Amanita phalloides

Amanita phalloides
jemput gue Rel


__ADS_3

Aroma dari kopi yang baru saja diseduh, masih menjadi aroma favorit dari seorang Freya Hela, karena itu dia masih saja betah bekerja part time di cafe Edelweiss. Selain menjadi seorang vokalis, beberapa kali Freya juga bertugas sebagai bartender, ketika kak Rafi--bartender yang biasanya bekerja berhalangan hadir. Tentu saja Freya tidak merasa keberatan jika harus menegerjakan tugas tersebut, karena dia ingin bisa. Iya, dia ingin sekali belajar membuat berbagai racikan kopi. 


Walaupun dia tidak mampu meminum kopi karena penyakit maag yang dideritanya, tapi dia ingin sekali membuatkan kopi racikan buatannya untuk kak Darpa. Freya selalu merasa sedih ketika melihat kak Darpa yang hanya minum kopi sachet saja, padahal dulu kakaknya itu sering sekali membuat kopi racikannya sendiri. 


Bahkan dulu, Freya sempat menduga kak Darpa akan membuka Cafe karena kecintaanya kepada kopi sangat besar. Tapi siapa yang menyangka kakaknya itu lebih memilih membuat perusahaan game, dibandingkan sebuah cafe. Karena masa lalu itu, Freya ingin sekali membuatkan kopi racikan buatannya untuk kak Darpa. Dia ingin mendengar komentar dari kak Darpa perihal kopi racikannya.


Seperti saat ini, Freya tidak memiliki tugas untuk menjadi seorang vokalis, karena itu seharusnya dia tidak datang ke Cafe. Tapi karena kak Rafi berhalangan hadir, jadi mau tidak mau Freya harus datang untuk menggantikan tugas kak Rafi. Selain ingin belajar membuat kopi, gaji yang Freya dapatkan ketika menggantikan kak Rafi tidak sedikit. Jadi Freya sangat-sangat tidak merasa keberatan, ibarat pepatah satu kali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.


"Hai Aya" sapa Arka--salah satu pelanggan tetap di cafe ini, sekaligus salah satu teman seangkatannya.


"Hai Arka. Pesanan seperti biasa?" Tanya Freya dan dijawab anggukan kepala oleh Arka.


"Kopi Americano tanpa air 2 shoot. Dengan kue red velvet" ujar Freya menyebutkan setiap pesanan Arka.


Kenapa Freya bisa hapal pesanan Arka, padahal dia hanya sesekali menjadi seorang bartender? Jawabannya hanya satu, karena Arka selalu memesan pesanan yang sama, selalu setiap hari. Bahkan Freya sangat hafal tempat duduk Arka. Pemuda itu hanya akan duduk dikursi paling pojok dekat jendela. Ketika Freya menanyakan alasannya kenapa selalu duduk disana, dia selalu mengatakan bahwa setiap memorinya masih tetap disana.


Elvina, wanita beruntung yang berhasil mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari seorang Arka. Pemuda itu sangat mencintai Elvina lebih dari apapun. Tentu saja Freya tidak seberuntung dia, Elvina memberikan cinta juga mendapatkan cinta melebihi cintanya kepada Arka. 

__ADS_1


Elvina tidak pergi kemana pun, jadi kalian tidak perlu berpikir skenario menyakitkan untuk cerita Arka dan Elvina. Elvina juga kerap kali datang kesini untuk sekedar nongkrong. Ucapan Arka hanyalah ucapan yang dia lebih-lebihkan. Jangan pernah percaya ucapan dari pemuda itu, karena semua yang keluar dari mulutnya hanyalah bualan belaka, kecuali semua ucapan dan janji yang dia berikan kepada Elvina, dia pasti akan membuktikan setiap ucapannya itu.


Hari ini suasana cafe begitu ramai, bahkan Freya hampir saja kewalahan jika saja kak Rafi tidak datang setelah urusannya selesai. Karena terlalu banyak bergerak, juga terlalu banyak tugas yang harus dia kerjakan. Freya hampir tidak menyadari bahwa hari sudah sangat gelap. Dia baru menyadarinya ketika keluar dari cafe untuk pulang kerumah. 


Pukul 22.00, itulah angka yang Freya lihat ketika membuka ponselnya. Freya menghembuskan napasnya lelah, jam segini sudah jarang sekali taksi yang lewat kedaerah ini. Apakah dia telpon Farrel saja dan minta pacarnya itu untuk menjemputnya? Baiklah mari kita coba. Walaupun hanya satu persen perkiraan dia akan mau menjemputnya.


