
Jika memang manusia hanya dinilai dari seberapa banyak prestasi yang berhasil dia raih. Jika memang manusia yang tidak mampu menempati posisi angka satu, dinilai sebagai manusia yang tidak berguna dan tidak mampu dibanggakan. Lalu bagaimana dengan ikan? Kita tidak bisa memaksa ikan untuk memanjat pohon, begitu pula kita yang tidak bisa memaksa kucing untuk berenang. Hanya karena dia tidak mampu melakukan sesuatu hal, bukan berarti dia bodoh dan tidak berguna.
Setiap manusia punya kelebihannya masing-masing. Setiap manusia, memiliki lilinnya sendiri untuk bersinar. Setiap manusia, memiliki caranya tersendiri untuk terbang. Dan tentu saja tidak harus sama dengan orang lain, tidak harus memiliki cahaya yang sama dengan cahaya yang dimiliki orang lain. Tidak harus memiliki sayap yang sama seperti sayap milik orang lain.
Dulu, Freya sangat tidak suka ketika melihat kak Darpa belajar siang dan malam. Dia sangat tidak suka melihat kak Darpa yang terus saja memporsir dirinya sendiri. Meskipun kita harus bekerja keras, bukankah setidaknya kita harus memperhatikan diri kita sendiri agar tidak sakit? Kak Darpa sering memaksakan dirinya sendiri, sampai harus diopname karena kelelahan. Hari itu adalah hari dimana Freya marah-marah kepada kak Darpa dan mengungkapkan segala kekesalannya. Sampai omelan Freya terhenti, karena kakaknya itu memegang kedua tangannya.
Disore hari dengan ditemani cahaya jingga, keduanya duduk dirooftop rumah sakit sembari melihat matahari yang perlahan meninggalkan eksistensinya.
"Dek, masih inget ketika kakak dimarahi ayah dan bunda karena kabur dari les dan pulang tengah malam?" Tanya Darpa.
Ingatan Freya kembali berkelana pada setiap momen yang telah dia lewati, tentu saja dia tidak pernah melupakan hari itu. Hari dimana untuk pertama kalinya kak Darpa memberontak, dari sekian banyaknya aturan yang ditetapkan oleh ayah dan bunda. Walaupun Freya ada dikamar saat kejadian itu berlangsung, namun dia mampu mendengar setiap pertengkaran yang terjadi diruang tengah. Diambang pintu, untuk pertama kalinya Freya melihat kak Darpa ditampar oleh ayah, hanya karena membantah ucapannya. Bahkan hampir satu minggu kak Darpa dihukum dan tidak diijinkan untuk keluar rumah ataupun kamar.
"Ingetlah, kan setelah kejadian itu aku selalu masuk ke kamar kakak diam-diam"
Darpa tertawa bahagia mendengar ucapan adiknya, mungkin jika Freya tidak pernah menyelinap masuk kekamarnya dengan membawa laptop miliknya yang berisi ratusan film-film kesukaanya. Darpa pasti sudah sangat stres dengan hidupnya saat itu. Dia masih remaja, jadi wajar jika dia memberontak akan sesuatu hal yang tidak ingin dia lakukan.
"Kamu pernah ngerasa iri sama kakak?" Tanya Darpa setelah menghentikan tawanya.
"Iyalah. Siapa coba yang gak mau jadi kakak. Kakak kan pinter banget, mungkin kalau ada alat yang memungkinkan untuk kita memiliki otak siapa saja, aku pasti akan minta otak kakak. Jadi aku gak akan pernah dihukum ataupun dimarahi ayah dan bunda" jawab Freya sembari tersenyum lebar. Memang siapa yang tidak mau memiliki otak yang jenius? Siapapun pasti menginginkannya, begitupun Freya.
"Kakak juga ingin banget jadi kamu. Bisa bebas kemana pun, mau main dengan teman-teman tinggal main, mau jalan-jalan tinggal jalan-jalan. Mau bolos sekolah tinggal bolos sekolah. Kalau boleh diminta, kakak ingin sekali jadi kamu dek, gak papa deh, gak memiliki otak yang jenius, gak papa gak bisa ngebanggain ayah dan bunda. Setidaknya kakak bisa hidup bebas, sesuai dengan keinginan kakak dan tidak membuat ayah maupun bunda berekspektasi tinggi kepada kakak"
__ADS_1
Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Mungkin bisa jadi, kamu menganggap hidupmu tidak berharga hanya karena kekuranganmu, hanya karena kamu belum mampu menemukan kelebihan yang kamu miliki. Tapi kita tidak pernah tahu bukan? Bisa jadi posisi kita dan kehidupan kita saat ini, diinginkan oleh orang lain.
""Ini yang diajarkan oleh bunda kamu?! Tidak berhasil secara akademik, sekarang kamu bahkan tidak punya sopan santun! Apa yang bisa ayah banggakan dari kamu? Gak ada!!"
