Amanita phalloides

Amanita phalloides
permintaan ayah


__ADS_3

Bertemu kembali dengan ayah, bukanlah sesuatu hal yang Freya inginkan. Apalagi, pertemuan terkahir mereka berakhir dengan cara yang tidak baik. Beberapa kali Freya meminum es jeruknya, namun ayah masih saja membisu, tidak kunjung mengatakan apa yang menjadi penyebab beliau mendatanginya.


"toko Dyvia, berjalan dengan sangat baik yah?" monolog ayah seraya menatap toko roti milik bunda yang berada disebrang jalan.


"dulu ayah dan bundamu, pernah memiliki mimpi untuk memiliki toko roti bersama. Ternyata mimpi itu tercapai oleh bundamu" sambungnya.


"atas tujuan apa anda datang kesini?" tanya Freya akhirnya.


Tidak mungkin dia tidak tahu menahu perihal mimpi tersebut, sejak dulu orang tuanya begitu rajin menabung untuk mewujudkan mimpi mereka itu. Bahkan Freya dan kak Darpa dulu pernah membuat kencleng yang terbuat dari toples bekas kue. Saat itu, dengan sungguh-sungguh keluarganya berjuang untuk mewujudkan mimpi besar tersebut.


Sayangnya, ayah tidak pernah menundukkan pandangannya. Secantik apapun bunda, selalu kalah cantik dibandingkan selingkuhannya. Sebaik apapun bunda, selalu kalah baik dibandingkan selingkuhannya. Sesabar apapun bunda, selalu kalah sabar dibandingkan selingkuhannya. Bunda, selalu saja salah dimata ayah, apapun yang bunda lakukan, selalu saja berujung dengan pertengkaran.


"Darpa akan menikah, tolong berikan ini pada kakakmu" ujarnya seraya menyerahkan satu paper bag bewarna biru pada Freya.


"bukankah anda diundang oleh bunda dan kak Darpa? Anda bisa memberikannya langsung pada kak Darpa. Sebenarnya atas tujuan apa anda menemui saya?"

__ADS_1


Freya sudah sangat hafal tingkah ayahnya itu, tidak mungkin dia mau repot-repot menemuinya hanya untuk menitipkan hadiah untuk kak Darpa. Dia diundang, sudah pasti dia memiliki begitu banyak kesempatan untuk memberikannya langsung pada kak Darpa. Dibalik sikap manis ayah hari ini, pasti ada alasan yang membuatnya bersikap seperti sekarang.


"sejak dulu kamu memang pinter, beberapa bulan yang lalu, kamu pernah bertemu dengan istri dan juga puteri ayah kan? Kamu pasti tahu kalau puteri ayah sedang sakit keras. Dia mengalami gagal ginjal, yang menyebabkan salah aatu ginjalnya harus diangkat. Salah satu ginjalnya akhirnya diangkat, namun ginjal yang satunya tidak mampu bertahan" ujar ayah panjang lebar.


Setelahnya ayah menatap Freya dengan seksama "kamu dan Darpa telah mendaftarkan diri sebagai pendonor tetap, walaupun pendonoran akan terjadi ketika kalian meninggal dunia. Tapi, tidak ada bedanya bukan? Kamu tetap bisa mendonorkan organ tubuh kamu, sekalipun kamu masih hidup bukan?"


"jadi apa maksud anda?"


"kamu bisa kan mendonorkan salah satu ginjal kamu untuk Zyva? Bukankah berbuat kebaikan harus dilakukan secepat mungkin?"


"apa? Zyva saat ini sedang membutuhkan pendonor, kalau tidak dilakukan secepatnya, dia bisa saja meninggal. Kenapa kamu menolak seseorang yang meminta tolong sama kamu? Bukankah tidak ada bedanya dengan mendonorkannya nanti ataupun sekarang?" dengan tidak tahu malunya ayah mengatakn semua omong kosong itu.


Miris, miris sekali. Bagaimana bisa seorang ayah kandung, meminta anaknya sendiri untuk mendonorkan salah satu organ tubuhnya untuk anak tirinya. Setidak sayang itukah ayah terhadapnya? Tidak cukupkah dia merenggut kebahagiaannya, kini diapun ingin merenggut salah satu orang tubuhnya? Sebenarnya siapa yang anak kandungnya Freya ataukah Zyva?!!


"beda! Jelas sangat beda! Tidak cukupkah ayah merenggut kebahagiaan Aya, kini ayahpun ingin merenggut salah satu organ tubuh Aya? Setidak berharga itukah anakmu ini yah?" tanpa mampu Freya cegah, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


Kecewa, sangat kecewa, tidak hanya ingin merenggut organ tubunya, tapi ayah juga ingin merenggut nikmat sehat. Freya akui, dia dan kak Darpa memang mendaftarkan diri mereka untuk menjadi pendonor tetap ketika mereka tekah tiada nantinya. Mereka lakukan semua itu, atas dasar kemanusiaan, setidaknya walaupun jiwa mereka telah tiada, walaupun sedikit kebaikan yang mereka tanam didunia ini. Mereka ingin menyelamatkan orang yang pantas untuk diselamatkan.


Freya dapat menagkui jika dirinya bergitu egois. Jujur saja, dia tidak ingin menolong Zyva, karena gadis itu merupakan salah satu orang yang merenggut segala kebahgiaannya.


"ayah mohon nak. Hanya kamu satu-satunya harapan ayah. Hanya kamu yang bisa mendonorkan organ tubuh kamu"


Dengan kasar Freya menepis tangan ayah yang hendak menggenggam tangannya.


"kenapa gak ayah aja? Jika memang ayah sesayang itu sama dia!! Seharusnya ayah saja yang mendonorkan ginjal aysh untuk anak tiri itu"


Setelahnya, Freya pun beranjak dari duduknya, kemudian melenggang pergi. Beberapa kali gadis itu mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. Dibandingkan kembali kek toko, Freya lebih memilih untuk pergi menuju tempat yang jauh.


Untuk saat ini saja, dia ingin menenangkan dirinya sendiri. Dia ingin sedetik saja beristirahat dan merehatkan segala pikirannya yang semakin berantakan.


Beberapa tahun ayah pergi meninggalkannya tanpa pamit, beberapa kali ayah menyakiti hatinya. Namun kini, dengan tidak tahu malu nya dia hendak meminta tolong pada Freya. Anak yang selama ini dia anggap sebagai produk gagal.

__ADS_1


__ADS_2