
Mergi duduk pada salah satu kursi ruang tamu. Sementara matanya sibuk menyusuri setiap sudut rumah milik Aksara. Foto pernikahan pria itu beserta istri pertama masih terpasang di dinding, serta terpajang rapi di atas almari-almari kecil. Tidak ada satu pun bukti bahwa Aksara telah menikahi wanita lain, juga membuktikan bahwa pria itu belum bisa melupakan mendiang istrinya.
Namun, kabar yang beredar serta jawaban Aksara justru mengarah pada kebenaran jika pernikahan baru telah terjadi. Lantas, di mana wanita itu? Mengapa tidak nampak, bahkan satu foto asing pun tidak ada di sana?
Suara deham yang tiba-tiba terdengar, membuat Mergi tersentak dan segera menyudahi aksi selidiknya. Aksara tampak berjalan menghampirinya dengan membawa nampan berisi cangkir yang mengepulkan asap tipis.
“Minum dulu, Mbak,” ucap Aksara sembari meletakkan salah satu cangkir di hadapan Mergi. “Aku tinggal sebentar.”
Mergi reflek menahan baju Aksara. “Ah ....” Ia melepaskannya detik di mana Aksara menatap heran. “Maaf, Aksa. Tapi, kamu mau ke mana?” tanyanya sembari celingukan.
Aksara memicingkan mata, curiga pada sikap seniornya tersebut. “Merawat istriku, dia lagi sakit,” jawabnya tanpa sungkan kemudian menunggu respon aneh yang akan Mergi berikan.
Seperti yang Aksara duga, respon Mergi terbilang tidak biasa. Wanita itu tampak terkejut, bahkan tidak terima. Aksara ingin berpikir bahwa sikap aneh Mergi hanya firasatnya saja, tetapi tampaknya lebih dari itu. Apalagi, ketika ia mengingat bahwa belakangan ini Mergi terkesan kepo akan rumah tangga barunya bersama Kintan.
“I-istri barumu sakit?” tanya Mergi lirih.
Aksara mengangguk. “Mm ... benar, kami habis jalan-jalan dan kehujanan. Dia sedikit flu.”
“Oh.” Mergi menghela napas. “Boleh aku tengok?”
“Istriku bukan orang biasa, Mbak. Jadi, aku harus bertanya dulu bolehkah orang baru menjenguknya.”
Mendadak sesak meliputi dada Mergi. “O-orang baru?”
“Baginya, Mbak. Aku harus menghormati keputusannya, dia wanita yang memiliki privasi lebih besar dari orang-orang macam kita, Mbak.”
Kintan juga pasti enggak nyaman ditatap penuh selidik. Dia nona muda yang punya privasi dan pasti lebih pintar menilai seseorang. Aku nggak tahu apa maksud Mbak Mergi datang dengan sejumlah sikap aneh, tapi rasanya memang sangat aneh. Aksara tersenyum di balik kecemasan serta rasa heran yang ia rasakan. Kemudian, tanpa memedulikan keinginan Mergi ia berjalan menuju kamar pribadinya di mana Kintan ada di sana.
Sementara Mergi masih saja menatap punggung Aksara. Jari-jemarinya mencengkeram celana kerja yang masih basah. Rasanya, Aksara tampak menghindarinya. Pria itu lebih mementingkan istrinya daripada seorang tamu. Bukankah tamu adalah raja? Namun, mengapa Aksara bersikap kurang ramah padanya?
__ADS_1
“Aku nggak bisa tinggal diam. Semakin kamu berusaha menyembunyikan wanita itu, aku semakin penasaran, Aksara,” geram Mergi dengan nada lirih, tetapi sarat akan kemarahan.
Tanpa seizin sang tuan rumah, Mergi beranjak. Ia berjalan pelan cenderung mengendap-endap. Sementara matanya tetap mengawasi pintu kamar Aksara yang tidak tertutup dengan rapat. Semakin dekat, semakin terdengar perbincangan pria itu dengan suara khas milik wanita, beserta debaran jantung Mergi yang kian cepat.
“Tan? Minum dulu teh hangatnya? Kamu tidur?” Suara Aksara terdengar begitu lembut. Dari mata Mergi yang sudah mengintip, pria itu tampak membelai rambut seorang wanita.
“Iya, Mas. Kamu bikinin aku beneran?” tanya istri dari pria itu. Namun meski sudah bersuara, wanita itu belum menampakkan wajahnya lantaran pandangan Mergi terhalang sesuatu.
