
Jika memang cinta harus memiliki begitu banyak pengorbanan, jika memang mencintai sesakit ini. Kenapa tuhan harus memberikan rasa cinta jika hanya dibalas dengan luka? Kenapa sebuah ketulusan, harus dibayar dengan pengkhianatan?
Freya berjalan mengelilingi area toko, dia mencari beberapa produk skincare yang sering digunakannya. Tentu saja dengan Kafin berada di belakangnya. Zyva dan Farrel? Freya tidak tahu dimana keberadaan dua sahabat tersebut, katanya mereka akan membeli skincare, mungkin toko yang mereka tuju berbeda dengan toko yang dia dan Kafin kunjungi.
"Lo pake produk ini juga?" Tanya Kafin terkejut.
Freya menatap Kafin heran "iya, lo pake juga?" Tanyanya asal.
"Nggak lah. Nyokap gue yang make," elaknya cepat.
"Kenapa lo gak ikutan make juga Fin?" Tanya Freya lagi, dia masih memilih-milih produk skincare dan juga make up yang dibutuhkannya.
"Gue cowok yah!!"
Freya memutar bola matanya malas "lagian siapa juga yang bilang lo cewek? Gak ada Fin" ucapnya lagi.
Kafin berdecih tidak suka "pantangan buat gue pake skincare"
"Denger yah Fin. Gak ada aturannya cowok gak boleh pake skincare, baik cewek ataupun cowok, mereka memiliki hak untuk merawat dirinya. Itung-itung apresiasi buat diri sendiri dan rasa syukur kepada Allah SWT karena sudah memberikan kita kesehatan, wajah yang sempurna dan juga tubuh yang sempurna" nasihat Freya seraya memasukkan skincare yang sudah sejak lama dia gunakan ke dalam keranjang.
"Terserah, pantangan tetep pantangan" jawabnya.
"Lo tahu gak ya? Bunda kalau udah pake tuh cosmetics selalu aja drama, katanya Kafin liat ini kulit bunda udah nge-glazed udah cantik kan, lebih cantik dari song hye kyo. Benci banget gue, lagian gue gak ngerti ngeglazed itu apaan"
Dengan menirukan cara bicara tante Mawar, Kafin mulai mengeluarkan seluruh unek-uneknya perihal ibunya yang kerap kali memaksanya menggunakan skincare dan Freya tentu saja mendengar semuanya sembari tertawa. Dia bisa menebak bagaimana rempongnya tante Mawar dan bagaimana ekspresi Kafin ketika melihat tante Mawar yang seperti itu.
"Asal lo tahu, glazed itu next levelnya glowing. Jadi wajar kalau tante Mawar bangga banget sama wajahnya. Lo gak tahu sih"
"Iyalah gue gak tahu, kan udah gue bilang, pantang buat gue pake skincare"
__ADS_1
"Whatever"
Freya melangkahkan kakinya menuju meja kasir, berbelanja dengan Kafin ternyata lumayan menyenangkan, karena pemuda itu membayarkan semua belanjaannya. Katanya, pantang buat cewek bayar sendiri.
Orang kaya mah beda, ngehambur-hamburin uang juga gak masalah. Freya tentu saja dengan senang hati menerima semua kebaikan Kafin, uang bulanannya jadi selamat. Sepertinya lain kali dia harus mengajak Kafin setiap berbelanja, supaya dia yang bayarin, harus.
"Lo juga selalu bayarin pacar-pacar lo?" Tanya Freya penasaran. Bagaimana pun, Kafin suka gonta-ganti pacar, tidak terbayang seberapa banyak uang yang sudah pemuda itu keluarkan untuk mentraktir pacar-pacarnya itu.
"Ya iya lah. Gak mungkin gue ngebiarin mereka bayar sendiri, jadi laki-laki itu harus gantle, kayak gue" ujarnya bangga.
Freya memutar bola matanya malas. Dia sangat benci sikap Kafin yang sangat kepedean itu "sayang banget uang lo"
"Kenapa?"
"Pacar lo kan banyak, terbuang sia-sia deh mereka"
"Males"
Freya melihat handphone nya yang baru saja bergetar. Pesan dari Farrel terpampang jelas pada layar, pesan yang membuat mood Freya semakin hancur.
"Kenapa?" Tanya Kafin penasaran.
"Farrel, pulang duluan katanya. Zyva sakit" jawab Freya pelan.
Kafin mengembangkan senyumannya "bagus dong. Lo jadi bisa pdkt bareng gue" ujarnya bahagia.
