
Kursi-kursi telah dikeluarkan, kerabat-kerabat, tetangga dan teman-teman sekolahnya mulai berdatangan. Kafin pikir, ia hanya tersesat dalam mimpi yang menakutkan saat dia mendapat telpon dari UGD yang memintanya untuk segera datang ke rumah sakit. Tapi kenyataannya, mimpi itu jugalah yang menuntunnya untuk berada disini.
Tatapannya berlari kosong pada tubuh kedua orang tuanya, yang terbujur kaku diruang tengah. Berbaring begitu tenang, seperti tak mendengar betapa banyak tangis yang terurai sebab kehilangan keduanya.
Kerabat-kerabat datang bersama berbungkus-bungkus kata tabah, juga kalimat bela sungkawa. Diusapnya pundak Kafin berulang-ulang kali. Kalimat untuk merelakan dan mengikhlaskan datang silih berganti. Seolah-olah, sedih ini memang harus disudahi. Seolah-olah, Kafin tidak boleh menangisi kepergian kedua orang tuanya yang pergi untuk selamanya.
Namun, Kafin menolak. Dia biarkan dirinya meratap begitu parah, saat menyadari bahwa kepergian kedua orang tuanya bukanlah sebuah mimpi belaka. Tidak ada yang jauh lebih menyakitkan, dibandingkan kehilangan kedua orang tua secara bersamaan untuk selamanya. Padahal beberapa jam yang lalu dia masih memiliki orang tua, beberapa jam yang lalu dia masih melihat mereka tersenyum dengan begitu lebar. Tapi sekarang, secara paksa dia harus menyandang gelar sebagai anak yatim piatu, gelar yang tidak pernah ingin dia sandang seumur hidupnya.
Tidak ada kata pamit, tidak ada peluk perpisahan yang lebih layak. Semuanya terjadi selayaknya hujan yang jatuh membasahi bumi. Setelah bermenit-menit dalam kegamangannya, Kafin mulai menitihkan air matanya lagi.
"Bun, Yah....." seberapa keras pun Kafin berusaha mencegah air matanya untuk jatuh, justru semakin kuat rasa sakit itu mendera.
"Fin, sudah yang tabah. Orang tua kamu sedih kalau kamu begini"
Kafin merasakan bagaimana tangan pamannya mendekap pundaknya kuat-kuat. Tapi alih-alih tegap, ia justru luluh lantak bersama dengan keputus asaan. "Mereka ijin sama Kafin untuk ke kondangan om. Tapi kenapa pulang-pulang malah begini?"
"Ini sudah jalannya Nak. Ikhlaskan..."
"Kafin Ikhlas. Tapi rasanya sakit om"
__ADS_1
Laki-laki itu bahkan sudah tidak mampu merasakan betapa derasnya, air mata yang telah membanjiri kedua pipinya. Yang hanya ada hanya kehancuran. Sungguh, tidak yang jauh lebih menyakitkan selain kehilangan kedua orang tua.
Bahkan masih basah dalam benak Kafin, ketika kedua orang tuanya berpamitan untuk pergi kekondangan temannya, mereka pamit untuk kekondangan, tapi kenapa mereka justru pergi untuk bertemu tuhan?
Hingga paman mulai menyerah, ia membiarkan Kafin larut dalam kesedihannya.
"Fin?"
"Mereka hanya tidur sebentar kan Ya?"
Freya meneteskan air matanya, saat Kafin mengusap rambut tante Mawar. Lalu laki-laki berkaus hitam itupun menyahut. "Padahal ini udah pagi. Tidak biasanya bunda telat bangun seperti sekarang"
Meski sesak, Freya mengusap wajah Kafin yang sudah sangat basah. Dipeluknya laki-laki itu dalam isak tangis yang tak terdeskripsi lagi bagaimana sakitnya.
"Kita harus segera memakamkan mereka Fin" ujar kak Darpa. Liang lahat sudah disiapkan, cinta sejati ternyata benar adanya, tidak hanya didunia saja mereka hidup berdampingan, dialam kuburpun mereka berdampingan pula.
Freya pikir Kafin akan menolak, dia pikir dia akan sama histerisnya seperti oma. Tapi ternyata, dengan wajah tabahnya Kafin beranjak dari duduknya seraya menganggukkan kepalanya. Mengikhlaskan kedua orang tuanya, ketempat peristirahatan terakhirnya.