“Iya. Ada tamu, aku mau—”
Entah apa yang membuat Aksara memotong ucapannya. Mergi tidak tahu. Namun sekian detik kemudian, istri dari pria itu tampak membangunkan diri. Perlahan, wajahnya terlihat. Hidung mancung dan bibir tipis, ia cantik bak boneka barbie. Lebih cantik jika dibandingkan dengan mendiang istri pertama Aksara.
“Dia ...? Benar-benar bukan orang biasa?” gumam Mergi dengan mata melebar. Sampai wanita yang ia intai itu perlahan menoleh ke arah pintu, Mergi segera memundurkan badan untuk bersembunyi.
Kemudian, Mergi memutuskan mundur saja. Ia tidak mau ketahuan oleh mereka. Sama halnya seperti sebelumnya, langkah Mergi sangat pelan. Ia membungkam mulutnya sendiri untuk mencegah suara apa pun yang mungkin saja bisa keluar.
Sepeninggalan seseorang dari balik pintu kamar, Kintan menatap Aksara. Ia baru saja menangkap keberadaan wanita asing, tepat ketika Aksara mengatakan bahwa ada tamu. Memang benar, Kintan sudah mengetahuinya sejak tadi, hanya saja tentang siapa yang datang ia belum paham.
Aksara mengernyitkan dahi. “Kenapa memangnya?” balasnya.
“Seorang wanita dari kantor?”
“Kok tahu? Memangnya suaranya terdengar sampai kamar?”
Kintan menggeleng. “Dia tadi ada di sini, Mas.”
“Haa? Di sini?”
“Dia menyukaimu?”
__ADS_1
“Entah. Tapi, apa maksud kamu dia ada di sini?”
“Dia ada di balik pintu dan mengintip kita diam-diam, makanya aku meminta kamu diam.”
Aksara menoleh ke arah pintu yang terbuka sedikit. Awalnya ia meragukan pernyataan Kintan lantaran merasa jika Mergi tidak mungkin berbuat hal seperti itu. Namun tentang bagaimana Kintan berekspresi, Aksara tidak berhak menganggapnya berbohong.
Kintan mencengkeram lengan Aksara dengan kuat. Ekspresi wajahnya pun semakin masam saja. Sepertinya ia sedang marah. Sikap sang tamu benar-benar tidak sopan dan baginya sudah masuk dalam aksi kejahatan. Entah apa niatnya, yang pasti Kintan tidak terima.
“Jaga sikap teman-temanmu, Mas!” ucap Kintan tegas. “Aku nggak tahu kehidupan kalian seperti apa, tapi aku adalah bagian dari keluarga Chandra Adiatma. Kami punya privasi!” lanjutnya.
Baru kali ini Aksara melihat Kintan begitu marah. Ekspresi Kintan sangat serius, tetapi cenderung cemas. Namun Aksara cukup memahami permintaan istrinya itu, sebab ia memang wanita dari kalangan atas. Jika ada satu saja mata-mata, keselamatan mereka bisa terancam.
Kemudian, Aksara menggenggam tangan Kintan. “Kamu tenang saja, Tan. Dia hanya teman satu divisi dan kami cukup dekat," jawabnya.
“Aku nggak peduli perihal kedekatan kamu dengan wanita itu, Mas. Tapi, kalau sudah bersikap melampaui batas aku nggak akan tinggal diam. Ingat, Mas, aku masih menggenggam nama baik ayahku.”
“Aku tahu.”
“Tidak! Kamu tidak akan paham gimana rasanya jadi orang kaya, Mas. Hidup kami serba terancam! Satu saja mata-mata, kami perlu waspada.”
Kok rasanya pernah dengar kata-kata seperti itu, ya? Aksara menundukkan kepala. Kemudian menatap Kintan lagi dan mengangguk.
“Hujan sudah reda. Aku bisa memintanya pulang. Kamu tenang saja,” ucap Aksara. Detik berikutnya, ia berdiri dan bergegas keluar dari kamar itu.
Setelah Aksara berlalu, Kintan baru meluruhkan ketegangan serta amarahnya. Kali ini ia justru tertawa. Ancaman yang ia berikan pada suaminya tampaknya berjalan lancar. Meski pada kenyataannya ia memang jengkel telah diintip oleh orang asing. Jika tamu itu memang salah satu teman Aksara, maka kejengkelan Aksara pada orang tersebut yang Kintan sebabkan, bisa dikatakan sebagai hukuman.
“Ck, aku enggak setakut itu sih. Tapi, ... akan lebih bagus kalau orang itu segera menyerah soal Aksara. Mm ... tapi, masa' dia beneran suka sama Aksara sih? Waaah! Atau jangan-jangan mau nyuri? Ah ... enggak, enggak, Aksara nggak punya barang mahal yang layak dicuri hahaha,” ceracau Kintan.
***
__ADS_1
Like yaaa.