
Matahari perlahan meninggalkan eksistensinya, menyisakan warna jingga yang menandakan hari telah petang. Freya akui hari ini sangat-sangat menyenangkan, pergi berdua bersama Farrel ternyata tidak seburuk itu, dia berubah menjadi sosok yang sangat manis, hangat, juga menyenangkan. Walaupun hari menyenangkan ini harus berakhir dengan ditinggalkan, karena lelaki itu mendapatkan telpon dari Zyva tentunya. Tapi gak papa, Freya gak masalah, kata-kata itulah yang dia ucapkan tadi kepada Farrel. Bohong sih, tapi mau bagaimana lagi? Zyva masih saja menjadi nomor satu dalam hidup Farrel.
"Harusnya Zyva pergi ke Rumah sakit, atau gak nelpon dokter. Ngapain orang yang lagi sakit nelpon Farrel. Emangnya Farrel dokter apa? Dia bahkan gak bisa masang perban. Dia juga gak bisa ngobatin alergi gue, bahkan dia suka ngeracunin gue pake selai kacang. Ahhh!!! Kesel!!" Gerutu Freya. Sepanjang perjalanannya pulang ke rumah, tidak habis-habisnya dia menggerutu dan mengomel. Dia bahkan tidak peduli dengan keberadaan mamang ojek dihadapannya.
"Neng ditinggalin pacarnya?" Tanya mang ojek akhirnya.
"Iya, dia milih ketemu sama sahabatnya, dibandingkan ngenterin aku pulang. Tahu kok dia bukan ojek, yang bisa disuruh kesana-kemari. Tapi tanggung jawab kek! Dia kan yang bawa aku pergi kesini, dia juga yang ngejemput aku dari rumah, harusnya dia juga yang nganterin aku sampai kerumah"
Suara gelak tawa terdengar dari mang ojek didepannya "hahahh, kenapa neng gak bilang langsung sama pacarnya?"
Freya terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Dia kini mulai menyadari setiap tingkah lakunya beberapa menit yang lalu, bisa-bisanya dia marah-marah kepada mang ojek yang tidak tahu apa-apa "maaf yah mang, udah marah-marah" ujar Freya menyesali perbuatan serta ucapannya.
"Gak papa neng, saya gak masalah. Bukan hanya neng yang suka curhat ke saya, penumpang yang lain juga begitu" ujar mang ojek.
"Beneran mang?" Tanya Freya tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, tukang ojek biasanya suka jadi langganganan curhat atau cerita-cerita. Dulu bahkan ada penumpang yang nangis-nangis selama dijalan, karena habis putus sama pacarnya. Ada juga yang marah-marah karena diselingkuhi. Tapi ada juga yang ngobrol-ngobrol ringan, katanya pengen punya teman ngobrol. Mang sih gak masalah dengan penumpang yang seperti itu, karena jadi punya teman ngobrol, jadi gak ngantuk selama dijalan".
Kita memang tidak bisa menilai manusia hanya dari penampilan ataupun pekerjaannya saja, begitupun yang Freya pikirkan ketika berbincang dengan mang ojek. Mungkin karena sudah bertemu ratusan atau bahkan ribuan penumpang, selama menjadi tukang ojek, membuat pemikiran mang ojek begitu terbuka. Bagaimana mang ojek mau mendengarkan cerita Freya, bagaimana mang ojek mau memberikan nasihat kepadanya, membuat Freya begitu dihargai. Ucapan mang ojek ketika Freya hendak memberikan uang ongkos masih saja membekas dalam benaknya.
"Neng, jangan terlalu dipikirin apa harus putus atau lanjut. Semuanya ada masanya, ini masanya neng mencintai pacar neng dan menyayanginya. Kita tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa, tapi yang saya tahu adalah, ketulusan tidak akan berakhir dengan penyesalan. Sering-sering berdo'a yah neng, Allah maha membolak-balikkan hati manusia, neng gak perlu takut. Karena neng langsung minta kepada pemiliknya"
Benar, semua ada masanya. Mungkin saat ini adalah masa dimana Freya memberikan cinta dan kasih sayangnya untuk Farrel, kita tidak akan pernah tahu kedepannya akan seperti apa. Bisa jadi dimasa depan nanti, dia akan mendapatkan cinta melebihi cintanya kepada Farrel. Yah....Freya gak perlu takut karena dia meminta langsung kepada pemiliknya yaitu Allah Swt, lagian jodoh gak akan kemana bukan? Jadi ngapain takut.
