
Setelah kepergian pak Bisma dan istrinya, Freya pun masuk kedalam rumah Kafin yang juga diikuti oleh lelaki itu. "ini bunda ngasih kamu makanan buat besok, mau ditaruh dimana?" tanyanya.
"didapur aja deh Ya, bilangin sama tante, makasih banyak"
Kafin pun dengan segera mengambil rantang yang masih dipegang oleh Freya, kemudian melenggang pergi kearah dapur. Sepeninggal Kafin, gadis itupun menatap kearah sekelilingnya yang terlihat berantakan dan tidak terurus. Biasanya, ketika Freya bermain ke rumah Kafin, rumah ini akan terlihat sangat rapi dan juga bersih. Mungkin saking sibuknya, Kafin sampai belum sempat untuk beres-beres. Yah, kini hari-hari lelaki itu dipenuhi dengan bekerja, bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.
Freya yang selama ini menderita Atelophobia pun, dengan segera merapihkan barang-barang milik Kafin. Dimulai dari merapikan buku-buku yang tergeletak dimana saja, juga membuang beberapa botol yang tergeletak diatas lantai, ke tempat sampah. Setelah barang-barang tersimpan rapi pada tempatnya, Freya pun segera menyapu lantai, kebetulan dia tidak sengaja melihat sapu tergeletak dibelakang pintu.
"loh? Ngapain lo beres-beres Ya?" tanya Kafin terkejut, ketika mendapati Freya yang sedang menyapu ruang tamu.
"padahal ini rumah berpenghuni, tapi kenapa berantakan banget sih?" tanya Freya jengkel. setelah selesai menyapu ruang tamu, gadis itu melangkahkan kakinya kearah dapur, seraya mengambil nampan yang berisikan gelas dan juga piring yang baru saja digunakan oleh pak Bisma dan istrinya.
Kedua bola mata Freya membulat sempurna, ketika melihat tumpukan piring kotor diatas wastafel. "astagfirullah Fin, emangnya lo gak pernah cuci piring?" tanyanya dengan wajah jengkelnya.
Mata gadis itu memicing sempurna ketika melihat Kafin yang berjalan kearah kulkas, kemudian mengambil air mineral dari dalamnya. Beberapa kali Freya menghembuskan napasnya lelah, setelahnya, gadis itupun menggulung kedua lengan bajunya.
"gue aja yang nyuci piring" pinta Kafin.
"gak usah, gue aja" tolak Freya dan dengan segera menyalakan kran air.
"masa gue yang punya rumah diem aja, suruh gue ngerjain apaan kek"
Freya menatap sekelilingnya yang tampak berantakan, beberapa plastik bekas mie instan bahkan masih tergeletak di dekat kompor. "kumpulin sampah-sampah, lalu buang" perintahnya.
__ADS_1
"siap bu bos"
Dengan semangat 45, Kafin memungut sampah-sampah yang tergeletak dimana saja. Selama ini dia hanya pulang ke rumah untuk makan dan tidur, jadi dia tidak memiliki waktu untuk beres-beres rumah. Siapa yang menyangka jika rumahnya akan menjadi seberantakan ini. Pepatah yang mengatakan sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit kini lelaki itu telah membuktika pepatah tersebut. Awalnya, Kafin hanya membuang satu bungkus mie instan, tapi kalau dia melakukannya berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, tentu saja sampah-sampah itu akan menumpuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk mencuci piring, Freya melanjutkan kegiatannya dengan mengelap kompor dan juga dinding, karena sudah benar-benar berdebu. Debu yang berhasil menyatu dengan minyak goreng, benar-benar menjijikan.
"gue buang dulu sampahnya ke depan yah?" ijin Kafin, setelah dia berhasil mengumpulkan semua sampah yang berada di dapur dan juga ruang tamu.
"iya" jawab Freya. Setelahnya, Kafin pun benar-benar pergi meninggalkan gadis itu seorang diri didalam rumahnya.
Beberapa kali Freya menghembuskan napasnya lelah, membereskan rumah Kafin, sudah seperti membereskan rumah yang sudah lama tidak berpenghuni. Benar-benar kotor dan berdebu. Gadis itu kembali berpikir, seandainya Kafin benar-benar pergi ke Banten, bukankah rumah ini akan menjadi kosong? Lalu, siapa yang akan membersihkannya? Tidak ada yang tahu kapan Kafin akan pulang, dan berapa lama lelaki itu akan pergi.
