Amanita phalloides

Amanita phalloides
sejak gue minta lo buat jadi pacar gue


__ADS_3

Ada dua prinsip yang akan selalu Freya terapkan dalam menjalani sebuah hubungan. Tidak ada maaf untuk kekerasan juga perselingkuhan, jika pasangannya melanggar dua kesalahan itu, maka tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Kenapa? Karena mereka yang melakukan kesalahan itu, adalah mereka-mereka yang sadar bahwa tindakan yang sedang mereka lakukan itu salah. Namun, mereka masih melanjutkan sikap buruk tersebut karena mereka tahu bahwa mereka akan dimaafkan. Mereka adalah orang-orang jahat yang memanfaatkan kasih sayang, juga cinta yang pasangannya berikan, dengan cara yang salah.


Karena itu, ketika Freya tahu bahwa Farrel berselingkuh dengan Zyva, bahkan ketika dia tidak memiliki penyesalan apapun dan dia tidak memiliki niatan meminta maaf, apalagi menjelaskan segalanya kepada Freya. Maka Freya tidak akan mampu memaafkannya. Selama ini, Freya masih memaafkan dan memaklumi tindakan Farrel yang hampir membunuhnya dengan terus memberikannya selai kacang. Dia memaafkannya karena mungkin Farrel lupa, bukankah manusia tidak lepas dari lupa dan salah?


Tapi untuk masalah kali ini, Freya tidak mampu memaklumi dan memaafkannya. Karena seharusnya Farrel tahu seberapa menderitanya Freya dan keluarganya ketika ayahnya pergi dan lebih memilih selingkuhannya, yang ternyata bunda dari Zyva. Ataukah mungkin sebenarnya Farrel sudah tahu tentang fakta tersebut? Mengingat Farrel yang beberapa kali bertamu kerumahnya dan sudah pasti dia melihat foto yang terpasang di ruang keluarga.


Walaupun foto itu kini sudah digantikan dengan foto bunga Edelweiss. Dan tidak ada sedikitpun jejak dari ayahnya dirumah itu. Tapi dulu, Farrel pasti sering melihatnya.


"Itu ayah lo?" Tanya Farrel ketika dia pertama kalinya singgah kerumah Freya.


"Iya" jawab Freya.


Untuk beberapa saat, Farrel menatap foto ayah Freya dengan sangat seksama, tidak ada komentar apapun selain "ganteng"


Mungkin, jika Freya melakukan cocoklogi. Hari itu adalah hari dimana untuk pertama kalinya, Farrel tahu bahwa ayah dari pacarnya merupakan ayah dari Zyva sahabat kecilnya. Atau mungkin sudah sejak lama laki-laki itu tahu mengenai fakta tersebut? 


Padahal Freya tahu, dia tahu bahwa akhir dari hubungannya dengan Farrel akan seperti ini. Padahal Freya sadar bahwa selama ini, Farrel tidak pernah mencintainya. Tapi kenapa, kenapa Freya tidak mampu menahan air matanya untuk tidak jatuh. Kenapa hatinya terasa begitu sakit.


Harusnya gak kayak gini, harus nya dia tidak sesakit ini. Harusnya dia tidak menangisi orang seperti Farrel, harusnya dia tidak menyia-nyiakan air matanya seperti sekarang. Mungkin seharusnya, tidak pernah ada nama Farrel dalam hatinya, seharusnya Farrel tidak pernah hadir dalam hidupnya.


Selama perjalanan pulang, Freya tidak henti-hentinya menangis. Dia merasa dunianya sudah runtuh saat itu juga. Bagaimana bisa dia mempercayai laki-laki lain, jika dua orang yang sangat dia cintai justru menorehkan luka yang menganga, juga trauma yang begitu mendalam. Harus laki-laki seperti apa lagi yang dia percayai. Mungkin sosok laki-laki terbaik yang pernah Freya kenal, hanyalah kak Darpa. Apakah dia harus mencari sosok laki-laki seperti kak Darpa? Tapi kemungkinan dia berhasil menemukan laki-laki seperti kakaknya itu, hanya sebesar kelereng.


