Amanita phalloides

Amanita phalloides
kedatangan Ayah


__ADS_3

"Ayah?" Ujar Freya terkejut.


Dua sosok manusia yang sedang berbincang ringan itupun, seketika mengalihkan atensi mereka untuk menatap kedatangan Freya, putri kecil mereka yang kini telah tumbuh dengan baik dan menjadi remaja yang sangat cantik. Dengan wajah berbinar Adhikari-ayah Freya berjalan menghampiri Freya dan memeluknya erat.


"Sayang, ayah kangen banget sama kamu, kamu sudah tumbuh besar dengan sangat baik" ujarnya.


Freya terdiam mematung mendapatkan perlakuan seperti itu, dengan kedua tangan yang sedikit ragu. Freya akhirnya membalas pelukan sang ayah tidak kalah erat, dia juga menyembunyikan wajahnya pada dada sang ayah. Bohong jika dia tidak rindu kepada ayahnya, jauh dari apapun, Freya sangat merindukan sang ayah. Sosok laki-laki yang dulu pernah menjadi pelindungnya, sosok laki-laki yang selalu mendengarkan cerita-ceritanya yang terkadang tidak masuk akal dan sangat-sangat absurd. 


Dulu ayahnya selalu membuatkannya roti isi coklat, selalu setiap hari. Mungkin jika ayahnya tidak berselingkuh, saat ini keluarganya akan memiliki toko roti dan kue sebagaimana mimpi ayah dan bundanya dimasa lalu.


Keduanya melepaskan pelukannya kemudian berjalan kearah sofa, dibandingkan duduk bersama sang ayah, Freya lebih memilih untuk duduk disamping sang bunda. Walaupun dia merindukan sosok ayahnya itu, tapi bundanya jauh lebih penting juga berharga. Jika ditanya tentang siapa yang paling ia cintai, maka ia akan menjawab bundanya. Bahkan jika dia harus memilih antara menyelamatkan sang bunda ataupun ayahnya jika mereka tenggelam, maka tanpa ragu Freya akan memilih menyelamatkan sang bunda, karena ayahnya sangat jago berenang, jadi untuk apa ditolong? Heheh


"Bagaimana sekolah kamu?" Tanya sang ayah memulai obrolan.


"Alhamdulillah baik-baik aja yah" jawab Freya sembari tersenyum.


"Pasti kamu selalu rangking satu kan? Putri ayah kan sangat pintar"


Freya menggelengkan kepalanya "nggak yah, aku gak dapet rangking satu heheh. Temen-temen aku pinter-pinter soalnya" 

__ADS_1


"Mungkin usaha kamu yang kurang. Ayah denger kamu sudah punya pacar?" Freya menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban "siapa namanya?" Tanya sang ayah selanjutnya.


"Farrel yah" 


Adhikari menggelengkan kepalanya tidak menyangka "harusnya kamu jangan pacaran dulu, belajar dulu yang benar. Belajar dari kakak kamu, dulu dia bahkan gak pernah pacaran selama SMA. Karena itu dia bisa rangking satu pararel dan menang di setiap kompetisi yang dia ikuti".


Freya tersenyum kecut, inikan pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Kenapa pula harus membahas rangking dan juga pacaran. Ngapain juga ayahnya membandingkan dirinya dengan kak Darpa. Tahu kok tahu, kak Darpa sangat-sangat pintar selama sekolah. Selain selalu rangking satu, kak Darpa juga sering memenangkan olimpiade tingkat nasional, ataupun tingkat internasional. Kak Darpa itu pintar, sangat pintar. Tentu saja Freya berbeda dengannya, Freya sangat jauh dibawah kakaknya itu, bahkan kalaupun Freya tidak tidur. Dia tidak akan pernah mampu menandingi kejeniusan kakaknya itu.


Freya sendiri lumayan jago dibidang musik, suaranya juga sangat enak didengar, makanya dia sekarang bisa kerja part time sebagai vokalis band di cafe Edelweiss. karena itu juga Freya ingin sekali melanjutkan sekolahnya nanti dijurusan tersebut. Sangat berbeda jauh dengan kak Darpa yang lebih memilih jurusan robotik.


