
Kebersamaan selalu mengajarkan kita mengenai arti cinta, kasih sayang dan juga solidaritas. Hidup bersama-sama dengan orang yang mencintai serta menyayangi kita, merupakan kebahagiaan yang tidak dapat ternilai harganya. Manusia datang dan pergi silih berganti, meninggalkan kenangan manis juga kenangan pahit. Menyisakan perasaan bahagia ataupun luka yang tidak mampu diobati.
Ada beberapa kenangan yang akan lekang dimakan waktu. Ada beberapa perasaan bahagia yang tidak akan abadi. Namun, ada beberapa orang yang berusaha mempertahankan setiap kenangan itu, supaya tidak hilang dimakan usia. Karena mereka tahu, mereka tahu jika momen-momen itu, tidak akan pernah terulang kembali.
"Bunda, ini dilipetnya bagaimana?" Tanya Freya bingung.
Bunda yang sedang sibuk membuat kue pun, menghela napasnya lelah. Sebelum akhirnya mendekati puterinya itu, seraya membantunya.
"Lipet bagian kanan 2 kali, baru deh lipet bagian kiri" dengan sabar, bunda memberikan arahan pada Freya.
Dengan telaten, Freya mengikuti apa yang baru saja diajarkan oleh bundanya itu.
"Farrel gak masuk bun?" Tanya Freya penasaran.
"Kalau dia ada, kamu selalu marah-marah. Dia gak masuk kamu tanya-tanya" ujar bunda dengan wajah menggodanya.
"Bukan gitu, aneh aja. Dia kan selalu dateng pagi banget, ini udah siang dia belum dateng juga"
"Iya deh, iya, bunda percaya" dengan wajah menggodanya bunda menatap Freya. "Katanya dia ada urusan mendesak. Sahabatnya masuk rumah sakit dan dirawat" ujar sang bunda menjelaskan alasan dari keabsenan Farrel.
"Oh..."
Freya dapat menduga siapa sahabat Farrel yang masuk rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan Zyva, kedua sahabat itu kan sudah seperti perangko yang tidak akan bisa dipisahkan dengan amplop surat. Yah, sebenarnya kini status mereka bukan lagi sahabat, mereka kan sudah memutuskan untuk berpacaran. Karena alasan itu jugalah Freya melepaskan Farrel dan juga cintanya.
__ADS_1
Sudahlah, berhenti memikirkan Farrel. Karena lelaki itu sudah seperti jamur beracun, yang terlihat cantik dari jauh, namun mematikan ketika menyentuh ataupun memakannya. Freya sendiri sudah pernah masuk kedalam jebakannya, tentu saja sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari pemuda itu. Jadi, jangan pernah mencoba mendekati sesuatu hal yang kamu sendiri tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri darinya. Karena, ujung-ujungnya diri sendiri yang rusak.
"Gimana beli hadiahnya kemarin?"
"Sudah bunda, Aya dan Kafin udah beli hadiah yang sangat cocok untuk kak Darpa dan mbak Rania" jawab Freya antusias.
Terlihat bunda yang menyunggingkan bibirnya, tersenyum bahagia mendengar jawaban dari puteri kesayangannya itu.
"Bunda denger, katanya Kafin akan ikut pamannya ke Banten?"
Freya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya "iya bunda, Kafin akan bekerja bareng-bareng sama Pamannya" jawabnya.
"Lah,,, terus sekolahnya bagaimana?"
Apalagi kini, Kafin hanya tinggal seorang diri. Jadi tidak mungkin Dyvia tidak menyayangi anak malang itu. Entah masalah seperti apa yang sedang dilalui oleh anak semuda itu. Namun Dyvia yakin, masalah yang sedang dihadapi oleh Kafin saat ini, bukanlah masalah yang sepele.
"Katanya Kafin akan berhenti sekolah bun" jawab Freya parau.
"Astagfirullah, sebenarnya masalah apa yang sedang dialami oleh Kafin? Sampai dia harus putus sekolah begitu?"