Dengan sangat santai, Kafin merangkul bahu Freya, membuat jarak diantara keduanya semakin menipis. "Mau lanjut kemana beb?" Tanyanya.
Dengan perasaan kesal, Freya mencubit pinggang Kafin yang berhasil membuat pemuda itu mengaduh kesakitan. "Beb, beb pala lo" katanya kesal.
__ADS_1
"Latihan dulu dong sebelum diresmiin" Kafin membawa Freya kearah restoran-restoran yang ada di dalam mall. "Makan yuk, laper gue"
Tanpa persetujuan dari Freya, Kafin memilih restoran Jepang sebagai pilihannya untuk makan "jangan kesini deh Fin" tolak Freya ketika keduanya berada di dalam restoran.
Kafin mengangkat salah satu alisnya "kenapa?" Tanyanya.
"Mahal, lo gak liat itu harga makanannya aja 50.000 keatas" jawabnya sembari menunjuk papan menu.
Tawa renyah keluar dari mulut Kafin, dia semakin mengeratkan rangkulannya pada bahu Freya "gue bayarin" jawabnya dengan santai.
****
Sepertinya Freya perlu mempertimbangkan tawaran Kafin untuk berpacaran dengan pemuda itu. Bagaimanapun, Kafin sangat-sangat royal, hidupnya pasti akan sangat sejahtera jika berpacaran dengannya. Apalagi Kafin sangat perhatian, dia juga lumayan tampan, jadi tidak akan malu-maluin jika jalan berdua. Sayangnya Kafin memiliki segudang mantan, dan juga selosin pacar, sikap play boy pemuda itu tidak pernah bisa dihilangkan.
Lupakan tentang kafin, kita kesampingkan dulu ajakan pemuda itu untuk menjadi pacarnya. Saat ini, dengan baju denim yang dikenakannya, Freya berjalan menuruni setiap anak tangga kemudian menghampiri sang bunda yang sedang memasukkan kue-kue pesanan kedalam toples. "Mau kemana udah cantik gitu anak bunda?" Tanya bunda menggoda.
Freya menundukkan kepalanya malu "mau jalan-jalan bun" jawabnya seraya mendudukkan dirinya disamping bunda dan ikut membantu memasukkan kue-kue itu.
"Sama Farrel?" Tanya bunda.
Freya menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya bun"
Dengan gerakan pelan bunda mengusap kepala Freya "bunda gak akan marah dengan keputusan kamu. Bunda tahu kamu sangat mencintai Farrel. Bagaimana pun bunda dulu pernah merasakan cinta, dan bunda yakin kamu tahu sebodoh apa bunda saat mencatai ayah kamu. Bunda cuman ingin kamu bahagia, setidaknya bunda cuman minta satu hal sama kamu, jangan nyakitin diri kamu, jangan buat bunda dan kakak kamu khawatir. Bagaimanapun, kami sangat mencintai kamu dan tidak ingin kamu terluka, apalagi kenapa-napa"
Freya duduk termenung mendengarkan setiap wejangan yang bunda ucapkan. Pagi itu, dengan ditemani kue buatan bunda. Freya mulai mengerti kenapa bundanya sangat mencintai ayah, Freya mulai menemukan benang merah diantara semua reruntuhan yang perlahan hancur.
Bolehkah Freya sedikit berharap? Bolehkah Freya berharap ayahnya datang kembali? Bagaimanapun, dia ingin bundanya bahagia. Walaupun Freya sadar kesalahan ayahnya sangat fatal, walaupun dia memahami semuanya. Seberapa banyak pun rasa benci yang dia miliki untuk pria paruh baya itu. Kenyataannya, kebahagiaan bunda nya ada pada ayahnya. Jika memang dengan memaafkan laki-laki itu, akan membuat bunda bahagia, maka Freya akan berusaha untuk memaafkannya dan memulai semuanya dari awal.
Tidak ada manusia yang ingin dikecewakan, tidak ada manusia yang ingin dikhianati. Namun, ada kalanya memaafkan menjadi solusi, ada kalanya berdamai menjadi penenang. Mungkin, butuh waktu bertahun-tahun sampai Freya mampu memaafkan ayahnya dan berdamai dengan keadaan. Tapi setidaknya, saat ini Freya tidak memiliki dendam apapun terhadap pria paruh baya itu. Setidaknya, dia akan dengan perlahan mencoba memaafkannya seraya berdamai dengan keadaan.
__ADS_1