Sakit, sakit sekali ketika dianggap tidak berguna dan tidak bisa dibanggakan oleh seseorang yang sangat kita cintai. Freya menatap Adhikari terluka.
"Iya yah, gak ada! Karena sampai kapan pun Aya berusaha. Sampai mana pun Aya berjuang. Itu semua gak akan pernah berharga dimata ayah!!"
Padahal Freya selalu berusaha mati-matian untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dia jelas tidak mau menjadi anak yang tidak berguna, dia juga ingin dibanggakan oleh kedua orang tuanya, dia juga ingin sekali dianggap berguna. Dia juga sudah berusaha, dia sudah bekerja sekeras yang dia mampu, tapi kenapa tidak ada satu pun yang berhasil?
Seandainya dia mampu menuliskan skenario takdirnya sendiri, pasti dia akan menuliskannya dengan penuh kehati-hatian. Dia pasti akan menulisnya dengan sangat baik. Orang tua yang tidak pernah membeda-bedakan, kak Darpa yang bisa istirahat dan melakukan sesuatu hal yang dia inginkan, juga keluarga yang sangat harmonis. Freya akan menuliskan itu semua. Tapi dia hanya manusia biasa, jelas dia tidak memiliki kemampuan apapun untuk menuliskan hal seperti itu.
"Apa yah? Mau nampar? Sini tampar yah, tampar!! Tamparan ayah tidak akan sebanding, dengan setiap luka yang sudah ayah torehkan dalam hidup aku!!"
Adhikari benar-benar tidak mampu mengontrol emosinya, dia yang memang pada dasarnya tempramen dan kesabarannya yang hanya setipis tisu, akhirnya menampar Freya cukup keras.
P**lakk**!!
Suara tamparannya itu mampu membuat siapa saja bergidik ngeri. Darah? Freya menatap terkejut, darah yang menempel pada tangannya tatkala dia mengusap sudut bibirnya.
"Sudah puas sekarang? Sudah puas jadi iblis? Tampar Aya sebanyak yang ayah mau, tapi jangan pernah bermimpi untuk memiliki rumah ini!! Sampai kapanpun ayah dan selingkuhan ayah tidak akan pernah punya tempat dirumah ini!!" Freya memegang pipi kirinya yang terasa sangat kebas. Gak papa, ini tidak sakit, beneran. Rumah ini jauh lebih berharga dan jauh lebih berarti.
__ADS_1
Jika memang dia tidak mampu menyelamatkan keharmonisan keluarganya, setidaknya Freya ingin menyelamatkan setiap kenangan indah yang ada didalam rumah ini. Walaupun hanya berisi serpihan yang akan semakin melebur bersamaan dengan waktu. Tapi gak papa, setidaknya dulu keluarganya pernah harmonis, iya dulu--dulu sekali.
"Freya jaga mulut kamu!!" Bentak Adhikari, dia tidak suka ketika Freya menghina istrinya.
"Diam kamu Adhikari!!" Bentak Divya akhirnya.
Dia salah, selama ini dia menunggu orang yang salah. Tidak seharusnya dia menunggu laki-laki brengsek sepertinya, seharusnya dia sudah meninggalkan Adhikari semenjak dia memilih selingkuhannya, seharusnya seperti itu. Kini, Dyvia menyadari jika dia senaif itu.
"Kamu ingin bercerai bukan?" Tanya Divya seraya mengambil dokumen tersebut dan dengan segera menandatanginya "aku sudah menandatanganinya. Sekarang kita sudah bukan suami istri lagi, tapi jangan pernah bermimpi untuk memiliki rumah ini!" Divya melempar dokumen tersebut tepat pada wajah Adhikari.
"Sekarang kamu keluar!!!" Usirnya.
"Gak bisa gitu Vya"
"Aku bilang keluar yah keluar!!!" Murka Divya seraya mendorong tubuh Adhikari, kearah pintu dan menutup pintu tepat didepan wajah lelaki itu.
Freya menatap bundanya sedih, "bun maaf" kata Freya menyesal.
Mungkin seharusnya dia lebih sabar sedikit, dia tahu seperti apa posisi bundanya. Dia mampu merasakan setiap sakit yang bundanya alami, tapi kenapa dia tidak pernah bisa mengerti dan sedikit bersabar?
Tanpa menjawab ucapan Freya, Divya lebih memilih meninggalkan Freya dan masuk kedalam kamarnya. Divya meninggalkan Freya sendirian dengan ditemani rasa bersalah yang semakin dalam, rasa bersalah yang tidak mampu Freya perbaiki. Semuanya sudah hancur, keluarganya sudah hancur dan hanya tertinggal puing-puingnya saja. Keluarga harmonisnya itu, kini telah benar-benar hilang.
__ADS_1