Amanita phalloides

Amanita phalloides
cinta itu, memperjuangkan dia sampai akhir


__ADS_3

Setelah adegan Freya yang nangis-nangis dihadapan seluruh pembeli sate, juga mamang pedagang. Disinilah keduanya saat ini, duduk di kursi taman sembari melihat beberapa aktifitas pengunjung taman. Mungkin karena hari yang sudah semakin sore, dan udara yang sudah lebih sejuk dibandinvkan tadi siang. Membuat para pengunjung semakin memadati area taman. Ada yang datang untuk sekedar nongkrong, ada yang datang untuk berolahraga, adapula yang datang hanya untuk membeli makanan saja.


"Kak, Aya udah denger dari mbak Rania, kalau kalian baru saja putus" ujar Freya. Matanya masih saja fokus melihat laki-laki seumurannya yang sedang asik bermain basket dengan teman-temannya.


Tidak ada jawaban apapun dari kak Darpa, dia masih saja diam membisu "sekarang gimana kak? Selanjutnya akan bagaimana?" Tanya Freya akhirnya.


"Entahlah, kakak juga gak tahu"


"Kak, sebenarnya kenapa sih kakak masih saja menunda pernikahan kakak. Padahal umur kakak udah cukup untuk menikah, pekerjaan kakak juga sudah cukup mapan, sehingga kakak tidak perlu lagi memikirkan tentang biaya kedepannya. Kuliah kakak juga sudah selesai, kakak juga sudah menemukan wanita yang sangat baik untuk jadi pendamping hidup dan ibu dari anak-anak kakak. Sebenarnya apa yang kakak tunggu? Dan sampai kapan kakak akan membuat mbak Rania menunggu. Keluarga mbak Rania katanya sudah menjodohkan mbak Rania dengan laki-laki lain. Bahkan mereka akan mengadakan lamaran lusa nanti" 


"Dek, kamu gak ngerti. Semuanya gak semudah itu".


Freya menghembuskan napasnya lelah "hahhhh....apa ini karena Aya?" Tanyanya.


Keterdiaman kak Darpa membuat Freya yakin, jika alasan kenapa kak Darpa selalu saja menunda pernikahannya pasti karena dirinya. "Kak, kalau kakak memang menunda pernikahan kakak hanya karena Aya. Aya mohon jangan lakukan itu. Aya bisa kerja kok, jadi kakak gak usah terlalu khawatir. Aya juga bisa nunda kuliah dulu, sampai uang Aya cukup. Aya sangat berterima kasih, karena kakak menyayangi Aya sebesar itu. Tapi Aya mohon, pikirin kebahagiaan kakak juga".

__ADS_1


"Gak segampang itu dek, keluarga Rania meminta seluruh gaji kakak diserahkan ke Rania. Kakak gak mungkin ngelakuin itu, karena kakak punya kamu dan juga bunda, tanggung jawab kakak gak hanya dia, tapi kalian juga" Darpa merasa sangat frustasi saat ini.


Dia sadar bahwa dia sangat mencintai Rania, dia sadar Rania sudah banyak berjuang dalam hubungan keduanya. Tapi Rania bukan satu-satunya orang berharga yang dia miliki. Bunda dan adeknya juga sama berharganya. Tidak mungkin dia tidak membiayai mereka, sedangkan yang mereka punya hanya Darpa, hanya Darpa yang memiliki pekerjaan tetap. 


"Kak" Freya menatap Darpa lekat. "Gak harus semuanya kakak tanggung, beban berat ini gak harus kakak tanggung seorang diri. Bukankah keluarga itu harus saling berkerja sama? Kak, sekarang bisnis kue bunda sudah maju, bahkan bunda udah punya tokonya sendiri. Jadi kakak gak usah terlalu khawatir kami tidak bisa hidup dengan baik. Aya memang bekerja paruh waktu untuk mencari uang, tapi Aya sangat menikmatinya. Ketika Aya memetik senar gitar dan mulai bernyanyi, Aya merasa disinilah dunia Aya. Aya merasa sangat bahagia kak" dengan senyuman hangatnya, Freya kembali melanjutkan ucapannya seraya menatap Darpa "kakak sudah berjuang dengan sangat baik untuk keluarga kita. Sekarang saatnya kakak, berjuang dengan baik pula untuk keluarga kecil kakak"


Darpa merengkuh tubuh adiknya kemudian memeluknya erat. Tidak disangka Freya yang dulu sangat cengeng, kini sudah sangat besar, dia juga sudah bisa bersikap dewasa. "Iya, kamu benar dek. Kakak gak bisa melepaskan perempuan sebaik Rania. Bagaimanapun cinta itu harus diperjuangkan bukan?"


