
Menerima adalah cara yang bijak untuk bertahan pada kenyataan hidup.
***
Setelah membayar biaya ongkos, Freya pun berjalan mendekati bengkel yang katanya tempat dimana Kafin bekerja. Dan benar saja, dari kejauhan gadis itu dapat melihat sosok Kafin yang sedang sibuk memperbaiki motor.
Penampilan Kafin, jauh berbeda dibandingkan penampilan lelaki itu biasanya. Kafin yang selalu terlihat rapi dan juga bersih, kini justru menggunakan pakaian yang sudah terkena banyak oli, bahkan rambut lelaki itu terlihat berantakan. Padahal, dia adalah orang yang akan memperhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kenyataan hidup memang semengerikan itu, Kafin dipaksa dewasa untuk tetap melanjutkan kehidupan.
Dari tempat Freya berdiri, dia dapat melihat salah seorang laki-laki yang menyadari kehadirannya. Terlihat lelaki itu berjalan kearah Kafin, kemudian berbisik padanya. Setelahnya, Freya dapat melihat sosok Kafin yang menatap kearahnya, sebelum akhirnya berjalan menghampiri tempat Freya berdiri.
"Ngapain disini?" Tanya Kafin setelah sampai dihadapan Freya.
"Tadi lagi jalan-jalan, terus gak sengaja lewat bengkel ini. Yah,, gue sekalian aja mampir, lo kan kerja disini" jawab Freya berbohong.
Kafin melipat kedua lengannya didepan dada, seraya mengangkat salah satu alisnya "terus ngapain bengong disini?" Tanyanya.
"Yah,,,, kayaknya lo lagi sibuk banget, kalau gue samperin takut ganggu" jawab Freya.
Terdengar suara helaan napas Kafin, sebelum akhirnya lelaki itu menarik tangan Freya kemudian membawa gadis itu masuk kedalam bengkel "gue gak sibuk banget sih. Kalau lo gak lagi buru-buru, lo bisa nungguin gue bentar disini" ujar Kafin setelah meminta Freya duduk pada salah satu kursi.
"Oke, gue tungguin" putus Freya.
Dengan senyuman manisnya, Kafin berjalan menuju tempat tasnya disimpan. Dia mengambil botol air mineral yang tadi sempat dia beli di minimarket. Setelahnya, dia pun berjalan kembali kearah Freya seraya menyerahkan air mineral tersebut "tadi gue beli minum, dan belum gue buka. Nih buat lo" ujarnya.
"Makasih"
"Gue lanjut kerja yah?" Ijinnya, dan Freya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
__ADS_1
Melihat Kafin yang bekerja begitu giat, membuat Freya perihatin dengan kehidupan sahabatnya itu. Freya tidak pernah membayangkan, seorang Kafin akan menjalani kehidupan seperti yang saat ini dia jalani. Sebagai anak tunggal, Kafin sangat dimanja oleh tante Mawar. Sebanyak apapun kesalahan yang telah dilakukan oleh dia, tante Mawar akan senantiasa membela dan melindungi Kafin.
Ingatan Freya kembali berkelana pada masa ketika dia masih kanak-kanak. Saat dia masih sangat dekat dengan Kafin. Saat itu, mereka sedang bermain robot-robotan di rumah Kafin. Yah, Freya Kecil memang sering bermain di rumah Kafin. Karena dirumah lelaki itu, terdapat banyak mainan anak-anak yang dihadiahkan oleh orang tuanya. Orang tua Kafin sangat sibuk bekerja, hingga untuk mengobati segala kesepian yang dirasakan oleh puteranya itu. Orang tua Kafin sering kali memberikan Kafin bayak mainan, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh lelakit itu. Seberapa mahal pun mainan yang Kafin inginkan, orang tuanya pasti akan mengabulkannya.
"Kalau sudah besar nanti, Kafin akan jadi apa?" Tanya Freya kecil.
Kafin yang saat itu sedang memainkan mainan motornya pun, menatap motornya dengan seksama, sebelum akhirnya mengangkat mainan motor itu tinggi-tinggi "aku akan jadi pembuat motor! Aku akan membuat motor yang tidak akan membutuhkan bensin! Motor yang bisa hidup sendiri" ujarnya bangga.
