
Hutang, satu kata yang terasa ringan, namun sebenarnya memikul tanggung jawab yang begitu berat. Disaat manusia meninggal dalam keadaan memiliki hutang, maka rohnya akan tergantung dilangit. Karenanya, jangan menghutang apalagi hanya untuk gaya hidup. Hanya untuk dipamerkan kepada orang lain. Karena umur tidak ada yang tahu, bisa jadi Allah meminta untuk pulang, disaat kita belum sempat melunasi hutang-hutang tersebut.
Kafin sendiri tidak tahu, dia tidak tahu jika kedua orang tuanya memiliki hutang dengan jumlah yang tidak sedikit. 3 hari setelah kematian kedua orang tuanya, orang-orang bank datang seraya mengatakan padanya jika rumah yang dia tempati saat ini akan disita. Bahkan makam kedua orang tuanya masih belum kering, kesedihannya bahkan belum usai. Namun dia harus menghadapi kenyataan dunia yang begitu menyakitkan.
Bisnis yang dikelola kedua orang tuanya bangkrut. Dengan ide untuk membuat bisnis yang baru, mereka akhirnya meminjam uang dari bank. Sayangnya, tanpa sempat memulai bisnis itu, kedua orang taunya ditipu oleh rekan bisnis nya sendiri. Mereka membawa kabur uang hasil meminjam dari bank. Dengan sedikit harapan, mereka akhirnya meminjam kembali uang dari bank untuk membuat bisnis yang baru. Kali ini, mereka berbisnis tanpa bekerja sama dengan siapapun. Sayangnya, bisnis itupun tidak berjalan dengan baik, mereka pun harus menghadapi kenyataan jika kini mereka harus gulung tikar.
Tanpa sepengetahuan Kafin, mereka bekerja pada sebuah perusahaan milik teman mereka dan secara rutin membayar hutang-hutang mereka yang tentunya tidak sedikit. Namun, ajal tidak ada yang tahu, mereka dipanggil sang maha kuasa tanpa sempat membayar seluruh hutang mereka. Hingga akhirnya, satu-satunya anak yang mereka tinggalkan didunia, harus membayar hutang-hutang mereka yang tentu saja tidak sendikit.
Dulu Kafin terlalu fokus pada dunianya, hingga tidak menyadari jika kedua orang tuanya hidup dengan susah payah. Bahkan dia menghambur-hamburkan uang yang susah payah orang tuanya hasilkan. Padahal Kafin anak satu-satunya, bisa-bisanya dia tidak menyadari segalanya. Kini, Kafin benar-benar menyesali segala hal yang telah dia lakukan dulu.
Dengan bantuan paman Raskal, akhirnya pihak bank memberikan Kafin waktu 1 tahun untuk membayar hutang-hutang orang tuanya. Waktu 1 tahun adalah waktu yang sangat sebentar bagi anak sekolahan sepertinya. Bahkan 2 tahun saja, belum tentu Kafin dapat mengumpulkan uang sebanyak itu.
Mobil, motor, bahkan barang-barang berharga yang berada di rumahnya telah dijual, namun belum cukup untuk menutupi hutang yang di miliki kedua orang tuanya.
"Gue bakalan berhenti sekolah Ya, setidaknya gue bisa fokus buat cari uang. Gue gak akan pernah ikhlas rumah yang gue tempati di sita gitu aja" ujar Kafin seraya menyesap kopi hitam miliknya.
Suasana rooftop memang cocok disandingkan dengan kopi. Apalagi dengan ditemani bintang-bintang yang bersinar dengan terangnya, serta padatnya lampu-lampu kota yang menyala dengan indahnya. Namun, keindahan tempat ini tidak mampu menenangkan pikiran Kafin. Pemuda itu sudah sangat kalut dengan masalah yang hinggap dalam hidupnya.
__ADS_1
"Gue punya tabungan, memang gak banyak. Tapi bisa sedikit ngurangin beban yang lo pikul saat ini" ujar Freya seraya menyerahkan buku tabungannya.
