Amanita phalloides

Amanita phalloides
mbak baru aja putus dari kakak kamu


__ADS_3

Rara secara tiba-tiba menatap Freya serius "Kalau menurut lo, dia pantesnya dijadiin pacar atau temen?" Tanyanya.


Freya terdiam cukup lama, dia dengan cukup serius memikirkan jawaban yang akan dia utarakan "kalau untuk gue, Kafin cukup jadi temen dan sahabat aja. Gue udah sangat bersyukur bisa punya sahabat kayak dia. Walaupun gue sangat yakin Kafin akan memperlakukan ceweknya dengan sangat baik, terlepas dari dia yang suka gonta-ganti pacar" jawaban Freya mampu membuat Rara terdiam.


"Jujur aja, gue ngerasa Kafin sudah sangat pas untuk dijadikan temen dan sahabat gue, itu udah sangat cukup buat gue. Dalam pertemanankan, gak harus melulu jadi pacar bukan?" Lanjut Freya.


"Kalau untuk gue?" Tebakan Freya tentang Rara yang didekati Kafin ternyata benar adanya. Yah,,,ucapan pemuda itu memang tidak boleh dimasukkan kedalam hati, dia ternyata cuman mempermainkan Freya.


"Itu terserah lo Ra, kalau lo ngerasa dia cocok buat lo, yah gak masalah lo pacaran sama dia. Lagian gue tau kok, Kafin orang baik dan bertanggung jawab. Tapi satu hal yang gue gak yakin adalah gue gak yakin lo gak bakal terluka. Karena selama ini, gue selalu mendengar cerita tentang alasan dia putus dari Kafinnya sendiri. Gue gak pernah ngedenger langsung dari mantan-mantannya. Kalau lo tanya sama gue, yah pasti gue jawab yang baik-baiknya, karena selama ini dia selalu baik sama gue. Kita gak akan pernah tahu tentang dia baik atau tidaknya, sebelum kita mencoba bukan?"


Kita tidak pernah tahu 100 persen tentang hidup seseorang, ataupun tentang sikap asli dari orang orang lain. Marena kita tidak tinggal 24 jam dengan dia. Jadi kita tidak pernah tahu sikap dia yang sebenarnya seperti apa, selain dari apa yang kita lihat ketika kita bertemu dengan dia.


Freya tidak bisa yakin penilaiannya tentang Kafin akan benar 100 persen, karena dia hanya sahabat dari cowok tersebut. Tentu saja menurut Freya, Kafin itu laki-laki yang baik, perhatian, dan bertanggung jawab. Tapi bagi orang lain? Kita tidak pernah tahu itu bukan?


****


Suara deru motor terdengar begitu nyaring di sepanjang jalan. Freya tidak yakin dengan seberapa cepat Kafin menjalankan sepeda motornya. Tapi yang Freya tahu adalah, Kafin mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Beberapa menit yang lalu, Freya mendapatkan kabar yang kurang mengenakan dari mbak Rania.

__ADS_1


"Dek, mbak baru aja putus dari kakak kamu" ujar mbak Rania tiba-tiba.


"Apa? Kenapa?" Freya sangat terkejut mendengar kabar tersebut, padahal belum satu minggu sejak dia bertemu dengan mbak Rania. Bahkan saat itu, mbak Rania mengatakan bahwa dia merasa bersyukur karena memiliki kekasih seperti kak Darpa, bahkan hubungan mereka terlihat baik-baik saja saat itu. Tapi kenapa tiba-tiba mereka putus?


"Maaf Aya, mau bagaimanapun mbak butuh kepastian, keluarga mbak butuh kepastian secepatnya. Umur mbak pun sudah tidak muda lagi"


"Mbak bercanda kan? Padahal waktu itu mbak bilang akan menunggu kak Darpa"


"Maaf, maaf karena mbak sudah berjanji untuk sesuatu hal yang mbak sendiri tidak yakin akan menepatinya" ujar mbak Rania dengan suaranya yang terdengar parau.


