Amanita phalloides

Amanita phalloides
kencan


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, entah kenapa Farrel berubah menjadi sosok yang membingungkan. Seperti saat ini, dia secara tiba-tiba mengajukan diri untuk menemani Freya berbelanja. Selama hampir lima bulan menjalin kasih dengannya, bisa dihitung jari berapa kali pemuda itu menemaninya jalan-jalan.


Sebenarnya, Freya sendiri tidak merasa keberatan dengan tingkah Farrel yang seperti itu, dia justru merasa senang saja karena bisa berduaan dengan Farrel. Tapi yang membuat Freya kesal adalah, 2 orang yang selalu mengikuti kemanapun dia dan Farrel pergi. Seperti sekarang, dihadapannya Farrel sedang berjalan beriringan dengan Zyva, bahkan tangan gadis itu terus saja bergelayut manja di tangan Farrel. Tentu saja pemandangan itu membuat Freya semakin kesal dengan tingkah gadis itu.


Freya melirik Kafin kesal, iya Kafin. Laki-laki itu juga ikut-ikutan menggagalkan rencana kencan antara dirinya dengan Farrel. Bahkan dengan santainya, tangan pemuda itu merangkul bahu Freya. Inimah orang-orang bisa salah kira. Mereka bisa saja mengira bahwa sekarang, keempatnya sedang double date. Padahalmah kan bukan.


"Lo mau beli apa Ya?" Tanya Kafin, dia melirik sekelilingnya.


Freya berpikir sejenak, tadinya dia ingin mengajak Farrel nonton karena mereka tidak pernah nonton bareng. Tapi sepertinya, dia harus mengurungkan keinginannya itu karena ada Zyva dan Kafin, bisa-bisa rencana pacaran dengan Farrel gagal total.


"Arel, Skincare aku abis. Temenin aku beli yah" sahut Zyva manja.


Freya memutar bola matanya malas. Kalau tahu yang dia lihat akan seperti ini, kalau tahu akan sesakit ini, dia lebih memilih untuk diam dirumah saja dan membantu bundanya membuat kue.


Walaupun kak Darpa selalu memberi uang bulanan kepada bunda dan pasti selalu cukup untuk kehidupan sehari-hari. Namun, bunda masih saja membuat kue pesanan pelanggan, katanya bunda tidak mau terlalu bergantung kepada kak Darpa.

__ADS_1


Bagaimana pun, suatu saat nanti Kak Darpa akan menikah dan memiliki tanggung jawab serta keluarganya sendiri. Saat Freya menanyakan alasan kenapa bundanya masih tetap saja kekeh bekerja padahal kak Darpa selalu melarang bunda, bunda selalu menjawab aya, suatu saat kakak kamu akan menikah. Punya tanggung jawab sendiri, punya keluarga sendiri. Kita gak bisa terus saja bergantung kepada kakak kamu, bagaimana pun dia punya istri dan belum tentu istrinya ikhlas menanggung biaya hidup kita.


Freya sangat mengenal bagaimana mbak Rania, dia sangat-sangat baik bahkan tidak itungan. Freya selalu berpikir mbak Rania tidak akan pernah merasa keberatan menanggung biaya hidup bunda. Iya bunda, karena bagaimana pun bunda yang melahirkan kak Darpa dan Freya, jadi sudah sepantasnya kak Darpa dan Freya berbakti kepada bundanya itu. Namun, ucapan bunda selanjutnya membuat Freya sadar dan akhirnya dia juga memutuskan untuk kerja part time di cafe.


Sayang, bunda tahu. Bunda tahu sebaik apa Rania, dia sayang sama kakak kamu dan dia juga sayang sama kamu dan bunda. Bunda bisa liat itu semua dari matanya, tapi kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Masalah ekonomi, biasanya selalu menjadi masalah yang serius untuk pasangan suami istri. Bunda gak meragukan sebaik apa Rania, bunda cuman gak mau terlalu bergantung sama orang lain. Nak, kepergian ayahmu secara tiba-tiba membuat bunda sangat merasa bersalah kepada kakak kamu. Walaupun dia gak pernah mengatakan bahwa dia lelah dan capek, tapi bunda tahu, bunda tahu kakak kamu ngerasa capek dan bunda tahu kalau setiap malam, dia selalu merenung di gazebo sendirian. Nak, kakak kamu sudah sepantasnya untuk bahagia, dia sudah terlalu banyak berjuang untuk keluarga kita. Bunda ingin dia menjalani hidup seperti apa yang dia inginkan.


