Amanita phalloides

Amanita phalloides
berbincang


__ADS_3

"Udah pulang kak?" Tanya Freya pada kak Darpa yang sedang duduk di teras rumah seraya menyesap kopi hitam miliknya. Terkihat kakaknya itu sednag membaca koran. Sungguh, pemandangan yang sangat asing untuk Freya lihat.


Secanggih apapun teknologi saat ini, sebanyak apapun berita yang disiarkan di tv ataupun di media sosial. Korang selalu menjadi tempat favorit bagi kak Darpa untuk mengetahui perihal berita-berita terkini. Saat Freya menanyakan perihal kebiasaan kakaknya itu, kak Darpa selalu mengatakan jika. Perkembangan jaman memang sudah secanggih sekarang. Tapi bukan berarti, berita yang diberitakan di koran tidak up to date. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada satu kertas ini, kakak tidak ingin mereka kehilangan pekerjaannya karena kurangnya ornag yang membaca koran. Biarlah seperti ini, lagian kakak tidak mengalami kerugian apapun. Kakak akan tetap membaca berita dari koran, hingga koran sudah punah di muka bumi ini.


"Heem, gimana pekerjaan kamu?" setelah kehadiran Freya, kak Darpa pun melipat koran yang dipegangnya saat ini. Kemudian menatap kearah adiknya itu.


Freya memutuskan untuk mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di sebelah meja kak Darpa. Kemudian menyantap kue kering yang berada diatas meja. "Lancar, toko bunda juga semakin rame" jawabnya.


"Kalau pekerjaan kamu di cafe Edelweiss gimana?" Kak Darpa pun ikut mengambil kue kering diatas meja, kemudian memakannya.


"Sekarang masih tutup sih kak, katanya kak Rafi masih stres sama skripsinya. Gak tahu kapan akan buka lagi, sepertinya Aya harus cari kerjaan di tempat lain lagi deh"


Karena cafe Edelweiss tutup, membuat Freya kehilangan salah satu sumber penghasilannya. Tidak ada yang tahu kapan kak Rafi akan menyelesaikan skripsinya dan membuka kembali Cafe. Jadi, opsi mencari kembali pekerjaan yang lain, telah gadis itu pikirkan sejak beberapa hari terakhir.


Terlihat kak Darpa yang meminum kopi miliknya, setelahnya lelaki itu menatap ke arah Freya "jangan terlalu memporsir tubuh kamu dek. Kamu juga harus ingat kalau sekarang kamu sudah kelas 12. Bukan waktunya untuk bermain-main. Kamu harus fokus belajar, dan lanjutkan pendidikkan kamu" ujar kak Darpa menasehati.


Sejak awal, kak Darpa memang tidak pernah setuju Freya bekerja, dia lebih suka Freya menghabiskan hari-harinya dengan belajar dan bermain. Intinya, nikmatin hidup masa muda, bukan malah fokus mencari uang. Karena ada satu hal yang tidak dapat diulang di dunia ini, yaitu sang waktu. Masa kanak-kanak, masa muda, masa dewasa dan masa lansia ,tidak akan pernah terulang kembali. Karenanya, Darpa ingin Freya menikmati hidupnya dan mencari teman sebanyak mungkin. Supaya, adiknya itu tidak menyesal suatu saat nanti.


"Selama ini Aya fokus belajar kok kak, kalau gak fokus, gak mungkin kan Aya dapat rangking satu" ujarnya sombong.


"Oh iya benar, kakak lupa kalau kamu tahun ini dapat rangking satu"


"Selama ini, kakak kan yang selalu fokus belajar. Dan adik mu ini, selalu bermain-main dalam hidupnya. Karena moto hidup Aya adalah, menghargai hidup dan serius bermain-main untuk hidup. Intinya yah santuy ajalah santuy, lagian gak ada kata terlambat di dunia ini" ujar Freya dengan bangga.


Kak Darpa yang gemas dengan tingkah adiknya itupun, mengusap surai kepala Freya gemas "kakak emang selalu kalah sama kamu" ujarnya.


"Oh iya kak? Gimana persiapan pernikahan kakak? Udah berapa persen?" Tanya Freya penasaran.

__ADS_1


Beberapa minggu terakhir, kak Darpa memang sedang disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Beberapa kali kakaknya itu pulang pergi Jakarta-Surabaya untuk memantau secara langsung persiapan pernikahannya. Karenanya, Freya mulai jarang bertemu apalagi mengobrol dengan kakaknya itu.


