
"Mending sepatu kets atau sepatu hels?" Tanya Aretha pada Kafin.
Saat ini, keduanya sedang berada di mall setelah selesai mengukur pakaian di rumah bu Ratna. Karena Freya baru menyadari jika dia tidak memiliki sepatu yang bisa dia kenakan untuk datang ke pesta pernikahan.
"Yang menurut lo nyaman aja sih Ya" jawab Kafin seraya melihat-lihat sepatu yang berjejer dihadapannya.
Fteya mendelik tidak suka setelah mendengar jawaban Kafin. Gadis itu pun mulai berkeliling area toko dan melihat-lihat sepatu yang cocok untuk dia kenakan.
"Sapatu sekolah gue udah rusak banget. Kayaknya sepatu kets bisa ngebuat pengeluaran gue berkurang. Tapi gue pengen banget beli sepatu hels ini" ujar Freya bimbang.
Kafin menghembuskan napasnya lelah, dia pun mulai memperhatikan 2 sepatu yang menjadi pilihan Freya. Sudah hampir satu jam mereka berkeliling mall, dan di toko ini akhirnya Freya menemukan sepatu yang cocok dengan seleranya. Sayangnya, kini Kagin harus menunggu lagi, karena gadis yang berada di sampingnya ini justru malah bimbang dengan pilihan sepatu yang harus dibelinya.
"Beli dua-duanya aja sih, gak usah ribet" jawab Kafin acuh.
"Boros banget, uang aku gak cukup Fin" keluh Freya seraya kemabali menimbang-nimbang sepatu mana yang akan dia beli.
"Yaudah sepatu kets aja" ujar Kafin.
__ADS_1
"Tapi aku pengen sepatu hels ini Fin"
Entah berapa kali Kafin menghembuskan napasnya lelah "Yaudah,, beli sepatu hels nya aja" ujar Kafin lelah.
"Tapi boros Fin. Kalau aku beli sepatu hels sekarang, nanti aku harus beli lagi sepatu buat sekolah" Freya benar-benar sibuat bimbang dengan pilihannya. Dia ingin keduanya, tapi dia tidak rela jika harus mengorbankan sebagian uangnya untuk membeli sepatu yang jarang diguanakan kesehariannya.
Kafin pikir, dia sudah banyak mengerti perihal sikap wanita. Dia pikir, dengan jumlah mantannya yang tidak sedikit, dia sudah pantas disebut master dalam hal mengerti sikap dan tindakan wanita. Tapi ternyata, dia tidak lebih dari laki-laki pada umumnya, dia pun akan kalah dihadapan orang yang berjenis kelamin wanita.
Kali ini pun, entah stok sabar berapa lagi yang Kafin keluarkan untuk mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh Freya. Dengan napas berat yang dia keluarkan untuk kesekian kalinya, Kafin menatap Freya lemah "beli dua-duanya aja Aya" ujarnya pasrah.
"Gak bisa Fin, lo kan tahu kalau gue gak punya uang sebanyak itu" tolak Freya, seraya kembali memperhatikan 2 sepatu yang menjadi pilihannya.
Freya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. "Gak mau, gak boleh. Yaudah deh beli dua-duanya aja" ujarnya seraya mengambil sepatu pilihannya kemudian berjalan kearah meja kasir.
Dibelakangnya, Kafin menggelengkan kepalanya lelahnya. Ternyata, seperti ini rasanya berbelanja dengan wanita. Jika memang mau dibeli dua-duanya, kenapa Freya harus bimbang selama hampir setengah jam. Seharusnya dia beli saja dua-duanya sejak awal, bukannya malah membuang-buang waktu dengan cara yang tidak berguna!.
***
__ADS_1
"Selama liburan lo bakal lakuin apa aja Ya?" Tanya Kafin seraya menyantap nasi goreng yang baru saja diberikan oleh mamang pedagang.
"Bantuin bunda di toko. Lo sendiri gimana?"
Nasi goreng mang maman jangan pernah diragukan lagi, bumbu kecap dan juga garamnya menyatu dengan sempurna. Sayuran, sosis, bakso serta telur menjadi teman nasi yang benar-benar enak ketika disatukan. Memiliki hobi makan, ternyata begitu mengenakan. Karena Freya jadi tahu tempat mana yang rasa makanannya enak. Yah,,, walaupun resikonya Freya harus mengeluarkan uang dengan kocek yang tidak sedikit.
"Gue bakal ikut paman Raskal ke Banten" jawabnya.
"Tumben"
"buat kerja sih lebih tepatnya"
Aretha menghentikan kegiatan makannya, lalu menatap Kafin lekat "kerja? Kenapa?" tanyanya.
"ada aja deh" Jawab Kafin.
Freya memberenggut kesal, sebelum akhirnya kembali menyantap nasi goreng miliknya dengan khidmat.
__ADS_1
"orang tua gue tidak hanya ninggalin penyesalan yang mendalam bagi gue. Tapi mereka juga meninggalkan hutang dengan jumlah yang tidak sedikit" ujar Kafin parau.
"hutang?"