Karena kecintaanya dalam bidang otomotif. Semakin lama, Kafin semakin sering mengoleksi berbagai mainan motor-motoran. Bahkan, saat usianya menginjak masa remaja, Kafin meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan motor. Semakin lama, semakin banyak sepeda motor yang dimiliki oleh Kafin. Hingga akhirnya lelaki itu berteman dengan salah satu geng motor, kemudian bergabung bersama mereka.
Semakin lama, hubungan pertemanan keduanya semakin merenggang. Freya semakin jarang bertemu ataupun bermain dengan Kafin. Tapi bukan berarti mereka menjadi tidak saling mengenal, jika berpapasan, mereka pasti akan saling sapa ataupun sekedar bercanda ringan. Hanya saja, mereka tidak pernah lagi bermain bersama. Hingga hubungan mereka kembali membaik, disaat mereka bersekolah di SMA yang sama.
"Woy!! FREYA!!" Teriak Kafin seraya menggoyangkan tubuh gadis tersebut.
"Astagfirullah! Apaan sih fin?"
"Ngapain bengong? Yuk pulang" ajak Kafin seraya menarik tangan Freya supaya berdiri dari duduknya.
"Iya,,, udah selesai. Lo mikirin apaan sih? Sampai gue panggil-panggil gak denger?" Dengan serius Kafin manatap Freya.
"Enggak mikirin apapun kok. Kalau udah selesai, lo berarti udah boleh pulang kan?"
"iya, udah" jawab Kafin.
Awalnya, Kafin merekomendasikan untuk menaiki ojek online. Karena motor milik Kafin, kini telah terjual. Namun, Freya enggan memesan ojek. Dia lebih ingin berjalan kaki seraya mengobrol dengan Kafin. Kebetulan, jarak rumah dan tempat Kafin bekerja tidak begitu jauh.
"gimana pekerjaannya lancar?" tanya Freya seraya menyerahkan botol air mineral yang tadi diberikan oleh Kafin padanya. Karena tidak merasa haus, alhasil Freya tidak meminum, minuman pemberian sahabatnya itu.
__ADS_1
"lo gak minum?" tanya Kafin.
Freya menggelengkan kepalanya "enggak, gak haus" jawabnya
Kafin pun membuka air mineral tersebut kemudian meminumnya "pekerjaan gue lancar kok" ujar Kafin setelah selesai minum.
"pasti capek yah?"
"kalau ditanya capek, yah pasti capek sih Ya. Lo kan tahu kalau gue gak pernah hidup susah kayak gini. Tapi menurut gue, menerima adalah cara yang bijak untuk bertahan pada kenyataan hidup. Gue gak bisa hidup terus dalam keterpurukan. Sekalipun gue harus kerja dari pagi sampai pagi, gue akan lakukuin itu, asalkan rumah milik ornag tua gue gak disita oleh bank"
Freya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menatap Kafin lekat "ada yang ingin bunda bicarain sama lo. Jadi nanti lo makan malem dirumah gue yah?" pintanya dan disetujui anggukan kepala oleh Kafin.
Mereka sama-sama terdiam, seraya menatap sekelilingnya. Hembusan angin, menyejukkan keadaan yang terasa begitu panas. Kafin menghentikan langkahnya, kemudian menatap Freya lekat.
"hubungan lo sama Farrel, gimana?" tanyanya serius.
"gak gimana-gimana. Biasa aja" jawab Freya acuh.
Dengan tangan kanannya, Kafin mencekal tangan Freya "jangan bohong. Gue tahu kalau dia sedang deketin lo saat ini" ujarnya.
Freya menghembuskan napasnya, kemudian menatap Kafin "Dari Farrel, gue belajar apa itu memperjuangkan. Dan dari dia juga, gue tahu bangaimana rasanya disingkirkan"
"kalau dia bilang alasannya jahat sama lo selama ini, lo bakalan maafin dia"
"apapun alasan yang keluar dari mulut Farrel, tidak bisa menjadi pembenaran atas semua kelakuannya sama gue Fin"
Dengan bangga, Kafin merangkul bahu Freya "wih,,, ternyata lo udah benar-benar sadar yah" ujarnya bangga.
__ADS_1
Freya berdecih tidak suka mendengar celotehan Kafin. Dengan paksa dia melepaskan rangkulan tangan lelaki itu, kemudian berjalan medahuluinya.
"kalau gue minta lo buat nunggu gue. Lo bakalan nunggu?" tanya Kafin tiba-tiba.