Amanita phalloides

Amanita phalloides
Farrel dan permintaannya


__ADS_3

Menjalani liburan semester dengan membantu toko milik bunda, sudah menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh Freya. Karenanya, dengan langkah yang begitu riang, gadis itupun pergi ke toko kue milik bundanya.


Pukul 09.00 WIB tertera pada jam tangan miliknya, awalnya Freya akan berangkat pagi sekali, bahkan dia akan berangkat sebelum toko kuenya bunda buka. Sayangnya, kak Darpa meminta Freya untuk memasakkan nasi goreng. Setelahnya, kakaknya itu meminta untuk dibuatkan kopi hitam dan cemilan. Karenanya, Freya berangkat ke toko dengan sedikit terlambat.


Senyuman riang menghiasi wajahnya tatkala membuka pintu toko. Namun satu detik setelahnya, dia dibuat terkejut dengan kehadiran seorang laki-laki yang tidak dia sangka akan berada di sini. Bahkan, Freya hampir melupakan sosoknya selama ini. Dengan langkah ragu, gadis itu pun masuk kedalam toko dan berjalan ke arah dapur. Berusaha tidak memperdulikan sosok laki-laki yang sejak tadi menatap lekat kearahnya.


"Bunda" panggilnya.


Sosok bunda yang sedang membuat kue, merupakan sosok yang membuat Freya merasa bahagia. Karena bunda, akan terlihat begitu bahagia ketika berkreasi dengan keahliannya itu.


"Loh? Udah datang?" Tanya bunda sengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.


"Bunda gak bilang kalau Farrel kerja disini" ujar Freya seraya menatap bundanya penuh tanya.


Terlihat bunda menghembuskan napasnya dalam, sebelum akhirnya kembali fokus membuat adonan kue. "Dia ngelamar kerja part time disini. Awalnya bunda akan nolak dia karena kamu pasti gak suka, kalau dia ada disini. Tapi, cuman dia yang ngelamar kerja, dan toko juga sedang sangat sibuk saat ini. Jadi, maafin bunda yang sudah bersikap egois, bunda gak punya pilohan lain" dengan senyuman khasnya, Dyvia menatap puteri kecilnya itu dengan wajah memelasnya.


Freya menghembuskan napasnya dalam-dalam. Beberapa menit dia terdiam dalam kegamangan, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya mengerti "hah... okei, Aya ngalah. Apa yang bisa Aya bantu?" Tanyanya dengan antusias.


Dengan penuh kelegaan Dyvia mengusap surai kepala Freya seraya tersenyum bahagia. Merasa sangat bersyukur karena puterinya itu dapat tumbuh dengan bagitu baik. Walaupun dia belum mampu menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, Dyvia ingin menebus segala kesalahan yang telah dilakukannya dimasa lalu. "Gak papa kan kalau kamu bantui Farrel melayani pembeli?" Pintanya.

__ADS_1


"Siap bunda!" Dengan segera Freya menggenakan celemek, kemudian pergi kembali ke ruangan tengah yang menyajikan berbagai olahan kue kering, bolu dan juga roti. Namun sebelum itu, Freya terlebih dahulu mengecup pipi bundanya seraya mengatakan "aya sayang bunda"


****


Freya pikir, suasana antara dirinya dengan Farrel akan berjalan canggung. Tapi ternyata, saking ramainya pembeli yang datang ke toko, membuat Freya melupakan sejenak sosok Farrel yang dia benci. Menganggapnya sebagai rekan kerja yang harus saling mengandalkan.


Berbekalkan pengalamannya bekerja part time di Cafe Edelweiss, membuat Freya mampu menangani suasana toko yang cukup ramai. Yah, memang pengalaman tidak bisa diragukan, dengan pengalaman kita mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik.


"Akhirnya selesai" ujar Freya seraya meregangkan tubuh-tubuhnya.


Saking banyaknya pembeli yang hadir, gadis itu bahkan tidak sempat mendudukkan dirinya walau sejenak. "Nih, buat lo" ujar Farrel seraya menyerahkan minuman susu cokelat kesukaan Freya.


