
Terkadang, menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, akan terasa sangat menyenangkan jika dilakukan bersama orang yang membuat kita nyaman. Terkadang, memakan kuaci akan terasa sangat enak, jika kita memakannya sembari menonton film. Freya pikir, malam ini dia akan kembali menangis karena baru putus dari Farrel, tapi siapa yang menduga kehadiran Rara justru mengubah mood Freya menjadi sangat baik.
"Lo tahu dari mana gue putusin Farrel?" Freya benar-benar tidak menduga Rara akan datang kesini dan menginap untuk menghibur dirinya.
"Kafin. Tadi dia nelpon gue dan bilang lo udah putus" jawab Rara, dia masih dengan santainya menonton film korea sembari memakan kuaci.
"Dia nyeritain alasan gue putus?"
Dengan segera Rara menggelengkan kepalanya "enggak, dia cuman ngasih tahu aja lo baru putus dan minta gue buat nemenin lo biar gak sedih"
"Tumbenan lo nurut sama dia?" Tanya Freya heran. Sedari dulu, Rara dan Kafin merupakan dua manusia yang sudah seperti anjing dan kucing. Mereka tidak pernah akur dan selalu saja bersaing. Bahkan untuk hal rangking.
Rara menangkup kedua pipi Freya seraya menatap sahabatnya itu lekat "lo itu sahabat gue. Gak mungkin gue gak nemenin lo yang baru aja patah hati. Dengan atau tanpa perintah dari Kafin, gue akan tetep dateng buat nemenin lo" ujar Rara menjelaskan, setelahnya dia melepaskan kedua tangannya dari kedua pipi Freya.
"Ini kan lagi masa-masa ujian. Seingat gue, orang tua lo gak akan pernah ngijinin lo keluar pas masa-masa ujian gini"
Mungkin karena kedua orang tua Rara seorang guru, alhasil Rara harus mendapatkan nilai yang bagus ketika ujian. Bahkan dulu, Rara pernah nangis-nangis pada Freya karena orang tuanya benar-benar tidak mengijinkan Rara main-main ke luar. Karena Rara sering kabur, orang tuanya akhirnya memiliki inisiatif untuk memasang kamera CCTV, tepat didepan pintu kamar Rara juga jendela belakang.
"Plis jangan bahas itu, lo kan tahu semenderita apa gue kalau lagi masa ujian gini"
"Jangan bilang lo kabur lagi"
__ADS_1
Rara tersenyum kikuk mendengar tebakan Freya. Entah karena terlalu sering kabur atau karena memang hubungannya sudah sedekat itu, sehingga Freya mampu menebaknya dengan benar. "Heheh. Lo kan tahu kalau gue akan pernah diijinin nginep, apalagi pas masa-masa ujian gini"
"Telpon gih orang tua lo. Kasian mereka pasti lagi nyariin lo sekarang" perintah Freya.
Dengan cepat Rara menggelengkan kepalanya "enggak, nanti gue disuruh balik" tolaknya tegas.
Freya menghembuskan napasnya lelah "Ra, jangan kayak gini. Orang tua lo pasti sangat khawatir sekarang. Terlepas nanti mereka bakal nyuruh lo balik atau nggak, setidaknya lo udah ngasih tahu mereka bahwa lo baik-baik aja" kata Freya "kalau perlu gue bisa kok, gantiin lo buat bilang kalau lo mau nginep dirumah gue" lanjutnya.
"Iya deh iya, gue telpon orang tua gue" ujar Rara menyerah. Dia kemudian mengambil ponselnya dan berjalan kearah balkon.
Freya tahu Rara bukan anak yang suka kabur-kaburan, apalagi sampai menginap. Selama ini Rara suka kabur hanya untuk pergi belanja atau sekedar jajan kedepan komplek. Karena itu, Freya tidak mau Rara sampai kabur dari rumah hanya untuk menghiburnya. Selama ini Freya selalu menebak jika orang tua Rara saat ini, hampir sama dengan kedua orang tuanya di masa lalu. Mereka yang terlalu berekspektasi tinggi kepada anaknya, hingga tanpa sadar menyakiti anaknya sendiri, untuk memenuhi setiap ekspektasi mereka.
Freya mengambil ponselnya yang bergetar. Tubuhnya terasa membeku ketika mengetahui siapa yang baru saja mengiriminya pesan. "Bahagia terus Freya" begitulah isi pesan yang baru saja dikirimkan oleh Farrel.
