Amanita phalloides

Amanita phalloides
Aya sayang,,,


__ADS_3

Pergi jalan-jalan bersama pacar, biasanya menjadi sesuatu hal yang biasa saja dan memang sudah seharusnya seperti itu. Namun tidak bagi Freya, pergi berdua bersama Farrel adalah sesuatu hal yang sangat langka, sesuatu hal yang harus diabadikan supaya dapat dikenang. Dengan mengendarai motor be*t miliknya, Farrel membawa Freya menuju pusat perbelanjaan.


Suasana pagi hari yang cukup sejuk, menambah perasaan bunga-bunga diantara kedua sejoli itu. Dengan tangan yang saling bertaut, mereka berjalan beriringan menuju tempat bioskop berada. Sebelumnya, Farrel sempat menanyakan tempat apa yang ingin dikunjungi oleh Freya dan gadis itu menjawab Mall. Dia ingin sekali nonton film bersama dengan Farrel, dia ingin merasakan pacaran seperti yang dialami oleh orang-orang. 


Tentu saja Farrel menyetujuinya, dia juga mengakui bahwa selama ini, dia sangat jarang sekali mengajak Freya jalan-jalan, apalagi nonton film. Mungkin ini akan menjadi kenangan pertama mereka nonton film bersama.


Walaupun sebenarnya, ini bukan kali pertama Farrel nonton film di bioskop, dia sering sekali nonton bareng bersama Zyva, sahabatnya itu sangat-sangat hobi menonton film, jadi sudah tentu dia menjadi korban gadis tersebut. 


Farrel merasa sangat deg-degan, entahlah dia benar-benar menantikan setiap kegiatan yang akan dia lakukan bersama Freya hari ini. Iya Freya, Freya pacarnya.


"Jadi lo mau nonton film apa?" Tanya Farrel ketika keduanya sudah tiba ditempat pemesanan tiket.


Freya menatap sekeliling, sebenarnya ada satu film yang sangat ingin dia tonton, tapi dia tidak begitu yakin Farrel akan mau ikut nonton film tersebut bersama dengannya. Karena katanya, sedikit orang yang mau menemani nonton film itu, bahkan untuk orang yang berpacaran sekalipun. Bahkan, banyak sekali orang yang mengatakan diinternet, bahwa mereka seperti menyewa satu studio karena hanya mereka saja yang nonton film tersebut. Katanya, bahkan ada orang yang hanya diantarkan oleh temannya untuk membeli tiket saja, akhirnya dia hanya menonton film seorang diri.


"Lo sendiri mau nonton apa?" Tanya Freya akhirnya.


Gak papa lah gak nonton film itu, asalkan dia bisa nonton bareng Farrel. Film apapun itu dia tidak masalah, asalkan dengan Farrel, berdua dengan Farrel. Lagian dia bisa nonton kapan-kapan dengan Rara, jadi Freya tidak merasa sedih. Rara sangat menyukai para pemain dalam film tersebut, oppa-oppa ganteng kesayangan Rara bermain didalamnya. Jadi Freya sangat yakin jika Rara akan mau menemaninya nonton film tersebut.


Farrel mengangkat sebelah alisnya "lo mau nonton film apa?" Tanyanya lagi.


Freya menatap Farrel "sebenarnya ada satu film yang pengen banget gue tonton. Tapi..." Freya menggantung ucapannya. Dia sedikit ragu untuk mengatakan keinginannya.


"Tapi apa?"


"Gue takut lo gak mau nonton film itu bareng gue" ujar Freya sembari tersenyum.

__ADS_1


"Atas dasar apa lo yakin gue gak mau nonton film itu?"


"Habisnya kata orang-orang gitu. Nonton film itu jarang banget yang mau nemenin"


Farrel mengeratkan genggaman tangannya pada Freya "gue mau nonton. Gue mau nemenin, jadi lo mau nonton film apa?"


Freya merasa pipinya sudah sangat merah sekarang. Tidak pernah Freya duga Farrel akan berkata begitu, ternyata dibalik semua sikap dinginnya, dibalik semua kata-kata dan tindakannya yang kasar. Ada satu sikapnya yang sangat lembut dan perhatian. 


Freya benar-benar berharap waktu dapat terhenti sekarang juga, dia benar-benar berharap merasakan kehangatan Farrel sedikit lebih lama, walau hanya sebentar gak papa. Senyuman Farrel benar-benar menjadi candu baginya, mungkin karena pemuda itu jarang sekali tersenyum, makanya Freya sangat menyukai saat-saat lelaki itu tersenyum dengan lebar seperti sekarang.


