
Bagi seorang wanita, berbelanja memberikan kesenangan sendiri pada jiwa. Namun, akan bersikap sebaliknya, jika kita hanya melihat-lihat tanpa membeli.
Sudah hampir seluruh area mall mereka jelajahi, Arka bersikeras ingin melihat seluruh toko yang ada didalam mall, walaupun dia telah menemukan hadiah yang cocok untuk Elvina. Seperti yang dapat ditebak, Arka tetap membeli barang pilihan pertamanya, dari sekian banyak toko yang mereka kunjungi, barang yang dibeli oleh lelaki itu tetap saja dari toko yang pertama. Benar-benar menyebalkan dan juga melelahkan.
Freya menghembuskan napasnya lelah, seraya menjatuhkan wajahnya pada meja. "belanja sama lo, benar-benar melelahkan" ujarnya.
"heheh, sorry-sorry. Sebagai ucapan permintaan maaf, gue traktir kalian deh"
Freya mendelikkan matanya tidak suka "seharunya lo cukup tahu diri, sekalipun lo gak minta maaf, lo tetap harus traktir kita makan" ujarnya dan diangguki kepala oleh Kafin, lelaki itupun setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya.
"kalian bener-bener ngelunjak yah"
Walaupun Arka terus saja mengomeli tingkah kedua temannya, tidak urung lelaki itu tetap membelikan makanan yang akan dimakan oleh kedua temannya juga dirinya. Arka melirik Kafin yang juga ikut menjatuhkan wajahnya pada meja, sepertinya mereka berdua benar-benar kelelahan. Sangat wajar karena mereka baru saja pulang bekerja.
"setelah putus dari Kaila, gue gak denger lo punya pacara baru lagi Fin. Biasanya baru satu hari aja, lo udah penjajakan sana-sini, udah insyaf?"
Kafin yang ditanya seperti itupun, akhirnya mengangkat wajahnya kemudian menatap sosok Arka yang sedang duduk dihadapannya. "gue mungkin bukan laki-laki baik, tapi bukan berarti gue gak akan pernah ngerasain benar-benar jatuh cinta sama lawan jenis" ujarnya.
Arka membulatkan matanya sempurna, begitu pun dengan Freya. Secara seksama, gadis itupun mendengarkan lamat-lamat obrolan antara Arka dan juga Kafin"
__ADS_1
"dan lo berhasil dapetin cinta lo itu?" tanya Arka penasaran.
Sebelum Kafin menjawab pertanyaannya, beberapa pelayan datang menghampiri meja ketiganya seraya membawa makanan pesanan mereka "maaf mengganggu kak, silahkan untuk dinikmati" setelah mengatakan hal itupun dan juga menyimpan makanan diatas meja, ketiga pelayan itupun beranjak pergi.
"makan dulu gak sih? Gue laper banget" ajak Freya.
Sedari siang, gadis itu belum memasukkan sesuap nasi pada mulutnya. Walaupun dia sudah menghabiskan satu cake yang diberikan oleh kak Rafi, tapi perutnya masih memberontak dan ingin diisi. Karena baginya, belum makan, kalau belum makan nasi, sekalipun dia telah memakan bubur"
Arka dan juga Kafin menganggukkan kepalanya mengiyakan, dengan lahap mereka menyantap makanan yang mereka pesan. Tidak ada satupun orang yang mengeluarkan sepatah katapun, mereka sama-sama fokus pada makanan yang telah menjadi penantian mereka sedari tadi.
****
Terdengar suara tawa Kafin, lelaki itu tertawa hambar "lo tahu Ka? Gue ngerasa dapetin karma. Selama ini gue selalu permainin hati cewek, beberapa kali gue juga putusin mereka hanya karena ketidak nyamanan gue. Sekarang, gue tahu rasanya patah hati, gue gak bisa dapetin hati dia. Bisa dibilang cinta gue bertepuk sebelah tangan" ujarnya Parau.
Arka melirik Freya yang berada dikursi belakang melalui kaca spion "sebagai orang yang pernah betepuk sebelah tangan, menurut lo gimana Ya?" tanyanya.
Beberapa detik gadis itu terpaku dalam kegamangan, tidak menduga akan mendengar pertanyaan seperti itu dari Arka.
"ada satu kalimat yang pernah gue denger dari drama, katanya gini. Cinta bertepuk sebelah tangan itu, awalnya menyakitkan, lalu lebih menyakitkan, lebih menyakitkan lagi. Dan lalu, sakit setengah mati.
__ADS_1
Nantinya, hal itupun akan membaik.
Apa aku tidak bisa mundur? Tidak.
Kita, akan terbiasa menyukai sampai kesakitan. Sehingga tak terasa sakit, walaupun sakit..... dan tidak merasa menderita, walaupun sebenarnya menderita"
Freya akui, cintanya dengan Farrel, bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan, karena lelaki itu yang memintanya untuk menjadi pacarnya. Hanya saja, semakin berjalannya waktu, gadis itu dapat menyadari jika cinta yang dimilikinya justru berakhir dengan cinta bertepuk sebelah tangan. Semakin bertamah hari, cinta Freya pada Farrel semakin bertambah. Namun bagi lelaki itu, semakin hari bertambah, semakin berkurang cinta yang dimilikinya.
"begitupun yang gue alamin Ka, gue dilatih untuk terbiasa dengan segala sikap kasar dan juga sikap acuh Farrel"ujar gadis tersebut parau.
"dan lo nyesel?"
Dibandingkan menganggukkan kepalanya, Freya justru menggelengkan kepalanya, setelah menghembuskan napasnya gadis itupun menyahut " enggak ka, gue gak pernah nyesel. Dengan mencintai dia, gue jadi sadar kalau Seindah apapun Lembayung, jika Bumantara lebih menyukai Bianglala, Lembayung bisa apa?"
Dengan kasar dia mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. "lo bener Ya, sebaik apapun lo, lo gak akan dilirik ataupun dianggap berharga, kalau dia gak pernah tertarik sama lo" ujarnya.
"beberapa bulan lo bertahan dan berjuang untuk cinta lo itu, tapi kenapa endingnya lo malah nyerah"
Beberapa kali Freya menghembukan napasnya dalam. "ada beberapa alasan yang gak bisa gue maklumi. Gue juga manusia biasa, yang bisa ngerasa lelah dan capek. Menurut gue, ada kata maaf yang harus dibayar dengan perubahan. Dan perselingkuhan, bukanlah sesuatu hal yang bisa dimaaafkan dengan mudah. Menurut gue, melepaskan dia, merupakan memaafkan yang sesungguhnya"
__ADS_1