****
Freya juga kerap kali mendapati muda-mudi seusia dengannya yang sedang berpacaran di pusat kota, seakan dunia milik mereka berdua sedangkan yang lain ngontrak. Mereka tidak peduli dengan pengunjung lain dan hanya memikirkan diri mereka saja. Kebahagiaan ketika bersama dengan kekasih, seakan menutupi setiap gunjingan dari orang-orang, benar begitu bukan?
Ketika berpacaran kita tidak peduli orang akan berkata apa, kita gak peduli seburuk apa dia dimata orang-orang. Selama kita masih mencintai dia, kita gak akan masalah dengan setiap perlakuan buruk dia terhadap kita. Bego sih, tapi mau gimana lagi? Cinta mengalahkan segalanya. Freya mengakui itu, cinta dia kepada Farrel sangat-sangat besar. Berapa banyak pun pemuda itu menorehkan luka dalam hatinya, dia pasti memaafkan dan berharap, Farrel akan berubah suatu saat nanti, seperti dulu ketika dia dan Farrel baru berpacaran.
Dulu, dulu sekali Farrel tidak seperti sekarang. Tidak ada Zyva dalam hubungan keduanya, yah yang jadi prioritas utama dari Farrel adalah Freya bukan Zyva. Sampai hari dimana Zyva muncul kembali dalam hidup pacarnya itu, mengenang kembali setiap perjalanan serta kebersamaan keduanya dimasa kecil. Kedatangan Zyva membuat hubungannya dengan Farrel berubah 180 derajat, dia berubah, sangat berubah. Menjadi sosok yang sangat tidak Freya kenali.
__ADS_1
Mungkin karena kenangan-kenangan itu, mungkin karena harapan-harapannya yang sangat naif, Freya tidak ingin melepaskan Farrel dan berharap laki-laki itu akan kembali seperti sosoknya dimasa lalu. Mencintainya dan menyayanginya, menjadikan Freya prioritasnya, bukan Zyva.
"Assalamu'alaikum. Bunda Aya pulang" salamnya ketika membuka pintu rumah.
"Wa'alaikum sallam"
Dengan langkah gontai Freya berjalan kedalam rumah, dia benar-benar merasa sangat lelah, bukan hanya fisik, tapi juga batinnya. Freya mematung mendapati sosok laki-laki yang sedang berbincang dengan bundanya di ruang tamu. Sosok laki-laki yang tidak pernah ingin ia temui lagi. Sosok laki-laki yang ingin ia hilangkan keberadaanya dalam hati sang bunda. Kenapa dia bisa ada disini? Kenapa bunda bisa bertemu dengan dia? Kenapa juga mereka tertawa?
Freya menatap bundanya terluka, dari sekian banyak luka yang dia terima, kenapa bundanya masih bisa tertawa dihadapan laki-laki itu?
"Ayah?" Ujar Freya terkejut.
Bunda, Aya sangat menyangi bunda melebihi apapun. Setiap kali bunda menangis karena ayah, Aya juga ikut terluka. Tapi kenapa bunda? Berapa kali pun bunda terluka, berapa banyak pun ayah bersikap jahat, bunda selalu memaafkannya. Bunda, Aya tahu perasaan bunda, Aya mengerti karena Aya juga berada dalam posisi yang sama seperti bunda. Mempertahankan seseorang hanya karena kenangan manis dimasa lalu. Sekarang apa yang harus Aya lakukan bunda? Memaafkannya? Menerimanya kembali? Tapi kenapa sangat sulit bunda.
Tentang rasa yang harus abadi dalam bait aksara, tentang asmaraloka yang menjadi melankolia, tentang harsa yang harus menjadi lara.
__ADS_1