Amanita phalloides

Amanita phalloides
Freya sebodoh itu, dan Farrel sebrengsek ini


__ADS_3

"Lo liat Kafin gak?" Tanya Freya kepada Rara. Karena sedari sampai disekolah hingga kini jam istirahat pertama dimulai, Freya belum melihat sosok Kafin barang sedetik pun. Padahalkan tadi Freya berangkat bersama dengan pemuda itu, tapi kenapa dia justru tidak ada dikelas.


"Bolos kali. Dari kemarin kan dia gak masuk sekolah, karena masih dalam masa berkabung" jawab Rara.


Freya menggelengkan kepalanya cepat "Enggak Ra. Tadi pagi gue berangkat bareng sama dia" ujar Freya mencoba menjelaskan.


Rara menghentikan kegiatan makannya kemudian mencoba berpikir "coba lo telpon dia, takutnya dia kenapa-napa lagi" ujar Rara memberi saran.


Freya menganggukkan kepalanya setuju, dia merogoh ponsel miliknya kemudian menghubungi nomor Kafin. Namun gadis itupun harus menghembuskan napas kecewa. Beberapa kali dia menghubungi nomor sahabatnya itu, tapi tidak ada satupun yang diangkat. Padahal nomornya aktif, tentu saja hal tersebut membuat Freya semakin khawatir akan keadaan dari sahabatnya itu. Dia takut Kafin kenapa-napa.


"Gak diangkat?" Tanya Rara menebak.


Freya menganggukkan kepalanya lesu, padahal dia sangat khawatir kepada sahabatnya itu. Tapi sepertinya dugaannya benar, Kafin sepertinya menghindarinya. Entahlah, Freya merasa jika Kafin mencoba menghindarinya. Setelah pemakaman kedua orang tua Kafin beberapa hari yang lalu, pemuda itu selalu saja menghindari Freya, bahkan ketika gadis itu berkunjung kerumahnya. Dia memiliki beribu alasan untuk menolak menemui Freya, dari mulai mengunci pintu, menolak telpon dari Freya, sampai mengusir Freya dengan meminta bantuan dari pamannya.


"Gila banget si Kafin udah tawuran aja, padahal orang tuanya baru aja meninggal seminggu yang lalu kan?" 


Samar-samar Freya mendengar nama Kafin disebutkan oleh perkumpulan gadis yang berada disebrang mejanya. Lamat-lamat Freya mendengarkan obrolan mereka, siapa tahu dia bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Kafin saat ini.


"Tapi dia ganteng banget, apalagi pas mukul orang. Wah....gila aura badboy nya bener-bener keliatan"


Freya menganguk-anggukkan kepalanya setuju. Kafin emang ganteng dan juga badboy karena bergabung dengan anggota geng motor, tapi dia tidak pernah sekalipun melihat Kafin memukul orang. Freya melirik Rara yang ternyata sedang mendengarkan obrolan mereka.


"Kayaknya mereka tahu dimana si Kafin" ujar Rara dan Freya menganggukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


Keduanya beranjak dari duduknya dan menghampiri perkumpulan gadis tersebut. "Tadi kalian sebut-sebut nama Kafin, emangnya ada apa?" Tanya Rara to the point.


Keempat gadis itupun menghentikan obrolannya, kemudian menatap Rara serta Freya "emangnya kalian gak tahu? Si Kafinkan lagi tawuran sama anak sebelah" ujar gadis bernama Caca.


"Seriusan lo?" Tanya Freya tidak percaya.


Keempat gadis itupun menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya, videonya bahkan udah viral diinternet" ujarnya sembari menyodorkan ponselnya.


Freya dan Rara lamat-lamat memperhatikan tampilan video yang sedang diputar. Terlihat Kafin yang sedang memukuli seorang cowok berseragam sekolah dengan tanpa ampun. Freya bahkan menutup matanya, saking tidak tega dengan cowok yang dipukuli oleh Kafin. Sadis, benar-benar tanpa perasaan.


"Kalian tahu dia dimana sekarang?" Tanya Freya.


"Gak tahu kita. Tapi biasanya anak-anak yang suka bolos sekolah suka nongkrong di warung mang Kasim. Coba aja kalian cari disana, siapa tahu ada" 


Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya melangkahkan kaki mereka hendak kewarung mang Kasim. Mungkin hari ini akan menjadi hari yang sangat bersejarah, karena seorang Rara dan Freya mau menginjakkan kaki mereka ke warung tersebut.


****


"Lo tahu kan hubungan kita sudah berakhir semenjak lo jadian sama Zyva?" 


"Tapi gue gak pernah setuju" tolak Farrel.


Tadi ketika dia hendak pergi ke warung mang Kasim bersama Rara, Freya tidak sengaja berpapasan dengan Farrel. Laki-laki itu meminta Freya untuk mengobrol dengannya sebentar, Freya berusaha menolak karena tidak ingin lagi berurusan dengan Farrel. Namun sepertinya, dia memang harus mengobrol dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Walaupun hubungan keduanya sudah berakhir, tapi hubungan mereka berakhir tidak dengan cara yang baik-baik. Bahkan mungkin masih banyak kesalah pahaman yang belum keduanya luruskan. Karena itu, karena itu Freya mau mengobrol dan menyelasaikan masalah keduanya dengan cara yang baik-baik. Setidaknya dia tidak ingin ada masalah dikemudian hari, ataupun dendam yang tersisa dari hubungannya dengan Farrel dimasa lalu.


