Amanita phalloides

Amanita phalloides
jadi pacar gue


__ADS_3

"Lo gila Fin!! Huek!!"


Beberapa kali Freya memuntahkan isi perutnya. Kafin benar-benar gila, tanpa perasaan, dia benar-benar melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Tentu saja kejadian itu berhasil mengocok perut Freya, bahkan makanan malam yang belum sepenuhnya tercerna pun, akhirnya keluar kembali.


Tanpa memperdulikan kondisi Freya yang cukup mengenaskan, lelaki itu justru berjalan kearah mc untuk mengambil hadiahnya. Karena beberapa menit yang lalu dia berhasil memenangkan juara pertama. Ternyata dalam keadaan mabuk pun, Kafin tidak bisa dikalahkan.


"Antar gue pulang Ka" pinta Freya pada Arka yang sedang mengusap tengkuknya dengan minyak kayu putih.


"Gak mau nungguin Kafin dulu?" Tanya Arka tidak enak.


"Gak usah, biarin aja dia sendirian!! Mati kek mati, terserah!! Gue gak peduli" tegas Freya emosi.


Arka menganggukkan kepalanya mengiyakan, seraya membopong Freya menuju sepeda motornya diparkirkan. Kejadiaan hari ini pasti sangat mengguncang gadis itu, tentu saja Arka tidak menduga jika Kafin akan melakukan hal gila itu. Dia pikir, dengan membawa Freya kesini, dapat menenangkan Kafin yang sedang sangat kacau. Tapi ternyata sama sekali tidak.


Selama perjalanan menuju rumah Aretha, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Mereka sama-sama terdiam dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Freya tentu saja terguncang dengan apa yang baru dialaminya. Dia juga terlalu bingung untuk menghadapi Kafin kedepannya seperti apa.


Karena Freya pasti akan merasa cukup marah dan tidak akan bisa mengontrol emosinya. Namun, cukup berbahaya untuk membiarkan Kafin seorang diri, karena saat ini dia sedang butuh pendampingan. Kepergian orang tuanya benar-benar mengguncang Kafin. Walaupun Kafin sudah cukup gila sejak lama, namun kegilaannya saat ini benar-benar kegilaan yang tidak dapat dibiarkan. Harus ada orang yang menyadarkannya, jika melampiaskan kesedihan bukanlah dengan menyiksa diri sendiri.


***


"Bunda, Aya berangkat dulu" pamit Freya seraya menyendokkan satu suap nasi pada mulutnya.


"Makan dulu!!" Teriak sang bunda dari dalam toilet.


"Gak sempet bun!! Udah telat!!"


Setelah memastikan sepatunya terpasang dengan sempurna, gadis itupun berlari menuju keluar rumah.


"Astagfirullah!" Teriak nya terkejut ketika mendapati seorang laki-laki berdiri tepat didepan pintu.


"Ngapain lo disini?" Tanyanya sinis.


"Jemput lo lah, apa lagi" jawabnya.

__ADS_1


Freya memutar bola matanya malas, tanpa memperdulikan kehadiran Kafin, dia berjalan menuju jalan raya "gue udah pesen ojek" ujarnya acuh.


Kafin mencekal tangan Freya "lo berangkat bareng gue" ujarnya tidak terima.


"Gue udah pesen ojek" ucap Freya tanpa menoleh kearah Kafin.


"Lo berangkat bareng gue!" Tegas Kafin.


"Telinga lo kemasukan atau bagaimana? Gue udah pesen ojek!" Teriak Freya marah.


"Maaf"


Freya menghembuskan napasnya lelah, dia memutar tubuhnya kemudian menatap Kafin malas. "Oke" putusnya.


Dengan senyum sumringahnya, Kafin menarik tangan Freya menuju motornya.


"Pulangnya bareng sama gue yah, Aya" pinta Kafin seraya menyerahkan helm pada Freya.


"Iya" jawab Freya malas.


Dengan matanya yang berputar malas, Freya berdecih tidak suka. Tentu saja tindakan Freya itu, menghasilkan suara gelak tawa dari Kafin. Dasar lelaki tidak tahu diuntung!


****


"Besok pembagian rapot. Ibu harap kalian datang bersama orang tua ataupun perwakilan kalian" ujar Bu Nazwa, guru wali kelas.


"Baik buk" jawab semuanya bersamaan.


"Farrel, tolong bagikan surat ini" perintah bu Nazwa, sebelum meninggalkan kelas. Farrel pun berdiri dari duduknya kemudian mengambil tumpukan surat yang harus diberikan pada orang tua setiap murid. Tentunya siapa pun tahu, jika surat itu merupakan pemberitahuan kepada seluruh orang tua murid untuk hadir ke sekolah besok. Seperti apa yang dikatakan oleh bu Nazwa barusan.


