
Petikan gitar terdengar begitu menghipnotis siapa saja yang mendengarnya, kemudian disusul suara Freya dan juga Kafin yang sedang menyanyikan lagu runtuh yang dipopulerkan oleh Feby Putri dan Fiersa Besari.
Ku terbangun lagi
Di antara sepi
Hanya pikiran yang ramai
Mengutuki diri
Tak bisa kembali
'Tuk mengubah alur kisah
Ketika mereka meminta tawa
Ternyata rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Ketika kau lelah
Berhentilah dulu
Beri ruang, beri waktu
Mereka bilang, "Syukurilah saja"
__ADS_1
Padahal rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Ha, ha, ha-ah
Ha, ha, ha-ah
Ha, ha, ha-ah-oh
Kita hanyalah manusia yang terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Ku tak ingin lagi membohongi diri
Ku ingin belajar menerima diri.
Ketika Freya mengatakan jika dia ingin menyanyi bersama dengan Kafin. Lelaki itu tiba-tiba mengucapkan sebuah ide yang berilian. Katanya, dari pada nunggu cafe kak Rafi buka lagi, lebih baik Freya menyanyi saja di toko roti milik bunda dyvia.
Tanpa berpikir dua kali, Freya seketika menganggukkan kepalanya setuju. Saat ini, didalam toko roti, sengaja disediakan dua kursi yang digunakan untuk Freya dan juga Kafin. Juga beberapa alat music yang tersimpan dengan rapi. Beruntungnya, bunda menerima permintaan keduanya tanpa penolakan sedikitpun.
Lagu runtuh secara khusus dipilih oleh Kafin. Katanya, ada satu lagu yang ingin dinyanyikan langsung oleh keduanya. Mereka berdua sama-sama memiliki luka yang mendalam perihal keluarga. Freya lahir dalam keluarga yang harmonis, namun selama apapun hubungan berjalan, sebahagia apapun hubungan yang dijalani. Akan hancur kalau salah satu dari mereka mencintai orang lain. Ayah berselingkuh, dan lebih memilih selingkuhannya.
Selama apapun bunda menunggu, sesabar apapun bunda menghadapi sikap egois ayah, sebaik apapun bunda sama mereka. Ujung-ujungnya bunda yang terluka, ending dari hubungan suami istri itu tetap saja perpisahan. Namun bagi Freya, perpisahan ini bukanlah kekalahan bagi bunda. Melainkan kemenangan, karena hingga akhir pun, bunda masih menjaga janji sucinya. Bunda tidak pernah sekalipun melirik laki-laki lain, sekalipun ayah berselingkuh dan menghancurkan seluruh kehidupannya.
Berbeda dengan Freya, sejak kecil Kafin terlahir dalam keluarga yang sangat harmonis, orang tuanya begitu setia dan menepati janji suci mereka. Sayangnya, kedua orang tua itu terlalu sibuk bekerja, sehingga Kafin tumbuh menjadi anak laki-laki yang cukup berandal. Dengan keberandalannya itu, dia mencoba menarik perhatian kedua orang tuanya. Dia berhasil, taktiknya berhasil. Namun sayangnya, pada usianya yang masih sangat muda, Kafin harus kehilangan kedua orang tuanya untuk selamanya.
__ADS_1
Dirangkul oleh luka, dikuat kan oleh rasa, disakiti oleh cinta. kemudian berpura-pura agar terlihat bahagia. Setiap manusia, memiliki hak untuk hidup dengan bahagia, setiap manusia memiliki hak untuk memperjuangkan kehidupannya. Hidup ini terlalu sebentar untuk diisi dengan luka dan sakit batin juga fisik.
****
"lo tahu apa yang paling buat gue menderita Ya?" tanya Kafin seraya meminum air mineral.
Freya membalas pertanyaan lelaki itu dengan menggelengkan kepalanya.
