Amanita phalloides

Amanita phalloides
iya pelan-pelan


__ADS_3

Terkadang, ada kalanya kita harus bersabar untuk mendapatkan takdir yang baik. Terkadang, ada kalanya sabar bisa menjadi solusi dalam keruwetan sebuah permasalahan. Terkadang, cinta dan kasih sayang dapat membuat seseorang menjadi sosok yang penuh dengan kesabaran juga pemakluman.


"Mbak Rania kenapa bisa sabar nunggu kak Darpa?" Tanya Freya. Kedua muda-mudi itu, saat ini sedang memotong sayuran yang hendak mereka bakar nantinya. 


Untuk menyemangati Freya yang sebentar lagi akan ujian, keluarga nya memutuskan untuk mengadakan acara bakar-bakar kecil-kecilan di halaman rumah. Untuk menyemangati Freya sebelum ujian, sebenarnya hanyalah alasan belaka. Mungkin karena suasana rumah yang sangat sepi dibandingkan biasanya, membuat kak Darpa dan mbak Rania memiliki inisiatif hebat untuk membuat acara ini. Bahkan keluarga Kafin juga ikut-ikutan, sepertinya mereka juga membutuhkan refreshing sejenak dari beban pekerjaan mereka.


"Kamu kayak baru kenal mbak aja. Mbak kan udah pacaran dari jaman SMA sama kakak kamu, jadi gak mungkin mbak gak sabar nunggu dia. Kan mbak cinta sama kakak kamu" jawab Mbak Rania. 


Kafin datang menghampiri keduanya kemudian mengambil sayuran yang telah dipotong untuk dicuci "Kafin ambil yah mbak" ijinnya, setelah mbak Rania menganggukkan kepalanya mengijinkan, pemuda itupun mengambilnya kemudian melenggang pergi.


"Makasih yah mbak, makasih karena selalu ada di samping kak Darpa. Makasih juga karena udah berusaha ngerti dengan keadaan keluarga kami" 


Freya benar-benar merasa bersyukur karena mbak Rania berada disisi kak Darpa, bahkan ketika kakaknya itu berada di titik terendah. Ketika kak Darpa memutuskan untuk berhenti kuliah, ketika kak Darpa bekerja serabutan demi sesuap nasi, ataupun ketika kak Darpa memutuskan untuk bekerja di Manado. Freya benar-benar bersyukur karena mbak Rania, ada di hidup kak Darpa dan dengan sangat sabar menunggu kak Darpa. Bahkan ketika keluarga mbak Rania memaksa mbak Rania untuk segera menikah, mbak Rania lebih memilih untuk bertahan dengan kak Darpa dan menjelaskan keadaan kak Darpa saat ini kepada keluarganya.


Rania mengenggem kedua tangan Freya erat "Aya, kamu dan bunda udah mbak anggap sebagai keluarga mbak sendiri. Jadi jangan bersikap seperti ini. Mbak ngerasa sangat malu, karena kamu terus saja bersikap kayak sungkan gini sama mbak" ujarnya tulus.


Tanpa terasa air mata Freya berhasil jatuh dari pelupuk matanya, beberapa kali gadis itu berusaha menghapusnya, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan mbaknya itu. Namun, pelukan hangat yang mbak Rania berikan kepadanya, benar-benar berhasil meruntuhkan setiap dinding yang sudah Freya bangun.


"Mbak, makasih. Makasih banyak" kata Freya tulus, ternyata benar-benar ada orang yang tidak hanya parasnya saja yang cantik, tapi juga hatinya tidak kalah cantik.

__ADS_1


Freya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, jika mbak Rania tidak pernah ada dalam hidup kak Darpa juga dalam hidupnya. Walaupun mbak Rania merupakan seorang anak tunggal, tapi mbak Rania benar-benar mampu menjadi sosok kakak perempuan yang begitu baik bagi Freya. Beberapa kali Freya mencurahkan semua keluh kesah dalam hidupnya kepada mbak Rania, karena mbak Rania adalah sosok kakak perempuan yang mampu menjadi pendengar yang baik.


"Aya, jangan terlalu memporsir tubuh kamu. Mbak tahu kamu kerja part time untuk memenuhi kebutuhan kamu dan bunda. Darpa juga tahu, jadi mbak mohon jangan terlalu memaksakan diri. Mbak gak akan melarang kamu untuk kerja, karena mbak tahu kamu sangat suka dengan dunia musik, karena bernyanyi adalah hobi kamu. Tapi mbak mohon, kamu jangan lupa bahwa kamu punya seorang kakak laki-laki yang akan selalu menjadi pelindung kamu. Kakak laki-laki, yang akan dengan senang hati memenuhi semua kebutuhan kamu. Kamu juga jangan lupa bahwa kamu juga punya mbak" Rania melepaskan pelukannya dan menatap Freya lekat.


