Amanita phalloides

Amanita phalloides
bantu gue buat suka sama lo


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu lamanya sejak kejadian malam itu, selama satu minggu pula Farrel tidak pernah mengungkit kejadian malam itu. Mungkin karena pada dasarnya Farrel tidak peduli pada Freya, jadi dia tidak sedikitpun merasa khawatir dengan kondisi Freya. Dikarenakan jadwal ujian akhir semester yang sebentar lagi, banyak sekali siswa dan siswi yang lebih memilih berdiam diri di perpustakaan untuk belajar. Perpustakaan sekolah memang pilihan yang paling tepat jika ingin belajar di waktu luang, karena selain suasananya yang hening. Perpustakaan di sekolah ini memiliki banyak sekali koleksi buku-buku yang terbilang sangat lengkap.


Freya memilih perpustakaan untuk dirinya belajar di jam istirahat. Ucapan ayahnya saat itu masih saja membekas dalam benak Freya, mungkin yang ayahnya ucapkan memang benar adanya. Selama ini Freya lebih memilih bermain ataupun bekerja dibandingkan belajar, karena dia merasa otaknya butuh refresing. 


Mau dikatakan seperti apapun, otak Freya sudah sangat lelah karena dipaksa bekerja begitu keras ketika disekolah, jadi tidak masalah bukan jika dia istirahat sejenak ketika sudah pulang? Lagian Freya bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Selelah apapun ataupun selarut apapun, Freya pasti akan mengerjakan tugas sekolahnya dengan sangat baik. Walaupun dia tidak memiliki kepintaran yang sama seperti kak Darpa, tapi sikap rajin Freya jangan pernah diragukan.


"Lo belajar disini juga?" Tanya Farrel, dia memutuskan untuk duduk pada kursi yang berhadapan langsung dengan Freya. 


Freya mengalihkan atensi matanya dan menatap orang yang baru saja bertanya kepadanya "iya" jawab Freya seadanya.


Bohong jika Freya mengatakan bahwa dia tidak marah kepada Farrel, dia sangat marah juga kecewa kepada pacarnya itu. Bagaimana bisa pemuda itu bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Walaupun Freya tahu kalau Farrel tidak akan peduli dan tentunya tidak akan berubah, tapi masa harus selalu Freya yang mengalah? Bagaimana pun Freya manusia biasa, dia bisa ngerasain lelah dan juga capek.


"Jutek gitu, senyum dong" 


Freya memutar bola matanya kesal "orang kayak lo, gak usah disenyumin" ujar Freya sinis.

__ADS_1


Farrel tertawa melihat tingkah Freya, dia mencubit pipi kiri Freya gemas "pacar gue kok lucu banget"


Jika ada penghargaan untuk laki-laki plin plan, maka Farrel pasti mendapatkan juara pertama. Farrel hobi sekali berubah-rubah. Hari ini dia bisa bersikap manis, besoknya dia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat menyebalkan. Freya sendiri merasa bingung dengan sosok Farrel yang sebenarnya. Apakah dia memang orang yang sangat baik, perhatian, dan manis ataukah dia adalah seseorang yang tempramen, kasar, dan jahat?


Freya benar-benar dibuat kesal dengan tingkah Farrel, dibandingkan belajar, pemuda itu justru terus saja mengganggu konsentrasi Freya. Farrel yang awalnya duduk dihadapannya, kini telah berpindah menjadi disampingnya. Dia terus saja memperhatikan Freya dan memainkan rambutnya.


"Lo cantik banget kalau lagi konsentrasi gini" monolog Farrel. 


"Sorry, gue tahu gue salah banget malam itu karena gak jemput lo. Harusnya sesibuk apapun, gue tetep harus prioritasin keselamatan lo"


Walaupun mata dan tangan Freya masih saja fokus mengerjakan soal, tapi telinga dan pikiran Freya tetap mendengarkan penjelasan Farrel. Penjelasan yang sudah Freya tunggu-tunggu sejak beberapa hari terakhir. Jujur saja, Freya sangat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Farrel dan Zyva malam itu, kenapa pula mereka masih bersama padahal hari sudah malam.