Kepergian ayah memang berdampak besar dalam ekonomi keluarga, ayah yang ketahuan selingkuh, lebih memilih hidup dengan selingkuhannya. Dia pergi tanpa meninggalkan apa-apa, bahkan untuk sekedar menafkahi saja tidak. Masih teringat jelas dalam memori Freya ketika kak Darpa memutuskan cuti kuliah dan memilih bekerja untuk membayar hutang-hutang yang ditinggalkan ayah. 


Bagian paling memilukannya adalah sebesar apapun rasa sakit yang diterima bunda. Sejahat apapun ayah, hingga detik ini bunda masih belum bercerai dengan ayah. Yah, bunda masih mencintai ayah dan tidak mau melepaskannya. Katanya, suatu saat ayah kalian akan sadar. Dia akan pulang kerumah kita dan keluarga kita akan kembali seperti dulu.


Jika dulu Freya selalu marah-marah ketika bundanya melakukan kebodohan itu, karena dia tidak mau melepaskan ayahnya yang brengsek. Jika dulu Freya selalu marah-marah ketika bunda dengan rela membiayai biaya pernikahan ayah dengan selingkuhannya. Jika dulu Freya kecewa kepada bunda karena mau membayar semua biaya rumah sakit tempat selingkuhan ayah melahirkan. Jika dulu dia tidak bisa menerima itu semua.


Freya berani bertaruh, Zyva tidak akan bisa memberikan itu semua. Zyva tidak akan pernah bisa sesabar dirinya menghadapi sikap pemuda itu. Lagian apa yang Freya harapkan dari Farrel, orang yang dia cintai adalah Zyva. Bahkan dia tidak merasa canggung saat tangannya digandeng sepanjang jalan oleh Zyva. Dia bahkan tidak memikirkan perasaan Freya yang sudah sangat hancur lebur saat ini. Dia tidak memikirkan itu, yang ada dalam pikirannya hanya Zyva, Zyva dan Zyva.


"Ya? Ngapain bengong?" Farrel mengguncang tubuh Freya pelan dan menatapnya heran.

__ADS_1


"Eh? Enggak" jawab Freya terkejut.


Freya menatap sekeliling, kemana perginya Zyva dan Kafin? Bukannya tadi Kafin masih berada disampingnya dan Zyva masih bergelayut manja di tangan Farrel? Sekarang mereka kemana?


"Kemana Zyva dan Kafin?" Tanya Freya penasaran.


"Oh, mereka ketoilet dulu katanya. Duduk dulu yuk?" Ajak Farrel dengan menggenggam tangan Freya kemudian membawa gadis tersebut duduk di kursi mall.


"Sorry, tadinya gue mau ngajak lo nonton. Eh Zyva malah ikutan" kata Farrel menyesal.


Freya tersenyum mendengar penuturan Farrel "gak papa kok" jawabnya.


"Gimana kalau besok kita main?" Usul Farrel. Dia merasa menyesal karena sudah menghancurkan kencan keduanya. Jadi dia berniat menebus kesalahannya itu.


"Beneran?" Tanya Freya antusias dan Farrel menganggukan kepalanya mengiyakan.

__ADS_1


"Makasih" ujar Freya tulus seraya memeluk tubuh Farrel dan tentunya Farrel membalas pelukannya itu tanpa ragu.


Sepertinya Freya gak bisa menyerah begitu saja, dia secinta itu kepada Farrel, mana bisa dia melepaskan pemuda itu padahal dia sudah berada dalam genggamannya. Mungkin Zyva orang yang dicintai oleh Farrel, tapi tetap saja yang jadi pacar pemuda itu adalah Freya. Setidaknya dia sudah menang satu langkah dibandingkan Zyva, dan Freya yakin suatu saat Farrel pasti akan mencintainya juga. Bukankah cinta ada karena terbiasa?


__ADS_2