
Tamu-tamu satu persatu pulang, beberapa kerabat juga langsung pulang ke kediaman masing-masing. Bahkan Oma dan Opa pun langsung pulang ke Bandung karena katanya tidak sanggup jika harus berlama-lama disini, mereka takut terlalu larut dalam kesedihan dan bayang-bayang puteri semata wayang mereka.
Ada perasaan ragu dalam hati Kafin untuk melangkah masuk kedalam rumah. Kesunyian menyambut kehadirannya, hanya ada sosok paman Raskal yang sedang duduk selonjoran di rumah tengah, sembari bekerja menggunakan laptopnya.
"Nak, kamu mandi gih. Paman sudah pesenin makanan buat kamu makan" titahnya ketika melihat kehadiran Kafin.
Kafin menganggukkan kepalanya, dia melangkahkan kakinya menaiki tangga. Mata laki-laki itu menatap satu pintu kamar yang kini sudah tidak akan berpenghuni lagi. Ketika dia membuka knop pintu, hanya ada kesunyiaan yang menyambut kehadirannya. Rasa sesak perlahan kembali menggerogotinya, karena ketika masuk kedalam kamar ini, tidak akan ada lagi bunda yang sedang bermain dengan skincarenya ataupun ayah yang sedang duduk dikasur sembari bekerja. Biasanya Kafin akan menghindar masuk kedalam kamar ini, karena bunda akan memaksanya untuk menggunakan skincare kesayangannya. Biasanya Kafin akan lebih memilih diam didalam kamar nya sendiri.
Jika bisa mengulang waktu, Kafin pasti akan lebih memilih untuk menemani bundanya bermain dengan skincarenya, dibandingkan pergi keluar bersama teman-temannya.
Namun, dibandingkan memutar badan dan masuk kedalam kamarnya yang berada disebelah, laki-laki itu lebih memilih tidur diatas kasur milik kedua orang tuanya. Dia lebih memilih merasakan perasaan sesak yang tiada hentinya, hingga air mata kembali berjatuhan. Padahal baru beberapa jam yang lalu Kafin memakamkan mereka, padahal baru beberapa jam yang lalu dia melihat wajah mereka yang begitu tenang. Tapi kenapa sekarang rasa rindu kembali hinggap dalam hatinya. Kenapa perasaan sesak ini terus saja menetap dalam pikirannya yang sudah sangat kacau.
Tangisan pilu berhasil keluar dari mulut Kafin, dia kembali menangisi kepergiaan orang tuanya. Yang berbeda dari sebelumnya adalah dia hanya menangis seorang diri tanpa ditemani oleh tangisan orang lain. Bahkan paman Raskal yang sebelumnya akan mengajak Kafin makan karena keponakannya itu tidak kunjung turun, lebih memilih diam dibalik pintu sembari mendengarkan tangisan putus asa dari keponakannya yang terus saja memanggil kedua orang tuanya.
"Mas, mbak. Tega kalian ninggalin putra kesayangan kalian. Tega kalian ninggalin Kafin sendirian kayak gini. Lihat, dia bahkan terus saja menangis sedari pagi"
__ADS_1
Pada kenyataanya, semua kesedihan ini hanyalah bagian dari takdir Allah Swt, semua kehilangan ini hanyalah seleksi alam untuk membuat manusia kembali kepada penciptanya. Tidak ada yang tidak sedih ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Tidak ada yang jauh lebih menyedihkan, dibandingkan penyesalan yang tertinggal dibalik kematian mereka. Kalimat seandainya dan seandainya terus saja digaungkan, hingga menyebabkan kata ikhlas sulit untuk menjadi teman.
*****
Sudah hampir satu minggu sejak kematian orang tua Kafin, satu minggu pula pemuda itu bolos sekolah dan tidak pernah keluar dari dalam rumah. Kafin yang biasanya selalu duduk di gazebo sembari bermain dengan gitar kesayangannya, kini telah tiada. Laki-laki itu benar-benar larut dalam kesedihannya. Beberapa kali Freya datang kerumah pemuda itu, hanya untuk mendapati sosok dia yang sangat menghawatirkan, Kafin sudah seperti tidak memiliki harapan untuk melanjutkan hidupnya.