"Alhamdulillah lancar, persiapannya udah rampung 90 persen. Hanya tinggal sebar undangan" jawab kak Darpa seraya kembali menyesap kopi hitam miliknya.


"Kakak dengar dari Kafin, katanya selain jadi Vokalis, kamu juga jadi bartender? Kalau kamu bisa bikin kopi, kenapa gak pernah buatin untuk kakak?"


"Siapa bilang gak pernah buatin? Selama ini kan Aya yang selalu menyeduh kopi milik kakak" sanggah Freya tidak terima.


Kak Darpa menganggukkan kepalanya setuju "iya, kamu emang selalu buatin kakak kopi. Tapi selalu kopi sachet, gak pernah kan kamu buat kopi racikan kamu sendiri" ujar kak Darpa.


Freya kembali mengambil kue kering yang ada di meja, kemudian memakannya dengan cepat "yah,,, kan dirumah cuman ada kopi sachet" alibinya "kalau kakak mau cobain kopi racikan Aya, yah... dateng aja ke cafe Edelweiss" sambungnya.


Terdengar gelak tawa kak Darpa yang tertawa lepas seraya memegangi perutnya "hahaha. Iya deh iya, kakak emang selalu kalah sama kamu" ujarnya seraya kembali tertawa.


Freya mendelikkan matanya tidak suka. Hingga yang bisa dia lakukan hanya kembali menyantap kue kering dan menghabiskannya.


Baik Freya maupun kak Darpa, mereka menoleh ke arah bunda yang muncul dibalik pintu "kamu tolong anterin ini ke rumah Kafin, takutnya di rumahnya gak ada makanan" perintah bunda seraya menyerahkan satu rantang yang berisikan makanan.


"Loh bun? Kan Kafin baru aja makan disini"


"Iya bunda tahu, ini makanan buat dia makan besok pagi. Dia kan selalu sarapan pagi, takutnya dia gak ada makanan. Selama ini kan, Mawar yang selalu masak"


"Siap komandan. Akan Freya antarkan sekarang juga" ujar Freya seraya mengambil rantang yang diserahkan oleh bunda.


Tingkah laku Freya membuat Bunda sekaligus Kak Darpa geleng-geleng kepala. Memang segala tingkahnya selalu tidak terduga. Selalu saja ada hal yang membuat mereka tertawa ataupun kkhawatir.


****

__ADS_1


Dengan bersenandung ria, Freya berjalan kearah rumah Kafin yang tidak jauh dari rumahnya. "Halo mang udin" sapanya pada satpam komplek.


"Halo neng Freya, mau kemana?"


"Ini, mau ke rumah Kafin. Mang mau kerja yah?"


Mang Udin pun menganggukkan kepalanya "iya nih, lagi keleiling komplek" jawabnya.


"Semangat mang!! Kalau gak ada mang Udin, komplek ini gak akan aman dan tentram" uajr Freya seraya memberikan dua jempolnya pada mang Udin.


"Neng mah bisa aja. Udah yah, mang berangkat dulu. Assalamu'alikum" pamit mang Udin.


"Waalaikum sallam"


Setelahnya Freya pun berjalan kearah gerbang rumah Kafin, kemudian membukanya. Dia menyipitkan matanya ketika melihat sebuah mobil terparkir pada halaman rumah Kafin. Seingatnya, Kafin sudah menjual semua kendaraan miliknya, termasuk mobil peninggalan orang tuanya. Bahkan, motor kesayangan lelaki itu pun kini telah dijual.


Tanpa memperdulikan mobil tersebut, Freya pun berjalan kearah pintu. Mungkin sedang ada tamu, pikirnya. Disaat gadis itu hendak mengetuk pintu, secara tiba-tiba pintu rumah Kafin terbuka dari dalam. Kemudian muncul dua orang paruh baya di balik pintu.


"Eh, pak. Assalamu'alikum" ujar Freya seraya menyalami keduanya.


Tidak mungkin Freya tidak mengenal mereka, mereka adalah orang-orang yang menjadi pemilik di sekolah SMA Angkasa. Tempat dimana Freya mengenyam pendidikan saat ini.


"Wa'alaikum sallam. Kamu mau ngapain kesini?" Tanya pak Bisma sopan.


"Mau ketemu Kafin pak" jawab Freya tidak kalah sopan.


"Yaudah, bapak dan ibu pulang dulu yah? Ingat, jangan pulang malem-malem. Gak baik " nasihat pak Bisma seraya meninggalkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2