Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 20-Kegelisahan Aksara


__ADS_3

Benak Kintan terbayang tentang apa yang terjadi tadi malam. Memang bukan sesuatu yang spesial, atau bahkan merugikan, hanya saja cukup mengherankan. Pasalnya, Aksara membuatnya terjaga di tengah malam. Pria itu mencengkeram lengannya dengan kuat, seolah takut jika ia pergi.


Mungkin kesimpulan Kintan ada benarnya, soal mimpi yang mendera tidur Aksara. Namun tadi malam, tidak ada rintihan sama sekali, paras lelap Aksara sangat damai kendati cengkeraman di lengan Kintan begitu erat. Beberapa kali, pria itu juga sempat menggumamkan nama mendiang istri pertamanya dengan senyuman yang lebih tulus seperti dahulu kala.


Aku rasa, dia masih menganggapku Nila. Keberadaanku di sampingnya mengobati mimpi buruk itu menjadi indah. Kintan menghela napas. Ditatapnya Aksara yang masih lahap menyantap sarapan. Hari ini, suaminya itu masih harus menjalankan tugas sebagai seorang karyawan.


“Aku harus cepat, pagi ini Direktur akan berkunjung,” ucap Aksara sembari menyudahi aktivitasnya. Ia beranjak kemudian meraih tas kerja di kursi yang lain. “Jangan lupa jemput Gibran, pulang sekolah nanti. Kasihan Ibu, aku bisa saja ada lembur malam ini.”


“Iya, Mas,” jawab Kintan sembari tersenyum lembut.


Aksara terpaku. “Tumben?”


“Tumben apanya?”


“Sopan.”


“Me-memangnya nggak boleh?!”


“Nah gitu ngegas, lebih pantas!”


“Si ....” Kintan menahan perkataan yang hampir ia lontarkan dengan tegas. “Oke, hati-hati, ya! Aku mau ke kantor Papa, mau ketemu David!”


Mata Aksara lantas terbelalak oleh pengakuan Kintan yang membawa-bawa nama mantan kekasih. Namun wanita itu justru bergegas pergi, bahkan tidak peduli dengan alat-alat makan yang belum ia rapikan. Ingin sekali Aksara mengejar istrinya itu dan berlagak menentang. Namun sayang, waktunya habis, ia harus segera berangkat ke tempat kerja.


“Awas saja, kalau ucapan itu benar-benar kamu lakukan, Kintan!” seru Aksara. Kemudian, ia bergegas menuju halaman rumahnya.


Sementara di belakang pria itu, Kintan mengendap pelan-pelan. Ia membututi Aksara dengan jarak kurang lebih lima meteran. Karena sangat hati-hati dan juga pihak suami yang terburu-buru, keberadaan Kintan tidak diketahui.


Dari balik jendela kaca, Kintan menatap kepergian suaminya bersama mobil pribadi. Ia menghela napas, tanpa tahu apa yang ia pikirkan saat ini. Hanya cahaya matahari pagi yang membuatnya berangsur pergi dari pijakannya.


Kintan menuju kamar tamu di mana barang-barang pribadinya belum sempat dipindahkan. Di sana ia menatap cermin rias. Pantulan dirinya yang ayu dengan rambut yang teruai begitu memukau. Hanya saja ada gurat kesedihan di balik ketegasan matanya.


“David ...?” gumam Kintan. “Benarkah jalan kita harus berpisah? Haruskah begini? Empat tahunku menunggumu tanpa menghasilkan sesuatu yang bagus di antara kita.”

__ADS_1


Masih ada sisa atas kepingan cinta di masa lalu. Ceceran kenangan juga terbesit di dalam benak Kintan. Betapa ia merindu dan ingin memeluk pria itu meski hanya dalam waktu sedetik saja. Namun, kini ia telah resmi menjadi istri seorang Aksara.


“Aku harus membuat keputusan dengan tegas!”


Lantaran tak mau larut dalam emosi tentang masa lalunya, Kintan beranjak lagi. Ia berencana untuk membersihkan meja makan. Setelah itu mempersiapkan diri untuk berangkat ke gedung kantor milik ayahnya. Dan sudah ia prediksi, bahwa David akan ada di sana.


***


Sudah satu jam bergulir, nyatanya Aksara tidak dapat membangun fokusnya menjadi lebih baik. Ucapan Kintan yang sebelumnya tidak menganggu, kini justru terngiang di telinganya. Belum lagi bayangan-bayangan semu yang belum pasti terjadi, justru muncul di benaknya.


“Apa dia sudah bertemu mantan pacarnya itu?” gumam Aksara dengan gelisah. “Cowok itu setampan apa sih, sampai digilai seorang nona? Apa mereka akan saling memeluk, melepas rindu?”


