Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Epilog-Kinara Afsheen Putri Aksara


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar dari dalam ruang persalinan, membuat Aksara dan sanak-saudaranya langsung terbangun secara kompak tanpa aba-aba. Kecemasan di wajah Aksara pun tampak jelas, meski suara tangis anaknya sudah terdengar, tetapi kabar ibunya belum dapat ia pastikan.


Tak lama kemudian, seorang bidan yang membantu persalinan Kintan tiba-tiba keluar. Paras wanita medis itu tampak cerah dan begitu bahagia. Ia datang menghampiri Aksara yang juga telah menunggu kedatangannya.


“Selamat, Pak Aksara dan Tuan Besar Chandra, Nona Kintan telah berhasil melahirkan seorang putri cantik dengan lancar, tanpa kekurangan apa pun,” ucap Bidan tersebut.


Setelah mendapatkan penjelasan itu, Aksara, Chandra, Diki, Ismi, Sari, dan Brugman langsung terlonjak bahagia. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan kata selamat. Seorang tuan putri kecil telah hadir membawa bahagia untuk semuanya. Kintan telah resmi menjadi ibu kandung untuk seorang bayi mungil, terlepas status ibu yang ia dapatkan dari bocah kecil bernama Gibran.


Kehadiran bayi mungil itu juga dapat memberikan keakraban antar keluarga. Dan yang paling penting, kini Chandra tak lagi membenci Aksara. Kabar mengejutkan yang lain, diam-diam Chandra sudah merencanakan sebuah tanggal pernikahannya dengan Sari. Kedekatannya dengan wanita itu dimulai sejak Sari datang dan terus mendesaknya. Lambat-laun, tanpa se-pengetahuan siapa pun, mereka saling jatuh hati.


***


Beberapa hari berselang, Kintan dan bayinya pun dibawa pulang. Mereka tidak ke rumah mewah milik Chandra meski sudah didesak, lantaran rumah keluarga sendiri meski sederhana terkesan cukup nyaman. Mereka bisa bebas melakukan apa saja tanpa adanya rasa tak enak hati.


Aksara lantas duduk di tepian ranjang sembari menemani istrinya itu beristirahat. Sementara bayi mungil yang belum diberi nama itu, tengah berada di pangkuan Kintan. Rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan, sungguh luar biasa. Akhirnya, ia mendapatkan keluarga secara sempurna, suami yang mencintainya, putra dan putri yang lucu. Kintan sangat berterima kasih pada Nila, sebab dari amanat sahabatnya itu, hidupnya terasa lebih sempurna, meski rasa kehilangan pun kadang kala masih hinggap di hatinya.


“Sayang,” ucap Kintan sembari menatap manik mata Aksara yang sejak tadi tak lepas memandangi wajah putri kecilnya yang terpejam damai. “Sudah siapin nama buat si kecil?”


“Tentu saja sudah!” jawab Aksara cepat. “Namanya—”


“Ayah, Bunda! Giblan mau sama dede' bayi!” Suara Gibran terdengar nyaring, sampai membuat ucapan Aksara menjadi terhenti. Ia tampak berlari menghampiri ayah, bunda, dan adik perempuannya. Kemudian, ia melonjak ke pangkuan Aksara dan menatap wajah jelita adiknya. “Giblan mau sayang dede'.”

__ADS_1


“Boleh,” jawab Kintan kemudian menyodorkan wajah putrinya dengan gerakan pelan-pelan agar Gibran dapat mengecup pipi putrinya itu.


“Dede' namanya ciapa?”


Aksara tersenyum. “Kinara,” ucapnya. “Kintan dan Aksara?”


“Mm? Boleh juga,” sahut Kintan. “Lanjutannya?”


“Kinara Afsheen Putri Aksara.”


Kintan mengangguk senang. Nama yang bagus dan sepertinya Aksara mencoba menghormatinya sebagai ibu yang telah melahirkan bayi yang saat ini bernama Kinara itu, sehingga ada nama yang diambil dari namanya.


