
Walaupun sudah berkali-kali Farrel menolak memakan bekal yang dibuatkan oleh Freya, walaupun berkali-kali pula pemuda itu membuang makanannya di tong sampah. Tapi Freya masih tetap bersikeras membuatkan makanan bekal untuk Farrel. Apalagi beberapa hari terakhir ini, Farrel selalu bersikap manis dan perhatian kepada Freya, jadi dia sangat yakin bekal makanan yang dia buat kali ini, tidak akan Farrel tolak.
"Lo masih aja bikin bekal?" Tanya Rara heran, padahal makanan buatan sahabatnya itu sudah berkali-kali ditolak dengan tidak berperikemanusiaan, tapi kenapa dia masih saja membuatkannya makanan.
Freya tersenyum cerah kepada Rara seraya menganggukkan kepalanya, kemudian dia kembali melanjutkan rutinitasnya menyalin tulisan di papan tulis. Dikarenakan tadi Freya sempat ketoilet terlebih dahulu, alhasil dia ketinggalan jam pelajaran dan harus mencatatnya walaupun jam istirahat telah tiba.
Rara menghembuskan napasnya lelah, entah harus berapa banyak rasa sakit yang diterima oleh sahabatnya itu, supaya dia bisa sadar bahwa Farrel bukan orang yang baik untuk dia. Mungkin dia harus ketiban musibah yang sangat besar baru sadar.
Rara merasa ada yang aneh dengan Freya hari ini, kenapa rasanya Freya lebih bersinar?
"Kenapa lo natap gue kayak gitu?" Tanya Freya risih, entah kenapa Rara sedari tadi terus menelisik Freya dari atas sampai bawah, tindakan Rara tersebut tentunya membuat Freya sangat tidak nyaman.
Secara tiba-tiba Rara mengambil jepit rambut berwarna biru dari kepala Freya "apaan sih lo!!" Ujar Freya terkejut sekaligus kesal.
Rara menatap seksama jepit rambut yang sudah berada dalam genggamannya "pantesan gue ngerasa ada yang asing dari penampilan lo hari ini. Ternyata karena jepit rambut ini toh. Tapi tumben-tumbenan lo make aksesoris gini, biasanya juga polosan"
Freya tersenyum malu mendegar ucapan Rara, dia pikir Rara tidak akan menyadarinya "gue pikir lo gak bakal nyadar" celetuk Freya.
"Kita udah temenan lama, jadi gak mungkin gue gak bakal nyadar" kata Rara "tapi, kok gue ngerasa gak asing yah sama ni jepit. Kayak pernah liat tapi dimana gitu, gue lupa" ujar Rara selanjutnya.
"Yah pasti lo pernah liat lah, orang jepit rambut kayak gini pasti banyak yang punya"
"Engga,,, jepit rambut kayak gini jarang banget yang make. Oh iya, jepit rambut ini mirip bangat modelnya sama punya si Zyva, cuman beda dari segi warna. Dia warna pink, sedangkan lo warna biru"
Bleng,,, Freya tidak mampu mencerna ucapan Rara dengan baik, Zyva juga memiliki jepit rambut yang sama? Bukannya Farrel beli jepit rambut ini, karena gak sengaja liat ketika pergi ke mall? Jangan bilang dia pergi ke mall bareng sama Zyva? Kemungkinan Farrel pergi ke mall bersama Zyva, lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan dia pergi ke mall seorang diri.
__ADS_1
"Emangnya jepit rambut kayak gitu lagi tren yah Ya?" Tanya Rara penasaran.
Freya menggelengkan kepalanya tidak tahu "gak tahu, ngomong-ngomong lo liat Zyva pake jepit rambut kayak gue dimana?"
"Oh, di taman deket lapangan basket. Tadi gue liat Zyva dan Farrel pergi kesana"
Dengan segera Freya berdiri dari duduknya "gue duluan" pamitnya kearah Rara.
Freya tidak mau terlalu lama berspekulasi seorang diri. Dia tidak mau terus berpikiran buruk tentang hubungan Farrel dengan Zyva, jika dia ingin mengetahui kebenarannya. Maka dia harus menanyakannya langsung kepada Farrel dan Zyva. Freya sadar, selama ini dia tidak pernah berusaha bertanya perihal hubungan Farrel dengan Zyva karena dia terlalu takut. Dia takut jika harus menemukan fakta yang menyakitkan bagi dirinya.