Aksara menghela napas. “Apa Kintan benar-benar akan mengabaikan laranganku?” Ia menggigit bibir. “Cewek itu 'kan keras kepala, dan sudah pasti melanggar aturan. Kurang ajar ....”


Mergi memicingkan mata dari sisi kanan posisi Aksara. Ia merasa heran lantaran pria itu terlihat gelisah sejak tadi. Karena memang ada perasaan suka, Mergi sangat peduli. Ia memutuskan untuk menghampiri Aksara tanpa rasa sungkan sedikit pun.


“Aksa?” ucap Mergi sembari menepuk pundak pria itu.


“Kamu mikir apa? Kenapa sekaget itu? Ada masalah?”


Aksara tersenyum. “Enggak ada, Mbak.”


“Mau kopi?”


“Nggak usah, Mbak. Terima kasih.”


Mergi menggertakkan gigi. Ia tidak menyukai situasi semacam ini. Aksara terlalu sungkan padanya. Entah apa sebabnya, padahal sebelum istri pertamanya meninggal, Aksara sangat ramah. Lantas, apa yang membuat pria itu berubah? Apakah karena istri keduanya?


Mergi menarik kursi kerjanya yang tak jauh dari posisi Aksara, setelah itu selembar kertas laporan yang hendak ia jadikan alasan. Melihat sikap sang rekan, Aksara menjadi heran. Apakah ada pekerjaan yang perlu didiskusikan? Pertanyaan itu terlintas di benaknya.


“Aksa?" ucap Mergi.


“Ya, Mbak? Ada yang harus didiskusikan?” balas Aksara.

__ADS_1


Mergi menggeleng. “Nggak ada. Aku mau tanya sesuatu sama kamu.”


“Soal?”


“Istri kamu.”


“Tampaknya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal di luar pekerjaan, Mbak.”


“Lalu, kapan? Maukah kamu makan siang bersamaku?”


Aksara bimbang. Namun, ia harus cepat membuat keputusan. “Kenapa Mbak Mergi ingin bertanya tentang istri saya?”


“Ada beberapa hal yang membuat kamu berubah, dan itu membuatku penasaran.”


“Orang lain nggak ada yang penasaran kok.”


Mergi salah tingkah. Tatapan mata Aksara yang tidak memberikan persetujuan membuatnya terjebak dalam perasaan malu. Namun untuk mundur dari langkah yang sudah ia ambil bukanlah gayanya. Dengan sedikit penekanan dan tanpa rasa sungkan, Mergi tetap ingin mengetahui siapa istri dari pria yang ia sukai sejak lama itu.


Aksara menghela napas, kemudian mengembalikan tatapannya pada monitor komputer kerjanya. Sejujurnya, sikap Mergi membuatnya terganggu dan tidak nyaman. Jika bukan rekan paling dekat dan sering membantunya, ia sudah pasti akan marah besar.


“Aku tunggu di kafe terdekat, Aksara. Terserah mau datang atau tidak,” ucap Mergi. Detik berikutnya, ia menarik kursinya dan lembar laporan tadi menuju tempat kerjanya sendiri.


Aksara menaikkan kedua alisnya, bersamaan dengan terbukanya mata lebih lebar. Ia ingin menolak lebih tegas, tetapi Mergi sudah terlanjur menjauh. Mungkin setelah jam makan siang datang, ia bisa memberikan penolakan secara jelas. Itupun jika Mergi tidak berangkat terlebih dahulu.


“Apa wanita selalu seperti ini? Gemar menjebak seorang pria? Padahal, aku berencana menyeret Kintan siang nanti dari hadapan mantannya. Ck! Tapi, kalau aku nggak datang, Mbak Mergi bisa menungguku sampai jam makan siang habis,” ucap Aksara diiringi decakan tidak habis pikir.


Aksara meregangkan tangan, membuang rasa letih yang tiba-tiba menghadang. Bukan karena pekerjaan, mungkin karena jebakan para wanita itu. Hanya saja, soal Kintan tentu sudah jelas apa yang akan wanita itu lakukan. Namun bagaimana dengan Mergi? Mengapa ia sampai penasaran perihal siapa istri kedua dari Aksara?


“Kalau dipikir-pikir, sejak Nila masih ada Mbak Mergi memang agak aneh sama aku,” gumam Aksara setelah mengepalkan kedua telapak tangannya. “Apa dia ...?”


Aksara menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Tidak mungkin! Semua yang terbesit di benaknya hanyalah suatu kekonyolan. Lagipula, Mergi sudah pernah berkata jika hidupnya akan diberikan pada sang putri. Tidak ada waktu untuk mencari suami. Dan mana mungkin wanita itu menyukai Aksara. Memikirkannya saja, Aksara merasa geli pada narsistiknya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2