
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Freya memutuskan untuk memakan soto lamongan. karena dia sangat-sangat menyukai makanan itu, jadi dia ingin memakannya bersama dengan Farrel. Tahu apa yang lelaki itu katakan, ketika Freya mengatakan bahwa dia ragu soto lamongan ada didalam mall ini? Dia bilang "ayo kita cari"
Rasanya Freya mau terbang, tidak menyangka jika Farrel akan berubah menjadi semanis ini. Seandainya, seandainya Farrel bersikap seperti ini setiap hari, pasti Freya akan semakin jatuh cinta kepadanya. Jadi disinilah mereka saat ini, berjalan mengelilingi beberapa restoran yang ada di dalam mall untuk mencari makanan yang Freya inginkan.
"Bunda....."
Deggg
Freya cukup terkejut mendapati seorang gadis kecil datang menghampirinya, sembari menangis seraya terus mengucapkan kata bunda. Padahal dia baru berpacaran lima bulan dengan Farrel, jadi tidak mungkin dia memiliki anak, apalagi yang sudah bisa berjalan. Mungkin kisaran umur 3 tahun? Freya tidak begitu yakin. Dan lagi, dia masih anak sekolah, dia juga belum menikah dengan Farrel, jadi tidak mungkin dia memiliki anak.
Freya melirik Farrel "dia siapa?" Tanyanya.
"Gue yang harusnya tanya, dia siapa sampai panggil lo bunda?" Tanya Farrel menyelidiki.
"Gue gak tahu, gue gak kenal ni anak siapa. Gue juga gak tahu kenapa dia manggil gue bunda"
Freya menjongkokkan tubuhnya, berusaha mensejajari tinggi badan gadis kecil tersebut "dek kamu siapa? Kakak gak kenal sama kamu, kakak juga bukan bunda kamu" ujar Freya.
Bukannya menjawab, tangis gadis kecil itu justru semakin pecah. Mengakibatkan beberapa pengunjung lain menatap kearah ketiganya "huuaaaa......bunda........"
Freya dan Farrel kelabakan menghadapi situasi yang mereka hadapi saat ini, dengan menggendong gadis kecil itu, Farrel berjalan kearah tempat duduk. Dia tidak tahu anak siapa gadis kecil itu, tapi bukan itu yang penting untuk saat ini, dia dan Freya harus menenangkan gadis kecil itu terlebih dahulu, supaya tahu masalahnya apa dan dari mana gadis itu berasal.
Setelah disogok es krim, akhirnya gadis kecil itu menghentikan tangisnya. Dia juga mau menceritakan alasan kenapa memanggil Freya bunda.
"Sebenalnya aku takut banget tadi. Bunda aku hilang, aku mau minta tolong sama kakak"
Baik Freya maupun Farrel, mereka merasa bersyukur karena akhirnya gadis kecil itu mau menjelaskan kronologinya. Orang-orang juga sudah tidak perduli lagi dengan ketiganya, tentu saja hal tersebut membuat Farrel dan juga Freya merasa lega.
__ADS_1
Satu yang menjadi masalah adalah, gadis kecil itu tidak mau pergi ke pusat informasi, dia terus saja merengek ingin pergi kearea timezone. Freya dan Farrel tidak masalah jika harus membawa gadis itu kesana, yang jadi masalah adalah bagaimana jika orang tua dari gadis itu mengira mereka berdua adalah culik. Bagaimanapun Farrel dan Freya takut jika dibawa ke kantor polisi, apalagi untuk kesalahan yang tidak mereka kerjakan.
Akhirnya dengan berat hati, Farrel pergi sendirian ketempat informasi dan Freya pergi bersama dengan gadis kecil tersebut ke area timezone.
"Dek, kamu sebenarnya anak siapa sih?" Tanya Freya penasaran.
"Anak bunda Tiala sama ayah Falid" jawab gadis kecil itu cadel.
"Terus kenapa kamu bisa pisah sama bunda kamu?" Tanya Freya lagi.
Tiba-tiba bibir gadis kecil bernama Mitha itu melengkung kebawah, seperti hendak menangis kembali. Tentu saja hal itu membuat Freya panik sendiri, dikarenakan dia tidak mengerti dengan mood anak kecil "eh...eh..eh..jangan nangis dek. Kamu mau apa? Mau mancing ikan yang disana? Iya? Ayo kakak bawa kesana, tapi jangan nangis yah"
Freya tersenyum lega ketika melihat Mitha yang kembali tersenyum ceria, tidak lama dari itu terdengar suara dari speaker yang mengatakan, ditemukannya anak hilang berusia 3 tahun bernama Mitha yang saat ini sedang bermain diarea timezone. Bahkan detail baju yang dikenakan oleh Mitha saat ini juga dijelaskan dengan teliti, dimulai rambut yang dikepang, juga baju yang berwarna biru langit, tidak lupa tas kecil berbentuk ikan paus.
