Amanita phalloides

Amanita phalloides
malam kecelakaan


__ADS_3

Kelak aku akan datang dalam ingatanmu dan simaklah, bagaimana aku menetap jauh lebih lama didalam sana. Dalam kepalamu yang terlalu ramai.


Seperti seorang yang kesetanan, Farrel berlari masuk ke ruang UGD, dia bahkan memarkirkan motornya asal. "Dimana pasien bernama Freya Hela?" Tanyanya kepada resepsionis ketika dia berhasil masuk kedalam.


"Oh yang baru mengalami kecelakaan? Dia ada disana" Farrel mengikuti arah yang ditunjuk oleh sang resepsionis.


Laki-laki itu bernapas lega ketika mendapati Freya yang sedang duduk di kursi koridor Rumah Sakit. Dengan sedikit berlari Farrel menghampiri gadis tersebut, dengan wajah khawatirnya dia memegang kedua pundak Freya "lo gak papa kan?" Tanyanya khawatir.


"Farrel?" Freya terkejut mendapati Farrel dihadapannya. Bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui dia disini? Dan darimana dia tahu?


Dengan gerakan cepat Farrel merengkuh tubuh Freya kemudian memeluknya erat "gue pikir lo mengalami kecelakaan, gue pikir yang mati itu lo. Alhamdulillah lo gak kenapa-napa" 


Farrel merasa bersyukur karena Freya tidak kenapa-napa, dia sangat beryukur karena masih bisa melihat wajah gadis yang dia cintai dalam keadaan hidup. "Lo tahu dari mana gue disini?" Tanya Freya penasaran.


Farrel melepaskan pelukkannya, kemudian menjongkokkan tubuhnya seraya menatap Freya lekat. Ekspresi penuh kelegaan terpancar jelas dari wajah pemuda itu. "Radit, dia yang ngasih tahu di grup sekolah. Katanya siswa sekolah kita mati, karena kecelakaan dipertigaan deket cafe Edelweiss. Gue pikir itu lo, katanya korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit ini. Makanya gue cepet-cepet kesini" ujat Farrel seraya kembali memeluk tubuh Freya dengan penuh kelegaan.


"YaAllah makasih. Makasih karena sudah membiarkan gadis ini tetap hidup. Makasih karena sudah memberikanku kesempatan untuk menebus kesalahanku selama ini"  monolog Farrel dalam hatinya.

__ADS_1


"Rel, gue emang kecelakaan. Tapi Alhamdulillah cuman tangan gue yang patah" 


Entahlah, Freya merasa sosok Farrel yang dia lihat saat ini adalah sosok Farrel yang ia kenal dulu, dulu ketika mereka baru berpacaran. Sosok Farrel sebelum kemunculan Zyva, sosok yang sangat lembut juga perhatian. Entah sosok Farrel yang mana yang sesungguhnya, tapi Freya tahu bahwa saat ini Farrel tidak sedang berpura-pura. Sorot matanya tidak bisa membohongi Freya, sorot mata yang penuh akan kekhawatiran.


"Sorry, Ya. Sorry. Harusnya gue jemput lo, harusnya gue gak ngebiarin lo pulang sendiri"


Freya menggelengkan kepalanya "gak papa, gue sadar diri kok. Gue kan bukan siapa-siapa lagi buat lo"


Beberapa menit yang lalu dia memang merasa marah kepada Farrel, dia merasa marah karena tidak ada seorang pun yang datang menjemputnya. Tapi mau bagaimana lagi? Segalanya telah terjadi. Kecelakaan ini tidak akan pernah bisa diulang. Freya cuman bisa berharap, siapapun keluarga yang ditinggalkan oleh korban yang meninggal ditempat. Bisa menerimanya dan mengihlaskan. Dia berharap mereka bisa tabah menerima takdir yang kurang mengenakan ini.


Kejadian adu banteng pun terjadi, truk yang melaju dengan kecepatan tinggi itupun membuat mobil hitam yang melaju diarah berlawanan ringsek karena ditabrak olehnya. Bahkan mobil hitan itupun sempat terdorong beberapa meter dari tempat kejadiaan. Naasnya sepasang suami istri yang berada didalam mobilpun meninggal ditempat.


Sosok Kafin tiba-tiba muncul dibalik pintu, pemuda itu berlari kearah resepsionis. Freya berdiri dari duduknya dan menatap Kafin yang berlari kearah ruang jenazah. Hati Freya terasa berdetak dengan sangat cepat, tidak mungkinkan apa yang dia pikirkan benar adanya. Tidak mungkinkan jika orang yang ada didalam mobil hitam tersebut adalah orang tua Kafin.


