
Pembagian rapot merupakan penderitaan paling mendalam bagi Kafin. Orang tuanya telah pergi untuk selamanya, tentunya mereka tidak akan pernah bisa mengambil rapot milik Kafin. Dengan kebaikan hati paman Raskal, akhirnya lelaki mapan itu datang dengan khusus untuk mengambil rapot keponakannya di sekolah.
Paman Raskal adalah satu-satunya kerabat Kafin dari pihak ayah. Kakek serta neneknya dari pihak ayah, telah meninggal sejak lama. Bahkan jauh sebelum kelahiran Kafin. Kedua adik kakak itu tumbuh berdua dengan asuhan bibi mereka. Pengasuhan yang begitu baik, hingga mereka menyelesaikan pendidikan mereka dan jadi sarjana.
"Paman Raskal ganteng yah?" Ujar Freya seraya menatap paman Raskal penuh damba.
"Dosa Ya, dosa" ujar Kafin seraya menutup kedua mata Freya dengan tangannya.
"Apaan sih lo, ganggu aja" ujar gadis itu kesal, seraya berusaha menyingkirkan tangan Kafin dari pandangannya.
Dibandingkan melepaskan tangannya dari mata Freya, Kafin justru semakin mengeratkan tangannya. Yang tentunya membuat gadis itu berontak seraya berteriak heboh.
"Kafin.." panggil paman Raskal tepat dihadapan keduanya.
"Iya paman" sahut Kafin dengan tangannya yang repleks dilepaskan dari wajah Freya.
"Kita pulang"
Setelah mengatakan itu, paman Raskal pun beranjak pergi dengan diikuti Kafin dibelakangnya. Namun sebelum pergi, Kafin sempat membisikan sesuatu pada Freya.
__ADS_1
"Jangan kepincut om-om. Di depan lo masih ada orang ganteng, yang tentunya masih muda"
Umur paman Raskal masih 20-an. Tentunya pesona kegantengannya tidak pernah luntur, wajahnya sangat mirip dengan ayah Kafin, bahkan mereka sering disebut pinang dibelah dua. Sayangnya, pesona kegantengan paman Raskal, tidak membuat lelaki itu memiliki hubungan serius dengan wanita. Alhasil, diakhir umur 20-an nya itu, dia masih melajang dan belum menikah.
"Aya,,, selamat!" Teriak Rara heboh, seraya memeluk tubuh Freya erat.
"Makasih" jawab Freya seraya membalas pelukan erat sahabatnya itu.
"Tuh kan,, lo itu pinter Aya. Cuman kehalangan sama sifat males sama mageran aja"
Rangking satu angkatan telah diumumkan, bagaikan sebuah keajaiban, Freya berhasil mendapatkan peringkat 1 se-angkatan. Mengalahkan Farrel yang selama ini selalu rangking satu pararel. Tentunya kebahagiaan itu, tidak mungkin Freya dapatkan jika dia tidak bekerja keras, juga jika bukan karena bantuan dari sahabat-sahabatnya Kafin dan juga Rara.
Beberapa menit Freya terdiam dalam kegamangannya, sebelum akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya mengiyakan. Kebetulan kemarin dia baru saja dapat gaji, jadi dia memiliki cukup uang untuk mentraktir sahabatnya itu. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih, karena telah mengajari Freya selama 2 minggu terakhir.
"Asik!! Gue harus kabarin Kafin nih"
Dengan kecepatan kilat, gadis bertubuh gempal itupun mengetikan pesan pada ponselnya. Wajahnya begitu berseri saking bahagianya. Freya harap, semua sahabat-sahabatnya dapat hidup dengan penuh kebahagiaan. Terutama Kafin, dia benar-benar berharap sahabatnya itu mampu berdamai bersama rasa sakitnya. Memang tidak mudah, namun tidak mungkin kesedihan itu membuat Kafin larut kedalamnya dan merenggut nyawa serta kebahagiaannya.
****
__ADS_1
"Pernikahan kak Darpa sekitar sebulan lagi, kamu jangan lupa kerumah bu Ratna nanti sore, buat ukur baju. Jangan lupa ajak Kafin" perintah Bunda seraya memasukkan kue kering kedalam toples.
"Baik bunda"
Toko kue bunda berhasil maju dengan pesat, bahkan bunda kerap kali membawa kue pesanan ke rumah untuk dikerjakan. Saking tidak sempatnya mengerjakan di toko, memang takdir itu tidak ada yang tahu. Setelah bunda benar-benar lepas dari ayah, toko milik bundanya serta perusahaan milik kak Darpa maju dengan sangat pesat.
Walaupun Freya sendiri tidak tahu, apakah bundanya itu bahagia atau tidak dengan kehidupannya saat ini. Karena ada rasa sedih yang sulit untuk diungkapkan, ada rasa sedih yang hanya bisa ditutupi agar bisa berpura-pura bahagia dan tidak membuat orang lain khawatir.
"Bunda bahagia?" Tanya Freya seraya menatap bundanya lekat.
"Tentu saja, pernikahan ini sudah bunda tunggu-tunggu sejak lama. Orang tua manapun, pasti akan sangat bahagia melihat puteranya melangkah menuju kehidupan barunya" jawab bunda dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
Freya menggelengkan kepalanya, bukan perihal pernikahan kak Darpa yang gadis itu maksud, melainkan perihal bundanya sendiri "enggak bunda, maksud aya. Bunda bahahgia dengan kehidupan bunda saat ini?" Tanyanya.
Sepersekian detik, Freya mampu melihat sudut bibir bundanya sedikit turun. Sebelum akhirnya senyuman manis muncul pada wajah cantik bundanya itu "iya, bunda bahagia. Bunda yakin, semua yang terjadi dalam hidup bunda, pasti ada hikmahnya. Tapi bunda gak menyesal nak, bunda gak menyesal pernah nunggu ayah kamu selama itu. Karena kesalahan tidak ada pada bunda. Bunda nitip sama kamu, jika suatu saat nanti kamu punya keluarga, jangan seperti ayah kamu. Fokus sama keluarga kamu. Jangan khianati kepercayaan orang yang mencintai kamu" nasihat bunda panjang lebar.
"Iya bunda" jawab Freya seraya menundukkan kepalanya.
Kesalahan tidak pada bunda, melainkan pada ayah yang tidak mampu menundukkan pandangannya, hingga akhirnya bermain api bersama dengan wanita lain. Bunda memang bodoh, Freya mengakui itu. Namun, Freya sangat yakin jika tidak ada perempuan yang bisa sesabar bundanya itu.
__ADS_1
Freya hanya berharap, bunda dapat hidup dengan bahagia dan menjalani kehidupan barunya. Jika suatu saat nanti, bunda bertemu dengan laki-laki baik-baik dan ingin membuat keluarga bersama dengannya. Maka Freya tanpa ragu akan merestuinya, bunda sudah cukup lama menderita, sudah sepantasnya dia menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Walaupun didalam kebahagiaannya itu, tidak ada Freya didalamnya.