"Mana Mitha?" Tanya Farrel ketika sampai diarea timezone.
Dengan senyum bahagianya, Mitha berjalan kearah Freya dan Farrel "kak Yaya sama kak Fafa ikut main yah sama Mitha" pintanya seraya menarik tangan Farrel dan juga Freya.
"Kamu aja yah...."tolak farrel.
Mitha menggelengkan kepalanya tidak terima "gak mau, maunya sama kak Yaya dan kaka Fafa" ucapnya sembari cemberut hendak menangis.
"Baiklah, ayo kita main bareng" putus Freya, dia beranjak dari duduknya mengikuti langkah Mitha yang membawa ketiganya kearea permainan lainnya, tentu saja dengan Farrel yang berada dibelakangnya.
Tidak pernah Freya duga, bermain seperti ini bisa meningkatkan kadar kebahagiaan yang ada dalam dirinya. Ternyata kembali menjadi anak-anak sangat menyenangkan. Tidak memikirkan apapun, tidak memikirkan resiko yang saat ini harus dihadapi dalam menghadapi setiap keputusan, tidak memikirkan pacaran. Freya sangat merasa bersyukur karena Mitha datang menghampirinya dan juga Farrel. Bagaimana jadinya jika gadis kecil berwajah bulat tersebut bertemu dengan orang jahat.
*****
__ADS_1
Mitha sayang, kamu bagaikan dandelions yang menebarkan begitu banyak kehidupan juga kebahagiaan.
Setelah hampir dua jam lamanya, akhirnya bunda dari Mitha datang menghampiri mereka. Baik Farrel ataupun Freya, awalnya mereka ragu untuk menyerahkan Mitha kepada wanita paruh baya tersebut. Bagaimanapun, saat ini banyak sekali modus penculikan yang mengaku-ngaku sebagai keluarga ataupun kerabat. Tapi melihat Mitha yang seketika memeluk wanita paruh baya tersebut, membuat keduanya yakin bahwa dia memang bunda dari Mitha yang bernama Tiara.
"Mitha!! Udah bunda bilang jangan pergi kemana-mana" omelnya sembari menjewer telinga Mitha "jangan tiba-tiba pergi kayak gitu, bunda panik banget tadi"
Tentu saja Mitha menangis mendengar omelan tersebut, dia segera bersembunyi dibalik tubuh Farrel dengan tubuh gemetarnya. Gadis kecil yang sebelumnya tersenyum dengan gembira, kini berubah menjadi cemberut dan ketakutan. Seharusnya Mitha merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan sang bunda, tapi siapa yang menyangkan kedatangan bundanya itu justru membuat Mitha ketakutan karena dimarahi.
"Tante, coba dengarkan dulu penjelasan Mitha" pinta Freya menenangkan.
Bukankah saat ini yang lebih penting adalah keselamatan Mitha? Bukankah dengan ditemukannya Mitha seharusnya orang tuanya merasa bersyukur karena ternyata dia tidak apa-apa. Mengomeli dan memberi nasihat memang tidak masalah dan memang sudah seharusnya, tapi apa harus dengan kekerasan? Bukannya ada cara yang jauh lebih baik untuk menasihati. Walaupun Mitha masih anak-anak, tapi dia juga pasti bisa menjelaskan jika ditanya.
Wanita paruh baya tersebut menghembuskan napasnya lelah "baiklah, jelasin ke bunda" ujarnya.
Dengan sedikit gemetar, Mitha menjelaskan alasan kenapa dirinya bisa berpisah dengan sang bunda. Dikarenakan dia yang hanya memegang ujung baju bundanya, juga pengunjung yang sangat banyak, akhirnya Mitha terpisah dengan bundanya itu. Tentu saja bundanya tidak menyadari kehilangan Mitha sampai ketika dia sampai di toko baju anak-anak.
"Maafin Mitha, Mitha salah" ucap Mitha meminta maaf.
Dengan tubuh yang menjongkok, wanita paruh baya tersebut memeluk Mitha erat "jangan kayak gitu lagi, bunda sangat takut tadi. Kalau kamu kehilangan bunda, jangan keluyuran kemana-mana dan tetap disana, supaya bunda mudah nyari kamu. Kalau pergi kemanapun, kamu harus pegang tangan bunda bukan baju bunda. Ngerti?" Nasihatnya.
Dengan wajah polosnya Mitha menganggukan kepalanya.
"Kalian, makasih yah udah nolongin Mitha. Berapa banyak uang yang kalian keluarkan? Biar tante ganti"
Dengan cepat Freya dan Farrel menggelengkan kepalanya "tidak perlu tante, kita juga merasa senang bisa bermain dengan Mitha" tolak Farrel dan Freya menganggukkan kepalanya setuju.
"Kalau begitu terima kasih yah, maaf sudah merepotkan"
__ADS_1