Amanita phalloides

Amanita phalloides
kegilaan Kafin


__ADS_3

Suasana gelap memenuhi seluruh pandangan, udara dingin menusuk masuk kedalam pori-pori tubuh. Matanya menatap nanar menelusuri setiap sudut ruang, yang berhasil menyesakkan dada. Dengan langkah gontai, seorang gadis berjalan menelusuri setapak tanah, yang perlahan mulai memudar. 


Dingin, gelap, sunyi, menyisakan perasaan kesepian, yang menyeruak mengisi setiap kekosongan hati hingga perlahan memudarkan semangat hidup. Secercah cahaya muncul dibalik pohon, semakin kaki melangkah, cahaya tersebut semakin bersinar dengan terang. Senyuman merekah menghiasi sudut bibirnya, dengan tubuh yang sedikit gontai, dia berlari menuju cahaya tersebut.


"Hah...hah...hah...hah.." suaranya terengah-engah dikarenakan baru saja berlari. Setelah menetralkan napasnya, dia pun melihat kearah depan.


"Ahh!!" Suara teriakannya berhasil memenuhi seluruh kesunyian yang ada ditempat tersebut, dia memegangi dadanya erat. Matanya membulat sempurna, ditemani air mata yang perlahan menetes.


"Kenapa Aya, kenapa harus kami yang meninggal" teriak seorang wanita paruh baya dihadapannya.


Dibalik wanita tersebut, muncul seorang laki-laki paruh baya dengan wajah berlumuran darah. "Kenapa kamu membunuh kami Freya" katanya parau.


Tubuh Freya bergetar hebat, hingga dia tidak kuasa lagi untuk menopang tubuhnya untuk tetap berdiri. Kepalanya tertunduk kaku "maaf, maaf, maafin Aya" 


Hanya kalimat permintaan maaf yang mampu keluar dari mulutnya. Jika saja waktu bisa diputar kembali, Freya ingin sekali menyelamatkan mereka. Mungkin jika waktu bisa diputar kembali, malam itu, dia akan lebih memilih untuk diam saja didepan cafe, dibandingkan menyebrang jalan. Ataupun dia akan lebih memilih untuk berjalan kaki saja, dibandingkan menaiki taksi.


Walaupun Freya sudah terbangun dari mimpi buruk tersebut, walaupun sudah hampir 20 menit berlalu. Namun, air matanya masih saja membasahi kedua pipinya. Diantara remang-remangnya lampu kamar, Freya menangis seorang diri sembari terus mengucapkan kata maaf dan maaf. 


Semenjak kecelakaan itu, atau lebih tepatnya semenjak kedua orang tua Kafin meninggal. Sejak itu Freya tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak, setiap kali menutup mata, bayangan kejadian malam itu terus saja berputar bagaikan adegan boomerang yang menggeroti hatinya. Semakin menambah perasaan menyesal yang kini sudah tergali dengan begitu dalam.


Bahkan, tanpa diketahui oleh kak Darpa maupun bunda. Freya secara diam-diam membeli obat tidur. Karena jika tidak meminumnya, maka Freya akan terus terjaga hingga pagi hari. Bahkan Freya sangat takut untuk sekedar mengedipkan matanya, karena kejadian malam itu akan kembali berputar bagaikan adegan teater yang berputar dengan indahnya. Tentu saja aktor utamanya adalah kedua orang tua Kafin.


Drrrt

__ADS_1


Dengan gerakan pelan Freya mengambil ponsel miliknya yang berada diatas nakas. Nama Arka tertera pada layar.


"Halo, ada apa?" Tanya Freya setelah mengangkat telpon.


"Lo ada dimana?" Tanya seorang laki-laki disebrang telpon.


"Dirumah lah" jawab Freya cepat. Walaupun Freya kerap kali pulang malam karena kerja part time, tapi tidak pernah melebihi tengah malam, kecuali ketika hari kecelakaan itu.


Jadi akan sangat aneh jika Freya tidak ada dirumah, sedangkan waktu sudah menunjukkan tengah malam. "Gue kesana sekarang" ujar Arka tiba-tiba.


Freya membulatkan matanya terkejut, "lo gila? Ngapain kerumah gue malem-malem" protesnya tidak setuju.


"Ini urgents banget Freya, emangnya lo mau si Kafin mati. Udah gue kesana sekarang, jangan lupa pake baju hangat" setelah mengatakan hal tersebut, Arka mematikan sambungan telpon tanpa menjelaskan titik permasalahannya kepada Freya. Membuat gadis tersebut diam mematung dan berusaha mencerna ucapan laki-laki itu sebaik-baiknya.