"Ngapain lo kerja disini?" Tanya Freya akhirnya. "Lo bukan berasal dari keluarga yang kurang secara materi, jadi tidak mungkin lo kerja buat cari uang"


Farrel meminum minuman soda miliknya, setelahnya, dia menatap Freya dengan senyumannya "buat ketemu lo lah" ujarnya.


"Mau lo apa sih Rel? Hubungan kita udah selesai, jadi berhenti bersikap seperti sekarang!" Tegas Freya. Gadis itu hendak beranjak dari duduknya, namun dicekal oleh Farrel.


"Gue gak pernah setuju buat putus dari lo, jadi hubungan kita belum pernah selesai" ujar pemuda itu datar.

__ADS_1


"Berhenti bersikap egois Rel, berhenti bersikap seakan gue yang jahat disini. Seharusnya lo bahagia kan? Lo sekarang bisa bebas pacaran dengan cewek yang lo sukai. Jadi, gue mohon sama lo, jangan kayak gini lagi"


"Ada beberapa hal yang gak bisa gue jelasin sama lo Ya. Tapi gue mohon, sampai semuanya selesai, tetap berada disamping gue" pinta Farrel, lelaki itu bahkan mengeratkan genggamannya pada tangan Freya.


"Sama lo itu sakit Rel, kalau lo sayang sama gue, lepasin gue, lupain fakta jika dulu kita pernah bersama. Jangan goyahkan pertahanan diri yang selama ini telah gue bangun"


Dengan kasar, Freya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. Untuk kali ini, dia berharap air matanya tidak pernah jatuh. Setidaknya, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Farrel. Dia tidak ingin terlihat goyah dengan keputusannya.


Farrel akhirnya melepaskan genggaman tangannya, serya berdiri dari duduknya. Tepat dibelakang Freya, Farrel berbisik "gue gak akan nyerah Aya, lo bisa bebas berpikir kalau kita sudah putus. Tapi jangan larang gue buat deket-deket sama lo"


Dengan langkah lebarnya, Freya berlari keluar dari toko. Dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk berada disamping pemuda itu. Farrel itu jahat, dia itu manipulatif, dia selalu menjadikan Freya sebagai pelaku antagonis dalam hubungan keduanya. Padahal, kenyataannya,,, Farrel lah yang selama ini selalu bersikap jahat pada Freya. Karena ulah dia jugalah Freya kahirnya menyerah.


Padahal dulu, saat Zyva menamparnya, saat Zyva mendorongnya, saat Zyva dan bundanya menyudutkan Freya, Farrel tidak pernah sekalipun membela Freya. Lelaki itu, selalu menjadikan Zyva sebagai prioritas dan nomor satu.


Sekarang, disaat Freya sudah mulai melupakan sosoknya, disaat dia sudah bisa berdamai dengan keadaan. Farrel kembali datang, dan memporak porandakan segala pertahanan yang telah Freya bangun dengan susah payah.


Persetan dengan segala alasan yang dimiliki oleh pemuda itu. Nyatanya, segala kesalahannya, tidak bisa dimaafkan dengan begitu mudah, karena dia salah. Sangat salah, tidak hanya mengahncurkan Freya secara mental, namun fisik nya pun benar-benar dia hancurkan. Tidak terhitung berapa kali Freya keluar masuk rumah sakit, dan harus dioname.


Bahkan, disaat Freya benar-benar mengharapkan pertolongannya. Farrel tidak pernah datang dan menolongnya. Kali terakhir Freya menghubungi pemuda itu, balasan pesan kejam Freya dapatkan. Untuk apa bertahan, jika ujung-ujungnya Freya kembali terluka?

__ADS_1


Sampai kapan? Sampai kapan dia harus hidup dengan dikelilingi rasa sakit? Freya juga manusia biasa, dia pun ingin hidup bahagia seperti orang lain. Sehina itu kah dia, hingga dia tidak berhak merasakan kebahagiaan? Apakah penderitaan memnag takdir hidup yang harus selalu dijalaninya?


__ADS_2