Amanita phalloides

Amanita phalloides
mungkin hari ini, hari esok atau nanti


__ADS_3

Tidak ada yang jauh lebih menyenangkan bagi Freya, selain bernyanyi sembari memainkan gitar kesayangannya. suasana cafe terasa begitu ramai, karena dipenuhi oleh anak muda seumurannya. Mungkin mereka juga sama seperti Freya yang baru saja menyelesaikan ujian akhir semester. Jadi nongkrong di cafe menjadi pilihan terbaik untuk menghilangkan segala penat yang terjadi beberapa hari terakhir.


Secara perlahan,,, petikan gitar memenuhi setiap sudut Cafe, disusul suara merdu Freya yang menyanyikan lagu Anneth (mungkin hari ini hari esok atau nanti)


Kuhampiri jalan yang kita lewati, setiap hari kita disini.


Kumenanti hadirmu untuk kembali


Hanya kenangan yang tersisa disini


Namun sekarang, kau tlah pergi dan kuyakini kau takkan kembali


Sejak pertama kali kita bertemu, sejak pertama kali kita memutuskan berpacaran, sejak saat itu hatiku benar-benar berlabuh untukmu. Ketika mencintaimu, aku sadar bahwa ada perasaan yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan, yaitu perasaan cinta yang tidak mampu aku kontrol dengan baik. Kamu telah pergi untuk selamanya, tapi nyatanya hati ini masih tetap menetap ditempat yang sama, ditempat dimana kamu mengucapkan selamat tinggal.


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Tak lagi saling menyapa meskiku masih harap kan mu


Terimakasih untuk setiap kenangan yang pernah kita lalui bersama, terima kasih karena telah mempersilahkanku, menjadi salah satu dari jutaan manusia di dunia yang pernah berada disampingmu. Meskipun sekarang pada akhirnya, kita kembali menjadi asing.


Kumenanti hadirmu untuk kembali

__ADS_1


Hanya kenangan yang tersisa disini


Namun sekarang, kau tlah pergi dan kuyakini kau takan kembali


Tetaplah bahagia bersamanya, dan akupun akan berusaha membatasi rasaku sewajarnya. Karena kamu terlalu jauh untuk aku bawa pulang.


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Berjuta melodi yang terpatri dalam hati ini


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Tak lagi saling menyapa meskiku masih harap kan mu


Sesungguhnya hatiku tak sanggup menerima dan lupakan segalanya......


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Tak lagi saling menyapa meskiku masih harapkan mu hoho


Meskiku masih harapkanmuuuuu 

__ADS_1


Kurela kan mu


Rel sekarang aku sadar kalau mengenalmu merupakan kebahagiaan terhebat, tapi melepaskanmu adalah pilihan yang paling tepat. Kini aku sudah selesai. Saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk semua kenangan dari mu. Sekali lagi.. terimakasih atas setiap waktu yang telah kita lewati bersama. Semoga kita bertemu pada titik terbaik menurut takdir.


******


Jika biasanya Freya akan pulang malam hari ketika bekerja part time, untuk kali ini dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Setelah melaksanakan sholat maghrib di ruangan yang disediakan khusus oleh pemilik kafe tempatnya berkerja, Freya memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di toko buku langganan Farrel.


Dulu, Farrel selalu datang ke toko buku tersebut untuk membeli buku ataupun sekedar membacanya disana. Mungkin karena jarak cafe dan toko buku sangat dekat, yang hanya dipisahkan oleh 2 bangunan saja, alhasil Farrel sering sekali mampir ke Cafe. Awalnya Freya terkejut, karena Farrel mampir ke cafe tempat dia bekerja. Walaupun dulu mereka tidak sedekat itu, tapi karena reputasi Farrel yang sangat bagus disekolah, jadi banyak sekali orang yang mengaguminya. Apakah Freya termasuk didalamnya? Tentu saja tidak. Dulu Freya tidak terlalu memikirkan tentang cinta-cintaan.


Tapi dia tahu Farrel, dia tahu sehebat apa laki-laki itu dalam setiap bidang pelajaran. Karena itu, tidak heran jika dia menjadi murid kesayangan guru-guru. Tidak ada yang tidak tahu dia, karena dia sering sekali dipanggil ke lapangan ketika upacara. Dia sering sekali memenangkan kejuaraan yang mengharumkan nama sekolah. Sampai muncul sebuah selogan yang mengatakan bahwa, jika ada yang tidak mengenal Farrel Najandra maka dia bukan bagian dari SMA Angkasa.


Semuanya berjalan dengan sangat lancar, dimulai dari sering bertemu di cafe dan beberapa kali berbincang, hingga tanpa terasa menjadi dekat. Hingga sampai pada hari dimana Farrel menyatakan perasaannya dan mengajak Freya berpacaran. Freya tentu saja menerimanya, bukankah Freya pernah mengatakan bahwa sikap Farrel dulu sangat baik dan perhatian sebelum kehadiran Zyva? Karena alasan itu dia menerima ajakan Farrel untuk berpacaran, dia baik, perhatian, reputasinya juga sangat baik. Bahkan dulu Farrel sering mengajak Freya belajar bersama, iya dulu, dulu sekali.


Siapa yang menyangka bahwa badai akan tiba, ketika mereka baru 2 bulan menjalin hubungan. Badai yang mempu memporak-porandakan seluruh hati dan pikiran keduanya. Yah,,, semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang perlu disesali, walaupun mungkin akan memakan waktu yang cukup lama, tapi Freya yakin dia akan bisa move on dari Farrel. Pasti bisa.


Aroma kertas menyeruak masuk kedalam indra penciuman Freya, walaupun tidak sering, dulu Freya beberapa kali datang ketempat ini untuk menemani Farrel mencari buku. Freya berjalan pelan menelusuri setiap sudut ruangan tersebut. Ruangan yang tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Salah satu ciri khas dari toko buku ini adalah dengan adanya beberapa kursi ditengah ruangan. Kursi yang sangat nyaman untuk diduduki sembari membaca buku, selain itu toko buku ini juga menyediakan beberapa minuman dan makanan ringan yang semakin membuat orang-orang betah berada disini. 


Masih basah dalam benak Freya, ketika dulu dia sering sekali duduk dikursi dekat rak-rak buku komik. Dulu dia sering membaca buku komik untuk menghilangkan perasaan bosan, karena menunggu Farrel memilih ataupun menyalin buku. Menemani orang pintar belajar itu sangat membosankan. Karena waktu akan terasa berjalan dengan sangat lambat. 


*****


Tidak pernah Freya duga, jika dia akan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya diruangan tersebut. Bahkan ia keluar dari sana karena diberitahukan oleh pemilik toko, bahwa mereka akan segera tutup. Hujan turun dengan begitu derasnya. Freya menggerutu kesal karena tidak ada tempat yang bisa dia jadikan tempat berteduh, dia juga tidak membawa payung untuk pulang menerobos hujan.


Setelah mempertimbangkan segala opsi, akhirnya Freya memutuskan untuk berlari kearah cafe Edelweiss, cafe tempat dia bekerja. Walaupun Freya tahu kalau cafe pasti sudah tutup, tapi setidaknya jauh lebih baik dibandingkan dengan berteduh didepan toko buku. Setidaknya, ada sedikit ruang bagi Freya untuk berteduh diteras cafe, sedangkan ditempat nya berdiri saat ini hujan sampai mengenai sebagian tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2