Amanita phalloides

Amanita phalloides
foto keluarga


__ADS_3

Disore hari dengan ditemani secangkir teh dan kopi, sepasang suami istri yang sedang dimadu kasih, dengan santai menatap matahari yang mulai kembali pada peraduannya. melihat sunset dan sunrise, selalu menjadi kesukaan keduanya. Ketika masih muda, mereka kerap kali pergi muncak bersama, hanya untuk sekedar melihat keindahan alam yang telah diciptakan oleh sang maha kuasa. Sayangnya, kini mereka telah tidak muda lagi, banyak hal yang harus menjadi prioritas. Jadi menikmati senja di teras rumah, selalu menjadi kegiatan favorit keduanya.


"ayah!! Ayah!!" panggil seorang gadis kecil seraya berlari pada keduanya.


"jangan lari-lari, nanti jatuh" peringat sang bunda.


Dan benar saja, tepat satu langkah sebelum dia berhasil naik keatas teras, gadis kecil itupun terjatuh. "tuh kan, apa bunda bilang? Jangan lari-larian" omel sang bunda semakin murka.


Gadis kecil itu pun hanya tersenyum cengengesan, mendengar omelan dari bundanya itu. "ayah! Kafin beli sepeda baru. Dikasih sama ayahnya, Aya juga mau sepeda" rengeknya.


Adhikari pun beranjak dari duduknya, kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya itu. "bukannya adek sudah punya sepeda?" tanyanya seraya mengusap surai kelapa Freya kecil dengan penuh kasih sayang.


Freya memberenggut kesal, dengan wajah cemberutnya dia berkata "tapi itu bekas kak Darpa, sepedanya kebesaran buat Aya. Aya gak mau, mau yang baru, mau kayak punya Kafin" rengeknya seraya mengusap air mata yang kini mulai berjatuhan.


Dyvia yang melihat tingkah puterinya itu, hanya mampu tertawa bahagia. Segala hal yang dilakukan oleh puterinya itu, selalu saja terlihat menggemaskan di matanya.


"itumah kamunya aja yang pendek. Kakak dikasih sepeda itu, pas seumuran kamu" ujar Kak Darpa yang mucul dibalik pintu, dengan menggunakan tas pada pundaknya. Lelaki itupun berjalan kearah Freya adiknya.


Dibandingkan anak seusianya, Freya memang memiliki tinggi badan yang jauh lebih kecil. Jadi, ada beberapa orang yang membullynya dan menghinanya, dia juga cukup kesulitan memakai sepeda yang jauh lebi tinggi dibandingkan dirinya.


"gak mau! Aya pokoknya mau sepeda baru"

__ADS_1


Dibandingkan mereda, tangisannya justru semakin pecah. Hingga akhirnya Adhikari memeluk puterinya itu "ya udah ayah akan belikan. Asal kamu dapat rangking satu di evaluasi piano minggu depan" ujarnya.


Tanpa berpikir dua kali, gadis kecil itupun menganggukkan kepalanya, dengan berlari-lari kecil, dia masuk kedalam rumahnya guna mengambil tas.


****


Tawa renyah keluar dari mukut Freya, disertai air mata yang membasahi kedua pipinya. Dengan nanar dia melihat foto keluarga yang terlihat begitu bahagia, begitu harmonis dan damai. Hingga perpisahan tidak pernah sekalipun terlintas pada benak mereka.


Kejadian saat dia meminta sepeda pada ayahnya, kembali memenuhi seluruh kepala Freya, layaknya panggung opera yang menampilkan sebuah drama. Tangisannya samakin pecah dengan ditemani suara yang memilukan, dia menumpahkan segala kekecewaannya.


Freya masih ingat, karena janji ayahnya itu, gadis kecil itupun berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan ranking satu, dia bahkan menambah jam les pianonya itu, guna semakin menambah skilnya. Keberuntungan seakan berpihak padanya, dalam evaluasi mingguan yang selalu menjadikannya rangking 8, bagaikan sebuah keajaiban, dia berhasil mendapatkan ranking pertama. Ayah benar-benar menepati janjinya, dia benar-benar memberikan Freya sepeda baru.


Padahal dulu ayahnya sebaik itu, padahal dulu ayahnya begitu menyayanginya. Tapi kenapa kini, tidak hanya merenggut kebahagiaan serta masa kecilnya, ayah kandungnya sendiri memintanya untuk mendonorkan ginjalnya untuk anak tirinya.


Suara ketukan pintu berhasil membuat tangis Freya terhenti, dengan cepat dia mengusap air matanya.


"dek, ada yang ingin kakak omongin. Kamu lagi sibuk?" terdengar suara kak Darpa seraya mengetuk pintu pelan.


"Aya ingin sendiri, gak papa kan kak?" tanya Freya parau.


Hening, tidak terdengar suara kak Darpa. Beberapa menit kak Darpa diam dibalik pintu, seraya melamun. "iya, gak papa" putusnya.

__ADS_1


Setelahnya, terdengar suara langkah kaki yang menjauhi pintu kamar Freya. Dalam keterdiamannya, gadis itu kembali menitihkan air matanya. Alasan kenapa foto keluarga ini masih tersimpan rapi di laci belajarnya, padahal bunda telah membuang segala kenangan yang mengingatkannya pada ayah. Tidak lain karena didalam hati kecilnya, Freya ingin keluarganya kembali utuh. Dia ingin kembali berkumpul bersama keluarganya dalam formasi lengkap. Dia rindu sosok ayah yang selalu memberinya roti dengan susu cokelat panas.


Dulu, ayah begitu baik. Ayah begitu sayang padanya, beberapa kali ayah membuatkannya sate tanpa bumbu kacang. Sate sapi khas yang dibuatkan oleh ayah khusus, yang dibakar langsung di halaman rumah. Padahal dulu, dia sebahagia itu, padahal dulu keluarganya begitu bahagia. Foto keluarga ini, selalu mengingatkan Freya jika dulu dia pernah memiliki keluarga yang begitu harmonis, keluarga yang selalu menyayanginya.


Hingga akhirnya, kegelapan memenuhi seluruh pandangan Freya. Dengan memeluk erat foto keluarga yang diambil 9 tahun lalu, gadis itu terlelap dialam mimpi.


****


Setelah sekian lama tutup, cafe Edelweiss kembali dibuka, setelah kak Rafi berhasil menyelesaikan sidangnya.


"kok gak berdebu kak?" tanya Freya heran. Padahal cafe ini telah lama tutup, sudah dipastikan tidak di bersihkan. tapi kenapa dibandingkan terlihat berdebu, cafe ini justru terlihat rapi dan bersih. Tidak ada satupun debu yang menempel.


Rafi tersenyum mendengar pertanyaan Freya. Seraya menurunkan kursi-kursi dari atas meja, pemilik cafe itupun menjawab "setiap 2 hari sekali ada yang bersih-bersih. Jadi gak akan kotor"


"ohhh" jawab Freya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Gadis itupun mulai merapikan beberapa botol minuman "skripsinya lancar kak?" tanyanya penasaran.


"alhamdulillah lancar, tinggal nunggu jadwal sidang" jawab kak Rafi.


"wah... Selamat kak, semoga sidangnya juga diberikan kelancaran oleh Allah Swt"

__ADS_1


"aamiin"


__ADS_2