****
Freya melirik minuman yang diserahkan oleh Kafin seraya mengambilnya "makasih" setelahnya, gadis itupun membuka penutup botol kemudian meminumnya.
"selama ini, lo cuman makan mie instan? Perasaan tadi banyak banget bungkus mie instan" tanya Freya seraya melirik Kafin sekilas, kemudian kembali menikmati acara kartun yang sedang tayang di tv.
"iya"
"kenapa? Mie instan kan gak sehat, apalagi dimakan terus menerus"
Kafin menghembuskan napasnya dalam "lo kan tahu kalau gue sedang menghemat, dan mie instan solusi terbaik untuk kaum kayak gue" jawabnya.
__ADS_1
Freya menyimpan minuman isotonic miliknya pada meja, kemudian menatap Kafin dengan seksama "gak hemat lah, mie instan satunya 3.500, sedangkan lo makan 3 kali sehari, berarti lo ngeluarin uang seharinya 10.500. Dari pada beli mie instan, mending lo beli telur yang satunya cuman 2000. Lebih hemat dan sehat" omel Freya.
Entah sudah kali keberapa Kafin menghembuskan napasnya dalam. Sepertinya, beban hidup lelaki itu benar-benar berat "Aya, seharinya gue cuman makan 2 kali. Dan gue cuman beli satu mie instan untuk 2 hari. Jadi hemat banget lah"
"hah? Gimana?"
"lo gak perlu tahu Ya" tolak Kafin. Kemudian mengalihkan channel tv yang menurutnya tidak seru.
"lo kenapa sih? Gue nanya bener-bener sama lo Fin. Gue khawatir, gimana caranya satu mie instan bisa dimakan untuk 4 kali makan. Gak mungkin bisa Kafin" dengan seksama, Freya menatap sosok Kafin yang menghindari tatapannya.
Lelaki itupun mengusap wajahnya gusar, kemudian menatap Freya putus asa "cukup Ya, gue gak mau terlihat lebih menyedihkan lagi dihadapan lo. Bagaimana mungkin, gue meperlihatkan sosok gue yang menyedihkan, dihadapan orang yang sangat gue sukai" ujarnya Parau.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Freya dengan segera menarik Kafin kedalam pelukannya. Tanpa bertanya perihal maksud dari lelaki itu, Freya mengusap punggungnya naik turun. Tidak mungkin Freya tidak tahu arti dari ucapan terakhir yang keluar dari mulut Kafin. Dia pun sangat terkejut dengan pengakuan Kafin yang tiba-tiba. Selama ini, Freya selalu menganggap semua ucapan lelaki itu hanyalah candaan juga gombalan yang tidak didasari atas cinta. Dia pikir, Kafin hanya mencoba bermain-main padanya dan memainkan perasaannya, seperti apa yang dilakukan oleh Farrel.
"Aya, gue emang gak punya apa-apa. Bahkan untuk besok hari aja, gue masih belum kepikiran akan menjalaninya kayak gimana. Gue bukan Farrel yang punya segalanya, yang masih memiliki masa depan yang cerah. Tapi gue gak bisa ngebohongin perasaan gue lagi, gue udah suka sama lo dari lama. Gue gak bisa nyatain perasaan gue, karena lo sedang pacaran sama Farrel. Tapi, disaat lo udah benar-benar lepas dari dia. Gue malah gak punya apapun yang bisa membuat gue merasa pantas untuk berada disisi lo"
Ungkapan perasaan Kafin saat ini, hanyalah bentuk dari kejujurannya. Dia tidak akan meminta Freya untuk berpacaran dengannya, ataupun menunggunya hingga sukses. Kafin hanya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berkata jujur perihal perasaannya. Seperti katanya barusan, Kafin bahkan sudah tidak memiliki apapun lagi, dia tidak memiliki satu hal pun yang bisa membuatnya pantas berada disamping Freya.
Untuk dirinya makan saja, Kafin sudah kesusahan setengah mati. Alasannya memakan mie instan setiap harinya, karena dia bisa menyisakan kuahnya untuk dia makan sore harinya. Dia bisa menyisakan bumbunya untuk dia seduh besok harinya bersama nasi. Orang yang sangat menyedihkan seperti dirinya, bagaimana bisa mengajak anak orang lain untuk berpacaran. Alamat nyiksa anak orang lain untuk hidup menderita.
"Fin, makasih. Makasih karena sudah jujur, tapi.."
"it's okei Ya, gak papa. Gue gak akan minta lo untuk jadi pacar gue, gue cuman ingin lo tahu, kalau gue suka sama lo. Itu saja"
__ADS_1