"Makasih" ujar Freya ketika turun dari motor Kafin. Dia beranjak pergi dan hendak masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Lo gak mau peluk gue gitu? Hari ini gratis cuman buat lo" 


Freya membalikkan badannya, dia tertawa geli melihat Kafin yang merenggangkan kedua tangannya. Seakan-akan dia siap menerima pelukan dari Freya "Gimana? Sebelum gue berubah pikiran nih"


Gadis itu pun berlari kearah Kafin kemudian memeluknya erat, tepukkan pelan pada punggungnya, terasa begitu menenangkan. Jika seandainya hari ini Kafin tidak menemaninya, jika seandainya Freya hanya pergi seorang diri, Freya tidak yakin dia akan bisa mengontrol emosinya. Dia tidak yakin akan pulang dengan selamat seperti sekarang. Bisa saja dia mengobrak-abrik rumah sakit karena saking marahnya. Mengingat kesabaran yang gadis itu miliki, hanya setipis tisu.


"Fin makasih, makasih" ujar Freya tulus.


Kafin mengeratkan pelukannya, dia menjatuhkan kepalanya pada pundak Freya, menyembunyikan kepalanya pada ceruk leher gadis itu "Ya, gue udah bilang kan, kalau gue bakalan selalu ada buat lo. Kapan pun lo butuh, gue bakalan siap sedia".


"Emangnya mang ojek"


"Hahahah, lo bebas berpikir apapun tentang gue. Terserah, ikhlas gue mah" kata Kafin "Anjir gue ngerasa keren banget, bisa ngomong romantis gini sama lo" ucap Kafin selanjutnya seraya tertawa pelan melihat tingkahnya sendiri.


"Whay?" Tanya Kafin heran karena Freya tiba-tiba melepaskan pelukannya.


"Gue lupa kalau lo udah punya pacar. Gue gak mau berantem lagi sama pacar lo"


Bukannya menghindar dari Freya, Kafin justru kembali merengkuh tubuh gadis itu erat "tenang aja. Gue udah putus dari dia. Gue jomblo sekarang, jadi lo bebas buat peluk-peluk gue".


"Again?" Kafin menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Sejak kapan?" 

__ADS_1


"Sejak gue minta lo jadi pacar gue" 


Freya mencubit pinggang Kafin kesal. Bisa-bisanya dia pacaran hanya beberapa hari. Sepertinya sebutan play boy memang pantas disandingkan dengan Kafin "Kapan sih lo bisa berhenti ganti-ganti pacar?" Tanya Freya kesal seraya hendak melepaskan pelukan Kafin dari tubuhnya. Tapi justru Kafin bertindak sebaliknya. Dia semakin erat memeluk Freya, benar-benar tidak ada jarak 1 senti pun.


Kafin mendekatkan mulutnya pada leher Freya, sebuah gelayar aneh dapat Freya rasakan dari tubuhnya. Suara hembusan napas Kafin terdengar dengan sangat jelas melalui telinganya. Bahkan Freya merasa tubuhnya sangat geli, apalagi ketika Kafin mengusap punggung Freya pelan secara naik turun "sampai lo mau jadi pacar gue" bisik Kafin tepat ditelinga Freya.


Tindakan Kafin setelahnya berhasil membuat Freya berlari terbirit-birit masuk kedalam rumah. Yaitu ketika Kafin secara sengaja mengecup pipi Freya.


*****


Bukankah seharusnya Freya menangis-nangis karena baru saja putus dengan Farrel cintaku? Tapi kenapa dibandingkan merasa sedih karena kehilangan, Freya justru merasa jantungnya bertetak dua kali jauh lebih cepat dibandingkan biasanya.


"Kafin sialan!!" Teriak Freya didalam kamar.


Dia tahu Kafin laki-laki badung dan brengsek. Tapi kenapa bisa, laki-laki itu bersikap seperti itu kepada Freya, bisa-bisanya dia dengan berani bertindak diluar batas pada sahabatnya sendiri.


Freya memegang kedua pipinya yang terasa sangat panas, tidak mungkinkan dia merasa baper hanya karena tingkah Kafin yang seperti itu? Tidak mungkinkan dia tiba-tiba menyukai Kafin yang notabene nya adalah laki-laki yang harus dihindari sebagai pasangan. Dengan cepat Freya menggelengkan kepalanya, gak-gak mungkin.


"Ini pasti hanya karena sikap Kafin yang tidak biasanya. Pasti karena itu. Jangan Freya, jangan baper. Sampai kiamat pun lo gak boleh termakan rayuan buaya darat"


Suara ketukan pada pintu, berhasil menghentikan semua kegundahan dalam hati juga keruwetan yang terjadi dalam benak Freya. Pintu kamar pun terbuka lebar, lalu muncullah sosok wanita bertubuh gempal.


"Aya, lo gak papa kan?" Tanyanya heboh.

__ADS_1


__ADS_2