Untuk apa Farrel mengiriminya pesan seperti itu, apakah mungkin ini adalah pesan yang mengandung unsur perpisahan? Apakah mungkin pesan ini adalah pesan yang Farrel kirimkan untuk terakhir kalinya?
"Sejak kapan lo peduli?" Begitulah balasan yang Freya kirimkan.
Freya sadar, masih terlalu jauh untuk bisa move on dari Farrel. Masih terlalu jauh juga bagi dia untuk terbiasa hidup tanpa Farrel. Namun, tidak mungkin dia terlalu terpaku dalam kesedihannya. Tidak mungkin hidupnya berhenti hanya karena tidak ada Farrel disisinya. Mau dikatakan seperti apapun, hidup Freya harus terus berjalan, harus. Kesedihannya tidak boleh membuatnya semakin terpuruk.
Balas dendam terbaik adalah dengan membuktikan bahwa dengan atau tanpa adanya dia, kita masih mampu menjalani hidup dengan baik. Karena itu, dengan segera Freya beranjak dari acara tiduran kemudian duduk diatas kursi belajar. Yah, dia sudah memutuskan untuk mendapatkan rangking pertama, dia akan merebut julukan rangking pararel yang selama ini sudah disandang oleh Farrel.
__ADS_1
Selang beberapa menit setelahnya, Rara kembali masuk kedalam kamar dengan wajah riangnya. Katanya, dia diijinkan untuk menginap, asalkan dia tetap belajar untuk ujian besok. Rara menyanggupi syarat yang diberikan oleh kedua orang tuanya kemudian ikut bergabung bersama Freya. Mungkin karena biasanya dia selalu belajar sendiri selama ini, kehadiran Rara membuat Freya semakin fokus.
Walaupun Rara tidak sepintar Farrel dan Kafin, tapi dia juga masih terbilang pintar jika dibandingkan dengan Freya. Jadi ketika ada satu soal yang Freya tidak pahami, dia bisa menanyakannya kepada Rara. Tidak ada yang jauh lebih baik, ketika kita mampu memiliki sahabat yang menjadi suport system dan sefrekuensi dengan kita.
Sebuah makanan pesan antar tiba-tiba datang kerumah Freya, atas nama Rara. Awalnya Rara dan Freya ragu untuk mengambilnya, karena memang mereka tidak memesan makanan. Tapi ketika mereka tahu bahwa yang mengirimi makanan tersebut adalah Kafin, akhirnya mereka dengan senang hati mengambilnya. "Rezeki mah gak boleh ditolak" kira-kira seperti itulah ucapan Rara ketika menerima makanan tersebut.
"Ternyata sedekat itu yah kalian, sampai dia beliin makanan gini" ujar Freya ketika memakan pizza yang diberikan oleh Kafin.
Kafin yang Freya kenal bukanlah Kafin yang seperti ini. Dia akan membelikan Freya makanan, hanya ketika dia ada maunya. Jadi, kesimpulannya. Pasti Kafin sedang berusaha mendekati Rara, dia pasti sedang berusaha membuat image yang baik dimata Rara. Apalagi sekarang Kafin sedang jomblo kan? Dia sekarang pasti sudah mulai penjajakan, dan mungkin Rara salah satu calonnya.
"Maksud lo gue dengan Kafin?" Tanya Rara, dan Freya menganggukkan kepalanya.
"Gak juga sih. Gue deket sama dia hanya karena punya tujuan yang sama aja"
"Tujuan apa?" Tanya Freya penasaran.
"Tujuan buat ngebuat lo putus sama Farrel. Upps keceplosan" Rara beberapa kali memukul bibirnya pelan. Ini nih yang tidak Rara sukai dari dirinya. Jika sedang makan, mulutnya pasti akan dengan senang hati membongkar semua rahasianya.
"Rara!....."Ujar Freya kesal. Tujuan apa itu, bisa-bisanya mereka punya tujuan seperti itu.
"Yah gimana yah. Aya, kita sayang banget sama lo. Kita gak mau lo terluka apalagi disakitin kayak gitu. Lo pantes buat bahagia dan dapetin pasangan yang baik, yang bisa ngehargai lo sebagai pacarnya. Karena itu, gue seneng banget pas tahu lo putus dari Farrel, gue seneng banget karena mata dan pikiran lo akhirnya kebuka"
__ADS_1