
Kintan tengah berdiri sembari melipat kedua tangannya ke depan. Selepas memberikan pada David, ia beralasan kembali ke kantornya sendiri pada Aksara. Namun, sebenarnya ia menuju sebuah rumah yang pernah ia singgahi tiga kali terhitung hingga saat ini.
Kintan mengulas senyuman, tetapi matanya tajam menatap ke arah wanita di hadapannya itu. Tak lama kemudian, ia lantas mengubah sikap. Kintan mengambil tas berbentuk kotak yang berisi uang dari tangan salah satu pengawalnya. Kemudian ia mengambil posisi duduk pada sofa tepat di hadapan sang wanita pemilik rumah.
Sembari membuka kunci tas tersebut, Kintan berkata, “Saya akan bertanggung jawab, Nyonya Mergi.” Ia pun menghadapkan tas tersebut ke hadapan Mergi.
Mergi hanya menatap sekilas dan tampak tak berselera. Setelah terdiam sejenak, ia pun menjawab, “Kamu sudah membuatku kehilangan pekerjaan. Lalu, membuatku menjadi pengemis?”
“Tidak!” tandas Kintan. “Sudah saya katakan, saya akan bertanggung jawab. Tapi, tanggung jawab saya bukan berarti mengembalikan Anda ke perusahaan itu. Dan perlu Anda ingat, Nyonya, sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan Anda terus-terusan mendekati suami saya!”
Mergi menggertakkan gigi. Rasa kesal membuncah di dadanya. Pasalnya, Kintan memang sudah sangat keterlaluan. Wanita kaya itu telah menjebak dirinya dan memberikan ancaman padanya tentang hak asuh Naura. Kintan berjanji akan membantu Fery mendapatkan hak asuh Naura, lantaran ia pernah memperalat putrinya itu demi mendapatkan perhatian Aksara.
Demi Tuhan! Mergi tidak menerima tindakan Kintan semacam ini. Perasaannya pada Aksara pun tulus apa adanya, dan tidak bisa ditukar dengan uang. Namun, ketika ia kembali menyusun sebuah rencana untuk menyingkirkan Kintan, sampai sebanyak apa pun Kintan tetap akan menang.
Teringat di benak Mergi setelah mendapatkan tamparan keras dari wanita yang lebih muda darinya itu, ia bergegas ke komplek perumahan Aksara di keesokan harinya. Lagi-lagi ia mendesak para warga untuk mengusir Kintan karena sudah membuat nyawa sahabatnya tak terselamatkan. Namun, saat itu tak ad satu pun warga yang berani lantaran Kintan sudah memberikan ancaman, dan kenyataan yang ada juga tidak demikian. Dan entah bagaimana Kintan menyadari aksinya, ia rasa ada salah satu warga yang melapor pada rival cintanya itu.
Tiba-tiba saja, Kintan mendesis dan mengeluh dengan suara sedikit kencang. “Kenapa?! Bahkan sampai kehilangan pekerjaan pun Anda masih mempertahankan harga diri dan cinta? Anda ini sudah bukan lagi anak remaja, Nyonya! Aksara suami saya dan demi Tuhan! Mendiang Nila mempercayakan dia pada saya. Oleh sebab itu!” Suara Kintan meninggi. “Saya akan terus menjaga suami dan anak saya sesuatu amanat istri pertama suami saya!”
“Dan tahukah kamu! Saya yang lebih dulu mengenal Aksara serta memberikan banyak bantuan padanya. Kenapa harus kamu, hah?! Harusnya aku!”
__ADS_1
Kintan tertawa kecil. “Cinta Anda tak tulus, Nyonya. Kenapa ketika cinta Anda tak sampai, justru membawa-bawa nama bantuan seolah Anda memiliki modus dalam melakukannya? Anda ini masih lumayan cantik untuk wanita yang sudah dewasa. Dengan uang ini Anda bisa membuat usaha sendiri, mengurus anak dengan baik.”
“Tahu apa kamu?”
“Tahu segalanya, apa Anda lupa tentang siapa saya? Aaah ....” Kintan menyandarkan punggungnya. Namun tak lama berselang ia menegakkan badannya lagi. “Cari saja pria lain, pria yang masih single. Jika sekiranya sudah mustahil untuk kembali ke mantan suami, maka carilah pria yang pantas diperjuangkan. Karena obsesi Anda pada Aksara, sepertinya Anda sudah kehilangan jati diri. Menghasut para warga dengan fitnah yang berasal dari spekulasi pribadi, bisa dikatakan sebagai pencemaran nama baik. Semua anggota keluarga saya dan Aksara, pasti tetap akan mendukung saya, jika saya benar-benar menuntut Anda. Saksinya, banyak!”