Arka benar-benar menjemput Freya, dia datang 10 menit setelah mematikan sambungan telponnya. Sebelum berangkat, Freya terlebih dahulu pamit kepada bundanya. Dia tidak ingin bundanya terkejut karena anak perempuannya tidak ada dikamar malam-malam. Alhamdulillahnya,, bundanya memberikan ijin setelah Arka menjelaskan situasinya. Walaupun harus dibumbui sedikit cekcok, karena bunda takut Freya kenapa-napa. Mau bagaimana pun, Arka seorang laki-laki dan ini adalah kali pertama bundanya dan Arka bertemu. Pasti sulit bagi bunda untuk memepercayai ucapan Arka.


Selama perjalanan, tidak henti-hentinya Freya merasa cemas juga khawatir. Setelah mengetahui alasan kenapa Arka menjemputnya malem-malem,, membuat Freya banyak-banyak berdo'a kepada sang maha kuasa. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju tempat balapan liar, iya balapan liar, tempat yang tidak pernah sekalipun Freya kunjungi. 


Alasan kenapa Freya datang kesini, tentu saja karena Kafin, sahabatnya sekaligus tetangganya. Katanya laki-laki itu hendak balapan malam ini, sebenarnya Freya tidak akan terlalu khawatir karena ini bukan kali pertama Kafin balapan liar. Yang membuatnya khawatir setengah mati adalah karena kondisi Kafin saat ini yang sedang mabuk, entah syetan apa yang sedang merasuki tubuh sahabatnya itu. Dia hendak balapan dalam kondisi mabuk, ketika kesadarannya sudah benar-benar hilang. Gila sangat-sangat gila.


Setelah sampai, Freya dengan segera turun dari motor Arka seraya melihat sekelilingnya, berusaha mencari sosok Kafin diantara banyaknya kerumunan manusia. Arka menggenggam tangan Freya kemudian membawa gadis tersebut kearah jalanan. Dia membawa Freya masuk diantara kerumunan dan membawanya kearah Kafin yang sedang siap-siap diatas motornya.


"Cuman lo yang bisa ngebuat dia sadar, dia benar-benar hilang kendali hari ini" ujar Arka, seraya menunjuk Kafin yang saat ini sedang siap-siap diatas motornya. Sebentar lagi balapan akan dimulai sepertinya.

__ADS_1


"Thanks Ka" Freya merasa sangat bersyukur karena Arka mengabarinya perihal kondisi Kafin. Benar dengan apa yang dikatakan oleh Arka barusan, Kafin benar-benar hilang kendali hari ini. Selain membolos sekolah, dia juga tawuran tadi pagi. Sekarang malam pun dia mabuk-mabukkan dan hendak balapan. Kafin benar-benar kacau, sangat kacau.


Dengan langkah lebarnya, Freya berjalan menghampiri Kafin, "Fin!!" Ujar Freya sedikit berteriak, karena suasana riuh disekelilingnya.


Terlihat Kafin yang sebelumnya hendak mengenakan helm pun, menghentikan pergerakannya, dia membulatkan matanya terkejut ketika mendapati Freya yang berada dihadapannya "Aya? Ngapain lo disini?" Tanyanya terkejut. 


"Lo yang ngapain disini?" Freya semakin mendekatkan dirinya dengan Kafin yang sedang berada diatas sepeda motor miliknya. Bau alkohol seketika menyeruak masuk kedalam indra penciumnya. Ternyata benar yang dikatakan oleh Arka barusab, saat ini Kafin sedang mabuk.


"Fin? Gimana? Jadi gak?" Tanya seorang laki-laki, dia menatap Freya dari atas hingga bawah.


Kafin menganggukkan kepalanya "jadi" jawabnya.


"Kayaknya lo lagi ada problem, gue kasih waktu lima menit" setelah mengatakan hal tersebut, lelaki itupun meninggalkan Kafin juga Freya, dia pergi menemui pembalap lainnya.


Tanpa menghiraukan kehadiran Freya, Kafin justru menggenakan helm full face miliknya.


"Fin? Lo apa-apaan sih? Lo mau nyari mati?!!" Teriak Freya tidak terima, seraya berusaha melepaskan helm yang sedang dikenakan oleh Kafin. Dia bahkan tidak peduli dengan orang-orang yang kini telah pindah kepinggir jalan, yang tentunya pertengkaran keduanya menjadi tontonan gratis bagi mereka.


"Iya, gue pengen banget mati. Jadi lo pergi dari sini"


Mendengar jawabannya membuat Freya yakin, jika saat ini tidak ada yang bisa menghentikan kegilaan Kafin, selain dengan kegilaan juga. Tanpa pertimbangan apapun, Freya langsung menaiki sepeda motor yang dikendarai oleh Kafin, kemudian memeluk pinggang laki-laki itu erat.


"Lo gila!! Dan gue akan lebih gila dari lo" teriak Freya tepat disamping telinga Kafin yang terhalangi oleh helm full facenya.

__ADS_1


Kafin tersenyum smirk kemudian menyalakan sepeda motornya "seperti yang lo minta" setelah sebuah bendera jatuh dijalan, Kafin melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2