
Semilir angin menyibak kerudung hitam para wanita itu, menyertai keadaan yang saat ini berselimut duka. Lantunan do'a terdengar begitu merdu, harum bunga mawar pun menguar bercampur dengan aroma kamboja. Sementara itu, burung pipit berkicau, bertengger di seutas kabel pemakaman, seolah hendak ikut mengiringi kepergian seorang hamba.
Pusara basah menjadi peristirahatan terakhir baginya. Seorang wanita baik hati hendak menghadap Ilahi. Bersamaan dengan itu, tangisan terdengar di balik lantunan do'a. Pun pada nestapa yang menghujam hati anggota keluarganya.
Nisan bertuliskan nama Nila Amanda disertai tanggal lahir dan wafatnya, berdiri tegak tertancap di ujung pusara. Kerinduan suaminya tak dapat dikabulkan, sebab ia pergi tanpa mau berpamitan. Hari ini bersamaan dengan tertangkapnya pelaku tabrak lari, Nila meninggal. Tiga hari mengalami koma, dua hari setelah pernikahan suami dan sahabatnya, ia tidak lagi kesakitan di dunia.
“Nilaaa ....” Aksara terus meronta menyebut nama istrinya, berharap detik yang tengah berjalan hanyalah mimpi belaka. Namun kenyataan tak bisa diubah menjadi angan. Nila benar-benar hilang dari hidupnya, karena nyatanya Tuhan jauh lebih sayang. “Nilaaa ... kenapa kamu tega sama Mas, Sayang?” ucapnya lagi, pilu. Suara isak pun keluar dari mulutnya tanpa ada rasa malu ketika dirinya adalah seorang pria.
Kemudian si madu, mencoba menenangkan pria itu. Meski hatinya juga turut tercabik, sebab kenyataan justru tak sejalan dengan harapan. “Mas ... kamu yang sabar, Mas.” Ia membujuk, meminta agar Aksara bisa lebih tabah.
“Nilaaa! Kamu harus kembali, Sayang ....”
“Mas, Nila sudah bahagia sama Tuhan.” Kintan tak menyerah. “Mas, Gibran masih butuh kamu, Mas. Kamu harus kuat.”
“Iya, Nak, Mama pun sudah ikhlas,” sahut Sari sembari mengusap air matanya menggunakan juntaian kerudungnya yang panjang. “Ma-mama kuat, ka-kamu juga harus kuat.” Sayangnya air matanya meluruh lagi. Kemudian, salah satu kerabatnya menghampiri dan lantas membawanya pergi, agar tak pingsan di pinggir pusara sang putri.
Aksara tak menggubris. Hidupnya terlalu hancur. Telinganya terus saja mendengar celetuk riang suara istri pertamanya itu. Ia tidak bisa bahagia, sudah bisa dipastikan hidupnya akan terasa hampa jika tanpa Nila.
“Ini bagaimana? Kenapa istriku begini? Ini bagaimana?” ceracau Aksara dan sukses membuat orang lain turut iba sekaligus bersedih. “Tan?” Ia menatap Kintan yang masih setia mendampingnya.
“Iya, Mas, Kintan di sini,” jawab Kintan.
“Ini mimpi, 'kan? Nila masih bersamamu, dia bilang, di-dia bilang pulang bareng kamu.”
__ADS_1
Kintan semakin tak sanggup untuk membendung deraian air matanya. Ia tidak kuasa, sampai cengkeraman di lengan suaminya menjadi terlepas begitu saja. Melihat hal itu, Chandra—ayahnya—lantas menariknya untuk berdiri. Sepasang ayah dan anak itu meninggalkan kerumunan sekaligus Aksara beserta kepiluan pria itu.
Tak lama setelah Kintan dibawa pergi ayahnya, Brugman menarik paksa lengan Aksara. Beruntung, para pelayat sudah menghambur keluar dari area pemakaman, sehingga tidak perlu lagi pergi dengan perasaan malu. Sementara Aksara hanya bisa pasrah, meski enggan baginya untuk meninggalkan pusara istri tercintanya. Ia tidak berdaya. Dan dalam ketidakberdayaan itu, ia seolah menatap Nila yang tersenyum dan melambaikan tangan untuk berpamitan.
Dengan halusinasi itu, Aksara kembali menangis. Namun kali ini tanpa isakan, justru senyumnya yang mulai mengembang. Nila ingin dirinya bahagia bersama Gibran dan tentu saja ... Kintan. Tidak, ia tidak akan mampu mencintai wanita lain, sebab Nila hanya satu-satunya. Benar, dengan begitu hanya bersama Gibran, itu yang Aksara pikirkan.
“Aksa, kamu harus kuat. Jangan terpaku pada mendiang istrimu saja, Ayah tahu ini sulit. Tapi, ... cobalah untuk tabah dan ikhlas, Nak,” tutur Brugman ketika ia telah berada di dalam mobil bersama anak dan istrinya.