"Dengan lo ngomong kalau lo udah jadian sama Zyva, itu berarti lo udah setuju kalau hubungan kita sudah berakhir Rel"


"Gue gak mau Aya, gue suka sama lo. Gue gak mau lepasin lo gitu aja" 


"Rel, lo sangat tahu kalau gue gak suka diselingkuhin. Lo sangat tahu kalau gue benci perselingkuhan, dan lo lakuin itu. Selama ini gue selalu memaafkan semua kesalahan lo, bahkan ketika lo mau bunuh gue dengan memberi gue selai kacang. Gue maafin semua kelakuan lo, karena gue sayang sama lo, gue cinta sama lo dan berpikir lo pun sama. Lo suka sama gue juga"


"Tapi gue salah Rel, gue salah. Semuanya hanyalah ilusi yang gue ciptakan untuk membuat gue semakin terluka. Gue sayang sama lo, bahkan cinta yang gue miliki lebih besar dibandingkan rasa cinta lo sama gue, tapi gue gak bisa Rel. Gue gak akan pernah bisa ikhlas didua sama lo, gue gak akan pernah ikhlas diselingkuhin. Lo ngelukain gue dengan cara yang sama, seperti ayah ngelukain bunda. Dan itu sakit, sakit sekali"


Perlahan air mata Freya berjatuhan membasahi kedua pipinya. Dia pikir lukanya sudah sembuh, dia pikir dia sudah bisa berdamai dengan keadaan. Namun ternyata dia salah, selama ini dia hanya mencoba menutupi semua lukanya dengan kertas tisu. Hingga ketika angin topan datang, luka itu kembali menganga menyisakan beribu luka yang perlahan semakin menanah, karena tidak pernah diobati.


Farrel menjatuhkan kakinya, berlutut dibawah Freya. Dia menangis, menangisi semua perbuatan yang telah dia lakukan dimasa lalu. Ternyata benar kata pepatah, penyesalan selalu datang diakhir cerita. Begitu banyak luka yang pernah dia torehkan kepada gadis yang sangat dia cintai. Begitu banyak penyesalan yang hinggap pada hatinya, hingga membuat air matanya jatuh semakin deras.


Farrel menyesal, sangat menyesal. Seandainya Freya datang jauh lebih lama dibandingkan saat ini. Seandainya dia hadir dalam hidup Farrel ketika laki-laki itu memiliki begitu banyak keberanian dan kekuatan. Keberanian untuk memperjuangkan rasa cintanya, juga kekuatan untuk mempertahankan hubungan ini. Tapi Farrel hanyalah laki-laki biasa, dia hanyalah seorang anak yang akan dicap sebagai anak durhaka, jika membantah perintah kedua orang tuanya. Dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk mempertahankan orang yang dia cintai. Sejak awal dia kalah, kalah oleh kekuasaan bernamakan balas budi.


Freya mendudukkan tubuhnya,, berusaha mensejajari tubuh Farrel, dia memeluk tubuh laki-laki yang sangat ia cintai dengan begitu erat. Freya sadar dia sangat bodoh, dia sadar jika dia hanyalah gadis bodoh yang mencintai laki-laki yang bahkan tidak mencintainya. "Rel, mungkin kita hanya dipertemukan untuk sekedar membuat cerita. Kita dipertemukan bukan untuk  bersama-sama selamanya,, tapi untuk saling memdewasakan diri. Maaf Rel, mari kita akhiri hubungan yang menyakitkan ini. Aku sayang kamu, karena itu aku memilih pergi" ujar Freya tulus.


Mulut Farrel tidak mampu mengeluarkan kalimat sepatah katapun, bahkan ketika Freya beranjak pergi meninggalkannya seorang diri, Farrel hanya mampu diam tergugu dengan air mata yang terus saja mengalir. Ternyata seperti ini akhirnya, akhir dari rasa cintanya yang berakhirkan luka. Ternyata dia hanya menorehkan luka kepada gadis yang tidak tahu apapun,, tentang masalah hidupnya. Seandainya dia tahu akhirnya akan seperti ini, Farrel tidak akan pernah mendekati Freya ketika dia tidak sengaja bertemu dengannya diperpustakaan.


Adegan demi adegan kembali berputar dalam benak Farrel. Sekenario tuhan yang mempertemukannya dengan Freya, tanpa sengaja mampu membuat Farrel semakin dikuasai rasa bersalah. Dia takut, takut Freya akan trauma akan sebuah hubungan. Benar dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu beberapa detik yang lalu. Farrel menorehkan luka yang sama seperti apa yang sudah ditorehkan oleh ayahnya kepada bundanya.


Farrel menyesal, sangat menyesali semua perbuatannya. Dia sama brengseknya seperti laki-laki yang tidak cukup dengan satu wanita diluar sana. Yah, Freya sebodoh itu dan Farrel seberengsek ini, kombinasi yang sangat sempurna untuk saling menorehkan luka.

__ADS_1


__ADS_2