"Rel, gak mungkinkan?" Tanya Freya khawatir.


"Maksud lo?" Farrel juga menyaksikan kehadiran Kafin, tapi yang membuatnya heran adalah kenapa pemuda itu masuk keruang jenazah? Kenapa dia tidak menghampiri Freya?

__ADS_1


Dengan wajah penuh kekhawatirannya, Freya berlari kearah ruang jenazah. Gak, gak mungkin. Gak mungkin mereka yang meninggal, gak mungkin!! Seluruh penyangkalan terus bergelut dalam pikirannya. Namun, penyangkalan itu terhenti ketika mendapati Kafin yang sedang bersimpuh sembari menangis dibawah brankar.


Semuanya terasa berjalan dengan sangat lambat, Freya merasa sangat hancur ketika melihat Kafin yang berteriak histeris, rasa bersalah menggerogoti seluruh tubuhnya. Bahkan ketika Freya memeluk erat tubuh Kafin, laki-laki itu masih saja menangis dan berteriak. Hingga akhirnya Kafin bisa tenang ketika dokter memberikannya suntikan obat tidur.


Satu persatu orang mulai berdatang, Arka dan Radit datang kerumah sakit. Mereka langsung berangkat ketika tahu bahwa Freya yang mengalami kecelakaan. Polisi datang untuk meminta kesaksiaan Freya yang berada dilokasi kejadiaan. Freya menjelaskan semua kejadian yang dia lihat secara keseluruhan, tidak ada yang dia sembunyikan. Dari kesaksian polisi ternyata sopir truk tersebut sedang mabuk karena itu dia membawa truknya dengan kecepatan yang tak terkendali.


Freya menggenggam tangan Kafin erat, dia mengusap wajah Kafin yang tertidur lelap. Sudah hampir 3 kali Kafin tersadar, 3 kali pula dia mendapatkan suntikan obat tidur karena berteriak histeris. Freya menatap Farrel yang duduk disampingnya.


"Rel, seandainya saat itu gue gak nyebrang jalan. Mungkin gak kayak gini endingnya" ujarnya menyesal.


Farrel berdiri dari duduknya dan memeluk Freya erat "gak papa, ini bukan salah lo. Ini sudah bagian dari takdir yang dituliskan oleh yang diatas. Sekarang kita hanya bisa berada disisi Kafin dan menemaninya" ujarnya menenangkan.


Melihat kondisi Kafin yang seperti sekarang membuat Freya takut, dia takit Kafin akan membencinya. Dia takut kehilangan Kafin untuk selamanya. Freya sangat tahu seberapa cintanya Kafin kepada kedua orang tuanya. Walaupun dia termasuk anak badung dan hobi bikin masalah, tapi Kafin tidak pernah sekalipun membentak orang tuanya. Bahkan ketika orang tuanya menyita motor kesayangannya, Kafin masih bisa tersenyum dan meminta maaf dengan sangat lembut kepada tante Mawar. Dia menerima setiap hukuman yang diberikan oleh ornag tuanya dan mengakui semua kesalahannya.


Entah akan seperti apa kedepannya, entah bagaimana Kafin akan kembali menjalani hari-harinya. Kafin hanya seorang anak tunggal, bahkan keluarga besarnya tinggal diluar kota. Dia hanya akan tinggal seorang diri dirumahnya itu. Freya berjanji tidak akan meninggalkan Kafin seorang diri dan tidak akan membuat pemuda itu kesepian, tapi dia tidak yakin akan mampu mengisi kekosongan hati Kafin yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya.


Pukul 03.00 dini hari, bunda, kak Darpa dan keluarga mbak Rania datang dari Surabaya. Mereka langsung datang ketika mengetahui bahwa Freya mengalami kecelakaan, dan mereka cukup terkejut ketika mengetahui bahwa orang tua Kafin meninggal dalam kecelakaan yang sama. Oma dan Opa Kafin juha beberapa paman dari ayahnya datang tepat setelah Kafin terbangun dari tidurnya. Tidak ada lagi tangisan histeris, yang ada hanya tatapan kosong yang pemuda itu pancarkan. Bahkan ketika omanya berteriak histeris karena kehilangan puteri semata wayangnya, Kafin tetap tidak bergeming dan hanya menatap jenazah kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2