Bahkan ketika paman Raskal memutuskan untuk pulang ke Banten, Kafin hanya mengantarnya sampai teras rumah. Dia bahkan menolak ketika diajak untuk ikut ke Banten, katanya gak papa, dia gak papa. Dengan perasaan ragu, akhirnya paman Raskal pergi meninggalkan Kafin seorang diri, seandainya dia tidak memiliki pekerjaan disana, mungkin dia akan menetap lebih lama menemani keponakannnya itu. Kini didalam rumah besar itu, hanya ada sosok Kafin yang ditemani bayang-bayang kedua orang tuanya.
"Bun, Aya pamit. Assalamu'alaikum"
Dengan sedikit berlari, Freya berjalan menuju rumah Kafin. Tangan mungilnya mengetuk pintu beberapa kali, seperti hari-hari sebelumnya, setiap pagi dia selalu mengajak Kafin berangkat sekolah bersama. Walaupun setiap harinya Freya harus mendapatkan perasaan kecewa, karena pemuda itu tidak mau membuka pintu.
Hari ini pun dia harus kembali membuang napas kecewa, Kafin tidak membukakan pintu untuknya. "Kafin!!! Lo gak mau sekolah apa?!! Bentar lagi bagi lapor!! Temen-temen udah rindu banget sama lo!!! Katanya tim basket kalah mulu kalau gak ada kaptennya!!" Teriak Freya.
Sudahlah mari kita cobalagi besok, gak papa. Jangan terlalu membuat laki-laki itu terbani, karena memaksanya untuk melangkah lebih cepat. Sepertinya hari ini Freya harus kembali berangkat sekolah naik angkot, dia tidak bisa meminta kak Darpa mengantarnya. Karena saat ini, dia sedang di Surabaya untuk mempersiapkan pernikahannya.
__ADS_1
Alhamdulillah, ternyata perjuangan kak Darpa dan bunda yang jauh-jauh pergi ke Surabaya berbuah manis. Setelah bermusyawarah dengan dibumbui sedikit cekcok, akhirnya keputusan untuk melanjutkan hubungan kak Darpa dan mbak Rania pun terpilih. Orang yang dijodohkan kepada mbak Rania memilih mundur sesudah bertanya kepada mbak Rania tentang siapa yang akan dia pilih. Yang tentu saja mbak Rania memilih kak Darpa, dia semakin yakin kepada kak Darpa ketika melihat kesungguhan dari kekasihnya itu.
Mbak Rania bahkan terkejut ketika mengetahui, jika Kak Darpa sudah mempersiapkan rumah di Jakarta untuk keduanya tempati setelah menikah. Kesepakatan untuk memberikan setengah dari gaji kak Darpa untuk mbak Rania dan setengahnya lagi untuk keberlangsungan hidup bunda dan adiknya Freya pun dipilih. Akhirnya keluarga mbak Rania mengerti, ketika mengetahui kondisi keluarga dari calon besannya itu.
Freya terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu garasi yang terbuka, dengan disusul sosok Kafin yang menaiki sepeda motornya "Kafin?" Tanyanya terkejut.
"Ngapain lo bengong aja? Naik" titahnya.
Freya seketika berjalan kearah Kafin kemudian menaiki sepeda motor yang dikendarai oleh pemuda itu. "Pegangan" titahnya.
Secara perlahan tangan kanan Freya julurkan untuk memeluk pinggang Kafin, karena tangan kirinya masih patah dan belum boleh digerakkan "tangan lo masih patah?" Tanya Kafin.
Freya menganggukkan kepalanya "iya, kata dokter seminggu lagi sembuh"
"Yaudah pegangannya yang kuat"
__ADS_1
Dengan laju motor yang tidak terlalu kencang, Kafin membawa motornya ke Sekolah. Freya pikir pemuda itu hari ini tidak akan kembali bersekolah, ternyata dugaannya salah. Tidak mungkinkan Kafin terlalu larut dalam kesedihannya? Mau bagaimanapun hidupnya harus terus berjalan. "Orang tua gue pasti bakal sedih banget liat gue terpuruk kayak gitu terus" seakan tahu isi hati Freya, Kafin memberi tahunya tanpa perlu diminta.
Selama perjalanan ke sekolah, Kafin terus saja bercerita, sosok Kafin yang sangat baru bagi Freya. Entah ini memang sosok Kafin yang sesungguhnya, atau mungkin ini cara pemuda itu untuk menghilangkan setiap kesedihannya.