Amanita phalloides

Amanita phalloides
berbelanja bersama


__ADS_3

"Temenin gue beli hadiah buat nikahan kak Darpa"


Kira-kira seperti itulah pesan yang dikirim oleh Kafin beberapa menit yang lalu. Freya tentu saja mengiyakan permintaan pemuda itu, apalagi beberapa hari lagi Kafin akan ikut ke Banten bersama paman Raskal. Freya tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk bisa bersahabat dengan Kafin. Karena, tidak ada yang tahu apakah pemuda itu akan kembali pulang atau tidak. Mengingat, dia yang sudah memiliki niatan untuk keluar dari sekolah. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi Freya untuk bertemu dengan Kafin.


Karena selama ini, kedekatannya dengan Kafin terjadi karena mereka satu sekolah, juga karena kedekatan kedua orang tua mereka dan tentunya karena rumah mereka yang berdekatan. Jadi, tidak alasan lagi bagi mereka untuk bertemu, jika Kafin pergi ke Banten.


"Bunda, Aya mau nemenin Kafin belanja boleh?" Ijin Freya pada sang bunda.


Wanita paruh baya itupun menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya, jangan pulang malem-malem" nasihatnya.


"Siap bunda" jawab bunda senang.


Sudah hampir 3 hari Freya membantu pekerjaan bundanya di toko, sudah hampir 3 hari pula Farrel secara gencar mendekatinya. Freya pikir, peringatan serta permintaannya pada hari itu, akan membuat pemuda itu menyerah ataupun merasa iba terhadapnya. Tapi nyatanya, dibandingkan menjauhi serta menghargai apa yang menjadi keinginan Freya. Farrel justru semakin gencar mendekati gadis itu, tidak terhitung berapa kali pemuda itu mengajaknya ngobrol, ataupun sekedar melontarkan gombalan receh yang tentunya, membuat pertahan Freya goyah.


Akhirnya, karena tidak ingin berhubungan lebih dalam lagi dengan Farrel dan terjebak rayuan mematikannya. Freya meminta sang bunda untuk menukar posisi kerjanya dengan kak Aura yang bekerja sebagai pembuat kue. Untungnya, berkat pengalamannya yang selalu membantu bunda dalam membuat kue kering. Bunda tanpa ragu menukar posisi kedua orang itu, karena selama ini pun dia terus memperhatikan interaksi puterinya dan mantan pacar dari puterinya itu. Dyvia tentu saja tidak akan ikut campur, tapi bukan berarti dia akan acuh dan bersikap tidak peduli. Ketika puterinya itu meminta pertolongannya, maka dengan segera dia akan menolong puteri kesayangannya itu.


Alasannya menerima Farrel untuk bekerja di sini, tidak lebih selain karena dia yang membutuhkan pegawai. Namun, alasan lainnya karena dia ingin melihat seperti apa sosok Farrel sebenarnya. Dyvia tidak mungkin menutup mata atas segala kejadian yang menimpa puterinya. Namun, dia pun penasaran dengan alasan kenapa dulu puterinya sangat mempertahankan pemuda itu. Walaupun kini mereka telah berpisah, tapi berkat dia yang telah memperhatikan interkasinya dengan Farrel selama 3 hari terakhir. Dia dapat menyadari jika, cinta yang dimiliki oleh puterinya tidak bertepuk sebelah tangan. Farrel pun mencintai puterinya, tatapan mata dia tidak mampu berbohong.


"Gue didepan"


Setelah mendapat pesan tersebut, dengan segera Freya berpamitan pada sang bunda dan segera merapikan barang-barangnya.


"Aya berangkat dulu bun. Assalamu'alikum" pamitnya disertai kecupan pada pipi sang bunda.

__ADS_1


Terlihat Farrel yang sedang merapihkan roti-roti di rak. Dengan tatapan matanya yang setajam burung Elang, pemuda itu menatap kemunculan Freya yang baru saja keluar dari dapur. Namun, sepertinya gadis itu tidak terlalu memperhatikan sosok Farrel yang sedang menatapnya sedari tadi.


"Mau kemana?" Tanya kak Aura yang berada di meja kasir.


