Amanita phalloides

Amanita phalloides
kedatangan om Bisma dan tante Lia


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Kafin membuka gerbang pintu rumahnya. Beberapa kali dia menatap kembali dompet yang berada dalam genggamannya. Didalam dompet yang dipegangnya saat ini, terdapat uang dengan jumlah yang tidak sedikit, uang yang telah dikumpulkan susah payah oleh tante Dyvia. Jika boleh jujur, Kafin merasa sangat malu dengan keluarga Freya. Beberapa hari yang lalu, Freya memberinya uang tabungan hasil kerja keras gadis itu, dan hari ini dia juga menerima uang tabungan hasil kerja keras tante Dyvia.


Namun Kafin tidak bisa apa-apa, walaupun kini dia tidak memiliki harga diri lagi, Kafin hanya bisa menerima kebaikan mereka. Karena lelaki itu sangat-sangat butuh uang, prioritasnya adalah menyelamatkan rumah yang ditinggalinya. Persetan dengan harga diri, nyatanya harga diri setinggi apapun, tidak akan dapat menyelamatkan Kafin dari segala krisis yang dialaminya saat ini.


Tepat ketika dia masuk kedalam halaman rumah, dia menatap terkejut 2 orang tua paruh baya yang sedang duduk pada kursi teras. Terlihat kedua orang itu menatap kearahnya, setelahnya seorang wanita paruh baya berlari kearahnya kemudian memeluknya erat.


"maafin tante karena baru datang" ujar wanita paruh baya tersebut.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Kafin membalas pelukan erat wanita itu. Tidak mungkin Kafin tidak mengenali mereka, walaupun tidak sering bertemu, tapi Kafin beberapa kali bertemu mereka ketika dia ikut ayah ataupun bundanya bekerja. Kafin mengenal mereka, sejak dia masih kecil. Belum lagi, suami dari wanita yang memeluknya saat ini, adalah pemilik dari sekolah tempat Kafin dan juga Freya bersekolah.


****


Terlihat 3 gelas berisikan teh dan juga kopi, tersimpan dengan rapi diatas meja. Ditemani satu piring biskuit yang tidak sengaja Kafin temukan diatas lemari.


"maaf karena kami baru berkunjung kesini. Saat mendengar kabar kematian orang tua kamu, om dan tante ingin segera pulang ke Indonesia, tapi ada beberapa pekerjaan yang sulit untuk ditinggalkan. Jadi kami baru bisa dateng sekarang" ujar om Bisma.


"gak papa om, Kafin tahu kalau kalian sangat sibuk. Makasih karena sudah menyempatkan untuk datang kesini. Padahal kalian pasti sedang capek banget"

__ADS_1


Tante Lia mengusap lengan Kafin pelan. Wanita paruh baya itu menatap Kafin penuh kasih sayang.


"om sudah dengar semua masalah kamu dari Raskal. Om yang akan membayar semua utang orang tua kamu, tapi om minta sama kamu untuk kembali sekolah dan fokus mengejar impian kamu" dengan wajah tegasnya om Bisma menatap kearah Kafin.


Kafin menggelengkan kepalanya cepat, dengan menatap kearah om Bisma dia mengatakan "enggak om, ini tanggung jawab Kafin sebagai seorang anak. Kafin tidak ingin merepotkan kalian" tolaknya.


Tante Lia mengusap tangan Kafin pelan "Fin, kamu tahu kan kalau selama ini kami selalu menganggap kamu sebagai putera kami? Kamu pasti tahu kalau hingga kini, kami berdua belum diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menjadi orang tua. Walaupun kami tidak sebaik orang tua kamu, walaupun kami tidak akan pernah bisa mengubah posisi orang tua kamu. Tapi ijinkan kami untuk menyayangimu, ijinkan kami untuk membalas segala kebaikan orang tua kamu dulu" suara lembut tante Lia, berhasil membuat Kafin menitihkan air matanya.


Dengan kepala tertunduk yang ditutupi kedua tangannya, Kafin menangis tersedu-sedu. Menumpahkan segala beban yang selama ini telah dia topang.