Dengan kepala tertunduknya, Freya menceritakan segalanya, perihal orang tua Kafin yang mengalami kebangkrutan. Juga hutang-hutang yang ditinggalkan oleh mereka dengan jaminan rumah yang sedang mereka tempati. "pihak bank memberi waktu satu tahun bagi Kafin untuk melunasi semua hutang-hutang itu. Kafin sudah menjual mobil, motor dan semua barang berharga di rumahnya. Paman Raskal bahkan sudah menjual rumahnya di Banten, tapi semuanya belum cukup, hutang mereka masih tersisa banyak. Kafin tidak ingin rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama kedua orang tuanya, tersita begitu saja. Karena itu, dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari sekolah dan ikut bekerja bersama paman Raskal"
Mendengar semua cerita menyedihkan itu, bunda tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Dengan tangan yang memegang erat senderan kursi, bunda menitihkan air matanya. Tidak terbayang olehnya, anak semuda Kafin harus mengalami kejadian yang begitu memilukan. Mungkin sedihnya belum usai, namun dia harus menata hidupnya dan menghadapi kenyataan jika, rumah yang saat ini sedang ditempatinya pun, sewaktu-waktu akan dirampas. Tanpa persiapan apapun, Kafin bisa saja berakhir hidup dijalanan. Atau pindah sana-sini kerumah saudaranya.
__ADS_1
"Astagfirullah, kenapa kamu gak bilang sama bunda? Kenapa kamu malah rahasiain masalah sebesar itu? Kafin sudah bunda anggap sebagai putera bunda sendiri"
"maaf bunda" dengan pelan, Freya mengusap punggung bunda yang bergetar hebat.
Musibah yang dialami oleh Kafin saat ini, pasti mengingatkan bunda akan musibah yang mereka alami dulu. Musibah yang sama sekali tidak ingin mereka alami kembali. Bahkan jika bisa, mereka ingin sekali melupakan kenangan pahit itu. Namun berpura-pura lupa, bukan berarti kenangan itu tidak pernah terjadi.
"Kafin dimana sekarang? Bunda ingin ketemu sama dia"
"iya, bunda. Aya akan hubungin Kafin"
Dengan cepat, Freya menghubungi nomor Kafin, tapi justru suara operator wanita yang terdengar. Beberapa kali Freya kembali menghubungi nomor Kafin, namun endingnya sama. Hingga akhirnya Freya menyerah, dengan wajah bingungnya dia menatap sang bunda "gak bisa dihubungin bun. Katanya nomornya sudah tidak terdaftar" ujarnya.
Terdengar bunda yang menghela napasnya, sebelum akhirnya mendudukkan dirinya diatas kursi "kapan Kafin berangkat ke Banten? Gak hari ini kan?" tanya wanita paruh baya tersebut.
Freya menggelengkan kepalanya tidak tahu, karena walaupun Kafin sudah mengatakan padanya, jika dia akan ikut pergi ke Banten bersama paman Raskal. Lelaki itu tidak pernah mengatakan dengan pasti, kapan waktu ke berangkatannya. Yang Freya tahu, saat ini Kafin masih bekerja di bengkel milik salah satu temannya.
"Aya pernah denger dari Kafin, kalau dia kerja di bengkel deket perempatan sekolah. Aya coba cari dia kesana yah?" ijinnya pada sang bunda.
Bunda menganggukkan kepalanya mengiyakan, dengan lembut dia menggenggam tangan puterinya itu seraya tersenyum sayang "kalau kamu berhasil temuin dia, bilang sama dia kalau bunda ingin ketemu. Ada yang ingin bunda berikan sama Kafin"
"iya bunda" ujar Freya mengiyakan amanat yang bunda nya titipkan padanya.
Setelah memasukkan semua barangnya kedalam tas, juga menghubungi ojek online. Freya pun berpamitan pada sang bunda, tepat 10 menit kemudian, ojek online pesanannya datang dan mengantarkannya ke tempat yang Freya yakini jika Kafin ada disana. Semoga, Kafin belum berngkat ke Banten. Namun, tidak mungkin kan Kafin berangkat begitu saja, tanpa berpamitan pada Freya sahabatnya? Walaupun tidak dekat, mereka telah lama membuat kenangan serta memori masa kecil bersama-sama. Tidak mungkin kan, Kafin sejahat itu?
__ADS_1