Kemudian, Ismi tersenyum. Ia mengusap halus lengan Aksara. “Benar kata ayahmu, Aksara. Kamu masih memiliki dua tanggung jawab setelah ini. Ada Gibran dan Kin—”
“Kintan? Dia memang berhak bahagia, Ibu. Tapi, bukan bersamaku,” potong Aksara cepat.
“Enggak bisa, Nak, Kintan sudah diberi amanat oleh Nila. Seenggaknya, cobalah untuk membuka hati padanya. Bukan sekarang, tapi perlahan, yang penting kamu ada usaha. Lagi pula, Kintan sudah berkorban sampai seperti ini. Nila juga akan senang jika kamu menuruti amanat itu,” tandas Ismi dengan suara lembut.
“Jangan ngaco kamu, Aksara!” tegas Brugman sampai menghentikan mobil itu secara mendadak. “Anak orang jangan kamu bikin mainan!”
“Ini hidup Aksara. Air mata, hati, dan segalanya tentang Aksara hanya untuk Nila, bukan Kintan, Ayah! Dia hanya pengganti sementara!”
Brugman benar-benar tidak menyangka bagaimana bisa Aksara bersikap sejahat itu. Padahal, Kintan telah berkorban hati dan juga masa depan. Menikah dengan suami sahabat sendiri sudah pasti sangat tidak diinginkan oleh menantu keduanya itu. Terlebih, ketika Brugman mengingat siapa Kintan sebenarnya. Bahkan, kedatangan Chandra barusan memicu ketakjuban para pelayat yang datang. Chandra dan Kintan, keduanya berasal dari keluarga terpandang!
Brugman benar-benar kecewa pada sikap Aksara, dan ingin kembali mempertegas hal yang seharusnya pada putranya itu. Namun ketika hendak memarahi lagi, Ismi menghentikan rencananya tersebut. Dan alhasil, ia memilih melanjutkan perjalanan.
Ismi masih bisa maklum lantaran Aksara belum terbebas kondisi tidak baik-baik saja. Trauma dan rasa bersalah putranya itu pada mendiang sang istri tampaknya masih sangat besar. Akan butuh proses lebih lama bagi membuat Aksara untuk mulai membuka hati pada sosok istri keduanya.
__ADS_1
Ismi menghela napas. “Baiklah, yang penting kamu tenang dulu untuk saat ini. Jika masih belum bisa membuka hati buat Kintan, seenggaknya kamu harus berjuang melupakan Nila, Nak,” ucapnya.
“Enggak akan!" Aksara menggeleng cepat dan menatap manik mata ibunya. “Melupakan Nila adalah sebuah kejahatan, Ibu! Itu enggak akan bisa Aksara lakukan!”
Rasa hati Ismi begitu prihatin ketika menatap wajah Aksara yang luar biasa tercengang. Putranya itu benar-benar frustrasi atas kematian Nila yang begitu cepat. Kecintaan Aksara pada Nila sudah seluas samudra, pun setinggi gunung di Eropa.
Ismi hanya khawatir jika Aksara akan selamanya terbelenggu sosok Nila. Ia takut jika Aksara tidak bisa mencintai Kintan. Bahkan, jika perceraian di antara mereka benar-benar terjadi, ada kemungkinan Aksara memilih hidup sendiri di sepanjang sisa usia.
Mata Ismi terbelalak ketika menduga kemungkinan terfatal itu. Detik berikutnya, ia mencengkeram jemari sang putra. “Aksara! Jangan ceraikan Kintan!” tegasnya.
Entah Aksara atau Brugman terkejut. Suara Ismi yang lantang dan penuh penekanan membuat kedua pria itu merasa heran.
“Jangan ceraikan Kintan apa pun yang terjadi, demi Gibran! Gibran masih butuh figur seorang ibu, Nak!” lanjut Ismi sembari menguatkan cengkeraman.
Aksara menghela napas. “Enggak bisa, Bu. Kintan ... hanya akan menjadi pelampiasan amarah Aksa selama masih di rumah kami,” tandasnya.
“Demi amanat istri pertamamu, demi Gibran!”
“Aksa bisa minta tolong Ningsih, dan Nila ... juga enggak akan bahagia jika Aksara terpaksa menerima Kintan, Ibu.”
“Enggak, enggak! Namanya amanat itu harus dilakukan, Aksara! Nila bakal sedih kalau kamu justru mengabaikan. Pokoknya, jangan sampai kamu dan Kintan bercerai! Titik!”
Karena cinta bisa tumbuh dari kebiasaan dan kebersamaan, Aksara. Kalian enggak boleh bercerai, jika Kintan pergi maka kamu sudah pasti akan hidup sendiri sepanjang usia. Ibu enggak mau kalau kamu menduda tanpa seorang wanita di sampingmu, batin Ismi.
__ADS_1
***