"kepergian orang tua gue, benar-benar membuat gue sadar betapa berharganya mereka. Karena pada akhirnya, samua orang akan merasa sangat kehilangan, setelah orang itu benar-benar pergi untuk selamanya. Dan gue, salah satu orang yang paling menyesali segala jalan yang telah gue pilih dimasa lalu"
Freya terdiam beberapa saat, kemudian mengusap lengan Kafin "Fin, gue tahu lo punya hak untuk merasa sedih dan kehilangan. Karena mau dikatakan seperti apapun, kepergian seseorang menorehkan luka bagi orang yang ditinggalkan. Gue gak akan minta lo buat berhenti nangis, gue juga gak akan minta lo buat gak sedih dan dengan segera melupakan kedua orang tua lo. Tapi gue cuman minta dua hal sama lo, jalani kehidupan lo dan hidup lah dengan bahagia. Karena lo pun pantes untuk mendapatkannya" dengan wajah teduhnya Freya menatap Kafin seksama.
Setelahnya, keduanya sama-sama terdiam dalam kegamangan. Sama-sama bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Disaat seperti ini, mereka hanya ingin berdiam dan melamun di tempat yang begitu indah. Dengan hamparan air laut, ataupun dengan hamparan bunga-bunga. Rasanya, untuk beberapa saat, mereka ingin melarikan diri dari kenyataan hidup yang sedang mereka jalani saat ini. Mereka ingin istirahat sejenak, dan membebaskan segala luka yang selama ini menggeroti hati serta pikiran mereka.
"perasaan dari tadi gue gak ngeliat si Farrel. Dia gak masuk Ya?" tanya Kafin tiba-tiba. Dengan wajah penasarannya, lelaki itu menelusuri setiap sudut toko, guna mencari sosok Farrel yang biasanya selalu berada di meja kasir, ataupun merapih-rapihkan roti di rak.
Freya mengedikkan bahunya "dia emang udah gak masuk dari kemarin. Gue juga gak tahu alasannya, tapi kata bunda sahabatnya lagi sakit" jawabnya acuh.
"zyva maksudnya?"
"maybe? I don't know"
Dengan wajah seriusnya Kafin menatap Freya "Ya, gue cuman mau bilang sama lo. Jangan pernah memulai hubungan sama orang yang belum selesai dengan masa lalunya. Karena akhirnya lo yang akan sakit, lo yang akan terluka. Jangan mau jadi plester luka orang lain, apalagi kalau orang lain itu tidak pernah bisa menghargai segala jasa lo" nasihatnya dan dibalas anggukan mengerti oleh Freya.
"Fin, lo paling tahu gimana jatuhnya gue ketika ngejalanin hubungan sama Farrel" ujar Freya parau.
Kafin menghembuskan napasnya dalam, matanya bergerilya menatap keluar jendela, melihat lalu lalang kendaraan bermotor yang tidak pernah ada hentinya. "Ya, jangan terlalu membenci Farrel, dia gak sepenuhnya salah. Keadaan membuat dia seakan-akan memjadi tokoh yang bersalah. Lo tahu, gak ads orang yang sepenuhnya jahat, dan gak ada orang yang sepenuhnya baik" ujarnya seraya menatap Freya dengan seksama.
"gue gak ngerti sama lo Fin, disaat gue pacaran sama Farrel, lo orang yang paling gencar minta gue buat putusin dia. Tapi disaat gue udah lepas dari dia, disaat gue mencoba move on dan lupain segalanya. Lo justru malah ngomong kayak gini, mau lo sebenarnya apa sih?" tanya gadis itu jengkel.
"gue ingin yang terbaik buat lo Ya, saat itu, gue berpikir jika Farrel bukanlah rumah yang tepat buat lo Ya. Tapi, ada beberapa alasan yang membuat dia nyakitin lo"
"jadi apa alasannya?"
__ADS_1
Sekilas, Freya dapat melihat Kafin yang tersenyum dengan senyuman yang mengejek "gue gak punya ham untuk bilang. Sejak awal, Farrel lah yang harus mengatakannya" ujarnya.
Gadis itupun berdecak tidak suka mendengar jawaban Kafin, dengan memutar bola matanya dia menatap kearah pintu. Namun setelahnya, tubuhnya terdiam kaku ketika matanya tidak sengaja melihat sesosok orang yang muncul dari balik pintu. Sosok yang telah mengahncurkan hidupnya, sosok yang telah merenggut kebahagiaannya. Untuk apa dia datang kesini dan dari mana dia tahu tempat ini? Monolog Freya didalam pikirannya.