Sedari dulu, orang tuanya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan kak Darpa, bahkan sedari kecil Freya harus mengikuti berbagai les untuk berada disamping kak Darpa. Namun percuma, otak miliknya tidak seencer otak milik kakaknya itu dan pastinya dia akan selalu berakhir dimarahi dan diceramahi. Yang lebih parah, orang tuanya kerap kali menambah jumlah les Freya jika dirinya tidak mampu memenuhi setiap ekspektasi orang tuanya itu.


Sekarang semuanya telah berubah, aturan dalam rumah ini juga sudah berubah. Divya-bunda Freya tidak mau membuat luka lama yang sudah sejak lama mengering kembali basah. Jujur saja, Divya sangat menyesali semua hal yang terjadi dimasa lalu, dia sangat sadar kalau dia sudah gagal menjadi orang tua, baik dulu maupun sekarang. Karena itu dia tidak ingin membuat Freya kembali terluka, dengan mengingat kenangan-kenangan pahit dimasa lalu.


Adhikari menyodorkan sebuah map kearah Divya "apa ini?" Tanya Divya tidak mengerti.


"Surat cerai kita. Istriku saat ini ingin hubungan kami sah secara agama juga negara. Jadi karena itu kita harus segera bercerai. Kamu juga harus melanjutkan hidup kamu bukan? Kamu juga harus kembali menikah dan memiliki suami" ujar Adhikari tanpa beban, matanya menatap sekeliling rumah. Memperhatikan setiap detail yang terpajang dalam dinding. Semuanya masih sama, seperti sejak terakhir kali dia meninggalkan rumah ini. Bahkan foto keluarga masih terpajang dengan rapi di dinding.


"Lalu, untuk rumah ini....aku ingin kita membagi dua. Bagaimana pun, rumah ini dibeli dengan uang hasil pernikahan kita dulu. Jadi sudah sepentasnya untuk dibagi bukan?"

__ADS_1


Suara gebrakan meja terdengar begitu nyaring, amarah Freya tidak mampu dia bendung lagi. Bagi dua katanya? Kak Darpa dan bundanya dulu mati-matian mempertahankan rumah ini ketika hendak disita oleh bank, sebab semua hutang yang ditinggalkan oleh ayahnya dulu. Bahkan Freya masih mengingat dengan jelas, bagaimana para rentenir setiap hari mengambil barang-barang yang ada dirumah. 


Freya masih ingat ketika kak Darpa akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah, dia juga masih ingat ketika bundanya setiap hari keliling komplek untuk menjajakan kue buatannya. Semua kenangan pahit itu masih terekam dengan jelas dalam benak Freya. Sekarang orang tua itu ingin rumah ini dibagi dua? Orang gila, dia bahkan hanya meninggalkan hutang-hutangnya saja yang menggunung.


"Anda gila?!!" Teriak Freya.


"Aya jaga mulut kamu!" Bentak Adhikari tidak terima


"Anda bilang rumah ini milik anda? Anda bahkan hanya meninggalkan hutang yang tidak sedikit dengan jaminan rumah ini!!!" Bentak Freya marah. Dia benar-benar merasa kecewa kepada ayahnya. Padahal beberapa menit yang lalu, Freya sempat berpikir untuk memaafkannya dan menerimanya kembali. Ternyata ada udang dibalik batu, dia bersikap baik hanya karena menginginkan sesuatu.


"Kamu benar-benar tidak punya sopan santun Aya! Aku ayah kamu! Tidak sepantasnya kamu meninggikan suara kamu"


"Laki-laki bajingan seperti anda, tidak pantas untuk disebut ayah!!" 


"Freya hela!! Jaga mulut kamu!!" Bentak Adhikari marah, saking marahnya dia sampai berdiri dari duduknya dan menatap Freya dengan penuh amarah. Bukannya takut, Freya justru ikut berdiri dari duduknya seraya menatap ayahnya kecewa, ternyata orang brengsek akan selamanya brengsek. Berapa kali pun mereka diberikan kesempatan untuk berubah, mereka tetap akan melakukan kesalahan yang sama.


"Ini yang diajarkan oleh bunda kamu?! Tidak berhasil secara akademik, sekarang kamu bahkan tidak punya sopan santun! Apa yang bisa ayah banggakan dari kamu? Gak ada!!"


"Iya yah, gak ada! Karena sampai kapan pun Aya berusaha. Sampai mana pun Aya berjuang. Itu semua gak akan pernah berharga dimata ayah!!"

__ADS_1


__ADS_2