"Maaf Aya, mbak sudah dijodohkan dengan seseorang pilihan orang tua mbak. Pertunangan akan dilaksanakan lusa. Maaf Aya"


Ternyata hubungan yang terjalin selama bertahun-tahunpun, akan kalah dengan seseorang yang datang langsung kerumah dengan keseriusan. Freya tidak mungkin menyalahkan keputusan mbak Rania. Benar apa yang dikatakannya, mbak Rania perlu kepastian, tidak mungkin mbak Rania terus-terusan meminta keluarganya untuk mengerti. Pasti ada capeknya, pasti ada lelahnya. 


Dari sebrang telpon, terdengar suara isak tangis. Tidak mungkin mbak Rania tidak menangisi laki-laki yang sudah menjadi pacarnya sejak lama. Bahkan mbak Rania rela menunggu 2 tahun lama nya, untuk kak Darpa pulang dari Manado. Ternyata akhir percintaan mereka justru seperti ini, berakhir dengan sebuah kata selamat tinggal.


"Maaf dek maaf. Tolong bantu cari kakak kamu, mbak tidak bisa menghubungi dia. Mbak mohon. Mbak gak mau dia kenapa-napa"

__ADS_1


Tidak terbayang seberapa terpuruknya kak Darpa saat ini. Freya tahu secinta apa kakaknya itu kepada mbak Rania. Freya saksi bisu percintaan mereka, bahkan dari jaman dimana mereka pacaran dengan sembunyi-sembunyi, karena ayah melarang berpacaran. Rasa bersalah menggerogoti seluruh hati dan pikiran Freya, seharusnya kak Darpa lebih mementingkan kebahagiaannya dibandingkan keluarga. Seharusnya Freya lebih bekerja keras lagi, supaya tidak terlalu membebani kakaknya itu. Seharusnya....


Setelah panggilan terputus, Freya beberapa kali mencoba menghungi kak Darpa, tapi nomornya benar-benar tidak bisa dihubungi. Freya sangat khawatir dengan kondisi kakaknya itu, dia takut kakaknya kenapa-napa. Apalagi tidak biasanya kakaknya itu tidak bisa dihubungi. Freya juga menelpon bunda untuk menanyakan, apakah kak Darpa ada dirumah atau tidak. Tapi ternyata dia tidak ada disana, bahkan kak Darpa belum pulang sejak semalam, karena katanya dia lembur.


Ada satu tempat yang sangat Freya yakini jika kak Darpa akan berada disana. Karena itu, dia meminta Kafin untuk mengantarnya kesana. Untungnya Kafin mau mengantarkannya, tapi dia hanya akan mengantar saja dan tidak membantu mencari kak Darpa, katanya dia sedang ada urusan yang sangat penting, jadi tidak bisa ditunda. Mau bagaimana lagi? Setiap orang pasti punya prioritasnya masing-masing bukan? Jadi Freya memaklumi hal tersebut. Sudah diantarkan saja, dia sudah merasa sangat bersyukur dan berterima kasih.


Dugaan Freya benar adanya, kak Darpa benar-benar ada di taman kota. Bahkan dia sedang memakan sate di warung sate langganan


"Kak Darpa?" Panggilnya.


Dengan segera gadis itupun memeluk tubuh kakaknya itu erat. Penyesalannya semakin mencuat, ketika melihat kondisi kak Darpa yang sangat memilukan. Rambut yang acak-acakkan, juga baju yang sudah tidak rapih lagi. Belum lagi kantung mata yang cukup hitam.


Dalam pelukan kak Darpa, Freya menangis tersedu-sedu. Kenapa ujian yang Allah berikan pada keluarganya tidak ada henti-hentinya. Kenapa Allah harus menguji kak Darpa, dengan cobaan yang seberat ini. "Kak maaf, maafin Aya. Maaf" hanya itu, hanya itu yang mampu Freya ucapkan.


Freya merasa sangat bersyukur karena kakaknya tidak kenapa-napa. Dia sangat bersyukur karena kakaknya masih terlihat sehat secara jasmani. Jujur saja, selama perjalanan tadi, dia benar-benar merasa sangat takut setengah mati. Dia benar-benar takut kak Darpa kanapa-napa. Tidak ada yang jauh lebih menyakitkan ketika kita kehilangan seseorang yang sangat-sangat berharga dalam hidup kita.


Tentang rasa yang harus abadi dalam bait aksara, tentang asmaraloka yang menjadi melankolia,tentang harsa yang harus menjadi lara.

__ADS_1


__ADS_2