Mergi terdiam. Tubuhnya pun bergetar. Tuntunan pencemaran nama baik? Ancaman itu sukses membuatnya ketakutan. Selain bisa masuk penjara lantaran tidak sanggup membayar pengacara, ia pun akan kehilangan Naura.
Sementara Kintan yang terus mengoceh akan semua perbuatannya dan terkesan membuatnya agar segera sadar, Mergi merenung. Mulutnya terkunci, tetapi matanya tiada henti bergerak ke sana kemari. Ada kalanya, ia melirik uang di tas milik Kintan. Tumpukan uang itu pasti berjumlah jutaan. Seharusnya Kintan bisa memberikan cek saja padanya, tetapi tampaknya Kintan ingin terlihat lebih berkuasa.
Perlahan dan paling utama karena ocehan Kintan, Mergi menyadari kesalahannya. Kintan pun bersikeras untuk mempertahankan Aksara, dan bahkan melakukan segala cara serta mengeluarkan banyak dana. Tentang Aksara yang juga terus membela Kintan ketika ia mencoba memberikan hasutan juga muncul di dalam benaknya. Sampai buliran air mata menetes di pipi Mergi, ia menyesal, tetapi juga sakit hati. Cinta yang ia pendam sejak mendiang Nila masih ada, tetap tak akan kesampaian. Namun, ia pun mulai tahu bahwa Kintan juga tidak memiliki salah apa pun. Kintan bukan hanya mencintai Aksara, tetapi juga sedang menjaga amanat dari Nila.
Mergi mengusap air matanya dengan segera. Setelah menghela napas, ia menatap manik mata Kintan yang jernih, tetapi juga agak sinis. “Baiklah ....”
“Apa?! Suara Anda terlalu lemah!”
“Baiklah! Saya akan mengalah dan ... menerima uang ini sebagai ganti rugi atas hilangnya pekerjaan saya.”
Kintan tersenyum. “Bagus! Maka saya akan melepaskan Anda. Tapi, ... Anda perlu menandatangi sesuatu.”
__ADS_1
Salah satu pengawal yang dibawa Kintan mulai menghampirinya. Pengawal itu menyerahkan sebuah map yang berisi suatu berkas perjanjian. Setelah mendapatkannya, Kintan menyerahkan pada Mergi.
“Apa ini?" tanya Mergi heran.
“Surat perjanjian,” kata Kintan. “Surat perjanjian atas penerimaan uang ini dan juga janji Anda untuk mengalah, tidak akan mendekati Aksara lagi sekaligus memfitnah diri saya.”
“Apa kamu tidak percaya padaku?”
“Tentu, tidak! Anda sudah saya peringatkan sampai berkali-kali dan selalu berakhir sama, Anda masih tidak kapok sama sekali. Oleh sebab itu, tanda tangani surat ini jika Anda benar-benar sudah sadar!”
Mergi menghela napas, kemudian menelan saliva. Sejenak, ia menatap map tersebut dengan gamang. Ada banyak pertimbangan di benaknya, mengenai harga diri. Namun ketika niat dan rasa bersalah yang justru meradang, Mergi pun memberikan anggukan.
Wanita satu anak itu membubuhkan tinta hitam di atas kertas putih. Kesepakatannya dengan Kintan pun telah direalisasikan. Sementara uang dengan jumlah 500 juta itu, sudah ia genggam. Dengan begitu, tak ada lagi celah baginya untuk mencuri hati Aksara. Namun di sisi lain, ia sudah tidak perlu cemas akan hak asuh atas Naura dan juga ancaman pidana.
Selepas mendapatkan apa yang diinginkan, Kintan segera beranjak. Ia merundukkan sedikit kepalanya dan mengatakan pamit. Bahkan, ia akan memberikan dana lagi jika sekiranya bagi Mergi masih kurang, tetapi dalam batas tertentu. Setelah itu, ia benar-benar pergi bersamanya kedua pengawalnya, serta si jabang bayi di dalam rahimnya.
***
Satu bab lagi
__ADS_1