Freya berjalan dengan langkah lebarnya kearah selatan, dia bahkan tidak memperdulikan sapaan dari Kafin ketika berpapasan di koridor. Pemandangan Zyva dan Farrel yang sedang asik memakan bekal makanan menyambut kehadiran Freya di taman itu. Mungkin karena jaraknya dengan kedua manusia tersebut yang tidak terlalu jauh, membuat Freya mampu mendengar obrolan dari keduanya.
"Gimana masakan aku Rel? Enak?" Tanya Zyva seraya menatap Farrel dengan tatapan berbinar.
Farrel menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya enak, kamu belajar masak dari mana?"
Freya dapat merasakan matanya mulai memanas, entahlah mendengar interaksi keduanya membuat hati Freya terasa sakit. Ternyata sedekat itu hubungan kedua sahabat tersebut, bahkan Zyva belajar masak dari bundanya Farrel. Padahal selama Freya berpacaran dengan Farrel, dia tidak pernah sekalipun bertemu apalagi berinteraksi dengan keluarga Farrel.
Rel, kenapa kamu bisa bersikap semanis itu kepada Zyva? Kenapa kamu bisa sangat baik menanggapi setiap ucapan Zyva. Rel, maaf-maaf jika aku benar-benar cemburu melihat interaksi kalian.
Entah karena setan apa yang telah merasuki tubuh Freya, tanpa diduga gadis tersebut menghampiri Farrel dengan Zyva, kemudian membuang makanan yang ada dalam genggamam Farrel.
"Freya!!" Bentak Farrel marah.
"Lo apa-apaan sih?!! Jawab!!"
__ADS_1
Jika biasanya Freya akan merasa ketakutan ketika dibentak oleh Farrel, tapi kali ini entah keberanian dari mana, Freya justru menatap Farrel dengan tatapan tidak mengertinya "Sorry tangan gue licin, jadi gak sengaja jatuh" ujar Freya tanpa dosa.
Zyva berdiri dari duduknya, kemudian berdiri tepat didepan Freya "lo sengaja ngelakuin ini kan?" Tanyanya.
"Menurut lo?" Tanya Freya menantang.
"Menurut gue jelas sengaja!! Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba lo dateng kesini terus ngebuang makanan yang sudah gue buat susah payah".
"Kan gue udah minta maaf"
"Freya pergi dari sini" kata Farrel mengusir.
"Lo apa-apaan sih. Ini kan taman, siapa aja bebas berada disini"
"Lo beneran gak mau pergi dari sini?" Tanya Farrel lagi, kemudian Freya menganggukkan kepalanya mantap.
Farrel beberapa kali menganggukkan kepalanya "oke, kalau lo gak mau pergi, biar gue yang pergi"
Farrel hendak menggengam tangan Zyva dan membawanya pergi, namun Zyva menepisnya. Dengan emosinya yang meluap-luap, dia mendorong tubuh Freya yang mengakibatkan tubuh gadis tersebut terjatuh dengan cukup keras di tanah. "Zyva anj*ng!" Umpat Freya kesal.
"Apa lo bilang?" Zyva merasa tidak terima mendengar umpatan yang baru saja keluar dari mulut Freya.
"Oh iya gue lupa, lo kan gak punya ayah. Ayah lo kan selingkuh, pantes kelakuan lo kayak ja*ang gini, kan lo cuman dibesarksn oleh ibu yang penjual kue keliling. Upps"
Freya tidak pernah merasa kesal, ketika dia dihina tentang Fisiknya. Tapi dia tidak akan pernah menerima penghinaan yang ditujukan untuk bunda dan kakaknya. Mereka adalah pahlawan bagi Freya, mereka adalah dunianya. Freya sangat tahu bagaimana perjuangan bunda dan kak Darpa untuk bertahan hidup dan membesarkannya.
__ADS_1
Mereka membesarkan Freya dengan sangat baik, bahkan ketika hidup penuh kekurangan pun, bunda dan kak Darpa tidak pernah membiarkan Freya kelaparan. Pekerjaan apapun akan mereka kerjakan untuk sesuap nasi. Mereka tidak pernah peduli dengan tanggapan orang lain, mereka tidak peduli diejek ataupun dihina, asalkan pekerjaannya yang mereka kerjakan halal, maka mereka tidak akan merasa malu.
Lalu, siapa Zyva sampai berani menghina perjuangan bunda dan kak Darpa, bahkan Freya tidak mengenal sosoknya selain hanya karena dia sahabat Farrel sejak kecil. Zyva yang hanya orang asing bagi hidup Freya, bisa-bisanya menghina keluarga nya.