"Zyva sakit, jadi gue nemenin dia" jawab Farrel.


Freya tertawa hambar mendengar jawaban Farrel "Lo pikir gue percaya? Kalau emang dia benar-benar sakit, kenapa besoknya dia masih berangkat sekolah? Bahkan dia masih segar bugar. Bahkan saat lo jalan sama gue, lo ninggalin gue hanya karena dapet telpon dari Zyva. Alasan lo selalu sama, Zyva sakit. Padahal malemnya gue ngeliat instastory dia yang lagi berenang malem-malem, orang sakit mana yang mau berenang. Harus dengan alesan apa lagi gue percaya sama lo, sedangkan semua yang lo ucapin sangat bertentangan dengan fakta yang gue temuin"

__ADS_1


Freya sadar, tidak seharusnya dia bersikap kekanakan seperti ini, selama ini dia bisa bertahan dengan sikap Farrel yang seperti itu. Namun keadaan Freya saat ini tidak memungkinkan untuk berpikir positif, selain karena persiapan ujian yang sedang dia laksanakan. Perpisahan kedua orang tuanya benar-benar membuat Freya kepikiran setengah mati. Freya takut, dia takut perjuangannya akan berakhir sama seperti perjuangan bundanya. Dia takut Farrel akan seperti ayahnya yang lebih memilih wanita lain. 


Ketika melihat kedekatan Farrel dengan Zyva, Freya merasa sedikit demi sedikit posisinya dalam hidup Farrel telah tergeser. Freya semakin menyadari bahwa selama ini Farrel tidak pernah mengatakan kalau dia cinta kepada Freya. Walaupun terkadang pemuda itu bersikap seakan-akan dia mencintai Freya, tapi kata cinta belum pernah terucap dari mulutnya.


"Gue gak bisa bilang Zyva sakit apa, karena itu bukan ranah gue buat ngomong"


"Sekalipun sama gue? Gue pacar lo Rel, walaupun lo gak bisa mengatakan secara gamblang Zyva sakit apa. Tapi setidaknya berikan gue penjelasan, supaya gue bisa percaya sama lo. Supaya gue gak pernah ragu sama lo!" 


Beruntung keduanya saat ini sedang berada diruang belajar yang disediakan di perpusatakaan. Jarang sekali orang yang memilih belajar diruangan ini karena jaraknya yang cukup jauh dengan rak-rak buku.


"Gue selalu percaya sama lo. Gue bahkan selalu percaya bahwa hubungan lo dengan Kafin hanya sebatas sahabat. Bahkan ketika dia dengan berani ngerangkul lo dihadapan gue. Ataupun lo yang meluk Kafin setiap dibonceng dia. Gue selalu berusaha untuk gak marah karena gue percaya dengan hubungan lo dengan dia. Jadi gue harap lo percaya sama gue, gue pacar lo dan gue yakin lo sangat tahu kalau gue benci yang namanya perselingkuhan" 


Tangan Farrel bergerak menggenggam kedua telapak tangan Freya erat, sorot matanya menatap dengan ketulusan. 


Freya menundukkan kepalanya dalam "gue emang pacar lo. Tapi gue tahu siapa orang yang lo cintai, bukan gue kan? Tapi Zyva" walaupun hatinya benar-benar serasa teriris, Freya tetap mampu tersenyum dengan lebar ketika mengatakannya.

__ADS_1


Sangat bodoh jika Freya tidak menyadari Fakta tersebut. Senyuman yang Farrel berikan kepada Freya sangat jauh berbeda dengan senyuman yang dia berikan kepada Zyva. Senyuman penuh ketulusan juga kasih sayang. Bahkan sorot matanya ketika menatap Zyva sarat akan cinta.


Mata Freya membulat sempurna ketika Farrel secara tiba-tiba memeluknya erat "sorry gue belum bisa cinta sama lo. Tapi setiap kali gue berada di sisi lo, gue sangat-sangat nyaman. Jadi gue mohon jangan tinggalin gue dan bantu gue buat suka sama lo"


__ADS_2