"Kencan dulu kak. Assalamu'alaikum" pamit Freya dengan suara yang sengaja dikeraskan. Supaya Farrel dapat mendengar ucapannya yang sebenarnya bohong, tapi tidak 100 persen bohong juga. Yah, semoga saja Farrel akan menyerah setelah mendengar Freya mengatakan itu.


"Wa'alaikum sallam"


****


"Udah nungguin lama?" Tanya Freya pada Kafin, lelaki itu kini sedang duduk manis diatas motornya seraya meminum satu botol kopi.


"Engga, baru aja nyampe. Dibolehin kan sama tante?"


Freya menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya, ayo berangkat, keburu malem" ajak gadis itu.


"Iya, udah ahk gak udah perduliin dia. Kita berangkat sekarang!"


"Oke"


Kafin pun menyalakan sepeda motornya, diikuti Freya yang dengan segera menaiki motor pemuda itu.


"Lo hutang banyak penjelasan sama gue" ujar Kafin sebelum melajukan sepeda motornya.

__ADS_1


Setelahnya, pemuda itupun melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Rencananya, mereka akan membeli hadiah di mall yang tempat nya tidak begitu jauh dari toko roti milik bunda.


Kafin itu baik, namun pemuda itu terlalu banyak berpetualang hingga lupa jika rumahnya membutuhkan sosoknya. Kafin banyak berubah setelah kepergian kedua orang tuanya, dia sudah berhenti gonta-ganti pacar dan kini malah betah menjomblo. Selama menunggu keberangkatannya ke Banten, Kafin menyibukkan dirinya dengan bekerja di bengkel milik salah satu temannya. Dengan suaranya yang enak didengar, Kafin juga beberapa kali manggung di cafe-cafe. Walaupun begitu, Freya dan Kafin belum pernah sekalipun tampil bersama. Padahal, mereka bekerja di bidang yang sama.


Freya sendiri, selain membantu bunda di toko rotinya. Dia juga masih bekerja di cafe Edelweiss, namun tidak terlalu sering karena cafe sering kali tutup dikarenakan kesibukan kak Rafi di kampusnya. Bos nya itu, sedang menyibukkan dirinya dengan tugas skripsi. Katanya dia tidak ingin jadi mahasiswa abadi, alhasil cafe tutup 3 kali seminggu, dikarenakan dia yang harus bimbingan. Yah,, ada untungnya juga sih, Freya jadi bisa fokus membantu di toko roti milik bunda. Walaupun kehadiran Farrel, benar-benar membuat fokus gadis itu hilang.


****


"Kak Darpa suka apa ya?" Tanya Kafin seraya menatap sekelilingnya.


"Dia mah suka apa aja" jawab Freya. Gadis itupun juga menatap sekelilingnya, karena dia juga akan membeli hadiah pernikahan untuk kakaknya itu.


"Kita kesana yuk?" Ajak Kafin seraya menarik tangan Freya untuk masuk kedalam sebuah toko.


Sedari awal masuk kedalam toko itu, atensi mata Kafin tertuju pada salah satu syal couple yang menarik perhatiannya.


"Syal ini bagus gak Ya?" Tanyanya meminta pendapat gadis disebelahnya.


"Bagus. Cantik dan lucu banget"


Freya mengusap syal yang menjadi pilihan Kafin, bahannya begitu lembut dan halus. Pasti akan sangat cocok digunakan ketika muncak ataupun berlibur ke daerah bersalju. "Beli?" Tanya Freya.


Kafin menggelengkan kepalanya "gak deh. Gak cocok banget dengan udara di tempat kita yang panas" ujarnya.

__ADS_1


"Beli aja, kak Darpa kan mau honeymoon ke Jepang, disana kan lagi dingin. Kamu beli syal, aku beli topi nya"


Akhirnya, setelah melakukan berbagai rundingan juga mengelilingi seluruh area toko. Mereka memutuskan untuk membeli syal, dan juga topi yang bisa di gunakan oleh pasangan pengantin itu ketika melakukan honeymoon di Jepang. Selain itu, mereka juga membeli salah satu hadiah yang sangat diinginkan oleh mbak Rania. Tidak membeli terlalu banyak karena uang mereka yang cukup terbatas.


__ADS_2