"Enggak!!!! Jangan!!! Anak saya tidak mati" oma Kafin berteriak histeris. Suara isak tangis kembali terdengar memenuhi isi ruangan. Namun, sebanyak apapun air mata berjatuhan, sebanyak apapun penyangkalan diujarkan, kedua kelopak mata itu tidak akan lagi terbuka lebar.
__ADS_1
****
Kafin sama sekali tidak menduga bahwa, tanah yang disiapkan oleh bundanya untuk membuat butik, kini justru menjadi tempat untuk peristirahatan terakhirnya. Kini dirinya, kak Darpa dan paman Raskal berada diliang lahat. Awalnya Kafin ragu, dia takut tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya berpulang dengan sangat cepat. Namun ucapan kak Darpa membuat Kafin sadar, jika bukan dirinya, siapa lagi yang akan mengurus kedua orang tuanya.
Ketika membuka tali Kafan bunda, dia mendapati wajah tenang bundanya itu, dadanya terasa sangat sesak. Apalagi ketika telinganya mendengar oma berteriak histeris, meminta putrinya itu kembali sadar.
"Harusnya oma, harusnya oma dulu yang meninggal. Kenapa kamu malah pergi duluan. Bangun Mawar....bangun!!"
Kafin merasa seluruh pertahanannya akan runtuh saat ini juga. "Bunda, jika memang pergi menjadi pilihan yang kalian pilih. Jika keabadian merupakan tempat yang kalian tuju. Kafin cuman minta, sesekali datang ke mimpi Kafin. Dunia ini tidak seburuk itu, sampai kalian harus pergi secepat ini. Dan tunggu Kafin disana, Kafin janji akan datang secepatnya"
Bersamaan dengan papan yang diulurkan, bersamaan dengan tangannya yang mulai menutupi liang lahat, bersamaan itu pula ikhlas menjadi teman. Jerit tangis oma mampu membuat hati Kafin tercabik-cabik. Wanita paruh baya itu, kini telah benar-benar kehilangan seluruh dunianya. Putri semata wayangnya, kini telah benar-benar pergi meninggalkannya untuk selamanya, tanpa pamit, tanpa perpisahan.
Kafin nyaris lupa, kapan terakhir kali dia mengobrol bersama kedua orang tuanya untuk membicarakan banyak hal, bahkan dia lupa kapan terakhir kali kedua orang tuanya memarahinya karena dia yang hobi keluar malam. Kini yang tersisa hanya kekosongan belaka, sebab kedua orang tuanya telah pergi untuk selamanya.
Batu nisan bertuliskan nama lengkap kedua orang tuanya, juga kapan mereka menghirup udara untuk pertama kali dan kapan mereka menghembuskan napas terakhirnya. Membuat Kafin sadar, bahwa ternyata sesebentar itu mereka ada didunia ini.
Bahwa ternyata, tolak ukur hidup kedua orang tuanya hanya sekecil itu. Allah SWT benar-benar sayang kepada mereka, selama ini mereka sudah bekerja sangat keras untuk kelangsungan hidup, selama ini mereka bahkan hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat dari pekerjaan mereka yang melelahkan. Karena itu, karena itu Allah SWT memanggil mereka, Allah SWT ingin mereka beristirahat dengan tenang, dialam keabadian.
Jika Kafin boleh meminta, dia juga ingin ikut pergi bersama keduanya. Sekarang dengan siapa dia harus bersandar, dengan siapa dia harus berkeluh kesah, dengan siapa dia harus pergi membawa lapor ke sekolah. Padahal sebentar lagi dia akan naik kelas, sebentar lagi bundanya harus pergi kesekolah. Tapi sekarang, siapa yang akan menemaninya dan siapa yang akan mengomel jika Kafin turun rangking. Siapa yang akan memarahinya, karena dia selalu keluar malam.
__ADS_1
Siapa yang akan mengobati luka-lukanya, jika dia terluka karena balapan ataupun tawuran. Siapa yang akan mengomelinya dan memintanya untuk menjadi anak baik-baik. Sekarang semuanya telah pergi, seluruh dunianya telah hilang. Untuk apa dia hidup, untuk apa dia tetap berada di dunia, jika rumahnya telah benar-benar pergi, alasannya untuk pulang sudah tidak ada lagi. Sekarang, tidak akan ada lagi bunda yang menyambut kepulangannya, tidak akan ada lagi candaan ayah dimeja makan. Sekarang dia hanya seorang diri, begitu tega mereka meninggalkan Kafin didunia ini seorang diri.