Panggilan pertama hanya terdengar suara operator, begitu pun panggilan kedua. Freya masih mencoba menelpon Farrel dengan harapan pemuda itu akan mengangkatnya. Karena tidak kunjung diangkat, akhirnya Freya mengiriminya pesan.


...Farrel Najandra ♡...


^^^"Jemput gue Rel. Tolong"^^^


"Gak bisa, gue lagi sama Zyva"


^^^"Berarti lo ngijinin gue buat minta jemput Kafin"^^^


"Ganjen banget! pesen ojek online kan bisa"

__ADS_1


^^^"Gila lo Rel"^^^


Kesal, marah, bercampur aduk dalam pikiran Freya, bagaimana bisa pemuda itu memintanya memesan ojek online padahal hari yang semakin lama semakin larut. Dibandingkan memesan ojek online, Freya pasti lebih memilih pulang bersama Kafin. Setidaknya itu lebih menjamin keselamatannya, karena kita tidak pernah tahu hati manusia, jadi tidak ada salahnya jika kita bersikap hati-hati.


Walaupun Farrel tidak mengijinkannya pulang bersama dengan Kafin, Freya tetap menghubungi sahabatnya itu. Tidak peduli Farrel akan marah nantinya, yang penting keselamatannya lebih terjamin. Farrel bisa bersikap seenaknya kepada Freya, bahkan pemuda itu sedang bersama Zyva saat ini, padahal ini sudah malam, sangat malam. Jika Farrel bisa bersikap seenaknya, maka Freya juga bisa bersikap seperti apa yang dia mau. Tentu saja Farrel tidak memiliki hak untuk mengatur hidupnya, karena Freya juga tidak bisa mengatur hidup Farrel.


Kafin datang 20 menit setelah Freya memintanya menjemput, bahkan pemuda itu datang dengan wajah bantalnya. Katanya, dia sedang tidur nyenyak dan Freya menganggu acara mimpi indahnya. Beruntung Kafin masih memiliki hati nurani yang sangat besar, sehingga dia mau menjemput Freya, padahal bisa saja dia menolak menjemputnya.


"Lo gak takut pulang malem gini?" Tanya Kafin memulai obrolan.


Freya mengeratkan pelukannya pada pinggang Kafin, angin malam mampu menusuk sampai kepori-porinya. "Takut, karena itu gue nelpon lo" jawabnya seraya bersender pada punggung lelaki itu.


Freya sangat mengenal Kafin seperti apa, dia tidak akan pernah meminjamkan jaketnya kepada Freya. Katanya "gue juga manusia biasa, bisa ngerasain dingin. Jadi jangan ngimpi jaket gue bakal gue pinjemin ke lo". Namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup. Kafin meminjamkan jaketnya pada Freya. Bahkan ucapan Kafin malam itu masih saja membekas dalam benak Freya.


"Lo kalau butuh apa-apa telpon gue. Gue pasti dateng, mau tengah malem kek, subuh kek, gue pasti dateng. Jadi jangan ngerasa ragu buat minta tolong sama gue. Lo kan sahabat gue"


Laki-laki manja seperti Kafin, ternyata bisa berubah menjadi laki-laki yang sangat perhatian. Siapun yang suatu saat nanti menjadi pendamping hidup Kafin, pasti dia akan sangat beruntung. Karena Kafin merupakan seorang laki-laki yang tidak neko-neko, dia sangat royal dan sangat perhatian. Dia juga seseorang yang mampu menjadi pendengar yang baik, karena itu Freya sangat nyaman berbincang dengannya. Minusnya, dia terlalu friendly untuk dijadikan pacar.

__ADS_1


Setelah sampai dirumah, Freya beberapa kali mengecek ponselnya, berharap ada satu pesan dari Farrel. Berharap pacarnya itu menanyakan, apakah sudah sampai rumah atau belum, berharap dia menanyakan dengan siapa Freya pulang, berharap pemuda itu mencemaskannya. Namun, itu semua hanyalah angan Freya yang semakin lama semakin mengapung tinggi. Semua hanyalah mimpi yang tidak akan pernah bisa Freya dapatkan. 


Kamu adalah fatamorgana yang terlalu aksa untuk disebut jatukrama.


__ADS_2