Freya menganggukkan kepalanya terharu "iya kak, kejar mbak Rania. Buktikan bahwa pilihan mbak Rania selama ini tidak salah. Buktikan bahwa kakak pantas berada disamping mbak Rania. Kalau kita mencintai seseorang yah harus di kejar, cinta bukan berarti bahagia melihat dia bahagia dengan yang lain, tapi cinta itu memperjuangkan dia sampai akhir"


Freya baru saja menyadari kalau dia belum menceritakan, kabar kandasnya hubungannya dengan Farrel "Semua orang memang pantas untuk memperjuangkan sesuatu yang mampu membuat mereka bahagia. Tapi adakalanya, menyerah menjadi opsi paling baik untuk semakin mendewasakan diri".


"Gak papa, kamu sudah berjuang dengan sangat baik. Gak papa" Darpa kembali memeluk Freya erat. Dia terlalu larut dalam masalahnya bersama Rania, sampai dia melupakan sosok adik yang sangat membutuhkannya. Dia bahkan tidak ada disaat adiknya terpuruk, tapi ketika dirinya terpuruk, justru Freya-lah yang berada disisinya.


"Mencintai Farrel adalah seni paling sederhana, yang pernah Aya ciptakan untuk menorehkan luka"

__ADS_1


Freya pikir air matanya sudah habis, Freya pikir dia tidak akan pernah menangisi Farrel lagi, dia pikir dia sudah perlahan memaafkan. Tapi ternyata dia salah, selama ini dia hanya berpura-pura seakan baik-baik saja, dia berpura-pura seakan tidak pernah ada kejadian yang membuatnya terluka, dia berpura-pura seakan semuanya tidak apa-apa. Tapi, berpura-pura seakan-akan baik-baik saja, bukan berarti dia benar baik-baik saja, bukan berarti dia tidak terluka, bukan berarti semuanya tidak pernah terjadi.


Freya hanya menutupinya dengan sebuah kain tipis, sebuah kain yang sewaktu-waktu akan koyak jika Freya tidak menjaganya dengan sangat hati-hati. Sebuah kain, yang suatu saat nanti akan tertiup angin dan kembali memperlihatkan luka yang masih saja sama. Luka yang sangat sulit untuk mengering. Selama ini, Freya hanya berusaha mengubur semua luka dan kekecewaannya tanpa berusaha menyembuhkannya.


*****


Malam harinya, Darpa dan bunda memutuskan untuk pergi ke Surabaya tanpa ditemani adik kesayangannya. Freya tidak bisa pergi, dikarenakan dia yang masih melaksanakan ujian, Freya tidak mau jika harus melaksanakan ujian susulan. Karena itu dia memutuskan untuk tidak ikut pergi ke Surabaya tempat Rania tinggal. Freya hanya mengirimkan hadiah dan juga salamnya saja.


"Kamu beneran gak mau ikut?" Tanya bunda khawatir. Sudah hampir 10x bundanya itu menanyakan pertanyaan yang sama.


"Iya, kalau lagi gak masa ujian, Aya pasti akan ikut. Aya titip salam sama mbak Rania dan keluarganya, juga Aya mau nitip hadiah buat mbak Rania.


"Iya, jaga diri kamu baik-baik. Bunda dan kakak kamu gak akan lama-lama disana. Kalau ada apa-apa kabarin bunda, telpon bunda. Ngerti?"


Freya menganggukkan kepalanya mengerti "iya, udah bunda sana berangkat. Keburu kemalaman" 

__ADS_1


Bunda dan kak Darpa pergi ke Surabaya dengan mengendarai mobil. Mereka tidak hanya pergi berdua saja, melainkan mereka pergi dengan ditemani oleh beberapa kerabat dekat. Bunda meminta adik-adiknya untuk menemai pergi kesana, supaya keluarga Rania tahu bahwa keluarganya merupakan keluarga yang cukup besar. Selain itu, keluarga besar ingin sekali melihat secara langsung, kak darpa yang melamar perempuan yang dicintainya.


__ADS_2