Setelah mengatakan film yang ingin dia tonton, akhirnya Farrel memesankan tiket dan Freya pergi membeli popcorn dan juga cola. Ternyata benar yang dikatakan oleh orang-orang di internet. Saat ini hanya ada Freya dan Farrel saja yang menonton film tersebut. Gadis itu merasa jika saat ini, dia sedang menyewa satu studio untuknya berkencan, entah harus merasa beruntung atau merasa sedih, tapi Freya merasa senang. Dia juga sangat merasa berterima kasih kepada petugas bioskop. Walaupun hanya dirinya dan Farrel saja yang menonton, mereka masih menayangkan film tersebut.


Freya tidak menyangka Farrel akan banyak bicara ketika menonton film, bahkan pemuda itu kerap kali menggerutu mengomentari adegan demi adegan. Freya senang, sangat senang, dia mengeratkan genggaman tangannya kemudian menatap Farrel ditemani senyuman lebarnya "Makasih Farrel sayang" ujarnya tulus.


"Sekarang mau kemana?" Tanya Farrel, ketika keduanya sudah keluar dari bioskop.


Freya berpikir sejenak, dia bingung harus bagaimana saat ini. Kira-kira orang yang sedang pacaran akan melakukan apa setelah menonton. "Emmm....gimana kalau kita makan dulu? Gue lapar banget" putus Freya. Dikarenakan ketika berangkat tadi dia tidak sempat sarapan dulu. Jadi sepertinya, memilih untuk makan terlebih dahulu, menjadi pilihan yang tepat, pacaran boleh, tapi percuma pacaran kalau perut dalam keadaan kosong. Gak akan afdhol.


"Oke, mau makan apa?" 


"Terserah" jawab Freya.


Bagaimanapun Freya seorang wanita, jadi dia sama saja seperti spesies wanita lainnya, karena bagi Freya yang terbiasa makan-makanan yang direkomendasikan oleh orang-orang, kata terserah adalah kata yang paling aman ketika ditanya atau diajak makan apa. Kita gak pernah tahu apa yang ingin dimakan oleh orang lain, jadi memberikan mereka kesempatan untuk memilih makanan adalah cara yang paling baik.


Dulu Freya pernah ditanya seperti sekarang, bahkan dulu Freya sering sekali mengatakan makanan keinginannya. Tapi ternyata, setiap orang memiliki pikirannya masing-masing dan keinginannnya masing-masing. Hingga akhirnya, Freya lebih suka mengalah karena dia tidak suka keributan, sangat tidak suka.

__ADS_1


"Jadi gini yang dirasain oleh orang-orang" ujar Farrel seraya merangkul bahu Freya kemudian menatapnya.


"Maksud lo?" Tanya Freya tidak mengerti.


"Gue pikir lo orang yang cukup realistis, tapi ternyata lo sama aja kayak spesies wanita lainnya"


Freya tertawa mendengar ucapan Farrel "jadi lo mau makan apa?" Tanya Farrel melanjutkan.


"Emmm.....lo sendiri mau makan apa?"


Farrel mengusap wajahnya gusar "Aya sayang, gue yakin lo pasti udah yakin mau makan apa. Gue yakin dalam otak lo udah ada makanan yang lo mau. Jadi gue minta sama lo, untuk kasih tahu lo mau makan apa" 


Sembari tersenyum lebar, Freya memeluk pinggang Farrel "yakin lo gak bakal nolak?" Tanyanya ragu.


Farrel tersenyum mantap " iya, lo bisa percaya sama gue"


"Rel gue cinta sama lo" ujar Freya tiba-tiba.


Farrel tersenyum sembari menganggukkan kepalanya "iya, gue tahu"


Walaupun sudah berbulan-bulan menjalin hubungan dengan Farrel, jawaban laki-laki itu masih saja sama. Dia tidak pernah mengatakan kalau dia juga mencintai Freya. "Iya, gue tahu" jawabannya selalu saja sama dan tidak pernah berubah. Freya selalu berharap suatu saat nanti, dia akan mendengar perkataan jika Farrel juga mencintainya, walaupun dia tidak tahu kapan hari itu akan tiba, walaupun dia tidak tahu kapan dia akan mendengar kalimat itu, tapi dia yakin. Dia yakin bahwa perjuangannya tidak akan berakhir sia-sia, dia yakin Farrel akan menerimanya seutuhnya. 


Rel, gue cinta sama lo. Sangat-sangat cinta. Ketika lo bersikap manis kayak gini, harapan gue semakin tinggi untuk hubungan kita. Gue gak tahu apakah perjuangan gue akan berhasil atau tidak, tapi gue yakin, ketulusan gue akan berbuah manis. 


Layaknya semesta yang membentang, kau sebuah lentera dikala gelap gulita, penuh rona tanpa noda, terhias membentang gelora dikala gempuran asmara.

__ADS_1


__ADS_2