Keluarga kecil itu, lantas saling memeluk satu sama lain. Kebahagiaan bertambah, pasca David mundur, Mergi pun sudah mengalah, dan ... jabatan sebagai CEO telah dikembalikan pada Diki. Meski sekarang tak punya wewenang dan kekuasaan sebesar Diki, Kintan tetap merasa bahagia. Aksara pun tidak pernah meminta sebuah koneksi agar dimasukkan ke dalam perusahaan ayahnya, suaminya itu akan bertanggung jawab atas dirinya dengan usahanya sendiri. Ada keberuntungan lain berupa kenaikan jabatan untuk Aksara sebagai apresiasi atas kinerja dan bantuannya dalam membantu Gupta. Aksara menjadi seorang manajer.


***


“Selamat ya, Jeng, akhirnya tanpa kabar apa pun sudah naik ke jenjang pernikahan,” ucap Ismi sembari tersenyum dan memegang kedua lengan besannya tersebut.


Sari memeluk besannya itu. “Terima kasih, Jeng, kepergian Nila membawa duka tapi mengantarkan saya sampai bahagia.” Ada sebulir air mata yang jatuh ke pipinya, lantaran teringat sang putri yang sudah tiada. Namun karena tidak mau bersedih hati di acara pernikahannya sendiri, ia langsung mengusap air mata itu.


“Di balik kejadian, pasti akan ada secercah harapan. Nila sudah pasti bahagia di alam sana, ibu, suami, putra, dan sahabatnya sudah bisa tertawa sembari terus mengingatnya.” Ismi pun mengusap air mata haru yang tanpa sungkan keluar dari air matanya.

__ADS_1


“Jangan pada sedih!” seru Kintan, sementara tangannya sibuk mendorong sebuah stroller berisi Kinara, di sisinya ada Gibran yang tak pernah melepaskan bajunya. “Ini hari bahagia, Mama Sari, dan Ibu. Tak boleh ada air mata yang keluar.”


“Itu benar,” sahut Aksara yang baru datang.


Brugman yang sedari tadi diam pun tak mau ketinggalan. “Tentu saja benar!”


Tak lama kemudian, menyusul Ningsih beserta anak dan suaminya. Lalu, Diki, istri dan putrinya yang sudah berusia satu setengah tahun bernama Valerie. Mereka pun berkumpul dan saling berbincang. Tawa mereka terdengar menyaingi suara riuh para tamu undangan.


“Di acara sakral pun bisa dimanfaatkan sebagai ajang berghibah, ya?” Tuan Besar Chandra yang sejak tadi sibuk berbincang dengan para rekan bisnisnya pun datang. Ia memberikan sindiran, tetapi justru dibalas dengan tawa.


Ya, akhirnya mereka semua berkumpul tanpa meninggalkan satu pun anggota keluarga. Tawa kedua bocah kecil, lalu tangisan si bayi mungil juga turut mengisi kebersamaan. Keakraban memang bisa mencipta kebahagiaan, tetapi ego begitu sulit menyatukan mereka. Setelah kurang-lebih satu tahun, akhirnya keakraban itu bisa mengalahkan ego masing-masing insan.


***


Di New Zealand, malam hari, David tercenung sendirian sembari meratapi nasibnya. Semua usahanya mendapatkan Kintan telah gagal, penyesalan pun datang karena ia meninggalkan Kintan empat tahun yang lalu. Namun meski merasakan sakit dan menderita, David berjanji tidak akan pernah lagi merusak kebahagiaan Kintan di negara itu.


“Kuharap kamu memang sudah benar-benar bahagia, Kintan sayang. Maafkan aku atas segala kesalahanku di empat tahun yang lalu, maupun belakangan ini. Kudengar putrimu bernama Kinara, pasti sama cantiknya denganmu,” gumam David.


Senyuman terulas manis di bibir pria blasteran itu. Setelah memilih kembali ke New Zealand, sebenarnya ia masih menggunakan jasa informan untuk mengetahui apakah Kintan benar-benar bahagia. Dan setelah mendapatkan kabar bahwa Kintan telah melahirkan seorang putri bernama Kinara, ia pun sudah yakin dan ikhlas untuk benar-benar tak mengganggu hidup wanita itu lagi.


***

__ADS_1


END


__ADS_2