Secara halus, Kafin menolak buku tabungan yang Freya sodorkan. Dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya, dia menatap Freya malu "jangan bikin gue malu Ya. Gue cerita karena butuh teman bersandar. Bukan buat minjem uang sama lo" ujarnya.
"Enggak Fin, maaf banget kalau lo ngerasa tersinggung. Tapi sebagai sahabat, gue pengen bantuin lo. Walaupun bantuan dari gue mungkin gak banyak dan gak terlalu berpengaruh, tapi gue harap lo terima"
Kafin tertunduk dalam, padahal dulu dia begitu sombong, dia begitu bangga memamerkan hartanya pada orang-orang. Namun, kesombongannya itu ternyata tidak dapat membantu kesulitan yang saat ini mencekiknya.
Harga diri Kafin begitu tinggi, bagaimana mungkin dia menerima uang yang susah payah dikumpulkan oleh gadis yang dia cintai. Mau ditaruh dimana muka Kafin? Walaupun harga dirinya sudah jatuh, tapi di hadapan Freya? Setidaknya dia ingin tampil dengan baik.
"Enggak Ya, uang ini kan lo kumpulin buat biaya kuliah. Gue gak bisa nerima ini" tolaknya lagi.
Tidak mungkin Kafin tidak terenyuh mendengar ucapan Freya. Kini, dia sudah benar-benar tidak memiliki harga diri lagi. Kemana perginya Kafin yang dengan bangganya mengatakan, pantang hukumnya perempuan membayar biaya belanja, harus laki-laki yang memenuhi segala kebutuhan wanita.
Dengan sedikit ragu, Kafin membalas pelukan Freya. Dengan menerima uang ini, bukan berarti Kafin tidak akan menggantinya. Setelah semua hutang-hutangnya lunas. Pasti lelaki itu akan membalas segala kebaikan Freya dengan berlipat-lipat.
***
__ADS_1
"Lo beneran bakalan berhenti sekolah?" Tanya Freya seraya menatap Kafin penuh tanya.
"Iya" jawab pemuda itu seraya menganggukkan kepalanya.
"Tinggal satu tahun lagi loh. Lo gak sayang?"
"Pihak bank beri gue konpensasi satu tahun Ya. Kalau gue tetep sekolah, rumah gue akan disita. Gue gak punya banyak waktu. Urusan sekolah, gue bisa ngejar paket C. Jadi, lo gak usah khawatir"
Dengan tangan yang mengusap punggung Kafin pelan, Freya menatap pemuda itu prihatin "gue yakin lo bisa lewatin ini semua. Semangat!!" Ujarnya dengan kedua tangan yang dikepalkan.
Kafin tertawa lepas melihat tingkah gadis dihadapannya. Melihat tawa Kafin, membuat Freya tersenyum lega. Kondisi Kafin mirip dengan kondisi keluarganya dulu. Saat ayah meninggalkannya dengan hutang yang begitu banyak.
Bahkan saat itu, kak Darpa rela berhenti kuliah demi bekerja dan membayar hutang-hutang tersebut. Bedanya, dulu Freya dikelilingi bunda dan kakak yang senantiasa berada disampingnya. Saat ini, Kafin hidup sebagai anak yatim piatu. Tidak seperti Freya yang kehilangan sosok ayah, Kafin justru kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan. Tidak ada lagi tempat bersandar bagi pemuda itu. Bahkan kini, rumah tempatnya pulang pun akan direnggut oleh pihak bank.
"Aya, makasih. Makasih karena sudah menyadarkan gue" ujar Kafin tulus.
Disaat masa kalapnya, Kafin bahkan berpikir jika mati menjadi solusi yang baik untuk kondisinya saat ini. Oma dan Opa nya saja, tidak bisa membantu kondisinya saat ini. Hanya ada paman Raskal yang senantiasa berada disisinya, mendukungnya, bahkan pamannya itu rela menjual rumahnya di Banten demi membayar hutang kakaknya itu.
__ADS_1
Seandainya malam itu Freya tidak datang dan menyadarkannya, mungkin saat ini Kafin telah tiada. Dia belum siap dengan kondisinya saat ini, namun kini Kafin sadar jika, bun*h d*r* bukanlah pilihan yang baik.