"Mbak, Aya gak mau terlalu merepotkan--"


"Suuut, jangan bicara kayak gitu. Cukup kamu sekolah dan menjalani hidup kamu dengan baik saja, sudah membuat mbak dan Darpa merasa cukup".


Freya tersenyum mendengar penuturan mbak Rania "mbak boleh Aya nanya sesuatu?" Rania menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Mbak emangnya gak masalah jika harus nikah sama kak Darpa yang memiliki tanggung jawab yang besar. Maksud aku, biaya hidup aku dan bunda selama ini selalu ditanggung oleh kak Darpa, walau tidak sepenuhnya. Tapi....." Freya tidak mampu melanjutkan pertanyaan yang sudah dia susun rapi dalam benaknya. Walaupun Freya sudah membuat plan untuk masa depannya, jika kak Darpa menikahi mbak Rania. Walaupun Freya sudah menabung untuk biaya hidupnya dengan bunda nantinya. Walaupun Freya sudah memutuskan untuk tidak kuliah, karena tidak ingin merepotkan kak Darpa, tapi Freya masih sangat penasaran dengan pendapat mbak Rania.


"Aya, mbak gak pernah merasa keberatan jika Darpa harus menanggung biaya hidup kalian. Bagaimanapun juga, dia adalah anak laki-laki satu-satunya. Walaupun suatu saat nanti dia menikah dengan mbak, tapi tetap saja surga Darpa ada di bunda, dan sudah sepantasnya Darpa menanggung kehidupan kalian" 


Freya tidak mampu berkata-kata lagi, bagaimana bisa mbak Rania memiliki hati yang begitu baik "Aya, dibandingkan merasa kesal, justru mbak merasa sangat bangga dan bersyukur karena memiliki kakak kamu. Dia laki-laki yang sangat bertanggung jawab, sama kamu dan bunda saja dia sangat bertanggung jawab. Apalagi sama mbak nantinya" ujar mbak Rania melanjutkan.


"Asik banget kayaknya"


Freya dan mbak Rania secara bersamaan menoleh kearah pintu. Terlihatlah kak Darpa yang sedang berdiri diambang pintu, dengan bersedekap dada sembari tersenyum lebar. Freya tidak tahu sejak kapan kakaknya itu berdiri disana, dia juga tidak tahu apakah kakaknya itu mendengar semua perbincangannya dengan mbak Rania atau tidak.

__ADS_1


"Apaan sih kak, ganggu aja" ujar Freya kesal.


"Cuman mau ngasih tahu, Farrel cintaku lagi nunggu didepan" ujar Darpa menjelaskan alasan kedatangannya.


Freya berdecih tidak suka mendengar ejekan kakaknya itu.


"Udah jangan natap kayak gitu, cepet temuin pacar kamu itu"


"Makasih kakakku sayang" ujar Freya seraya mengecup pipi Darpa sekilas, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan sepasang kekasih tersebut.


"Makasih" ujar Darpa tulus, dia berjalan menghampiri Rania dan duduk disampingnya.


"Untuk?" 


"Makasih karena sudah menjelaskan semuanya kepada adik aku. Selama ini aku selalu meminta dia untuk tidak terlalu sering bekerja, tapi dia terus saja menolak. Selama ini aku juga selalu meminta bunda berhenti membuat kue-kue pesanan, tapi bunda juga tidak mau mengerti. Aku tahu selama ini mereka bekerja, supaya mereka tidak terlalu bergantung sama aku, tapi sekarang aku juga udah punya pekerjaan tetap, aku juga udah kembali kuliah dan tinggal wisuda. Tapi berapa kalipun aku mengatakan bahwa aku masih sanggup menanggung semua kebutuhan mereka, mereka tidak mau mendengar ucapanku. Aku tahu kalau menyanyi merupakan hobi Aya, tapi aku gak mau dia terus saja pulang malam. Aku cuman ingin dia menikmati hidupnya sebagai gadis remaja pada umumnya, aku cuman ingin dia hidup seperti apa yang dia mau"


Rania memeluk tubuh Darpa erat "gak papa, kita jelasin pelan-pelan. Kita gak bisa maksa orang lain untuk hidup seperti apa yang kita mau, mereka butuh tempat yang luas untuk terbang. Sayang, Aya mungkin cuman ingin bersiap-siap dari sekarang sebelum kamu pergi nantinya. Dia takut kamu gak bisa nanggung hidup dia dan bunda lagi jika kamu menikah, karena itu dia sudah menabung untuk masa depannya dari sekarang. Kita cuman bisa memberikan dukungan yang terbaik buat Aya, kita bisa membuktikan bahwa semua yang dia pikirkan tidak benar adanya. Pelan-pelan kita buat dia mengerti. Oke?"


Darpa menganggukkan kepalanya mengiyakan. Iya pelan-pelan.

__ADS_1


__ADS_2