"Kafin tidak bisa menerima kebaikan kalian secara percuma seperti ini" ujarnya tidak enak.


Terdengar suara helaan napas tante Lia, wanita itu menatap kearah suaminya. Dengan menggunakan kode matanya, wanita paruh baya itu meminta suaminya untuk meyakinkan Kafin.


"kalau kamu tidak ingin menerima kebaikan kami secara percuma. Maka kamu bisa membayar hutang-hutang yang kami bayarkan secara bertahap. Tapi satu hal yang om minta, lanjutkan pendidikan kamu, jangan keluar dari sekolah. Kamu bisa membayar hutang-hutang itu kapan saja, kami tidak akan mematok bulan ataupun tahun"


Akhirnya Kafin menyetujui ucapan om Bisma. Dengan segera dia mengusap air matanya, kemudian menatap kedua orang tua itu bergantian "makasih, makasih karena sudah mau menolong Kafin" ujarnya tulus.

__ADS_1


Dengan segera tante Lia memeluk Kafin erat, beberapa kali dia mengusap punggung Kafin naik turun. Wanita paruh baya itu merasa sangat bersyukur karena kondisi Kafin masih bisa dibilang baik-baik saja.


"baik tante maupun om Bisma, kami tidak akan meminta kamu untuk memanggil kami dengan sebutan ayah ataupun bunda. Tapi, anggaplah kami sebagai orang tua kamu sendiri, ijinkan kami untuk berperan sebagai orang tua, sejak dulu tante sangat mengimpikan untuk memiliki momongan"


"iya tante"


Setelahnya mereka kembali berbincang ringan, bahkan kedua orang tua itu memberinya oleh-oleh karena mereka sehabis pergi ke luar negeri. Saat Kafin menanyakan alasan kenapa mereka menolong Kafin, dengan senyuman tulusnya, om Bisma menjawab.


"orang tua kamu adalah orang tua yang baik dan juga jujur. Sudah sejak lama kami bekerja sama, dan orang tua kamu tidak pernah sekalipun mengkhianati kami. Dan dulu, om pernah mengalami kebangkrutan. Ayah kamu, menolong kami dengan memberikan kami modal. Seandainya orang tua kamu tidak merangkul kami saat itu, mungkin kami tidak akan menjadi seperti sekarang. Semua itu, mungkin bisa menjadi alasan kenapa kami ingin menolongmu. Selain itu, sudah sejak lama kami menganggapmu sebagai putera kami. Tidak mungkin kami membiarkan anak kami hidup dengan cara menderita. Sedangkan kami hidup dengan bahagia" jawab Om Bisma disertai senyumannya yang meneduhkan.


Ada satu pertanyaan yang keluar dari mulut Kafin, perihal kenapa orang tuanya bisa sebaik itu. Saat itu, om Bisma menjawab dengan meniru jawab ayah ketika ditanya mengenai hal serupa oleh om Bisma.


"Ketika kita menaruh satu batu, dan suatu saat ketika batu-batu itu terkumpul dan menjadi sebuah jembatan. Waktu saat itulah kita bisa merasakan suatu kehormatan, karena kita sempat ikut serta dalam membangun jembatan itu"


ucapan ayah yang dikatakan oleh om Bisma, benar-benar membuat Kafin terdiam. Padahal orangtuanya sebaik itu, padahal mereka memiliki hati yang begitu baik. Tapi bagaimana bisa Kafin tumbuh menjadi anak yang begitu nakal dan badung. Sungguh, Kafin merasa sangat malu dengan dirinya sendiri. Dia malu karena, selama hidupnya, orang tuanya hanya mengenal sosok Kafin yang begitu nakal. Dia malu karena tidak berubah sebelum orang tuanya tiada. Memang penyesalan selalu berada diakhir cerita. Namun bukan berarti, Kafin tidak mampu mengubah dirinya sendiri.


Kini, hanya satu hal yang bisa Kafin lakukan. Memperbaiki dirinya, menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan senantiasa mendo'akan mereka. Supaya, dia mampu dengan bangga bertemu bersama orang tuanya di surganya Allah SWT suatu saat nanti.

__ADS_1


__ADS_2