Freya melirik Farrel sekilas, sebelum akhirnya kembali melanjutkan kegiatannya yang sedang bermain dengan Origami kesukaannya.


"Burung bangaunya bagus" komentar Kafin.

__ADS_1


Semenjak kejadian tadi pagi, Kafin terus saja mengikuti Freya. Kemanapun Freya pergi, maka Kafin akan berada disampingnya. Bahkan, dengan beraninya lelaki itu meminta Rara untuk bertukar tempat duduk dengannya. Tentunya Rara dengan senang hati bertukar tempat duduk dengan Kafin. Sungguh sangat mencurigakan. Sepertinya mereka berdua kembali melakukan kongkalingkong atau kerja sama yang bersangkutan dengan Freya.


Selama mengenal Rara, Freya cukup tahu jika Rara tidak suka bertukar tempat duduk dengan siapapun. Bahkan dengan Farrel pun, Rara tidak pernah mengijinkan. Sungguh Rara dan Kafin sangat-sangat mencurigakan.


"Makasih" ujar Freya.


"Sorry Aya, gue kemarin mabuk berat. Jadi gak bisa kendaliin diri gue" dengan wajah memelasnya, Kafin mengguncang tubuh Freya pelan.


Pergerakan Kafin terhenti saat Farrel berada dihadapan mereka, dengan senyumannya yang tidak pernah luntur, lelaki itu menyerahkan surat kepada Freya dan juga Kafin. "makasih" ujar Freya pada Farrel.


Lelaki itupun menganggukkan kepalanya mengiyakan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan tugasnya. Hah..... Freya benar-benar belum bisa terbiasa dengan keadaan ini, dia belum terbiasa untuk acuh pada Farrel. Karena selama ini, Farrel adalah dunianya. Segala hal yang dilakukannya, pasti berhubungan dengan Farrel.


"jangan balikan lagi sama dia" peringat Kafin, seraya menatap tajam kearah punggung Farrel.


"maksud lo?" tanya Freya tidak mengerti.


Terdengar suara helaan napas Kafin, sebelum akhirnya lelaki itu menyahut "jika seandainya dia ngajakin lo buat balikan. Jangan mau! Dia itu laki-laki brengsek yang hobi selingkuh" ujarnya emosi.


"omongan itu sepertinya cukup pas buat lo Fin, lo kan laki-laki brengsek yang hobi gonta-ganti cewek"


"aya,,, gue serius. Jangan mau lagi sama dia"


"ini hidup gue Fin, lo aja gak mau diatur-atur, masa lo seenaknya atur-agur hidup gue" tanpa memperdulikan ekspresi Kafin, Freya kembali melipat kertas warna, berniat membuat origami berbentuk kodok.


"oke, gue bakalan nurut sama lo. Asalkan lo mau jadi pacar gue. pasti gue bakalan berubah"


Untuk beberapa saat, Freya terdiam cukup lama dan mencoba mempertimbangkan apa yang baru saja dilontarkan oleh Kafin. Walaupun tidak menguntungkannya, tapi Freya mempunyai alasan untuk memperhatikan Kafin. Dia juga jadi punya alasan untuk melarang Kafin ini dan itu. Setidaknya, Freya bisa meminta Kafin untuk tetap hidup dan meluruskan jalan hidup dari pemuda itu.


"gak ada untungnya buat gue, males banget" tolak Freya.


"oke, apapun yang lo mau. Gue bakalan kabulin, asalkan lo mau jadi pacar gue, bahkan lo bisa latang gue buat balapan ataupun mabuk-mabukan" ujar Kafin dengan jaminan yang tentunya menggiurkan Freya.


"tabiat itu susah dirubah Fin, lo gak akan berubah. Kalau lo sendiri gak mau ngelakuin itu. Bahkan kalaupun lo janji sebanyak apapun, kalau lo gak mau berubah lo gak bakalan berubah" setelah mengatakan itu, Freya pun menghentikan kegiatannya kemudian menatap Kafin lekat.

__ADS_1


"dan asal lo tahu Fin, kalau gue nerima tawaran ini, maka hanya akan sebatas itu sampai kapanpun. Kita hanya akan pacaran kontrak dan gak akan berubah. Tapi ada satu hal yang harus lo tahu, kalau lo mau berubah, dan nepatin janji lo untuk menjadi lebih baik. Bukan tidak mungkin, gue bakalan suka sama lo"


__ADS_2