terlebih dahulu, Kintan dan Aksara bergegas menuju kantor di mana suaminya itu bekerja. Mobil mewah berwarna hitam legam menjadi transportasi yang ditumpangi oleh keduanya. Dengan tekad yang besar serta tanpa kegentaran sedikit pun, mereka siap berjuang untuk saling mempertahankan.
Manik mata Aksara tak lepas menatap wajah serius Kintan yang tengah fokus pada jalan. Seperti kata mendiang Nila, Kintan memang lihai dalam menyetir mobilnya.
“Berapa lama kamu bisa mengemudi, Tan?” tanya Aksara penasaran.
Tanpa mengubah sikap, Kintan menjawab, “Dari SMA kelas satu, Mas.”
“Hmm ... apalah aku saat itu yang sepeda motor saja tak punya.”
Kintan tergelak. “Yang penting sekarang bisa punya sendiri, mobil juga rumah tanpa bantuan orang lain, selain do’a orang tua.”
“Sekaligus do’a Nila.”
“Hmm ... ya, itu benar. Maaf, aku melupakan tentang dia.”
“Dan selalu ingat tentang Mr. David?”
“Mungkin.”
Aksara mendengkus. Belum hilang rasa kesal tentang pembelaan Kintan pada David tadi malam, istrinya itu kembali mengiyakan untuk pertanyaan yang ia lontarkan. Sampai, membuat Aksara semakin tidak tahu harus bersikap apa lagi. Istrinya masih sangat mencintai sang mantan kekasih yang jauh lebih tampan, kaya, dan mungkin bisa memberi bahagia. Sekarang, Kintan justru menikah dengan pria semacam dirinya yang tidak peka, kasar, terlambat menyadari perasaannya sendiri, miskin dan tentunya tidak memiliki apa pun yang bisa mengimbangi kekayaan sang istri.
Kali ini, Aksara mengakui jika ia telah jatuh hati pada Kintan, meski hanya pada dirinya sendiri. Juga kecemburuannya terhadap respon Kintan ketika sedang membicarakan David. Entah sengaja atau memang murni dari dalam hati, Kintan selalu terkesan membela David. Seingat Aksara, ia juga pernah mengakui jika perasaan cintanya masih tertuju pada David.
“Nanti pulang, jangan jemput aku ya? Mobilku masih ada di kantor dari kemarin,” ucap Aksara.
__ADS_1
“Memangnya aku mau menjemputmu? Enggak kok, nggak ada niat juga,” balas Kintan ketus.
Aksara menelan saliva. “Ya, siapa tahu kamu mau sekalian bertemu mantan kekasihmu,” ucapnya sengit.
“Hmm ... ide bagus. Sudah lama juga aku enggak bertemu dengannya. Ter—“
“Tan, fokus nyetir! Jangan banyak bicara!”
“Hih! Apaan sih? Daritadi juga fokus kok. Memangnya fokusku buat kamu?”
Terdengar pelan gertakan gigi yang dilakukan oleh Aksara. Tanpa Kintan tahu, suaminya itu tengah menahan kekesalan yang hampir meledak dalam sekejap. Andai saja tidak ada janji padanya perihal sikap kasar dan galak yang hendak disudahi, sudah pasti Aksara membabat habis dirinya dengan ribuan kata umpatan.
Seperti inikah rasa cemburu? Bahkan, ketika aku hidup bersama Nila, aku enggak pernah merasa sejengkel ini ketika sedang cemburu.
Kintan hanya melirik sekilas wajah suaminya yang tampak masam dan terus membuatnya heran, bahkan sejak tadi malam. Namun sampai pagi ini, tak ada jawaban yang Aksara berikan. Daripada berakhir pada perdebatan, pada akhirnya Kintan memilih untuk tidak membahasnya lagi dan bersikap layaknya biasa.
“Sudah sampai, Mas, kamu mikirin apa sih?” tanya Kintan.
Aksara menghela napas. “Enggak mau sekalian turun buat bertemu mantan kesayangan kamu itu?” balasnya ketus.
“Ih, apaan sih. Tadi cuma bercanda kali, aku ‘kan sudah menolak dia, buat apa juga bertemu? Kamu kenapa sih? Dari tadi malam, sensitif banget.”
“Lagian kita ‘kan sudah janji mau belajar menerima satu sama lain, tapi kalau membicarakan soal David, responmu berbeda. Kamu masih mencintainya dan mengharapkan dia menyelamatkanmu dari pernikahan tak diinginkan ini?”
“Astaga!” Kintan menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir. “Enggak ada niatan begitu. Lagian yang bahas David barusan ‘kan kamu duluan. Aku hanya sekedar jawab dengan jujur. Kok marah-marah begini?”
“Dari semalam, kamu juga terus bela David daripada mendukungku.”
__ADS_1
Kintan menepuk jidatnya, kemudian menghela napas. Ternyata, Aksara kepikiran perihal sanggahan yang ia katakan tadi malam mengenai David. Tentang bagaimana ia menganggap David adalah orang baik, lalu tiga tahun bersamanya tak luput untuk ia katakan. Namun, hanya tidak biasanya Aksara sampai semarah sekarang.
“Jujur sama aku deh, kamu ini kenapa sih?! Lagi datang bulan?” ucap Kintan yang turut merasa jengkel.
“Jangan ngaco!” tandas Aksara tidak terima.
“Lalu? Cemburu?”
Seketika itu juga, Aksara menatap Kintan dengan serius. Namun alih-alih menjawab dengan kata ‘iya’ sesuai yang ia rasakan, ia justru terdiam gamang. Rasa tak percaya diri tiba-tiba datang menyerang, menumpas habis keinginannya untuk mengakui jika ia sudah jatuh hati. Pun pada bayangan Nila yang langsung muncul di benaknya, membelenggu dan memaksanya untuk mengunci rapat-rapat pintu hatinya sampai waktu yang tepat datang.
Kintan menghela napas melihat respon diam sang suami. Ia memilih melemparkan pandang ke arah luar, menyusuri setiap sudut lingkungan yang memamerkan keramaian para karyawan. Rasa rindu muncul, memberi bayangan bagaimana sibuk dirinya ketika memiliki pekerjaan yang sama dengan mereka. Dan perasaan itu sedikit mempengaruhi hatinya, haruskah ia menerima takdir dari Chandra? Menjadi seorang ratu di kerajaan bisnis ayahnya itu?
“Aku harus masuk,” ucap Aksara sampai membuat Kintan tersentak.
“Iya, hati-hati ya, Mas. Semangat dan ... mm, tolong jangan sampai kalah dari David. Sejujurnya aku selalu mendukungmu, karena aku juga sudah enggak tertarik sama kisah masa lalu. Sama sepertimu, aku juga ingin belajar untuk pernikahan kita. Itu mengapa aku nggak pernah menolak memberikan hal berharga milikku padamu,” jelas Kintan panjang.
Aksara tersentuh. Kehangatan menjalar ke dalam hati, bahkan sekujur tubuhnya. Penjelasan Kintan cukup untuk mengusir kecemburuan yang sempat membelenggu jiwanya, membuatnya tak lagi berpikiran konyol. Dan ia juga berjanji untuk tetap tegar dalam menghadapi David nanti, seandainya kedatangan pria itu memang untuk membalas dendam. Dengan adanya dukungan dari Kintan, tentu saja ada senjata yang bisa membuat David lantas diam.
Dengan sengaja dan penuh kesadaran, Aksara menarik tengkuk sang istri. Ia membubuhkan kecupan manis di dahi, kemudian turun ke pipi dan bibir Kintan. Detik berikutnya, ia beranjak turun dari mobil itu.
Sepeninggalan Aksara, Kintan sibuk mengerjab-ngerjabkan matanya nyaris sepuluh kali. “Di-dia kenapa sih? Barusan, ngapain?” tanyanya heran sembari menyentuh bibirnya yang habis dikecup oleh sang suami.
Kintan menepuk kedua pipinya yang menghangat. Kemudian, bersama degup jantung yang masih terasa cepat, ia bergegas untuk berangkat ke perusahaan yang kemungkinan akan menjadi miliknya.
"Haaah ... aku memang mengenal David. Tapi, ada satu hal yang aku lewatkan, dia bukan orang yang mudah menyerah ketika sedang menginginkan sesuatu. Aku khawatir kamu enggak bisa melampauinya, Mas Aksa," gumam Kintan dengan gusar, di samping kesibukannya memutar setir mobil.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komennya.